NovelToon NovelToon
Luka Rembulan

Luka Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Keluarga / Kutukan
Popularitas:347
Nilai: 5
Nama Author: Yikkii

Chandra Baswara lahir pada malam yang indah di bawah cahaya rembulan, tetapi kebahagiaan itu retak sejak awal ketika ayahnya menolak dirinya hanya karena tanda lahir besar di wajahnya. Sejak kecil Chandra tumbuh dengan kasih sayang ibunya, namun dunia di sekitarnya tidak selalu sebaik itu. Tatapan aneh, bisikan, dan ejekan membuatnya terbiasa menyendiri dan perlahan menutup hatinya dari orang lain. Baginya, hidup sendiri terasa lebih aman daripada harus kembali merasakan penolakan. Namun semuanya mulai berubah ketika seseorang hadir tanpa memandang kekurangannya, sementara sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan keluarganya perlahan terungkap. Di tengah luka, penerimaan, dan pencarian jati diri, Chandra harus belajar memahami bahwa manusia tidak selalu sekejam yang ia bayangkan, dan bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada apa yang terlihat di wajahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yikkii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB V—RAHASIA

Sela keheningan malam, kedua kunci syurga datang bersandingan, mereka berdua tersenyum dan memberi salam hangat untuk kedua anaknya. Entah dari mana dan apa yang mereka berdua lakukan bersama hingga malam baru pulang. Baskara dan Chandra penasaran akan hal tersebut terutama Baskara, tanpa basa-basi ia langsung menanyakannya dengan tak sopan.

“Kalian berdua dari mana sih?” tanya Baskara ketus, alisnya sudah naik sebelah.

“HAH…KALIAN!?” Bentak Pertiwi “Begitu ya cara omong sama orang tua?” lanjutnya dengan kedua tangan bertolak di pinggang.

Pertiwi, Mama Baskara dan Istri dari Surya. Seorang ibu yang penyayang terhadap anak maupun keluarganya akan tetapi menunjukannya dengan cara yang tegas. Di balik ketegasannya, Pertiwi juga memiliki hati yang lembut dan mudah tersentuh. Posturnya yang begitu tinggi dan indah. Posturnya tinggi dan anggun, membuatnya terlihat menawan. Banyak orang mengatakan bahwa Pertiwi dan Surya adalah pasangan yang serasi. Namun mereka juga berkata, sayangnya keduanya memiliki putra tampan yang kerap bersikap kurang ajar dan sering menguji kesabaran ibunya.

Kalau tidak melawan bukan Baskara namanya, ia berdiri dan mengikuti gaya Mamanya dengan kedua tangan bertolak di pinggang. “Mama kira aku dan Chandra ga kelaparan?” Ujar nya dengan suara tinggi “Minimal kalau keluar ya masak dulu atau gak pamit lah!.”

Chandra hanya diam. Ia menelan ludah pelan, matanya berpindah cemas dari kearah Mama Pertiwi ke arah kakaknya. Sampai akhirnya Mandira turun untuk melunakkan ketegangan.

“Dek sudah lah, maaf ya anak-anakku Ibu tadi habis jalan-jalan berdua buat refreshing, maklum ibu-ibu kebiasaan di rumah terus jadi kalau keluar jadi lupa waktu, sebagai permintaan maaf ibu bawa makanan untuk kalian berdua, sekali lagi maaf ya” Sahut Mandira mengendorkan ketegangan dari keduanya sambil menyerahkan makanan untuk Chandra dan Baskara.

Begitu melihat makanan itu, Baskara langsung menarik bungkusnya mendekat. Chandra manatap tanpa berkedip. Dalam sekejap, dunia di sekitar mereka seperti menghilang, seolah tak ada ketegangan yang telah terjadi.

“Tapi Mbak kalau anak ini di biarin makin kurang ajar, nantinya…” Bantah tak terselesaikan dari Pertiwi.

“Shuut…dek,” bisik Mandira pelan sambil menyentuh lengan Pertiwi dan mengangguk lalu melangkahkan kaki ke arah dapur.

Keduanya menuju ke dapur, tempat paling jauh dari teras tepatnya untuk menjauh dari kedua anak itu. Pertiwi segera mengambilkan segelas air untuk kakak iparnya dan bertanya.

“Mbak gamau terus terang ke Chandra?” Tanya Pertiwi dengan tatapan raut melas.

“Iya, Dik…Mbak nggak mau Chandra tahu.” suaranya melemah. “Hidupnya dari kecil sudah penuh luka. Mbak gak mau menambah lukanya.”

Mendengar perkataan Kakak iparnya Pertiwi berdiam sejenak lalu berkata “Mbak jangan cuma mikirin perasaan Chandra…” suara Pertiwi bergetar. “Tubuh Mbak juga harus dipikirkan. Kalau dia tahu, dia bisa bantu Mbak, dan…rasanya dia bakal lebih terluka kalau Mbak menyembunyikan hal sebesar ini darinya.” Tutur Pertiwi dengan nafas tersengal.

“Mbak paham Dik…Mbak paham” suara Mandira semakin melemah. “Tapi tolong, jangan sampai Chandra tahu. Baskara juga jangan. Nggak ada ibu yang tega menambah luka anaknya sendiri. Kamu harusnya tahu itu, kan…”

“Mbak……” Pertiwi mencoba melanjutkan kata-katanya, tapi suaranya patah. Ia menunduk, satu tangan menutup mulutnya sendiri, dan tangis itu akhirnya pecah tanpa bisa ia tahan.

Tangis Pertiwi belum sepenuhnya reda ketika langkah kaki terdengar mendekat ke arah dapur. Chandra muncul di ambang pintu, tangannya masih setengah terangkat seolah ragu melanjutkan langkah atau tidak. Pandangan matanya langsung menangkap wajah Pertiwi yang memerah dan basah oleh air mata. Namun, seperti biasa, ia memilih diam seperti tembok.

Kedua wanita itu tersentak. Pertiwi bergegas memalingkan wajah sambil mengusap pipinya dengan kedua punggung tangannya, berusaha menghapus jejak tangis secepat mungkin. Mandira yang juga terkejut langsung berdiri lebih tegak, memaksakan nada suaranya terdengar biasa.

“Nak…ada apa?” tanyanya, sedikit terlalu cepat “Mau apa?.”

Chandra menjawab pertanyaan ibunya dengan berdiri tegap namun tetap melihat wajah mama Pertiwi memerah karena tangis “Gak papa, mau ambil air minum di suruh Mas, dia lagi seretan”

“Oh…yaudah ambil di kulkas Le” Suruh Pertiwi sambil tetap memalingkan wajah.

Chandra mengambil air dari kulkas dan segera keluar dengan langkah tergesa-gesa. Ia teringat wajah kakaknya tadi yang pucat kebiruan, karena tenggorokannya buntu oleh makanan.

“Maaf, Mbak…Chandra lihat aku nangis. Pasti sekarang dia curiga,” Ucapnya menyesal dengan suara yang masih serak.

“Sudah, tenang saja,” Ujar Mandira lembut, tangannya mengusap pundak Pertiwi. “Chandra pasti menyangkanya gara-gara Baskara tadi.”

Chandra berlari kecil menghampiri Baskara dan menyerahkan botol air. “Ini, Mas.”

Baskara langsung merampasnya dan meneguknya cepat tanpa jeda. “Hah…hah…” Nafasnya tersenggal-senggal “Lama banget sih kamu ambil airnya. Mas hampir mati tadi,” keluhnya di sela napas yang masih tersengal karena seretannya.

“Memang kau pantas mati, tuh Mama Pertiwi nangis” katanya pelan. “Gara-gara kamu.” gumam Chandra datar sambil kembali menyuap nasi tanpa menatap kakaknya.

Tebakan Mandira tepat. Di benak Chandra, tangis Pertiwi tak lebih dari akibat ulah Baskara. Naluri seorang ibu kadang terlalu memahami jalan pikir anaknya bahkan sebelum kata-kata terucap.

“Mama nangis?” Tanyanya.

“Iya” Jawab Chandra sambil mengunyah nasi.

Baskara terdiam. Ia baru sadar sikapnya tadi benar-benar keterlaluan pada mamanya. Rasa sesal perlahan muncul, membuatnya kehilangan selera bicara namun tidak dengan selera makan. Ia menghabiskan makanannya tanpa banyak suara.

Tak lama, Chandra berpamitan pada kakaknya untuk pulang lebih dulu tanpa menunggu ibunya. Ia sudah tahu ibunya baik-baik saja dan itu sudah cukup membuatnya tenang. Perutnya pun sudah terisi, jadi tak ada alasan untuk berlama-lama. Ia memilih pulang lalu beristirahat.

Sementara itu, Baskara menyusul ke dapur menemui mamanya. Dengan suara pelan, ia meminta maaf atas sikapnya tadi di teras. Setelah itu, ia masuk ke dalam kamar dan duduk sendiri, merenungi kesalahannya.

Ia memang belum tahu duduk perkara yang sebenarnya. Semua itu hanya kesalahpahaman. Meskipun begitu permintaan maafnya sungguh tulus, karena ia sadar caranya berbicara tadi memang salah.

Pertiwi hanya terdiam saat Baskara meminta maaf. Ia tidak menjawab apa pun, hanya menatap punggung anaknya yang perlahan menjauh masuk ke kamar.

Begitu langkah Baskara menghilang, Pertiwi justru tersenyum kecil. Sebuah tawa lirih lolos dari bibirnya, bukan karena lucu, melainkan karena betapa rumitnya kesalahpahaman yang baru saja terjadi.

Ternyata Mbak benar.” Ujarnya lirih, terkekeh kecil dengan rasa lega.

“Aku tahu apa yang ada di pikiran Chandra,” Ujar Mandira pelan dengan senyum kecil. “Sudah ya, aku pulang dulu. Sudah malam. Sepertinya Chandra juga sudah pulang.”

“Iya Mbak hati-hati dan tolong jangan lupa minum obatnya dengan teratur dan kalau ada apa-apa langsung saja hubungi aku” Pinta Pertiwi dengan melemahkan suara saat membahas obat.

“Iya Mbak tahu, sudah Mbak mau pulang, Assalamualaikum” salam Mandira dengan hangat.

“Waalaikumsalam” Jawab Pertiwi.

Mandira melangkah pulang. Saat tiba di halaman rumah, ia melihat Chandra duduk diam di teras menatap ke arah bulan. Cahaya pucat itu jatuh lembut di wajah anaknya, sementara udara malam menggigit kulit dan suara burung malam terdengar samar dari kejauhan.

Mandira berhenti pada langkahnya. Ia hanya memandang, hatinya menghangat oleh sosok yang baginya adalah anugerah terindah dalam hidupnya.

Beberapa detik berlalu.

Bulan bersinar tenang di atas sana, seolah tak ingin kalah oleh tatapan Chandra. Akhirnya, Mandira melangkah mendekat.

“Le kog di sini ga tidur?” tegurnya pelan.

“Nanti Buk” Jawabnya pendek sambil tetap memandangi indah rembulan.

“Yawis ibuk masuk istirahat dulu ya Le” Pamitbya dengan halus sambil menepuk pundak anaknya.

Chandra hanya mengangguk pelan tanpa menoleh. Pandangannya tetap terpaku pada bulan malam itu. Cahaya putihnya bersinar terang tanpa tertutup awan, hanya ditemani oleh beberapa bintang yang tersebar tenang.

Tatapannya seolah tak berhenti di mata saja, melainkan turun perlahan ke dalam pikirannya, lalu tenggelam lebih dalam lagi ke dalam hati.

Seandainya aku bisa seperti bulan itu, tetap bersinar meski dalam gelap malam begitu pekat. Lirihnya dalam hati.

Namaku memang Chandra, berarti bulan….Tapi sayangnya aku cuma bulan yang gagal. Lanjutnya dalam hati, diiringi helaan napas panjang.

Beberapa menit kemudian, Chandra akhirnya masuk ke dalam rumah. Suasananya terasa sunyi untuk rumah yang seharusnya dimana-mana hangat. Hanya ada ia dan ibunya yang tinggal di sana, dan kekosongan itu selalu terasa.

Ia kembali menghela napas panjang sebelum melangkah ke dalam kamar. Tanpa banyak gerak, ia merebahkan diri ke ranjang dan memejamkan mata, berharap tidur bisa meredam isi kepalanya.

Tiga puluh menit berlalu, tapi mata Chandra tetap saja menolak terpejam. Kantuk seolah menjauh darinya.

Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri. Tengkurap, kemudian terlentang lagi. Seprai berkerut di bawah tubuhnya, tapi rasa lelah tak juga berubah menjadi tidur.

“Baskara, dancok…gara-gara kopi pahitnya itu aku jadi melek terus,” gumamnya pelan namun rahangnya mengeras.

Waktu tidurnya habis untuk mengomeli Baskara dalam hati. Jam terus bergerak sampai lewat pukul dua dini hari dan matanya tetap saja enggan untuk terpejam.

Bukan cuma kafein yang membuatnya terjaga. Pikirannya sendiri tak mau diam, berputar-putar pada kata-kata Baskara dan sikap Arka yang terus muncul tanpa diminta.

Apa sih maksud mereka berdua…aku gak paham sama jalan pikiran mereka,” gerutunya pelan. “Kalau Mas sih dari dulu memang begitu, aku sudah biasa. Tapi sekarang malah nambah satu spesies lagi…” Ia menyipitkan mata ke arah langit-langit kamar. “Asu.”

Chandra menutup matanya dengan bantal, berharap mata dan pikirannya dapat di atasi dengan cara itu, na’asnya semua itu sia-sia akhirnya pikirannya tetap teruju ke Chandra dan Arka lagi.

“Apa benar dia mendekatiku karena memang mau berteman?” bisiknya pelan. “Seperti kata Mas…”

Ia terdiam sebentar. “Tapi hal seperti itu nggak mungkin terjadi padaku, kan?” Ucapnya karena selama ini tak ada yang benar-benar ingin dekat. Justru kebanyakan menjauh, menatap aneh karena tanda lahir di wajahnya.

Chandra menurunkan bantal dari wajahnya. Jemarinya tanpa sadar menyentuh tanda lahir di sisi wajahnya, seolah memastikan bekas itu masih ada di sana. “Lalu kenapa dia mau mendekatiku…?”

Setelah itu, tanpa ia tahu persis kapan, akhirnya terlelap. Tangannya tetap menyentuh tanda lahir di wajahnya, seolah itu satu-satunya hal yang bisa menenangkannya malam itu.

Pagi datang terlalu cepat.

Mata Chandra terasa terdapat lem yang melekat. Beberapa kali Mandira memanggil dan mengetok pintu kamarnya, sahutan ada akan tetapi tak kunjung keluar dari kamar.

“Le kamu sakit?” tanya Mandira

“Hmm ndak Buk, iki mau bangun” Jawab Ngelantur Chandra

“Kalau tidak ya bangun to, nanti telat”

Seiring itu Surya dan Baskara masuk kedalam rumah tepatnya ke kamar Chandra.

“Woi, bangun. Jam segini masih molor. Lihat mas, sudah bangun dari zaman purba‼️” katanya sambil mendorong pelan tubuh Chandra agar bangun.

“Iya iya ini aku bangun….berisik banget jadi orang” Cetusnya

“Oh…. Sudah berani ya” Ucap Baskara dengan jari telunjuknya menuju kearah Chandra.

Chandra buru-buru masuk kamar mandi dan mengunci pintu. Sementara itu, Baskara berdiri di depan pintu kamar mandi, masih terus mengomel tanpa henti.

Perdebatan mereka tak berhenti, meski kini terhalang oleh pintu. Suara Chandra terdengar menggema dari dalam kamar mandi, dibalas ocehan Baskara dari luar seperti siaran radio pagi yang tak mau dimatikan.

Sedangkan Surya dan Mandira duduk di teras.

“Mbak benar-benar mau menyembunyikan ini dari Chandra?” Surya menatap kakaknya. “Menurutku, mungkin dia perlu tahu apa yang sedang terjadi.”

“Sur…ini lagi?” Mandira mengembuskan napas keras. “Tadi malam Mbak sudah jelasin ke istrimu. Sudah, jangan dibahas lagi.”

Surya membuka mulut, ingin menanggapi, tapi hanya napas berat yang keluar. Ucapannya tertahan ketika ia melihat pipi Mandira telah basah oleh air mata.

“Sur…Mbak minta tolong, untuk kali ini turutilah permintaanku” Ucap Mandira pelan sambil menunduk. “Mungkin cara pikir kamu dan istrimu beda dengan Mbak, tapi kita sama-sama mau yang terbaik buat dia, kan? Jadi…tolong Mbak.”

“Mungkin ini terdengar egois,” lanjut Mandira setelah mengusap air matanya. “Tapi ini pilihan Mbak sebagai seorang ibu. Mbak cuma nggak mau jadi tambahan luka padanya. Selama Mbak masih ada, Mbak akan berusaha terlihat baik-baik saja di depannya. Itu saja…cuma itu yang Mbak bisa.”

Surya menunduk, mengembuskan napas panjang berkali-kali. Ia ingin berkata sesuatu, tapi tenggorokannya terasa terkunci melihat kakaknya menangis seperti itu.

“Habis aku mengantar anak-anak aku kesini lagi kak mari kita bicara” Ujarnya pelan seolah menahan air yang ingin jaruh dari kedua kelopak matanya.

Anak-anak pun keluar tak lama setelah itu. Surya tak berkata apa-apa, hanya melangkah cepat ke arah mobil. Ada kegelisahan yang tertahan di wajahnya, rasa cemas yang ia pendam untuk saudara kembarnya.

Satu per satu mereka menyalami Mandira sebelum berangkat. Lalu keduanya masuk ke dalam mobil, di mana Surya sudah duduk di kursi kemudi. Mesin menyala, dan mereka pun berangkat ke sekolah.

1
Roar22
jarang banget sih genre kayak gini, semangat-semangat aja thor/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!