Lin Fan, seorang pekerja kantoran yang tewas karena kelelahan bekerja (tipes dan lembur), bereinkarnasi ke Benua Langit Azure sebagai murid rendahan di Sekte Awan Mengalir. Saat dia bersumpah untuk tidak pernah bekerja keras lagi di kehidupan keduanya, "Sistem Kemunculan Pemalas" aktif. Semakin malas dan santai dia, semakin kuat kultivasinya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irzad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12: Tragedi Tukang Kayu Berotot
Paviliun Penempaan Senjata Surgawi, yang terletak di lereng gunung berapi aktif di Puncak Api Penyucian, biasanya merupakan tempat paling bising di seluruh Sekte Awan Mengalir. Di sinilah pedang-pedang yang mampu membelah sungai ditempa, dan baju zirah yang mampu menahan napas naga dibentuk. Udara di tempat ini selalu bergetar oleh dentuman godam raksasa yang menghantam landasan besi meteor, diselingi raungan api spiritual yang berkobar dari ratusan tungku pembakaran.
Namun malam ini, suasananya berubah drastis. Sebuah keheningan yang tegang dan mencekik menyelimuti aula utama paviliun tersebut. Semua tungku raksasa telah dimatikan secara paksa. Ribuan murid penempa diusir ke luar gedung, meninggalkan hanya tiga orang di dalam ruangan yang luasnya setara dengan tiga lapangan latihan itu.
Di tengah ruangan, di bawah cahaya formasi mutiara berpendar yang lembut, berdiri Tetua Tie. Dia adalah Master Penempaan Tertinggi sekte, seorang pria dengan otot yang begitu besar dan padat hingga terlihat seolah-olah dia dipahat langsung dari batu granit cokelat. Tubuhnya dipenuhi bekas luka bakar keemasan, bukti dari pertarungannya menaklukkan api surgawi.
Biasanya, Tetua Tie memegang palu godam seberat lima ribu pon dengan satu tangan sambil tertawa terbahak-bahak. Namun saat ini, tangan raksasanya yang sekasar parutan besi itu gemetar hebat. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya yang botak, menetes melewati alis tebalnya, dan jatuh ke lantai batu tanpa suara.
Di tangannya, dia memegang sebuah pisau ukir kecil seukuran jari telunjuk. Di depannya, di atas meja giok putih yang disucikan, tergeletak balok Kayu Cendana Penenang Jiwa berusia delapan ratus tahun.
"Guru..." bisik Wu Jian, murid utama Tetua Tie yang biasanya sangat arogan, kini berdiri di samping gurunya dengan wajah pucat pasi. Dia memegang sebuah gulungan pita pengukur yang terbuat dari sutra spiritual laba-laba es. "Kita sudah menghancurkan tiga purwarupa kursi. Kayu Cendana berusia delapan ratus tahun ini adalah balok terakhir dari perbendaharaan rahasia sekte. Jika kita gagal lagi... Pemimpin Sekte akan menggantung kita di gerbang utama."
Tetua Tie menelan ludah. Jakun besarnya bergerak naik turun dengan susah payah. Dia menatap balok kayu cokelat kemerahan yang memancarkan aroma relaksasi tingkat tinggi itu seolah-olah benda itu adalah monster tingkat sembilan yang siap melahap jiwanya.
"Diam kau, Wu Jian. Fokuskan Qi-mu dan jangan mengganggu konsentrasiku," desis Tetua Tie, suaranya parau. "Instruksi dari Pemimpin Sekte sangat jelas. 'Master Lin' dari Dapur Luar mempraktikkan Dao Kekosongan. Kursi ini tidak boleh memiliki ukiran naga, tidak boleh memiliki permata energi, dan tidak boleh terlihat mencolok. Harus terlihat sesederhana mungkin, namun harus memiliki ergonomi surgawi yang mampu menyangga 'jiwa lelah' beliau di arena nanti."
"Itulah masalahnya, Guru!" Wu Jian nyaris menangis, mencengkeram kepalanya sendiri. "Kita adalah penempa senjata! Semakin mematikan, semakin berduri, semakin bersinar sebuah benda, semakin mudah kita membuatnya! Tapi sebuah kursi yang... 'biasa saja'? Apa definisi 'biasa saja' bagi seorang Master yang menyamar menjadi pelayan yang bau bawang putih?!"
"Itulah ujiannya!" sahut sebuah suara dingin dari arah pintu masuk.
Tetua Inspeksi 'Mata Elang' melangkah maju dari bayang-bayang pilar batu. Jubah hitamnya berkibar pelan. Matanya yang tajam mengawasi setiap sudut kayu tersebut. Dia telah ditugaskan secara khusus oleh Pemimpin Sekte untuk mengawasi proses produksi kursi suci ini, untuk memastikan tidak ada ego penempa yang merusak estetika Dao Kekosongan Lin Fan.
Tetua Inspeksi berjalan memutari meja giok itu, tangannya bersedekap di belakang punggung. "Ingatlah, Tetua Tie. Penampilan luar yang kumal dari Master Lin adalah manifestasi dari kesederhanaan mutlak. Jika kau memahat satu sisik naga saja di sandaran lengan kursi itu, kau akan merusak keselarasan energinya dan menyinggung perasaannya. Beliau ingin duduk, bukan naik tahta kaisar."
Tetua Tie mengertakkan giginya. "Aku tahu, aku tahu! Itulah sebabnya aku menggunakan Pisau Ukir Pembelah Dimensi ini hanya untuk mengikis kulit kayunya!"
Dengan penuh kehati-hatian, Tetua Tie mulai mengikis balok kayu tersebut. Setiap kali pisau kecil itu menyentuh permukaan kayu, Tetua Tie menahan napasnya. Dia harus menekan seluruh kekuatan ledakan Qi-nya agar tidak menghancurkan kayu itu menjadi serbuk. Ini adalah penyiksaan fisik dan mental tingkat tertinggi bagi seorang pria yang terbiasa memukul baja. Otot-otot lengannya menegang hingga urat-urat ungunya nyaris meledak.
Sret... Sret...
Serpihan kayu cendana yang tipis dan melengkung jatuh ke lantai. Butuh waktu dua jam penuh, diwarnai dengan napas terengah-engah dan umpatan tertahan, hanya untuk membentuk empat kaki kursi silinder yang lurus sempurna tanpa hiasan apa pun.
"Bagus," Tetua Inspeksi mengangguk pelan, matanya tidak berkedip. "Sekarang bagian terpentingnya. Sandaran punggung. Master Lin menyebutkan secara eksplisit bahwa 'berdiri terlalu lama membuat kakinya pegal'. Sandaran ini harus mampu mendistribusikan berat tubuhnya sedemikian rupa sehingga beliau merasa seolah-olah sedang disangga oleh tangan alam semesta itu sendiri."
Wu Jian segera membuka gulungan perkamen kuno yang dia bawa. "Guru, saya telah meneliti kitab Anatomi Tubuh Emas dari Era Kuno. Sudut kemiringan tulang belakang seorang Master Sejati saat sedang merelaksasikan meridiannya adalah tepat 112,5 derajat. Jika terlalu tegak, Qi-nya akan tersumbat di dada. Jika terlalu condong ke belakang, beliau akan terlihat tidak berwibawa di depan murid-murid!"
"Seratus dua belas koma lima derajat," gumam Tetua Tie, matanya menyala dengan tekad gila. "Bawakan aku Busur Derajat Bintang Enam!"
Wu Jian berlari mengambil alat ukur bercahaya dari dinding. Mereka berdua, Master Penempa dan murid jeniusnya, mulai mengukur dan memahat lekukan sandaran kursi itu dengan presisi yang membuat dewa matematika pun akan menangis terharu. Mereka menggunakan teknik 'Pukulan Penghancur Gunung' hanya untuk mengamplas permukaan kayu itu, mengalirkan getaran Qi yang sangat halus untuk menghaluskan setiap serat kayu hingga sekasar sutra.
Malam semakin larut. Bulan perak di luar jendela telah bergeser ke ufuk barat.
Di dalam ruangan, Tetua Tie terlihat seperti baru saja ditarik keluar dari danau. Jubahnya basah kuyup oleh keringat. Dadanya naik-turun dengan cepat. Dia telah mengerahkan lebih banyak energi mental untuk menyembunyikan paku-paku sambungan kayu agar tidak terlihat daripada saat dia menempa Pedang Petir untuk Pemimpin Sekte sepuluh tahun lalu.
"Sandarannya selesai," ucap Tetua Tie parau, menjatuhkan pisau ukirnya ke lantai karena jari-jarinya kram parah. Dia mundur selangkah.
Kursi kayu cendana itu berdiri di atas meja giok. Warnanya cokelat kemerahan alami, tanpa pernis mengkilap yang norak, hanya dipoles menggunakan minyak spiritual dari kayu itu sendiri. Bentuknya melengkung dengan sangat elegan, memancarkan kesederhanaan yang menipu. Sekilas, itu tampak seperti kursi goyang biasa di rumah seorang tetua desa. Namun bagi mata seorang kultivator, tidak ada satu pun sudut, lekukan, atau sambungan yang memancarkan niat membunuh atau kesombongan; kursi itu benar-benar "kosong".
Tetua Inspeksi mendekat. Dia membungkuk, wajahnya nyaris menyentuh permukaan kayu. Dia mengendus aromanya, lalu menelusuri lekukannya dengan ujung jari.
Lama Tetua Inspeksi terdiam. Keheningan itu membuat jantung Tetua Tie dan Wu Jian nyaris copot. Jika Inspeksi tidak puas, balok kayu terakhir akan hancur, dan nyawa mereka yang akan menjadi gantinya.
"Sempurna," bisik Tetua Inspeksi akhirnya. Air mata haru nyaris terbentuk di sudut mata elangnya yang keras. "Dao Kekosongan memancar kuat dari kursi ini. Kau tidak memahat kursi, Tetua Tie... kau telah memahat 'Ketiadaan' itu sendiri."
Tetua Tie menghembuskan napas panjang yang terdengar seperti ban gerobak kempis. Tubuh raksasanya ambruk duduk di lantai batu. "Syukurlah... leluhur penempa memberkati tanganku."
"Tunggu, kita belum selesai!" seru Tetua Inspeksi, matanya tiba-tiba melebar. "Bantalannya! Master Lin meminta tempat duduk untuk 'kakinya yang pegal'. Sebuah kursi tanpa bantalan empuk adalah penderitaan duniawi!"
Wu Jian segera melompat, berlari ke brankas pendingin di sudut ruangan. Dia kembali membawa sebuah kotak giok es yang memancarkan kabut putih tebal. Saat dibuka, tampak segulung kain putih yang berkilauan seperti salju yang disinari bulan.
"Ini adalah Sutra Ulat Es Surgawi dari Puncak Utara," lapor Wu Jian dengan antusiasme berlebihan, "dan di dalamnya telah diisi dengan Serat Awan Spiritual yang dipanen pada fajar pertama musim semi. Tidak ada bahan yang lebih empuk dan lebih menyerap hawa panas selain ini!"
"Jahit dengan hati-hati!" perintah Tetua Inspeksi dengan nada militer. "Gunakan Jarum Penembus Bintang! Jangan biarkan benangnya terlihat! Dan pastikan bantalannya tidak terlalu tebal. Jika Master Lin tenggelam ke dalam kursi saat duduk, wibawanya sebagai Master Tersembunyi di tengah arena akan luntur! Harus cukup keras untuk menopang postur, tapi cukup empuk untuk membahagiakan tulang ekornya!"
Maka, dimulailah babak kedua dari penyiksaan Dapur Persenjataan.
Tetua Tie, pria bertubuh raksasa dengan tangan yang biasa meremukkan leher monster beruang baja, kini harus duduk bersila di lantai, memegang jarum jahit yang sangat kecil. Dia memicingkan matanya hingga nyaris tertutup, menggigit lidahnya karena terlalu fokus memasukkan benang sutra tipis ke dalam lubang jarum. Setiap kali tangannya bergetar, Wu Jian akan berteriak panik, takut jahitan itu akan miring satu milimeter saja.
Pemandangan ini sungguh sebuah komedi absurd. Tiga petinggi sekte yang bisa meratakan sebuah kota kecil dengan jentikan jari, kini menghabiskan malam mereka berdebat tentang teknik quilting (menjahit selimut) yang benar dan tingkat ketebalan sebuah bantal punggung.
"Jangan ditarik terlalu keras, dasar kerbau!" maki Tetua Inspeksi saat melihat Tetua Tie menjahit salah satu ujung bantalan. "Kau mengkerutkan sutranya! Kesederhanaan, Tetua Tie! Biarkan benangnya mengalir seperti sungai yang tenang!"
"Aku penempa pedang, bukan ibu-ibu penjahit di pasar!" raung Tetua Tie dengan frustrasi yang tertahan, matanya merah karena kurang tidur. Namun dia tetap melanjutkan jahitannya dengan hati-hati yang menyayat hati.
Tepat saat ayam jantan berkokok di kaki gunung, menandakan fajar hari kedua dari persiapan turnamen, jarum terakhir ditarik dan diikat.
Kursi itu kini selesai sepenuhnya. Sebuah kursi kayu cendana yang ergonomis, sederhana, memancarkan aroma menenangkan, dan dilengkapi dengan bantalan sutra es putih yang terikat pas di dudukan dan sandaran punggung.
Ketiga pria kuat itu berdiri mengelilingi meja giok, terengah-engah, dengan mata panda yang hitam dan rambut acak-acakan. Keringat dan debu kayu menutupi wajah mereka, namun tidak ada satu pun yang peduli. Mereka menatap kursi itu seolah-olah itu adalah dewa yang baru saja turun dari langit.
"Ini... ini adalah karya agung terbesarku," Tetua Tie berbisik, suara basnya bergetar oleh emosi. Dia tidak peduli lagi pada pedang naga yang pernah dia tempa. Membuat kursi polos yang memuaskan filosofi Master Tersembunyi terasa seratus kali lebih sulit dan memuaskan.
Tetua Inspeksi mengangguk pelan. "Dengan kursi ini, saat Master Lin duduk di tengah arena, murid-murid akan melihat bahwa tidak peduli seberapa keras dunia bertarung, kedamaian sejati hanya bisa dicapai melalui keheningan. Kau telah membantu memperlancar ceramah diam beliau, Tetua Tie."
"Kirimkan benda ini langsung ke arena utama," perintah Tetua Inspeksi kepada Wu Jian. "Bungkus dengan kain perak. Jangan biarkan sebutir debu pun menyentuhnya sebelum Master Lin mendaratkan tubuh agungnya di sana."
Wu Jian membungkuk hormat, air mata kebanggaan menggenang di matanya saat dia membungkus kursi itu dengan hati-hati ekstra tinggi.
Sementara itu, nun jauh di sana, di sudut Dapur Luar yang kumuh namun tenang, sang 'Master Lin' yang sangat dihormati itu sedang mendengkur dengan suara yang tidak beraturan. Air liurnya menetes perlahan ke bantal kasur bulu angsanya, dan sebelah kakinya menggantung di udara karena dia terlalu malas untuk menarik selimutnya yang merosot.
Lin Fan sama sekali tidak tahu bahwa di luar sana, sebuah kursi khusus telah ditempa dengan darah, keringat, dan air mata para tetua tertinggi, hanya untuk menyambut kedatangannya di turnamen nanti.
[Ding! Misi Rahasia "Legenda yang Berkembang Sendiri" mencapai progres 30%.]
Sistem berdenting pelan di benak Lin Fan, tapi pemuda itu hanya menggaruk perutnya yang gatal dalam tidur, menolak untuk peduli pada kekacauan yang dia ciptakan tanpa sengaja.