NovelToon NovelToon
Legenda Manusia Dewa

Legenda Manusia Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: JUNG KARYA

Wira Wisanggeni, akibat kekejaman prajurit kerajaan, itu membuatnya menjadi seorang anak kecil tanpa orang tua, dan diselamatkan dari amukan massa oleh seorang wanita misterius bernama Dewi Shinta Aruna.

Di bawah bimbingan sang Dewi di Hutan Terlarang, Wira tumbuh menjadi pemuda yang mewarisi kanuragan tingkat tinggi dengan senjata tongkat kayu lusuh.

Perjalanannya membalas dendam berubah menjadi misi suci membersihkan ketidakadilan di dunia, hingga namanya diabadikan dalam bentuk patung di berbagai penjuru negeri.

Namun, kebaikan Wira mengusik
keseimbangan takdir, menyeretnya ke dalam perang antara dewa dan iblis, dan memaksanya menembus batas kemanusiaan untuk mencapai ranah Kanuragan Dewa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon JUNG KARYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34: Bara di Balik Tabir Iblis

Puncak Arcapada berguncang hebat saat energi dingin yang tak terlukiskan meledak dari tubuh Wira.

Kini proses peleburan Jantung Kristal Es telah mencapai puncaknya dan Wira merasakan setiap inci pembuluh darahnya membeku, lalu pecah, dan tersambung kembali oleh serat-serat energi es abadi.

Rasa sakitnya melampaui segala bentuk siksaan fisik, itu adalah penghancuran eksistensi yang kemudian disusun ulang menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar manusia.

Ketika cahaya biru yang menyilaukan itu meredup, Wira berdiri dengan tubuh yang mengalami perubahan fisik yang nyata.

Rambutnya, yang sebelumnya hitam kecokelatan, kini memiliki semburat putih perak di bagian ujungnya, berkilau seperti kristal saat terkena cahaya.

Kulitnya menjadi lebih pucat dan terasa dingin jika disentuh, sementara matanya kini memiliki lingkaran biru es yang tajam di sekeliling pupilnya.

"Bocah! Kau harus segera pergi!" suara Siwa terdengar mendesak.

"Kekuatan es ini terlalu dominan. Inti energimu membeku terlalu cepat. Jika kau tidak segera menyeimbangkannya dengan panas ekstrem, kau akan menjadi patung es abadi di puncak ini!" lanjut Siwa mengingatkan dengan nada yang sedikit panik.

Wira pun kini terlihat kelelahan, nafasnya terengah-engah, uap dingin keluar dari mulutnya dengan sangat pekat. Ia merasakan dadanya sesak, dan suhu tubuhnya juga turun ke tingkat yang berbahaya.

"Benua... Api Merah," bisik Wira. Ia segera menggunakan sisa kesadarannya untuk memicu langkah cahaya, melesat turun dari puncak Arcapada, melintasi lautan utara dengan kecepatan yang berkali-kali lipat lebih cepat dari sebelumnya.

Setiap langkahnya di atas air langsung menciptakan jembatan es yang luas, menunjukkan betapa tidak stabilnya energi es dalam dirinya.

Selama perjalanan yang melelahkan itu, Siwa memberikan penjelasan singkat mengenai misteri dunia ini.

Wira sempat bertanya-tanya, mengapa setiap benua yang ia kunjungi memiliki tingkat kultivasi dan sistem yang berbeda-beda.

"Dunia ini adalah cermin dari Langit Atas yang hancur, Bocah," jelas Siwa saat mereka melintasi perbatasan samudera.

"Setiap benua terbentuk dari fragmen energi yang jatuh dari langit yang berbeda. Benua Es ini mendapatkan fragmen dari Langit Ketiga, makanya sistemnya sangat kaku dan stabil. Benua Pasir Emas mendapatkan fragmen dari Langit Kedua. Perbedaan tingkat energi di setiap wilayah inilah yang memaksa manusia di sana beradaptasi dengan cara yang berbeda. Itulah sebabnya kultivasi di satu benua bisa terasa jauh lebih berat atau lebih ringan dibanding benua lainnya." ucap Siwa menjelaskan dengan detail.

Setelah menempuh perjalanan yang menguras tenaga, hawa panas yang menyengat mulai menerpa wajah Wira.

Di cakrawala, langi tidak lagi biru, melainkan jingga kemerahan dengan asap yang mengepul dari gunung-gunung api aktif, dan inilah Benua Api Merah.

Benua ini unik dan berbahaya. Tidak ada kota-kota besar yang terbagi dalam prefektur atau desa-desa.

Di sini, hanya ada dua kekuatan besar yang berdiri yaitu Kerajaan Tera dan Kerajaan Bada.

Struktur sosialnya sangat ringkas, dari raja langsung turun ke pejabat tinggi, lalu langsung ke rakyat.

Hal ini terjadi karena Benua Api Merah sebenarnya sangat kecil secara geografis, namun memiliki kepadatan pendekar yang mengerikan.

Hampir 80% penduduk di benua ini adalah pendekar aktif dan kuat.

Ranah kultivasi di sini sedikit lebih tinggi dari Benua Pasir Emas, dengan tahapan yang disebut:

- Ranah Percikan Api

- Ranah Lidah Neraka

- Ranah Inti Magma

- Ranah Matahari Padam

Saat ini, Wira telah mendarat di pinggiran sebuah hutan yang pohon-pohonnya terbuat dari kayu hitam yang tahan api.

Tubuhnya menggigil hebat, es di dalam dirinya sedang berperang melawan hawa panas luar, menciptakan badai internal yang menyakitkan.

"Sial... aku harus memihak ke mana untuk mendapatkan akses ke pusat lava?" gumam Wira menatap jauh ke kiri dan kenan yang tampak terlihat dua istana yang berbeda.

Ia mengamati dari kejauhan. Benua ini sedang dalam konflik berdarah, karena melihat banyak bendera perang berkibar di masing-masih wilayah.

Yang membuat Wira sulit memutuskan adalah aura yang terpancar dari kedua kerajaan tersebut. Baik Tera maupun Bada memancarkan aura kegelapan yang hampir mirip dengan entitas iblis kuno yang bayangannya pernah ia lawan di Benua Pasir Emas.

Wira kemudian melesat lagi ke bukit yang lebih dekat untuk lebih mengamati kedua kerajaan itu.

Di Kerajaan Bada, pemandangannya tampak sangat kontradiktif. Rakyat di sana terlihat sangat makmur, pasar-pasar ramai, dan anak-anak bermain dengan ceria.

Raja Bada dikenal sangat memedulikan kesejahteraan rakyatnya. Sebaliknya, di Kerajaan Tera, suasananya suram, bahkan rakyatnya juga tampak keras, dingin, dan setiap orang memanggul senjata dengan wajah yang penuh kebencian.

Namun, penglihatan batin Wira yang telah diperkuat Jantung Kristal Es menangkap sesuatu yang berbeda.

Di Kerajaan Bada, meskipun makmur, aura iblis itu bersembunyi dengan sangat rapi di dalam nadi-nadi rakyatnya, seperti parasit yang sedang menggemukkan inangnya sebelum dimakan.

Sedangkan di Kerajaan Tera, aura kegelapan itu justru digunakan sebagai senjata luar karena Raja Tera memiliki filosofi yang mengerikan yaitu sebuah kata,

"Jika ingin melawan iblis, maka kalian harus menjadi iblis."

Mereka meracuni diri mereka sendiri dengan sedikit energi kegelapan agar memiliki daya tahan dan kekuatan untuk menghancurkan entitas asli.

Mereka berada di jalan yang benar, namun dengan cara yang sangat ekstrem dan menyakitkan.

"Ugh..." Wira jatuh berlutut. Kulitnya mulai mengeluarkan bunga-bunga es di tengah cuaca panas.

Kekuatan kristal es terlihat sudah tidak bisa ia tahan lagi.

"Hei, pengembara. Jika kau tidak segera menelan energi panas, kau akan meledak dan membekukan hutan ini dalam hitungan menit."

Sesosok wanita muda muncul dari balik pohon hitam. Ia mengenakan pakaian pengembara yang ringan namun terbuat dari kain yang tampak bersinar lembut dengan wajahnya yang tenang, dan matanya cerah.

Wira mencoba merasakan energinya, dan ia terkejut. Wanita ini menyembunyikan kekuatannya dengan sangat rapi, namun Wira bisa merasakan bahwa kekuatannya setara dengan Datu Froya dari Benua Es.

"Siapa... kau?" tanya Wira dengan gigi bergeletuk.

"Panggil saja aku Nila," ucap wanita itu. Ia mendekat dan menempelkan tangannya ke punggung Wira.

Seketika, rasa hangat yang murni mengalir, sedikit meredakan gejolak es di tubuh Wira.

"Kau beruntung aku lewat sini. Kau sedang membawa pusaka Langit Ketiga tanpa penyeimbangnya, Itu adalah tindakan bunuh diri yang sangat bodoh, apa kau tahu itu" ucap Nila dengan suara yang tenang.

Wira terkekeh lemah, jiwa humornya yang sempat hilang karena kepedihan nasib Sekar muncul sedikit.

"Yah, biasanya aku memang punya rencana, tapi sepertinya rencanaku kali ini sedang membeku di suatu tempat." keluh Wira.

Nila pun hanya tersenyum tipis lalu berkata,

"Aku adalah seorang pengembara. Tujuanku adalah Benua Langit, yang terletak tidak jauh dari sini. Aku perlu mengambil sesuatu untuk kerajaanku di Negeri Awan." ucap Nila tiba-tiba memberitahu Wira, seolah ia sudah mengenal Wira sangat lama.

"Negeri Awan?" Wira mengerutkan kening.

"Aku belum pernah mendengarnya." lanjutnya dengan tatapan bingung.

"Hanya mereka yang memiliki darah langit yang bisa melihat dan memasukinya. Negeri itu tersembunyi di balik lapisan awan ketujuh," ucap Nila sembari membantu Wira berdiri.

"Tapi lupakan itu dulu. Kau harus masuk ke pusat Kerajaan Tera jika ingin mencari Lava Jati. Jangan tertipu oleh kemakmuran Kerajaan Bada, mereka adalah ternak yang sedang dipersiapkan untuk persembahan iblis." jelas Nila menjelaskan singkat.

Wira menatap Nila dengan rasa ingin tahu. "Kenapa kau membantuku?"

"Karena setiap pusaka yang kau cari, mungkin sedang menuntunmu ke tempat yang seharusnya. Dan kebetulan, jalanku dan jalanmu akan bersinggungan di Benua Langit nanti. Tapi untuk sekarang, kau harus bertahan hidup di benua yang licik ini." jawab Nila dengan penuh teka-teki, seolah wanita itu sudah mengetahui apa yang akan terjadi kedepannya.

Wira merasakan tarikan energi dari Jantung Kristal Es di dadanya. Anehnya, energi itu beresonansi dengan arah yang ditunjukkan Nila.

Tanpa disadari Wira, pencariannya akan pusaka elemen tidak hanya untuk menyembuhkan Sekar, tapi sedang membimbingnya menuju Negeri Awan, tempat di mana rahasia Langit Ketujuh dan cara mencapai Nirwana Abadi sebenarnya tersimpan.

......................

"Terima kasih, Nila," ucap Wira, kini suaranya lebih stabil.

"Kalau begitu, aku akan ke Kerajaan Tera. Sepertinya menjadi iblis untuk sementara waktu bukan ide yang buruk bagi seorang pemburu ubi sepertiku." lanjutnya dengan candaan khasnya.

Nila tertawa pelan.

"Jaga dirimu. Kita akan bertemu lagi saat kau mulai bisa terbang." jawab Nila sebelum pergi.

Wanita itu menghilang dalam sekejap, menyisakan aura bunga langit yang harum.

Setelah itu, Wira kemudian menatap ke arah benteng Kerajaan Tera yang berdiri kokoh di atas kawah gunung api.

Dengan tekad yang lebih dewasa namun tetap dengan senyum tipis di bibirnya, ia melangkah maju.

Sebuah kepedihan tentang Sekar yang masih tetap ada, menjadi api di dalam hatinya yang kini sedang berjuang melawan dinginnya es.

"Ayo, Siwa. Mari kita lihat seberapa panas iblis di benua ini," ajak Wira.

"Bocah, jangan sampai kau benar-benar jadi iblis lalu lupa memberiku makan energi ya!" sahut Siwa dengan nada mengejek yang akrab.

Wira pun kemudian melesat, membelah udara panas Benua Api Merah.

......................

1
anggita
nama jurus yg keren. lanjutkan Thor, moga novelnya sukses.
Jung Karya: terimakasih banyak atas komentar baik dan dukungannya kak 😍
total 1 replies
anggita
dukung like👍+2x iklan☝☝.
anggita
tongkat pemutus takdir💥👍👌💪
Jung Karya
Jangan lupa bintangnya 😁
tinggalin komentar dan likenya juga teman-teman 🙏😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!