NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19 Putusan dan Mulai Baru Hari Putusan

Tujuh hari setelah sidang yang mengungkapkan semua kebenaran, ruang sidang kembali dipenuhi oleh orang-orang. Matahari bersinar terang melalui jendela, seolah memberi sinyal bahwa hari ini akan menjadi titik balik bagi semua yang terjadi. Rania datang bersama Pak Haryanto dan Dina, yang menahan tangannya erat sebagai bentuk dukungan. Di seberang, Arga duduk bersama pengacaranya dengan wajah pucat dan lesu. Keluarga Arga hanya diwakili oleh ayahnya, karena ibu Arga tidak sanggup menghadiri sidang putusan.

“Dengan mempertimbangkan semua bukti, keterangan saksi, dan dokumen yang telah diajukan kedua pihak, Majelis Hakim memutuskan sebagai berikut,” suara Ketua Hakim terdengar tegas dan jelas di seluruh ruangan.

1. Perkara Perceraian: Perceraian antara Rania Wijaya dan Arga Pratama diterima dan dinyatakan sah secara hukum. Sebab utama perceraian adalah perselingkuhan yang dilakukan Arga Pratama dengan Maya Sari yang telah terbukti jelas, serta penyalahgunaan kepercayaan dalam pengelolaan aset bersama.

2. Pembagian Harta Gono-Gini: Seluruh aset yang berasal dari perusahaan milik Rania Wijaya, termasuk tanah, bangunan, kendaraan, serta rekening tabungan yang dibiayai dari perusahaan tersebut, dinyatakan sebagai hak milik tunggal Rania Wijaya. Arga Pratama hanya berhak atas aset yang diperoleh dari penghasilan pribadinya selama masa pernikahan, yang nilainya jauh lebih kecil.

3. Pengembalian Aset: Semua aset yang selama ini dinikmati keluarga Arga Pratama (rumah orang tua Arga, mobil adik Arga, serta modal usaha Rumah Makan) harus dikembalikan kepada Rania Wijaya dalam waktu paling lambat 30 hari kerja setelah putusan ini dikeluarkan. Jika tidak dapat dikembalikan dalam bentuk barang, maka harus dibayar dengan nilai pasar saat ini.

4. Ganti Rugi: Arga Pratama diwajibkan membayar ganti rugi sebesar 15% dari total nilai aset yang disalahgunakan kepada Rania Wijaya sebagai bentuk tanggung jawab hukum atas perbuatannya.

Setelah membaca putusan secara keseluruhan, Ketua Hakim menutup berkas dengan mantap. “Putusan ini berlaku dengan kekuatan hukum tetap kecuali ada banding dalam jangka waktu yang ditentukan,” ujarnya sebelum mengakhiri sidang.

Arga hanya bisa menatap lantai tanpa berkata apa-apa. Ayah Arga berdiri perlahan, menghampiri Rania dengan wajah yang penuh penyesalan. “Rania, maafkan kami semua,” ucapnya dengan suara lemah. “Kami tidak tahu bahwa semua itu berasal dari hasil kerja kerasmu. Kami salah mengira bahwa itu adalah bagian dari hak keluarga Arga.”

Rania hanya mengangguk dengan lembut. “Pak, saya tidak pernah ingin menyakiti keluarga Anda. Saya hanya ingin keadilan. Saya akan memberikan waktu yang cukup agar semua aset bisa dikembalikan dengan damai.”

SETELAH PUTUSAN

Sembilan hari setelah putusan keluar, Rania berada di kantor perusahaannya. Ruangan yang dulunya sering diisi oleh Arga kini hanya ditempati oleh dirinya dan tim kerja yang setia. Karyawan-karyawannya menyambutnya dengan senyum yang penuh rasa hormat—mereka telah mengetahui seluruh perkara yang terjadi dan sangat menghargai ketegasan yang ditunjukkan oleh bos mereka.

Pak Haryanto masuk dengan membawa berkas-berkas baru. “Semua proses hukum sudah berjalan lancar, Nyonya Rania,” katanya dengan senyum puas. “Keluarga Arga sudah mulai mengurus pengembalian aset. Rumah orang tua Arga akan mereka kosongkan dalam dua minggu lagi, dan mobil adik Arga sudah siap untuk diambil kapan saja.”

“Terima kasih banyak, Pak Haryanto,” ucap Rania dengan senyum yang tulus. “Tanpa bantuan Anda, saya tidak akan bisa sampai di titik ini.”

Setelah Pak Haryanto pergi, Dina masuk dengan membawa cangkir kopi hangat. “Kabar baik, Ran,” katanya dengan senyum ceria. “Rumah Makan yang dulu dimiliki oleh keluarga Arga sekarang sudah mulai berjalan dengan baik setelah kamu mengubah manajemennya. Pelanggan bilang makanan jadi lebih enak dan harganya lebih terjangkau.”

Rania tersenyum mendengarnya. Setelah mengambil alih Rumah Makan, ia memutuskan untuk tetap menjalankannya namun dengan konsep baru—memberikan kesempatan kerja bagi perempuan yang ingin mandiri dan menggunakan bahan-bahan lokal dari petani di sekitar Bandung.

“Bagaimana kabar mereka?” tanya Rania, menyebut keluarga Arga.

“Kabarnya mereka sudah menyewa rumah kecil di daerah Cimahi,” jawab Dina dengan nada yang lembut. “Ibu Arga masih sulit menerima kenyataan, tapi ayah Arga sudah mulai bekerja lagi sebagai konsultan keuangan. Adik Arga juga sudah mendapatkan pekerjaan di sebuah perusahaan kecil sebagai staf administrasi.”

Rania mengangguk perlahan. “Saya senang mereka mau mulai dari awal. Itu bukan hal yang mudah, tapi setidaknya mereka belajar untuk meraih sesuatu dengan usaha sendiri.”

MULAI BARU

Malam itu, Rania berdiri di balkon apartemennya yang kini terasa lebih luas dan damai. Malam datang perlahan ke kota Bandung, membawa hawa dingin yang kini terasa menyegarkan bukan lagi menusuk hati. Lampu-lampu gedung di seberang tampak seperti bintang-bintang kecil yang menerangi jalan hidup yang masih panjang di depannya.

Ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar adalah Rio Prasetyo.

“Nyonya Rania,” suara Rio terdengar hangat. “Aku mau memberi kabar baik. Maya sudah mengaku kesalahannya dan meminta maaf padaku. Kami sepakat untuk menjalani hidup masing-masing dengan lebih baik. Selain itu, aku baru saja mendengar bahwa perusahaanmu akan mengembangkan cabang baru di Jakarta. Apakah itu benar?”

“Betul sekali, Bapak Rio,” jawab Rania dengan senyum. “Kami sedang mencari mitra bisnis yang dapat dipercaya untuk mengelola cabang tersebut. Mengapa Anda bertanya?”

“Aku punya pengalaman dalam manajemen perusahaan skala menengah,” ujar Rio dengan sedikit ragu. “Jika Anda bersedia memberiku kesempatan kedua, aku ingin mendaftar sebagai calon mitra atau manajer cabang tersebut. Aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menjadi orang yang lebih baik dan memberikan kontribusi yang berharga.”

Rania terdiam sejenak, kemudian tersenyum. “Saya sangat menghargai keberanian Anda untuk mengaku kesalahan dan ingin maju ke depan, Bapak Rio. Silakan kirimkan proposal Anda besok pagi. Kami akan membahasnya dengan seksama.”

Setelah panggilan berakhir, Rania mengambil gelas jus buah yang sudah disiapkan di mejanya. Ia melihat ke arah langit yang penuh bintang, merenungkan semua yang telah terjadi selama ini. Ada rasa sakit yang masih tersisa di dalam hatinya, namun kini sudah tidak lagi menyiksa—melainkan menjadi bagian dari pengalaman yang membuatnya lebih kuat.

Ia teringat kalimat yang pernah ia baca: Perempuan yang tahu nilainya tidak akan bernegosiasi dengan ketidakadilan. Kini ia memahami maknanya dengan lebih dalam. Tidak hanya tentang memperjuangkan hak, tapi juga tentang memiliki keberanian untuk memaafkan, memberi kesempatan kedua, dan paling penting—memulai hidup baru dengan hati yang bersih dan tekad yang kuat.

Esok pagi akan menjadi hari baru, hari di mana ia akan membangun masa depan yang lebih baik bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan dukungan. Dan kali ini, ia akan melakukannya dengan penuh kebijaksanaan, keadilan, dan cinta yang sejati—cinta kepada diri sendiri dan kepada kehidupan.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!