Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.
Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.
Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.
Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.
Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.
Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 23
Di seberang kota, suasana di Mansion Utama membeku dalam keheningan yang mencekam. Jackman berdiri kaku di depan jendela raksasa, menatap hamparan lampu kota dengan sorot mata dingin. Gelas wiski di tangannya bergetar halus, buku-buku jarinya memutih karena cengkeraman yang terlalu kuat.
Suara dinginnya di telepon tadi masih menggantung di udara, menyisakan gema teror bagi siapa pun yang mendengarnya.
“Dia berani mengabaikan panggilanku… demi gadis rendahan itu?” gumam Jackman, rendah dan tajam seperti sembilu yang mengiris perlahan.
Rahangnya mengeras.
Jackman tidak terbiasa dibantah. Tidak oleh siapa pun. Terlebih oleh darah dagingnya sendiri.
Ia akan memastikan Jay mengerti satu hal—bahwa kekuasaan yang ia miliki belum pudar sedikit pun. Bahwa bayangannya masih lebih besar dari ambisi apa pun yang Jay bangun.
Dan untuk itu, ia tak segan membuat putranya menyesal.
Meninggalkan acara amal—panggung pengukuhan warisan keluarga—demi seorang gadis, adalah kesalahan yang akan dibayar mahal.
Jackman kemudian menyesap pelan wiski di tangannya, membiarkan cairan panas itu mengalir perlahan di tenggorokannya. Tatapannya tetap terpaku pada kegelapan di balik jendela.
Dengan gerakan tenang namun penuh tekanan, ia meraih sebatang cerutu dari kotak kayu hitam di atas meja. Jemarinya yang kokoh memutarnya sejenak, seolah menimbang sesuatu yang lebih dari sekadar tembakau.
Api korek menyala.
Cahaya kecil itu memantul di sorot matanya yang dingin.
Ia mengisap dalam-dalam, lalu menghembuskan asap tebal yang perlahan memenuhi ruangan, menciptakan tirai abu-abu di antara dirinya dan dunia.
Keheningan terasa semakin berat.
Dan dalam kepulan asap itu, keputusan yang jauh lebih kejam mulai terbentuk.
————
Di sisi lain, mobil sport milik Zavier menderu tajam sebelum berhenti dengan decitan nyaring di halaman mansion.
Para pengawal dengan sigap mendekat; satu orang membukakan pintu untuk Zavier, sementara yang lain segera mengambil alih kemudi untuk memarkirkan mobil ke garasi.
“Jay benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya,”gumam Zavier. Ia menyembunyikan senyum puas saat melangkah menyusuri lorong mansion yang megah.
Zavier berjalan dengan langkah tenang yang penuh percaya diri. Ia merapikan jasnya, memastikan wajah datarnya tetap terjaga meski kemenangan sudah terasa di depan mata.
Rencananya berhasil. Jay meninggalkan acara paling krusial, dan kini kemarahan Jackman telah mencapai titik nadir.
Zavier memutuskan untuk menemui ayahnya sejenak. Pria yang kerap ia panggil “Ketua” itu harus disapa lebih dulu, meski Zavier tahu sapaannya jarang dianggap berarti.
Di dalam ruangan, Jackman berdiri membelakangi pintu sembari menatap jendela besar dengan gelas wiski di tangan.
Sosoknya tampak dingin, auranya tidak bersahabat sama sekali.
“Ayah… Saya datang untuk menyapa.” ucap Zavier formal.
“Hm. Kau sudah pulang.”
“Benar, Ayah.”
“Aku memang menyuruhmu pulang karena ada satu hal yang harus kau lakukan.”
“Apa pun perintah Anda, pasti akan saya laksanakan.”
Jackman berbalik perlahan.
“Sejak awal aku sudah menduganya. Dia akan mengacau dan memberontak. Aku bisa melihat dari tatapan matanya yang seolah ingin membunuhku setiap kali kami bertemu. Jay telah meninggalkan acara amal demi seorang gadis rendahan, jadi sekarang kau yang akan menggantikannya.”
Zavier tersenyum kecut di dalam hati. Meski sadar ia hanyalah cadangan, posisi itu jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan apa pun sama sekali.
“Saya mengerti. Saya akan menjalankan semua perintah Anda. Saya mohon undur diri untuk menemui Ibu.”
“Hm. Temuilah ibumu. Dia pasti merindukanmu.”
Zavier melangkah menuju kamar Helena. Ia mengetuk pintu pelan sebelum membukanya.
”Ibu..”
Di sana, wanita yang selalu menjadi tameng bagi kedudukan dan tahta milik Zavier agar tidak di rebut oleh Jay sedang berdiri memikirkan sesuatu.
Helena menyambutnya dalam balutan gaun tidur sutra, jemarinya menggenggam gelas wine.
Melihat putra kesayangannya tiba, wajah Helena yang semula kaku mendadak berbinar. Senyum lebar merekah di bibirnya.
“Putraku tersayang...” Helena melangkah anggun mendekat.
“Ibu... aku sangat merindukanmu.”
“ Anak nakal! Kenapa kau tidak langsung menemui ibu, begitu sampai? Apa kau masih marah pada ibumu ini?” tanya Helena dengan nada merajuk.
Zavier memeluk ibunya erat. Ia meraih gelas wine dari tangan Helena, meminumnya dalam sekali teguk, lalu meletakkannya kembali di atas meja.
“Aku punya agenda penting, Ibu,” jawab Zavier.
Tubuh tegapnya tampak sangat dominan saat mendekap sang ibu.
“Agenda apa itu?” tanya Helena penasaran.
“Hanya sesuatu untuk bersenang-senang,” sahut Zavier penuh rahasia sambil tersenyum tipis.
“Astaga... kau ini memang tidak pernah tumbuh besar," canda Helena sembari mencubit gemas pipi anaknya.
Tiba-tiba, raut wajah Helena berubah waspada. Ia berjalan menuju pintu, memastikan tidak ada telinga yang menguping di luar. Setelah merasa aman, ia kembali dan memulai pembicaraan serius.
“ Anak emas itu—adik tirimu—akhirnya membuat kesalahan fatal, bukan?" Helena tersenyum sinis.
“Lebih dari sekadar kesalahan, Ibu,” jawab Zavier sembari mengempaskan tubuh di sofa kamar.
“Jay tidak hanya melewatkan pengukuhan. Dia membawa gadis itu ke apartemen pribadinya. Dia membiarkan kelemahannya terekspos jelas di depan Jackman dan para pesaing kita.”
Zavier menuangkan minuman baru untuk dirinya sendiri. Rasa iri pada Jay—anak haram yang selalu mendapat restu Jackman—kini menguap, berganti menjadi ambisi yang membara.
“Ayah sangat murka. Dia merasa Jay lebih memilih sampah jalanan daripada takhta yang sudah disiapkan,” lanjut Zavier dengan nada puas.
Helena mendekat, mengelus lembut bahu Zavier yang tengah menikmati minumannya.
“Jika Jay hancur karena gadis itu, maka kau adalah satu-satunya pilihan yang tersisa bagi Jackman. Aku akan mengirim orang secara diam-diam untuk memprovokasi keadaan di sekitar mereka. Kita akan membuat gadis itu menjadi duri yang paling menyakitkan bagi Jay. Biarkan dia terbakar oleh gairahnya sendiri.”
Zavier menyeringai, membayangkan kehancuran sang adik tiri.
“Aku akan memastikan Jay tidak hanya kehilangan takhtanya, tapi juga gadis yang ia puja. Di tangan Jackman, cinta adalah hukuman mati. Aku benar-benar penasaran, secantik apa wajah gadis yang sanggup membuat Jay kehilangan kewarasannya.”
Helena mengangkat gelasnya dan menyodorkannya pada Zavier. Dengan patuh, Zavier menuangkan wine merah yang kental, mengucur perlahan memenuhi cawan kaca tersebut.
Sementara itu, jemari lentik Helena yang terasa dingin meraih ponsel pintar bertahtakan berlian miliknya. Di bawah temaram cahaya lampu kristal kamar, mata wanita itu berkilat tajam—memancarkan ambisi dan haus kekuasaan yang tak lagi mampu ia sembunyikan.
Helena menggeser layar, mencari sebuah nama di daftar kontak rahasianya; seseorang yang selama ini ia bayar mahal untuk menyelesaikan berbagai pekerjaan kotor dengan rapi.
“Lakukan sekarang. Aku mendengar Jay sedang dalam perjalanan ke mansion utama untuk menemui Jackman,” ucap Helena tanpa basa-basi begitu panggilan tersambung.
Suaranya rendah dan tajam, nyaris terdengar seperti desisan ular yang berbisa.
Di seberang telepon, seorang pria bersuara berat menyahut singkat, “Targetnya?”
“Gadis rendahan yang ada di apartemen Jay,” jawab Helena dengan senyum sinis.
Helena menatap anak kesayangannya, Zavier, yang juga membalas dengan seringai serupa sembari mereka menyesap wine masing-masing.
“Sergap apartemen pribadi Jay. Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya, tapi buatlah seolah-olah Jackman-lah yang mengutusmu untuk melukai dan menculik gadis kesayangan Jay itu. Gadis yang sudah membuat putra mahkota kita bertekuk lutut pada cinta naifnya,” instruksi Helena dengan nada penuh kemenangan.
Bersambung
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....