Cerita ini mengikuti perjalanan hidup Lauren, seorang gadis yang terlahir dengan kemampuan melihat dunia gaib. Dari masa balita yang penuh ketakutan hingga masa remaja yang penuh tantangan, Lauren didampingi oleh Herza, sesosok arwah mentor. Hidupnya menjadi rumit saat ia bertemu Banyu, pemuda dengan aura misterius yang ternyata merupakan kunci dari rencana besar kekuatan jahat kuno. Lauren harus memilih antara keinginan untuk hidup normal atau menerima takdirnya sebagai pelindung di antara dua dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mata yang Terlalu Banyak Melihat
"Jangan ditarik, Kakek. Sakit," bisik Lauren pelan.
Maria mematung di ambang pintu kamar. Tangannya yang memegang nampan berisi potongan apel gemetar halus. Di sudut kamar yang remang, putri kecilnya yang baru berusia tiga tahun itu sedang duduk bersila, menatap dinding kosong dengan ekspresi serius. Lauren mengulurkan tangan kecilnya ke udara, seolah sedang menepis tangan seseorang yang tidak terlihat.
"Lauren? Sayang, kamu bicara sama siapa?" Maria berusaha menjaga suaranya tetap stabil, meski detak jantungnya berpacu liar.
Lauren menoleh. Matanya yang bulat besar menatap sang ibu dengan polos.
"Sama Kakek, Ma. Dia mau pinjam boneka kelinci Lauren, tapi dia narik rambut Lauren terus."
Maria meletakkan nampan di atas meja kecil dengan gerakan kaku. Dia menghampiri putrinya, lalu berlutut di sampingnya. Udara di sudut kamar itu terasa beberapa derajat lebih dingin dibandingkan area lainnya. Bulu kuduk Maria berdiri tegak.
"Kakek siapa, Nak? Di sini cuma ada kita berdua," kata Maria lembut, sambil menyisir rambut Lauren yang halus.
Lauren menunjuk ke arah sudut plafon yang gelap.
"Itu, Ma. Kakek yang bajunya sobek-sobek. Dia nggak pakai sepatu. Jempol kakinya hitam, kayak habis kejepit pintu."
Napas Maria tertahan. Penjelasan itu terlalu spesifik untuk imajinasi seorang balita. Maria tidak pernah menunjukkan gambar orang tua yang menderita atau membiarkan Lauren menonton tayangan yang tidak sesuai usia. Bagaimana anaknya bisa mendeskripsikan detail sedemikian rupa?
Suara langkah kaki berat terdengar dari lorong. Bram masuk ke kamar dengan kemeja kantor yang sudah kusut. Dia melihat ketegangan di wajah istrinya dan langsung menghela napas panjang.
"Masih soal teman khayalannya?" tanya Bram, suaranya terdengar lelah.
Maria berdiri, menarik Bram sedikit menjauh dari Lauren.
"Ini bukan sekadar teman khayalan, Mas. Dia mendeskripsikan detail yang tidak masuk akal. Dia bilang ada kakek tanpa sepatu dengan jempol kaki hitam di sana."
Bram menatap sudut ruangan yang ditunjuk istrinya, lalu beralih menatap Lauren yang kembali asyik menata balok kayu.
"Maria, dia baru tiga tahun. Dia mungkin mendengar percakapan kita, atau melihat sesuatu di jalan tadi pagi. Anak-anak punya imajinasi yang sangat liar. Jangan terlalu dramatis."
"Aku tidak dramatis, Bram! Aku bisa merasakan hawanya. Dinginnya beda," bantah Maria dengan suara tertahan agar tidak mengejutkan Lauren.
Bram berjalan mendekati Lauren, berjongkok, dan mengacak rambut putrinya.
"Lauren, nggak ada siapa-siapa di sana, kan? Cuma ada Ayah, Mama, dan mainan Lauren."
Lauren mendongak, menatap ayahnya dengan tatapan yang terasa terlalu tua untuk usianya.
"Kakeknya pergi karena Ayah datang. Dia bilang Ayah berisik."
Bram tertawa kecil, meski ada kilat keraguan sesaat di matanya. Dia bangkit dan menatap Maria dengan sombong.
"Lihat? Dia cuma main-main. Kamu hanya perlu lebih banyak istirahat, Maria. Beban mengurus rumah membuatmu jadi parno."
"Aku melihatnya sendiri, Bram. Anak kita bicara pada udara kosong setiap hari," bisik Maria, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Dia hanya butuh sosialisasi. Mungkin tahun depan kita masukkan dia ke taman bermain agar dia punya teman nyata," jawab Bram final sambil melangkah keluar kamar.
Maria kembali menatap Lauren. Putrinya kini terdiam, tidak lagi menyentuh balok-balok kayunya. Lauren menatap ke arah lemari pakaian besar yang pintunya sedikit terbuka. Suasana di dalam kamar itu tiba-tiba terasa sangat berat, seolah oksigen di dalamnya terserap habis oleh sesuatu yang tak kasatmata.
"Ma?" panggil Lauren. Suaranya kecil dan bergetar.
"Iya, Sayang?" Maria mendekat, merasakan firasat buruk yang merayapi punggungnya.
Lauren merangkak mendekati ibunya, lalu memeluk leher Maria dengan erat. Tubuh kecil itu menggigil hebat.
"Kakek tadi sudah pergi. Tapi..."
"Tapi kenapa, Nak?"
"Ada yang lain di dalam lemari," bisik Lauren tepat di telinga Maria.
Maria mencoba menenangkan dirinya sendiri. Dia meyakinkan hatinya bahwa itu hanya ketakutan anak kecil pada kegelapan. Dia mencoba berdiri, berniat menutup pintu lemari itu agar Lauren merasa lebih aman. Namun, saat dia baru melangkah satu kali, lampu kamar tiba-tiba berkedip redup.
Ceklek.
Pintu lemari yang tadinya hanya terbuka sedikit, kini perlahan-lahan mengayun lebar dengan suara engsel yang berderit panjang. Maria membeku di tempatnya. Tidak ada angin di dalam kamar itu. Jendela tertutup rapat.
"Ma, dia marah," isak Lauren. Tangisannya mulai pecah.
Maria memeluk Lauren sekuat tenaga, matanya terpaku pada kegelapan di dalam lemari. Di antara gantungan baju yang bergoyang pelan, dia tidak melihat apa-apa. Namun, insting keibuannya meneriakkan bahaya yang nyata.
"Jangan lihat, Lauren. Jangan lihat," gumam Maria, menenggelamkan wajah putrinya di bahunya.
"Dia merah, Ma! Matanya banyak!" Lauren tiba-tiba menjerit histeris. Suaranya melengking tinggi, memecah kesunyian rumah.
Lauren meronta-ronta dalam pelukan Maria, kakinya menendang-nendang udara seolah mencoba melepaskan diri dari cengkeraman sesuatu yang tidak terlihat. Maria berusaha menahan tubuh anaknya, namun kekuatan Lauren saat itu terasa sangat besar, jauh melampaui tenaga normal seorang balita.
"Bram! Bram, tolong!" teriak Maria ketakutan.
Bram berlari kembali ke kamar dengan wajah panik. Dia melihat Lauren yang meronta-ronta dalam pelukan Maria, wajah putrinya merah padam dengan urat-urat leher yang menonjol. Lauren terus menunjuk ke arah kegelapan lemari dengan jari yang gemetar.
"Ada apa? Lauren!" Bram mencoba mengambil alih Lauren dari pelukan Maria, namun Lauren justru semakin histeris.
"Pergi! Pergi mata merah!" teriak Lauren. Matanya melotot tajam ke satu titik di dalam lemari yang sepenuhnya gelap.
Tepat saat itu, lampu kamar mati total. Kegelapan pekat menyergap mereka seketika. Dalam hitungan detik yang terasa seperti keabadian, Maria bersumpah dia melihat sesuatu yang mustahil. Di tengah kegelapan lemari itu, dua titik cahaya merah menyala muncul. Bukan cahaya lampu, melainkan sepasang mata yang berkilat dengan kebencian murni.
Mata itu besar, tidak berkedip, dan menatap lurus ke arah mereka.
Maria tercekik oleh rasa takutnya sendiri. Jeritan Lauren mendadak berhenti, digantikan oleh suara napas yang terengah-engah dan berat. Saat Bram menyalakan senter dari ponselnya, sepasang mata merah itu sudah lenyap. Lemari itu kosong, hanya menyisakan deretan baju yang diam membisu.
Namun, Lauren tidak lagi menangis. Dia jatuh pingsan di pelukan Maria dengan wajah pucat pasi. Maria menatap suaminya yang kini juga berdiri mematung dengan tangan gemetar. Logika rasional Bram yang kokoh baru saja dihantam oleh sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan mana pun.
Maria tahu, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi sejak malam ini. Kegelapan itu tidak hanya sekadar mampir; ia sudah menemukan apa yang dicarinya. Dan apa yang ia cari, kini berada dalam dekapan Maria.