Nova lisma, gadis desa yang tiba-tiba mendapat sistem keberuntungan, tentu saja terkejut. namun, dia langsung memanfaatkan semuanya. dan dia yang mengupayakan untuk kuliah, benar-benar memanfaatkan sistem tersebut.
dia mengumpulkan modal dari hadiah sistem, dan kemudian perlahan membuka usahanya sendiri.
sementara, setelah dirinya mendapatkan sistem, dia pun jadi melupakan kebiasaannya yang selalu menempel pada seorang laki-laki yang merupakan seniornya. Julian.
lalu bagaimanakah selanjutnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tirta_Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. apakah
sementara di rumah sakit. Julian dan teman-temannya yang sudah mendapatkan penanganan intens dari dokter, langsung bertanya pada susternya yang tampak sedang mengurus mereka.
"sus!! 3 perempuan yang mengantarkan kami ke sini, mereka di mana ya ?" tanya salah satu dari mereka, yang bernama Satria. sementara hanya mereka bertiga, Julian, Satria dan juga Rudi. sementara Andre tidak ikut pergi bersama mereka, karena Andre sedang ada acara keluarga di rumahnya.
"oh.. mbak-mbak itu sudah pada pulang mas. setelah membayar biaya administrasi secara full, mereka langsung bergegas pergi." mendengar itu, Julian dan teman-temannya pun langsung saling memandang.
"kalau boleh tahu Mbak, mereka siapa ya..?" mendengar pertanyaan itu, ketiganya langsung membatin dengan pikiran masing-masing.
mereka yakin, kalau itu adalah Nova dan kedua temannya.
"penanggung jawabnya adalah Nova lisma." mendengar nama itu, ketiganya pun langsung kompak menganggukkan.
"ooo.. makasih ya sus.."
"Iya Mas sama-sama! kalau begitu, saya pamit dulu. kalau ada apa-apa segera kabari ya Mas."
"baik sus." setelah suster yang menangani mereka tadi pergi, ketiganya langsung berdiskusi.
"benar kan!! aku tidak salah lihat. yang menghadapi orang-orang yang menyerang kita malam ini benar-benar adalah Nova. Dia keren banget sumpah!!" seru Satria dengan heboh kepada kedua temannya.
"betul banget!! kalau aku, pas jelasnya itu ketika dia membantu kita masuk ke dalam mobil Pajero yang mewah itu.!" sambung Rudi.
sementara Julian, dia terdiam dengan kening berkerut. tapi kok mengapa dia tidak yakin kalau itu adalah Nova. siluetnya memang adalah Nova, tapi terlihat tubuh gadis itu sedikit lebih tinggi, dan juga cukup cantik. dan tentu saja, matanya masih belum rabun untuk mengenali seseorang.
"kenapa kamu diam an..?" tanya Rudi kepada Julian. Julian yang mendengar itu pun mendudukkan tubuhnya.
"Apakah kalian yakin itu adalah Nova ? tapi postur tubuhnya sangat berbeda dengan siluet Nova ?" tanyanya lagi pada dirinya sendiri. mendengar penuturan itu, Rudi dan Satria jadi terdiam.
seketika mereka ingat, kalau gadis itu memang sedikit lebih tinggi daripada Nova sebelumnya. tapi mata dan wajah gadis itu benar-benar mirip Nova. hanya saja memang jauh sedikit lebih terawat dan cantik.
"masa sih! aku nggak mungkin salah mengenal seseorang. dia memang adalah Nova. cuman, aku akui, dia memang jauh terlihat lebih cantik daripada tampilannya sebelumnya. tapi aku yakin kok!! dia itu beneran Nova lisma!" seru Satria lagi. Rudi yang mendengar itu pun menganggukkan kepalanya.
"sudah! sebaiknya kita hubungi keluarga masing-masing biar dijemput. aku nggak Beta lama-lama di rumah sakit. nanti pemulihannya pas di rumah aja lah. pokoknya, kalau sudah masuk kuliah, aku akan cari Nova. aku akan buktikan sendiri, kalau itu beneran Nova." tekad Rudi. dan entah mengapa Julian sedikit tidak suka melihat tekad kedua temannya ini.
seolah-olah, dia merasa kalau dirinya akan menemukan rintangan untuk Nova. padahal dia tak pernah menganggap itu sebelumnya.
"sudah sudah! sebaiknya kalian istirahat aja."ujar Julian lagi. Julian pun langsung menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.
(kalau memang itu adalah Nova.. mengapa, Dia terlihat tak mengenaliku.? kalaupun mengenaliku, akhir-akhir ini dia sering menghindariku. dulu tampilannya biasa-biasa.. tapi, malam ini aku melihatnya berbeda. sss... sudahlah. aku akan membuktikannya nanti besok. sekarang waktunya untuk istirahat dan memulihkan tenaga. syukurnya mereka lewat dan menemukan kami hari ini.. kalau tidak, nggak tahu akan seperti apa nasib kami ke depannya. mungkin tubuh ini sudah terbujur ke aku dan telah menjadi mayat.) gumamnya dalam hati sambil tersenyum miris.
namun tanpa pikir panjang, Julian pun langsung merebahkan tubuhnya dan memilih untuk tidur bunda mengistirahatkan tubuhnya.
*******
pagi pun kembali menyingsing. Nova dan kedua temannya berangkat kampus lebih awal. Karena, tentunya kedua temannya ini harus kembali ke kosan mereka dulu untuk mengganti pakaian.
namun sebelum meninggalkan kontrakan, Nova langsung menghubungi Aulia. karena biasanya, Aulia pasti akan menjemputnya ke kosan.
"assalamualaikum au..?"
"waalaikumsalam.."
"kamu baru bangun..?" tanyanya.
"mm.. Iya nih! ada apa nov.. kalian kembali jam berapa semalam ?" tanyanya lagi. Aulia tentu saja sangat perhatian pada Nova. Nova pun tersenyum.
"ya sekitar jam 12.00 malam lah. oh ya, aku cuma mau ngasih tahu kamu, Aku berangkat duluan ke kampus." tuturnya lagi. mendengar itu, Aulia sedikit melototkan matanya. dia takut, kalau dia bangun kesiangan. namun dia bisa bernafas lega, ketika mendapati kalau waktu masih menunjukkan pukul 08.00 pagi.
"mmm... cepat amat bes.." ucapnya.
"hehehe.. Iya nih.. soalnya aku harus nganterin dua cecunguk ini dulu. ke kosan mereka, untuk mengganti pakaian. soalnya semalam, Amin nginep di sini semuanya." tuturnya.
"oh.. Ya sudah kalau begitu."
"okelah!! sampai ketemu di kampus ya.."
"Siip!!" akhirnya mereka pun mengakhiri panggilan. Aulia langsung bangkit dari posisi tidurnya, dan kemudian langsung bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. begitu pula dengan Nova, setelah selesai ngobrol sebentar dengan Aulia, dia pun dan kedua temannya langsung meninggalkan kontrakan.
*****
tak terasa, perkuliahan pun selesai. di sana, Nova dan kedua temannya keluar dari ruangan, dan bermaksud ingin ke kantin. tapi sayang, saat mereka keluar dari dalam ruangan, di sana, ternyata ada Julian dan teman-temannya yang tidak biasanya duduk nongkrong di depan kelas mereka.
awalnya Nova dan kedua temannya tidak peduli. karena mereka yakin, para laki-laki itu tidak mungkin datang untuk mereka.
"Nova!!" panggil Satria, orang yang pertama kali melihat Nova.
mendengar panggilan itu, Nova, Rani dan leli langsung berhenti. kemudian mereka bertiga kompak menoleh ke arah Satria, yang tampak sedang berjalan menghampiri mereka.
"hai Nov.. akhirnya kalian keluar juga." tutur Satria, membuat kening ketiga gadis itu berkerut.
"kalian menunggu kami..?" tanya Leli. Satria pun menganggukkan kepalanya.
"ya.. lebih tepatnya nunggu Nova." sementara Julian, Rudi dan Andre juga ikut menyusul langkah kaki satria. Andre yang tidak paham dengan kondisi dan situasi yang terjadi, hanya mengikuti langkah kaki ketiga teman-temannya dengan kebingungan.
"ada apa kalian mencari saya..? Saya sekarang sudah tidak melakukan apa-apa lagi ya ! jangan-jangan, Kalian mau nuduh-nuduh dan ngomelin saya lagi.' tutur Nova dengan waspada. Satria yang mendengar itu langsung sigap mengangkat tangannya.
"eh enggak kok!! kita murni datang kemari bukan untuk nuduh dan ngomelin kamu. kita datang ke sini, hanya untuk berterima kasih sama kamu, secara langsung. soalnya kemarin, kamu langsung meninggalkan rumah sakit begitu saja setelah menolong dan membayar biaya rumah sakit kami. oh ya, kami juga ingin mengganti biaya tagihan rumah sakit yang diminta pada mu." tutur Satria yang langsung mengeluarkan handphonenya untuk mengirimkan uang ke rekeningnya.
Andre yang mendengar penjelasan itu semakin mengerutkan kening. Julian tampak sedikit buang-buang muka, namun Rudi tersenyum memandang wajah cantik Nova.
(kenapa aku baru sadar sekarang, kalau Nova sangat cantik.) gumamnya. itu tentu saja karena pil kecantikan yang ia dapatkan dari sistem. tapi pil kecantikan itu tak bekerja serta merta atau langsung. melainkan proses itu bertahap, untuk mempercantik wajah Nova sehingga tidak terlalu mencolok.