Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 15 - DUA LAKI-LAKI YANG TAK MAU MENGALAH
Gill bangun pagi dengan rambut yang sudah memutuskan untuk tidak bekerja sama.
Ini bukan hal baru. Setiap pagi, tanpa gagal, rambutnya bangun dalam kondisi yang bisa digambarkan dengan banyak kata tapi kata yang paling tepat adalah: bencana. Bukan bencana yang dramatis, bukan pula yang bisa diselesaikan dengan satu sapuan tangan. Lebih seperti bencana yang sudah menetap dan sudah merasa nyaman di tempatnya sehingga tidak merasa perlu bergerak ke mana-mana meski ada yang sangat ingin ia pergi.
Gill menatap dirinya di cermin kamar mandi selama tiga detik.
Rambut di sisi kiri tegak ke atas dengan sudut yang tidak bisa dijelaskan oleh fisika normal. Rambut di sisi kanan lebih datar tapi ada satu helai di bagian depan yang melengkung ke arah yang berlawanan dari seluruh rambutnya seolah ingin menjadi pembeda.
Gill mengambil sisir.
Menyisir ke kiri.
Rambut kiri turun setengah detik lalu kembali ke posisi semula.
Menyisir ke kanan.
Rambut kanan mengikuti sisir tapi helai yang melengkung di depan semakin melengkung.
Gill meletakkan sisirnya.
Mengambil air dari keran, membasahi telapak tangannya, mengusapkan ke rambut dengan tekanan yang cukup untuk merapikan tapi tidak cukup untuk membuatnya terlihat seperti baru keluar dari kolam renang.
Rambut turun.
Rapi selama empat detik.
Lalu perlahan, dengan kecepatan yang hampir bisa dinikmati kalau tidak sangat menyebalkan, rambut itu naik kembali ke posisi semula. Helai di depan kini bahkan lebih melengkung dari sebelumnya, seolah air justru memberinya semangat baru.
Gill menatap cermin.
Cermin menatap balik.
Dari arah pintu kamar mandi, suara kecil menyela.
"Kak Gill, Fio mau gosok gigi juga."
Gill membuka pintu. Fio berdiri di luar dengan sikat giginya yang bergambar ikan dan odol rasa mint yang sudah terlalu besar ukurannya untuk mulut sekecil milik Fio, menengadah menatap Gill dengan mata yang masih sedikit sembap karena baru bangun.
Gill menggeser ke sisi wastafel, memberi ruang.
Fio masuk, menaiki bangku kecil yang memang sudah disimpan di sana karena Fio belum cukup tinggi untuk menjangkau wastafel tanpa bantuan, dan mulai menyikat giginya dengan cara yang lebih menyerupai Fio sedang menggosok kuas cat ke kanvas daripada orang yang sedang membersihkan gigi.
"Kak," Fio berkata di antara gosok-gosokannya, menghasilkan busa yang cukup banyak untuk membuatnya sedikit sulit bicara tapi tidak cukup untuk menghentikannya. "Rambut Kak Gill aneh lagi."
"Aku tahu."
"Kayak antena."
"Terima kasih, Fio."
"Fio cuma bilang." Fio meludahkan busa, berkumur, lalu menatap Gill di cermin dengan ekspresi yang sangat serius. "Mau Fio bantu?"
"Tidak perlu."
"Fio bisa loh. Kemarin Fio sisirin rambut boneka Fio dan hasilnya bagus."
"Aku bukan boneka."
"Iya tapi rambutnya sama-sama berantakan."
Gill menatap adiknya di cermin. Fio menatap balik dengan mata yang sudah tidak sembap lagi dan penuh antusias yang tidak proporsional untuk pagi hari di jam yang belum genap setengah tujuh.
"Selesai gosok gigimu dulu," Gill berkata akhirnya.
Fio kembali ke sikat giginya dengan semangat yang sama.
Gill menyisir rambutnya sekali lagi, kali ini dengan pasrah yang sudah melepaskan ekspektasi, dan hasilnya tidak jauh berbeda dari sebelumnya meski helai yang melengkung di depan sudah mau sedikit turun. Cukup. Tidak sempurna, tapi cukup. Gill bukan orang yang membuang lebih dari waktu yang diperlukan untuk sesuatu yang tidak akan berubah besar meski diusahakan lebih keras.
Ia meninggalkan kamar mandi dan berjalan ke dapur.
---
Sarapan pagi di rumah Gill adalah tanggung jawab yang sudah lama berpindah ke tangannya tanpa pernah ada pengumuman resmi.
Bukan karena orang tuanya tidak ada. Mereka ada, tapi ada dalam artian fisik saja. Ayahnya berangkat kerja sebelum matahari naik, ibunya sibuk dengan urusan kantornya sendiri yang tampaknya tidak pernah benar-benar selesai bahkan di akhir pekan. Mereka bukan orang tua yang buruk. Hanya orang tua yang sibuk sampai ke tingkat dimana hal-hal kecil seperti memastikan anak-anaknya sarapan sebelum berangkat sekolah masuk ke dalam celah-celah yang tidak sempat terisi.
Gill sudah lama berhenti menunggu celah itu terisi dari arah lain.
Ia membuka lemari dapur.
Roti tawar. Stok tinggal setengah bungkus. Gill mengambil dua lembar, meletakkannya di atas piring, dan membuka laci di bawah kompor untuk mengambil mentega.
Tidak ada mentega.
Gill menutup laci.
Membuka lemari di atasnya.
Selai kacang. Hampir habis, tapi masih ada cukup untuk dioleskan tipis ke dua lembar roti tanpa harus menggaruk dasar botolnya terlalu keras.
Ia mengoleskan selai ke kedua lembar roti, memanaskan satu gelas susu di microwave karena Fio tidak mau sarapan tanpa susu hangat, dan meletakkan semuanya di meja makan sebelum kembali ke kamarnya untuk ganti seragam.
Ketika kembali ke meja makan, Fio sudah duduk di kursinya dengan seragam sekolah dasar yang dikancingkan miring satu lubang.
Gill duduk di seberangnya. Mengambil rotinya.
Menggigit.
Keras.
Bukan keras yang nikmat seperti roti bakar yang krispi. Keras yang lebih mendekati Gill menggigit kesabaran hidupnya sendiri dan menemukan bahwa stoknya hari ini sedikit lebih tipis dari biasanya.
"Rotinya keras ya Kak?" Fio berkata, mulutnya sudah penuh dengan rotinya sendiri yang rupanya diterima dengan jauh lebih baik oleh Fio dari pada oleh Gill.
"Sedikit."
"Kenapa nggak dihangatkan dulu?"
"Tidak kepikiran."
Fio mengangguk dengan ekspresi bijak yang tidak sesuai usia. "Kak Gill memang suka lupa hal-hal kecil."
"Terima kasih, Fio."
"Sama-sama."
Gill menatap rotinya sebentar. Lalu melanjutkan memakannya karena tidak memakannya juga tidak akan mengubah teksturnya dan perut tetap perlu diisi.
Di seberangnya, Fio minum susunya dengan kedua tangan menggenggam gelas, pelan dan hati-hati karena pernah menumpahkan susu di meja tiga minggu lalu dan Gill yang harus membersihkannya sambil terlambat sekolah.
"Kak," Fio berkata setelah menelan suapannya.
"Hm."
"Hari ini Kak Ara ada di sekolah kan?"
Gill memandangi rotinya. "Sekolah mungkin."
Fio tampak memproses informasi itu. "Tapi nanti ketemu lagi?"
"Mungkin."
"Fio suka Kak Ara."
"Kamu sudah bilang itu tiga kali dalam dua hari."
"Karna beneran suka." Fio meletakkan gelasnya, menatap Gill dengan ekspresi yang terlalu serius untuk pagi hari. "Kak Ara baik. Dan dia suka liatin ka Gill mulu."
Gill mendongak dari rotinya. "Liatin gimana?"
"Nggak tau." Fio mengangkat bahunya dengan cara yang sangat Gill, sampai-sampai Gill hampir ingin mengomentarinya tapi memilih tidak.
Gill diam.
Fio kembali ke rotinya, tidak menyadari bahwa kalimatnya baru saja mendarat di suatu tempat yang lebih dalam dari yang biasanya bisa dicapai oleh percakapan pagi sebelum setengah tujuh.
Gill menghabiskan rotinya. Keras sampai suapan terakhir.
Tapi kali ini ia tidak terlalu memperhatikan teksturnya.
---
Sekolah dasar Fio ada dua blok ke kanan dari rumah mereka, cukup dekat untuk berjalan kaki tapi Gill tetap mengantarnya karena Fio punya kebiasaan singgah di tempat-tempat yang tidak seharusnya kalau dibiarkan berjalan sendiri.
Seperti pagi ini, ketika Fio berhenti di depan toko kecil di pinggir jalan dan menatap toples permen di etalase dengan tatapan yang sudah sangat Gill kenal.
"Fio."
"Kak Gill, itu permen rasa leci."
"Kita sudah membahas ini."
"Tapi rasa leci itu langka."
"Kamu bilang hal yang sama tentang permen rasa semangka minggu lalu."
"Karna dua-duanya langka."
Gill menarik lengan Fio pelan, melanjutkan jalan. Fio mengikut sambil menoleh ke belakang ke arah toples permen itu sampai sudut jalan berikutnya memutus garis pandangnya.
"Nanti pulang sekolah?" Fio masih mencoba.
"Tidak."
"Kak Gill."
"Fio sudah punya permen di rumah yang belum habis."
"Itu rasa mint. Rasa mint itu untuk gosok gigi bukan untuk makan."
Gill menatap ke depan, menahan sesuatu di sudut bibirnya. "Minta Bu Sari traktir kalau mau permen."
"Bu Sari guru matematika, dia nggak pernah traktir anak-anak."
"Kalau begitu konsentrasi di pelajarannya supaya dapat nilai bagus dan minta hadiah ke ibu."
Fio memikirkan itu beberapa langkah. "Itu rencananya bagus."
"Aku tahu."
Mereka sampai di gerbang sekolah dasar. Fio melepas pegangannya dari tangan Gill dan berbalik, menyesuaikan tali tasnya yang sudah miring ke satu sisi.
"Kak Gill," ia berkata.
"Hm."
"Pulang jemput Fio ya."
"Iya."
"Jangan telat."
"Iya, Fio."
"Dan rapiin rambut dulu sebelum masuk sekolah."
Gill menatap adiknya.
Fio sudah berbalik dan berlari kecil ke arah kelasnya, rambutnya yang ikal memantul-mantul mengikuti langkahnya, dan sebelum menghilang di balik pintu ia menoleh sekali dan melambaikan tangan ke arah Gill dengan semangat yang sama seperti selalu.
Gill mengangkat satu tangan sebagai balasan.
Lalu berbalik dan berjalan ke arah sekolahnya sendiri.
---
Eldria International High School di pagi hari terasa berbeda dari dua minggu lalu.
Bukan fisiknya yang berubah. Gedungnya masih sama, gerbangnya masih sama, tanaman di sepanjang jalan masuk yang tampaknya dirawat dengan sangat serius oleh seseorang yang sangat peduli dengan estetika masih sama. Yang berbeda adalah cara-cara kecil yang tidak berubah secara fisik tapi Gill rasakan ketika ia berjalan masuk.
Tatapan.
Bukan tatapan baru dalam artian belum pernah ada sebelumnya. Gill sudah terbiasa dengan tatapan sejak lama, tatapan yang menyertai reputasi penyendiri aneh maniak game yang sudah ia bangun atau lebih tepatnya biarkan terbentuk sendiri selama setahun lebih di sekolah ini.
Tapi tatapan hari ini berbeda kualitasnya.
Sebelumnya tatapan orang ke arahnya menyampaikan sesuatu seperti: ada apa dengan dia, kenapa dia selalu sendirian, aneh banget. Tatapan yang mengabaikan sekaligus sedikit penasaran dengan cara yang tidak pernah cukup dalam untuk jadi perhatian sungguhan.
Tatapan hari ini menyampaikan sesuatu yang berbeda.
Ada yang menatap dengan ekspresi yang kalau diterjemahkan berbunyi: dia yang itu? Yang itu? Sungguh? Ada yang berbisik ke temannya tanpa terlalu repot menyembunyikan bahwa bisikan itu tentang Gill. Ada beberapa yang menatap dengan cara yang lebih langsung, tatapan yang sudah memiliki kesimpulan sebelum memiliki cukup fakta, tatapan yang berkata: kau tidak pantas untuk putri sekolah ini.
Gill berjalan melalui semua itu dengan langkah yang sama.
Tidak dipercepat, tidak diperlambat. Tangannya di saku. Matanya ke depan. Seperti tatapan-tatapan itu adalah cuaca, dan cuaca tidak membutuhkan reaksi apapun selain menyesuaikan pakaian kalau perlu, dan hari ini tidak perlu.
Ia sudah terbiasa dengan lebih dari ini.
Satu hal yang Gill pelajari bertahun-tahun adalah bahwa opini orang tentang dirinya adalah sesuatu yang bisa ia biarkan eksis tanpa harus ia undang masuk ke dalam. Seperti suara di luar jendela, bisa didengar, tapi tidak perlu mengubah apa pun di dalam ruangan.
Ia masuk ke gedung, naik ke lantai dua, berjalan ke lokernya.
Membuka loker. Mengambil buku yang diperlukan hari ini. Dan dari sudut paling atas loker, di belakang tumpukan buku yang sudah tidak terpakai, ia mengambil satu kotak susu yang ia simpan tadi pagi sebelum berangkat.
Full cream. Merek yang sama. Sudah ia persiapkan sejak semalam ketika ia lewat minimarket sepulang mengantar Fio ke warung beli keperluan mandi dan melihat kulkas minuman di dekat kasir.
Gill menutup lokernya.
Memasukkan susu kotak ke saku jaketnya.
Lalu berjalan ke arah kelas XI-A.
---
Kelas XI-A sudah cukup terisi ketika Gill sampai di ambang pintunya.
Cukup terisi berarti ada sekitar dua pertiga siswa yang sudah hadir, sebagian duduk di bangkunya masing-masing, sebagian masih mengobrol berdiri. Cukup banyak untuk membuat kehadirannya langsung diperhatikan oleh sebagian dari mereka, tapi Gill tidak mengubah langkahnya karena itu.
Yang pertama ia cari di ruangan itu adalah meja Ara.
Ara sudah ada di sana, duduk dengan buku terbuka di depannya, rambut blonde yang rapi dengan cara yang tampak natural tanpa terlihat diusahakan berlebihan. Di sebelahnya, Via sudah ada juga dengan postur yang sudah berubah menjadi sedikit lebih waspada begitu melihat Gill masuk.
Dan di sisi meja Ara, berdiri dengan tangan dimasukkan ke saku celana dan senyum yang sudah terpasang dengan cara yang tampak mudah, ada Mike.
Gill membaca situasi itu dalam satu detik.
Lalu berjalan masuk.
Beberapa kepala menoleh mengikutinya. Bisikan menyala di satu-dua titik. Gill tidak memperhatikan.
Ia berhenti di sisi meja Ara, mengambil kotak susu dari sakunya, dan meletakkannya di meja dengan cara yang sudah menjadi kebiasaan yang terbentuk dalam empat hari.
Ara mengangkat kepalanya. "Pagi."
"Hm." Gill mengangguk sedikit. Lalu, karena ada sesuatu yang ia ingat dari percakapan kemarin malam, ia berkata, "Bekalku?"
Ara berkedip. Lalu sesuatu di wajahnya berubah menjadi ekspresi yang menyerupai seseorang yang baru mengingat janji yang hampir terlupakan. "Oh. Iya."
Ia membungkuk ke tasnya, membuka resleting bagian samping, dan mengeluarkan satu kotak bekal yang lebih kecil dari kotak bekalnya sendiri, dibungkus dengan kain serbet berwarna biru muda yang tampaknya milik dapur.
Memberikannya ke Gill.
Gill mengambilnya. Membuka tutupnya sebentar untuk melihat isinya.
Nasi. Telur dadar yang dilipat rapi. Irisan tomat di sudut. Dan satu lembar kertas kecil yang dilipat empat diselipkan di pinggir kotak yang kalau Gill buka sekarang akan memperlihatkan tulisan tangan yang belum ia baca.
Ia menutup tutupnya kembali.
"Terima kasih," ia berkata ke Ara.
Ara mengangguk. Ada sesuatu di caranya mengangguk yang sedikit terlalu hati-hati, dan Gill menangkap itu serta langsung menangkap alasannya ketika Mike di sisi meja yang lain bersuara.
"Eh, kita belum kenalan dengan benar."
Gill menoleh ke Mike.
Mike berdiri dengan postur yang terbuka, tidak mengancam secara fisik, senyumnya masih ada di tempatnya. Tangannya teruluran ke depan dengan cara yang ramah dan terlatih, cara seseorang yang sudah sangat biasa memperkenalkan diri dan tahu persis bagaimana melakukannya agar terkesan menyenangkan.
"Mike. Mike Miller." Ia menyebutkan namanya dengan nada yang menyampaikan bahwa ia sadar namanya sudah cukup dikenal di sekolah ini tapi tetap memilih untuk menyebutkannya karena itu sopan. "Dekat dengan Tiara."
Gill menatap tangan yang teruluran itu.
Lalu menyalaminya. Singkat. "Gian."
Tidak ada tambahan. Tidak ada nama keluarga, tidak ada penjelasan tentang kelas atau posisi atau hal-hal lain yang biasanya orang sematkan di perkenalan pertama untuk memperjelas posisi mereka di hierarki sosial yang tidak pernah resmi tapi selalu ada.
Hanya Gian.
Mike menurunkan tangannya. Senyumnya tidak berubah tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di matanya, sesuatu yang sedang mengkalkulasi.
"Aku kemarin agak terkejut jadi lupa merespons dengan benar," Mike berkata, nada suaranya tetap ramah tapi lebih terukur dari sebelumnya. "Kalau boleh tanya..."
Gill sudah hendak berbalik untuk kembali ke kelasnya. Bekal di tangannya, kotak susu sudah di meja Ara, tidak ada urusan lain yang perlu diselesaikan di sini.
"Apa kalian benar-benar pacaran?"
Gill berhenti.
Satu langkah dari berbalik sepenuhnya.
Kelas, yang tadinya masih bergerak dengan ritme paginya sendiri, perlahan menurunkan volumenya. Bukan sepenuhnya senyap, tapi ada pergeseran yang cukup untuk menyampaikan bahwa cukup banyak telinga yang sekarang tertuju ke arah meja Ara.
Gill berbalik menghadap Mike.
"Maksudmu?" ia bertanya. Datar. Tidak defensif. Tapi tidak pula membiarkan pertanyaan itu lewat begitu saja.
Mike bertemu tatapannya tanpa berkedip. "Aku tidak bermaksud tidak sopan. Aku hanya merasa ada yang janggal." Ia berbicara dengan nada yang dijaga tetap tenang, nada seseorang yang terbiasa mengutarakan pendapat di depan banyak orang tanpa kehilangan komposur. "Kalian bahkan belum lama kenal. Mungkin belum genap seminggu. Dan untuk langsung menjadi pasangan..." ia berhenti sebentar, memilih kata berikutnya, "itu terasa dipaksakan. Atau seperti ada perjanjian tertentu di baliknya."
Udara di kelas itu semakin berat.
Bisikan yang tadinya sudah hampir berhenti menyala kembali dengan lebih banyak suara di dalamnya.
Gill menatap Mike.
Alisnya naik sedikit, bukan karena terkejut, lebih karena sesuatu yang menyerupai penilaian sedang berlangsung di balik tatapan itu. Menatap seseorang yang berdiri di depannya dengan semua kesempurnaannya, dengan senyum yang tepat dan kata-kata yang dipilih dengan hati-hati dan cara mengutarakan keraguan yang masih terdengar ramah dari permukaan tapi membawa sesuatu yang lebih tajam di bawahnya.
"Jadi intinya," Gill berkata akhirnya, suaranya masih datar tapi ada sesuatu yang berubah di bawah kedataran itu, sesuatu yang sudah memutuskan arahnya, "kau tidak percaya hubungan kami."
Mike tidak menyangkal. "Bisa dikatakan begitu."
Gill menghembuskan napas satu kali dari hidung. Pendek. Bukan tanda menyerah, lebih seperti tanda bahwa ia sudah selesai mempertimbangkan apakah perlu repot-repot merespons ini dan sudah memutuskan jawabannya.
"Dengar," ia berkata, masih dengan nada yang tidak naik tapi sudah tidak sepenuhnya datar juga, "aku tidak butuh kau percaya atau tidak. Itu urusanmu. Intinya hubungan kami tidak membutuhkan restumu."
Mike tidak mundur. "Tentu perlu. Aku sudah lama mengenal Ara." Matanya sekilas ke Ara yang duduk diam di antara mereka berdua dengan ekspresi seseorang yang sedang menimbang apakah harus menyela sekarang atau membiarkan ini berlanjut sedikit lagi. "Dan aku tahu apa yang terbaik untuknya."
Sesuatu di wajah Gill berubah.
Tidak dramatis. Tidak seperti perubahan yang bisa ditangkap dengan jelas dari jarak jauh. Tapi untuk yang duduk cukup dekat, untuk Ara dan Via yang ada di meja itu, perubahan itu cukup terlihat.
Sudut bibirnya bergerak ke atas.
Bukan senyum yang ramah.
"Haha." Suara itu keluar pelan, hampir tidak terdengar sebagai tawa, lebih seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang tepat sesuai prediksinya. "Egomu keluar, Tuan Sempurna."
Mike mengernyit. "Hah?"
"Kau bilang tahu apa yang terbaik untuk Ara." Gill menatapnya langsung, tidak membuang pandangan, tidak memberi ruang untuk salah tafsir. "Tapi yang sebenarnya kau tidak terima adalah bahwa Ara memilih seseorang yang bukan kau."
Kelas menjadi hening yang sesungguhnya.
Mike berdiri dari posisi sandarnya. Tubuhnya menegak setengah tingkat, sesuatu yang sangat kecil tapi cukup untuk menyampaikan bahwa kata-kata tadi mendarat di tempat yang lebih dalam dari yang Mike ingin perlihatkan.
"Hah?" suaranya turun satu nada.
"Kau dengar aku," Gill berkata.
"Kau—"
Bel.
Panjang, keras, tepat waktu seperti selalu, memotong kalimat Mike tepat di tengah-tengahnya dengan cara yang tidak bisa dilawan oleh siapa pun.
Kelas yang tadinya sudah setengah menahan napas sekarang bergerak kembali, kursi bergeser, buku dibuka, dan ritme pagi yang sempat terhenti menemukan jalannya kembali seolah celah yang terbuka tadi beberapa detik yang lalu sudah ditutup kembali oleh bunyi satu bel sekolah.
Mike dan Gill masih saling menatap selama dua detik setelah bel berhenti.
Lalu Mike menarik napas satu kali, menegakkan seragamnya dengan satu gerakan tangan yang sangat terkontrol, dan menatap Ara sebentar dengan ekspresi yang sudah dikembalikan ke posisi semulanya.
"Kita bicara nanti," ia berkata ke Ara. Bukan ancaman. Tapi bukan pula sesuatu yang ringan.
Lalu ia berjalan keluar kelas.
Gill menatap punggungnya sampai hilang di balik pintu.
Lalu menoleh ke Ara.
Ara menatap balik. Di matanya ada sesuatu yang campurannya terlalu banyak untuk diurai dalam dua detik sebelum guru masuk.
"Nanti di atap," Gill berkata, pelan, hanya untuk Ara.
Ara mengangguk.
Gill berbalik dan berjalan keluar kelas, berpapasan di pintu dengan guru yang masuk membawa buku dan ekspresi yang belum tahu apa yang baru saja terjadi di kelas ini dua puluh detik yang lalu.
Via menunggu sampai Gill benar-benar tidak terlihat lagi di balik pintu.
Lalu menoleh ke Ara dengan ekspresi yang mengandung banyak hal sekaligus. Terkejut, sedikit kagum, dan sesuatu yang menyerupai kepuasan yang sangat hati-hati disimpan di balik ekspresi netralnya.
"Tuan Sempurna," Via berkata pelan, hampir ke dirinya sendiri.
Ara menatap Via.
Via menoleh balik. "Aku tidak bilang apa-apa."
"Kamu bilang sesuatu."
"Aku hanya mengulang." Via membuka buku catatannya. "Duduk yang baik, pelajaran mau mulai."
Ara menghadap ke depan kelas.
Guru sudah mulai menulis di papan tulis, suara kapur berderak mengisi ruangan, dan semua berlanjut seperti biasa.
Tapi di meja Ara, di sudut yang tidak terlalu mencolok, kotak bekal kecil dengan kain serbet biru muda sudah tidak ada lagi karena sudah berpindah tangan.
Dan di dalam kotak itu, di antara nasi dan telur dadar dan irisan tomat, ada secarik kertas kecil yang masih terlipat empat yang belum dibuka.
Yang isinya hanya Gill yang akan tahu, nanti, di atap, di bawah langit Eldria yang hari ini biru bersih tanpa satu pun awan yang menghalangi.