💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️
"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"
Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:
"Humanity Coaching".
Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.
Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.
🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27 – ARAH BESAR
Suasana di lantai teratas Artha Group sore itu terasa berat, meski tak ada adu mulut yang meledak. Arsenio hanya bisa duduk tegak, mencoba tenang di hadapan Pak Baskoro yang sedari tadi cuma bungkam sambil menatap tajam map merah di depannya. Di tengah sunyi yang hanya diisi dengung halus AC, Arsenio akhirnya memberanikan diri untuk membuka suara lebih dulu.
"Restrukturisasi ini bukan bentuk kekacauan, melainkan pemangkasan variabel yang tidak produktif," ujar Arsenio datar. Tatapannya lurus, tidak memberikan ruang untuk bantahan emosional. Ia menyodorkan tablet berisi proyeksi laba kuartal depan yang meningkat drastis.
Baskoro tidak menyentuh tablet itu sama sekali. Ia menyandarkan punggung ke kursi kulitnya yang berderit pelan. "Kami menandatangani kontrak karena stabilitas tim, bukan efisiensi mendadak yang Anda tawarkan ini," balasnya dengan nada rendah.
Arsenio menarik kembali tabletnya dan menutup folder dokumen dengan satu gerakan tegas.
"Stabilitas tanpa pertumbuhan adalah stagnasi yang mahal, Pak Baskoro," timpal Arsenio tajam. Ia tidak berkedip, membiarkan kalimatnya menggantung di udara sebagai peringatan. Baginya, kompromi hanya akan memperlambat proses eksekusi yang sudah disusunnya.
Baskoro mengetukkan jarinya ke meja, menciptakan ritme yang tidak beraturan. Tekanan di ruangan itu meningkat saat ia mencondongkan tubuh ke depan. "Klien-klien besar mulai bertanya siapa yang akan memegang kendali jika orang-orang lama Anda singkirkan.”
Arsenio cuma tersenyum tipis, jenis senyum yang tidak benar-benar ramah. Dia tahu Pak Baskoro cuma takut nama baiknya tercoreng, bukan pusing soal operasional kantor. Baginya, loyalitas itu nggak perlu diomongin—hasil kerja bakal membuktikan semuanya.
Tanpa banyak bicara lagi, Arsenio berdiri, merapikan kancing jasnya, dan menaruh kartu nama konsultan hukum baru di atas meja.
"Kalau stabilitas yang Bapak mau cuma buat pelihara benalu, Artha Group bukan butuh efisiensi lagi, tapi butuh keajaiban," ucap Arsenio tenang tanpa ragu sedikitpun. Dia langsung berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu izin.
Langkah kakinya yang mantap bergema di lorong marmer yang sepi, bahkan dia tak menoleh sedikitpun saat sekretaris Pak Baskoro mencoba mengejarnya. Baginya, semua diskusi sudah basi kalau angka-angka di atas meja sudah menunjukkan kenyataan yang sebenarnya.
Sambil terus berjalan, Arsenio merogoh ponselnya dan mengetik pesan singkat untuk tim internalnya.
"Mulai eksekusi tahap dua, nggak usah dengerin keluhan direksi.”
Langkah Arsenio terhenti saat pintu ganda di depannya terbuka. Seorang wanita ber-blazer abu-abu melangkah masuk dengan santai tapi pasti. Tanpa basa-basi, Alinea berjalan melewati deretan kursi dan langsung berdiri tepat di depan meja utama.
Baskoro cuma menggeser kursi di sebelahnya, gestur santai yang langsung meruntuhkan dinding es yang tadi dibangun Arsenio.
"Duduk, Bu Alinea. Saya baru mau pesan kopi," sapanya. Suaranya berubah total, hangat tapi tetap punya otoritas yang bikin sesak.
Arsenio masih mematung di posisinya. Dia cuma bisa melihat bagaimana gravitasi di ruangan itu berpindah arah hanya dalam hitungan detik. Tanpa perlu membentak, Baskoro baru saja mematikan taringnya.
Alinea menaruh tabletnya di meja, tepat di sebelah dokumen yang tadi ditolak Baskoro. Tanpa melirik Arsenio, dia cuma menatap lurus ke arah pria tua itu dengan tenang, seolah gertakan soal restrukturisasi sama sekali nggak mempan baginya.
Baskoro mengetuk meja dua kali, tanda kalau obrolan mereka resmi dimulai lagi.
Baskoro bersandar, melirik Arsenio sekilas. "Gimana menurut Anda, Bu Alinea? Saya butuh sudut pandang lain."
Satu kalimat itu cukup untuk membatalkan semua otoritas Arsenio. Oksigen di ruangan mendadak berpindah arah.
Alinea mengangguk, membuka laptopnya. Layar menampilkan data yang kontras dengan milik Arsenio.
"Efisiensi tanpa empati cuma bakal bikin klien kabur," ucapnya tenang.
Ia membedah angka retensi karyawan yang selama ini dianggap Arsenio remeh. Grafiknya merah.
Kepercayaan mitra utama anjlok sejak isu perombakan tim ini bocor ke luar.
"Klien tidak beli angka, mereka beli orang-orang di baliknya," lanjut Alinea.
Arsenio hanya diam, melihat strateginya barusan mendadak terlihat seperti rencana amatir di atas meja mahoni itu.
Arsenio sadar kontrolnya lepas sejak Alinea masuk. Wanita itu punya kartu as yang tidak dia miliki yaitu kepercayaan para vendor.
Alinea menyodorkan satu dokumen fisik ke arah Baskoro—surat dukungan dari tiga pemasok terbesar.
"Saya menawarkan mitigasi risiko, bukan sekadar potong biaya operasional," ucap Alinea tenang.
Baskoro mulai manggut-manggut, matanya kini serius membedah argumen di lembar itu satu per satu.
Arsenio mematung. Sial, undangan ini ternyata cara halus untuk bilang mereka tidak lagi percaya padanya.
Dia merasa seperti arsitek yang rancangannya sedang dipreteli habis-habisan oleh orang lapangan.
Dia tidak bisa membantah. Data Alinea lebih kena ke mental pasar—celah yang selama ini dianggap remeh.
Tanpa suara, Arsenio menarik kursi di ujung meja. Dia duduk, memilih bertahan di sana hanya untuk mendengar bagaimana rivalnya menghancurkan argumennya pelan-pelan.
Baskoro membolak-balik berkas Alinea, membiarkan tablet Arsenio tetap menyala. Dia tampak menimbang antara kecepatan Arsenio atau ketenangan Alinea.
"Apa ini bakal ganggu timeline proyek kita?" tanyanya tanpa mendongak.
"Secara teknis nggak, asal komunikasi antara eksekutif dan manajemen jelas," jawab Alinea mantap.
Dia tidak melirik Arsenio sedikit pun, tetap fokus pada pria tua di depannya.
Arsenio menyandar, sadar dia nggak bisa memotong ucapan Alinea tanpa kelihatan panik. Alinea bukan sedang menyerangnya, tapi justru menambal lubang yang dia tinggalkan. Strategi wanita itu malah memperkuat posisi mereka yang sempat goyah gara-gara gertakan efisiensinya tadi.
Sambil membuka catatan digital, Arsenio mulai mengetik poin-poin baru untuk menyesuaikan keadaan.
"Transisi ini butuh jembatan, bukan sekadar PHK massal," tambah Alinea sambil menunjuk grafik retensi. Dia menjelaskan cara menjaga moral tim lama tetap aman meski sistem baru Arsenio masuk. Baskoro kelihatan jauh lebih tenang dibanding sepuluh menit lalu.
Baskoro mengangguk, lalu beralih menatap Arsenio yang sejak tadi diam menyimak.
"Gimana tanggapan Anda, Arsenio? Apa skema mitigasi ini masuk dalam hitungan biaya?" tanyanya menuntut. Tekanan balik lagi ke Arsenio, tapi dengan aturan main yang sudah berubah.
Arsenio mengetuk layar tabletnya dan menutup catatan itu. Dia sadar, melawan ide Alinea sekarang cuma bakal merusak proyeknya sendiri.
Efisiensi yang dia mau butuh stabilitas yang justru sedang diperjuangkan Alinea di meja ini.Dia menggeser kursinya maju, tanda siap berkompromi.
"Skema ini bisa masuk anggaran, asal keputusan tetap satu pintu," ujar Arsenio lugas. Dia mengakui posisi Alinea tanpa harus terlihat rendah.
Alinea cuma mengangguk kecil, menerima syarat itu.
Baskoro tersenyum tipis, merasa dapat jalan tengah dari dua kubu yang tadinya berseberangan. Dia menutup rapat dengan mengetukkan pulpennya ke meja marmer.
Ketegangan di ruangan itu mendadak mencair, berganti jadi suasana kerja sama yang tak terduga.
Baskoro langsung meneken lampiran kontrak baru yang mencantumkan nama Alinea sebagai pengawas.
Baskoro menaruh pulpennya dan menatap mereka bergantian.
"Saya nggak mau komando yang berantakan," tegasnya. Dia menyandar, suaranya terdengar mutlak.
"Pilihannya cuma dua, Alinea jadi Lead buat transisi ini atau proyek ini kita evaluasi ulang dari nol."
Arsenio langsung menutup laptopnya. Dia tahu evaluasi ulang cuma berarti penundaan anggaran yang bakal merusak namanya. Dia melirik Alinea yang tetap tenang.
"Saya siap pegang operasional kalau itu memang perlu buat stabilitas," sahut Alinea pendek.
Baskoro tampak puas. Arsenio akhirnya mengulurkan tangan ke arah Alinea.
"Kita bagi tugas ,Anda urus orang saya urus angka" cetusnya.
Alinea menyambut jabatan tangan itu dengan cengkraman kuat sebelum merapikan berkasnya dan langsung keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
Arsenio mencegat Alinea di depan lift.
"Terlalu cepat, Alinea," sindirnya dingin, namun wanita itu hanya membalas dengan senyum tipis sebelum pintu tertutup.
Ponsel Arsenio bergetar, pesan masuk dari direksi soal audit kepemimpinan dalam 48 jam.
Ulah Alinea di rapat tadi benar-benar bikin orang pusat mulai meragukan kemampuannya.
Arsenio putar balik ke ruang kerjanya dan sadar posisinya sekarang sedang di ujung tanduk.
👍
🙆✨🔥
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹
terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨