"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dokter yang tepat
Setelah pintu ruang gawat darurat tertutup dengan lembut, Ara merasakan nafasnya mulai teratur. Setelah melalui beberapa menit penuh ketegangan yang membuatnya hampir kehilangan kesadaran, akhirnya keadaan Ara berangsur membaik.
Tangan perawat yang lembut membersihkan dahinya dari keringat dingin, sementara alat pemantau di sisi tempat tidur menunjukkan denyut nadi yang perlahan kembali stabil, angka-angka yang tadinya melompat liar kini perlahan bergerak dalam batas normal. Pendarahan yang semula membuat sprai rumah sakit terkena noda merah pekat, kini sudah berangsur berkurang setelah diberikan tindakan yang tepat. Namun rasa keram yang menyelimuti seluruh bagian bawah perut, membuat Ara tahu bahwa kondisi kandungannya masih jauh dari kata baik.
"Dokter Tyas sudah memeriksa keadaan anda, Bu Ara," ujar perawat bernama Sri dengan suara lembut sambil menyesuaikan posisi bantal kepala Ara agar jadi lebih nyaman.
"Tekanan darah Anda juga sudah kembali normal dan pendarahan mulai terkendali. Tapi kondisi kandungan Anda masih memerlukan perawatan khusus, jadi dokter akan segera datang untuk membahas langkah selanjutnya." Lanjut sang perawat.
Ara mengangguk pelan, matanya masih terfokus pada langit-langit ruangan yang berwarna putih kebiruan.
Ara mencoba mengingat kembali apa yang terjadi sebelum dirinya sampai di tempat ini. Pikirannya yang goyah membuat Ara kehilangan akal, Ara nekat menjatuhkan diri di atas tangga hingga tubuhnya terpental dan jatuh keras di atas lantai yang dingin. Dan menyalahkan semua itu pada Dokter Yasmin.
Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan seorang wanita mengenakan jas hijau dokter masuk dengan langkah mantap. Rambutnya disanggul rapi di balik kepala, wajahnya menunjukkan ekspresi serius namun penuh perhatian, dengan mata yang tajam namun penuh empati saat melihat Ara yang terbaring lemah.
"Saya Dokter Tyas, spesialis kandungan rumah sakit Medistra," ujarnya sambil membuka berkas medis Ara yang dipegang di tangannya.
"Saya sudah melihat hasil pemeriksaan awal dan hasil USG yang baru saja kami lakukan. Janin Anda dalam kondisi stabil untuk saat ini, tapi dinding kandungan Anda mengalami kerusakan ringan akibat benturan dan pendarahan internal yang hampir menyebar lebih luas." Lanjut Dokter wanita berusia 30 tahunan itu.
Ara mengerutkan kening, tangannya secara refleks menggenggam bagian bawah perutnya. "Jadi... apa yang harus saya lakukan, Dokter?" tanya Ara dengan suara yang masih lemah.
"Saya sudah mengevaluasi kondisi Anda dengan cermat. Untuk kasus seperti ini, saya menyarankan agar Anda ditangani langsung oleh Dokter Yasmin, rekan saya yang merupakan spesialis kandungan di rumah sakit ini juga. Jam kerja Dokter yasmin lebih fleksibel sehingga bisa memantau perkembangan Anda setiap hari, bahkan di luar jam kerja biasa jika ada keadaan darurat. Selain itu, pengalaman Dokter Yasmin dalam menangani kasus komplikasi kehamilan seperti ini jauh lebih banyak daripada saya. Beliau adalah orang yang paling tepat untuk menyelamatkan Anda dan anak Anda." Ucap Dokter Tyas sambil menarik kursi kecil lalu duduk di sisi tempat tidur Ara.
Ara mendengar nama itu dan tubuhnya langsung kaku seketika. Matanya yang tadinya sudah mulai rileks kembali menjadi tajam, sementara kedua tangannya menggenggam seprai dengan erat hingga buku jarinya memucat dan uratnya menonjol.
"Tidak... saya tidak mau!" ucap Ara dengan suara gemetar namun tegas, kepalanya menggeleng kuat berulang kali.
"Saya tidak bisa dipercayakan pada Dokter Yasmin. Saya takut Dokter Yasmin akan berbuat jahat lagi pada saya! Dokter Yasmin yang telah mendorong saya dari atas tangga tadi. Dokter, saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri!"
Bersambung...