Hana, seorang anak yang tertukar pada saat dilahirkan, akhirnya bisa kembali kepada keluarganya. Namun, ia tak pernah menyangka, perasaan bahagia, kehidupan manis dengan orang tua, semuanya hanya harapan palsu semata. Ia diambil hanya untuk reputasi orang tua. Diabaikan, ditindas, bahkan mati pun tidak dipedulikan.
Jiwanya tidak menerima kematian, ia menoreh takdir pada langit, meminjam jiwa yang kuat.
Jiwa seorang Ratu hebat dari kerajaan Amerta, terpanggil untuk membalaskan dendam Hana. Jiwa leluhur yang terusik oleh derita sang penerus. Pewaris kehormatan dari kerajaan agung Amerta.
Nasib semua orang pun berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Nona!"
Seorang perempuan mengenakan mantel hitam dan celana kulit hitam datang menghadap Hana di ruangan Liana. Ia utusan dari villa yang ditunggu-tunggu Hana untuk membawa Liana pulang.
"Kenapa lama sekali?" Hana mengeluh, duduk dengan elegan di sofa tanpa menoleh kepadanya.
"Untuk bisa keluar dari rumah sakit tidak mudah, Nona. Saya sudah mengurus prosedur kepulangan Liana sebelum ke sini. Sebentar lagi akan ada dokter yang memeriksa Liana sebelum dipulangkan," ujar utusan tadi membuat Hana menghela napas dalam.
"Sungguh, dunia ini terlalu rumit. Tidak seperti di kerajaan Amerta dulu. Tak perlu datang ke rumah sakit, cukup dokter istana yang dipanggil. Hah ... mengesalkan," gumam Hana seraya menjatuhkan kepala pada sandaran sofa.
Utusan villa itu mengernyit tak mengerti, tapi Liana justru tertegun dengan air yang menggenang di mata. Harapannya terkabul, Hana memang ratu yang dia rindukan. Ia meneteskan air mata, menangis tergugu. Tangisan yang membuat ratu terusik dalam istirahatnya.
"Hentikan tangisanmu itu, Nan'an. Bukankah sudah aku katakan jangan terlalu sering menangis! Itu ...."
Deg!
Mata Hana terbuka, bangkit dengan cepat. Tangisan Liana bukan mereda, justru semakin kencang mendengar bentakan Hana. Ia menatap Liana yang mengusap-usap matanya. Rengekan itu, caranya menangis, mengingatkan Hana pada pelayan kecilnya.
Dia Nan'an.
"Keluarlah!" Hana mengusir urusan itu keluar, matanya terpatri pada sosok Liana yang masih larut dalam tangisannya. Utusan tersebut menganggukkan kepala, dan berbalik keluar meski bingung dengan apa yang dia lihat.
Hana bangkit dengan perasaan tak tentu, perasaan yang sama saat ia bersama Nan'an dulu. Detak jantungnya yang bertalu-talu membuat sesak rongga dada. Rasa rindu menggebu, bayangan kehidupan istana melintas dalam benak. Tanpa sadar air matanya jatuh.
Apakah dia benar-benar Nan'an? Gadis polos itu ....
Ia mengusap kepala Liana dengan lembut, sama seperti yang ia lakukan dulu kepada Nan'an. Saat gadis kecil itu menangis karena merindukan keluarga atau karena dibuli oleh pelayan lain, ia akan reda dalam pelukan Hana.
Liana mendongak, menatap sepasang mata teduh yang teramat ia rindukan itu. Isaknya membuat sesak hati Hana. Air matanya mengundang rasa sedih yang tiada tara.
"Ratu! Akhirnya Nan'an menemukan Anda!" Tangisnya pecah dalam pelukan Hana. Begitu erat seolah-olah tak ingin terlepas lagi.
Hana turut meneteskan air mata, membalas pelukan pelayan kecil itu. Liana yang sesungguhnya lebih dewasa dari pada yang sekarang. Artinya, jiwa Nan'an adalah jiwa pelayan kecil yang dulu ia tinggalkan.
"Hamba sudah mencari Ratu selama puluhan tahun, ke seluruh penjuru negeri. Kaisar dan para tentara istana pun menyebar ke seluruh dunia untuk mencari keberadaan Anda. Tapi, puluhan tahun sudah berlalu, Anda tidak juga ditemukan. Hamba putus asa, hanya menangis setiap malam dan siang berharap bisa bertemu Ratu. Lalu, tiba-tiba sebuah jiwa melayang meminta Hamba datang ke dunianya. Hamba sangat merindukan Anda, Ratu! Rakyat Amerta merindukan ibunya," ungkap Nan'an semakin membuat hati Hana menangis.
Kaisar, benarkah mencariku? Dia tidak tinggal di istana bersama mereka?
Hana terisak, teringat akan lelaki yang amat ia cintai dulu. Keduanya larut dalam buai rindu yang terpendam sekian lama. Membiarkan tangis meluapkan semuanya. Liana menyudahi tangisan, melepaskan pelukan. Mengusap air mata yang membanjiri wajahnya.
"Ratu, dunia apa yang sekarang kita tempati?" tanya Nan'an dengan polosnya.
Ia menatap ruangan serba putih itu, serta kabel infus yang terpasang di tangannya.
"Mungkin ini dunia ribuan tahun setelah Amerta. Semua yang ada dunia ini tidak pernah kita temukan di kerajaan Amerta. Di sini kita tidak bisa langsung menjatuhkan hukuman, apalagi membunuh. Sungguh membosankan," keluh Hana seraya duduk di tepi ranjang Liana.
Ia mengusap pipi gadis itu, senyum polosnya masih sama seperti dulu. Dia akan tersenyum dalam keadaan menangis, dan akan menangis sambil tertawa.
"Bagaimana kehidupanmu setelah kepergian ku?" tanya Hana kepadanya.
Riak wajah Liana berubah sendu, ia menundukkan kepala dalam-dalam. Lalu, menggeleng pelan.
"Meskipun hamba sudah belajar banyak dari Anda, tapi hamba tetap tidak bisa melawan mereka. Setelah Anda menghilang tiba-tiba dari istana, mereka memaksa hamba sampai putus ada dan lebih memilih untuk mati. Ratu, dia menguasai istana. Dia menempati halaman Anda, tapi hamba tidak pernah membuka pintu itu. Dia merayu kaisar, tapi kaisar tak mengacuhkannya. Kaisar pergi dari istana bersama para prajurit untuk mencari Anda. Saya menyelinap ikut setelah memastikan istana Anda aman," tutur Nan'an panjang lebar.
Hana menahan napas mendengar cerita pelayan kecil itu. Tangannya mengusap pipi Nan'an, tersenyum tipis melihatnya berada di dunia yang sama dengannya.
"Nan'an, apakah kaisar membangun sebuah patung?" tanya Hana teringat pada patung ratu di dalam gua desa Amanaly.
Liana mengangguk cepat, ia sendiri yang menjaga gua itu setelah dibangun patung ratu.
"Itu benar, kaisar dan para penduduk membangun patung ratu di dalam gua tersembunyi di desa Maly. Orang-orang istana tidak ada yang tahu, gua itu terhubung ke taman istana kelopak yang dibangun Kaisar. Hanya hamba, kepala pelayan istana, dan kaisar yang tahu. Tak satu pun dari mereka yang mengetahui keberadaan gua itu meskipun dekat dengan istana. Kaisar yang putus asa memasuki gua dan tidak pernah keluar lagi bersama kepala pelayan istana," jawab Nan'an teringat pada saat pembangunan patung itu.
Hana mengernyit, mengingat-ingat apa yang dia temukan di istana kelopak dan Paviliun bunga.
Apakah aku kurang teliti saat menemukan tempat itu? Oh, benar, aku belum memeriksa Paviliun bunga secara menyeluruh. Mungkin saja kaisar meninggalkan sesuatu di sana.
"Ratu, hamba ingin tetap di sisi Anda. Tidak ingin kembali ke villa," rengek Liana alias Nan'an.
"Tidak! Kau harus kembali untuk memulihkan diri. Setelah pulih dan belajar banyak hal dari Bi Sum, kau boleh kembali ke sisiku," ucap Hana disambut anggukan kepala oleh Liana.
Dokter dan utusan tadi memasuki ruangan, memeriksa keadaan Liana. Dengan terpaksa memulangkan pasien meski kondisinya masih buruk untuk bepergian jauh.
Nan'an, aku senang kau datang ke sini.
hai jalang gk tau diri lo