Di dunia di mana Peringkat Bakat adalah hukum tertinggi, Lu Chen hanyalah sebutir debu. Saat Upacara Penentuan Takdir, dia dipermalukan di depan seluruh sekte karena hanya memiliki bakat F-Rank dengan afinitas spiritual nol. Dunia mencapnya sebagai sampah, namun mereka tidak tahu bahwa Lu Chen menyembunyikan sistem SSS+ "Omnipotence Mask" yang mampu menutupi keberadaan aslinya dari mata dewa sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Lembah Dewa yang Hilang
Langkah kaki Lu Chen bergema di antara tebing-tebing curam yang seolah menjepit langit. Di depannya, hamparan kabut tebal berwarna kelabu menelan jalan setapak, menyisakan hawa dingin yang tidak biasa—hawa dingin yang mengandung aroma kematian dan usia purba. Ini adalah perbatasan Lembah Dewa yang Hilang, sebuah zona terlarang yang bahkan para ahli Tahap Nascent Soul pun enggan menginjakkan kaki di dalamnya karena kutukan ruang yang tak stabil.
Di bahunya, Ignis tidak lagi bersikap santai. Antena kecilnya bergerak-gerak cepat, menangkap fluktuasi energi yang sangat kacau di udara.
"Tempat ini... berbau seperti medan perang para Dewa," Ignis berbisik melalui transmisi batin. "Ada sisa-sisa keinginan yang tidak padam dari mereka yang jatuh ribuan tahun lalu. Hati-hati, Lu Chen. Kabut ini bisa memakan jiwamu jika kau lengah."
"Aku merasakannya, Ignis. Sistem sedang bekerja keras untuk memfilter ilusi di depan kita," jawab Lu Chen. Matanya yang keemasan berpendar di balik penyamaran, menembus lapisan kabut.
[Ding! Memasuki Area: Lembah Dewa yang Hilang (Zona Anomali).]
[Peringatan: Tekanan Gravitasi 10x Lipat dari Dunia Luar.]
[Saran: Aktifkan 'Ritme Napas Naga' untuk menyeimbangkan tekanan pada organ dalam.]
Lu Chen menarik napas dalam-dalam. Setiap tarikan napas terasa seperti menelan serbuk gergaji panas, namun di bawah bimbingan sistem SSS+, energi tersebut segera disaring menjadi cairan spiritual yang murni. Tubuhnya yang tampak kurus itu kini menahan beban ribuan kilogram tanpa terlihat gemetar sedikit pun.
Saat mereka melangkah lebih jauh ke dalam lembah, reruntuhan bangunan raksasa mulai terlihat dari balik kabut. Pilar-pilar setinggi gunung yang telah patah, patung-patung dewa tanpa kepala, dan pedang-pedang raksasa yang tertancap di tanah—semuanya dilapisi oleh karat merah yang aneh.
"Lihat itu!" Ignis tiba-tiba melesat terbang menuju sebuah altar di tengah lembah.
Di atas altar itu, melayang sebuah bola cahaya berwarna ungu keperakan yang berdenyut pelan. Itulah Inti Primordial, sisa energi dari dewa yang telah lama tiada, dan kunci bagi Lu Chen untuk menembus ambang batas kemanusiaannya.
"Itu adalah tujuannya," Lu Chen mempercepat langkahnya. Namun, tepat sebelum dia mencapai altar, tanah di bawahnya berguncang hebat. Dari balik tumpukan tulang belulang raksasa, sesosok makhluk merayap keluar. Itu adalah Gorgon Penjaga Lembah—makhluk setinggi sepuluh meter dengan kulit yang terbuat dari batu obsidian dan mata yang memancarkan cahaya kematian.
[Target Terdeteksi: Penjaga Altar (Tahap Inti Emas - Puncak).]
[Analisis: Pertahanan Fisik Absolut. Kelemahan: Rongga Jiwa di balik mata ketiga.]
"Tahap Inti Emas Puncak... penjaga yang layak," gumam Lu Chen. Dia tidak mengeluarkan pedang. Dia mengepalkan tinjunya, membiarkan energi Naga Azure milik Ignis menyatu dengan kekuatan sistemnya sendiri.
Gorgon itu meraung, suara yang dihasilkan begitu kuat hingga menghancurkan bebatuan di sekitarnya. Dengan satu hantaman tangan batunya, ia mencoba meratakan Lu Chen.
"Langkah Bayangan Naga: Distorsi!"
Lu Chen menghilang tepat sebelum tangan batu itu menyentuh tanah. Dia muncul di udara, tepat di depan wajah sang raksasa. Gorgon itu mencoba menatap Lu Chen dengan mata kematiannya, namun sistem Omnipotence Mask memantulkan kembali efek tersebut.
"Sekarang, Ignis!"
Ignis, dalam wujud miniaturnya, melesat seperti peluru api biru. Dia menembus pertahanan kulit obsidian sang raksasa dan masuk melalui rongga mata ketiga yang tersembunyi. Di dalam tubuh Gorgon, Ignis melepaskan ledakan Api Naga Surgawi.
BOOM!
Raksasa batu itu membeku sejenak, lalu retakan bercahaya biru mulai muncul di seluruh tubuhnya. Dalam hitungan detik, penjaga lembah itu hancur berkeping-keping, berubah menjadi tumpukan debu mineral yang berharga.
[Ding! Musuh Elit Dikalahkan.]
[Memperoleh: Esensi Batu Obsidian (Bahan Evolusi Ignis).]
[Syarat Terobosan Terpenuhi: Inang dapat memulai pembentukan Inti Emas.]
Lu Chen melompat ke atas altar dan duduk bersila di depan Inti Primordial. Cahaya ungu itu mulai tersedot ke dalam dadanya, menyatu dengan pusaran energi yang telah ia kumpulkan dari Sekte Langit Biru.
"Jangan menahan diri, Lu Chen!" Ignis berdiri di atas kepala Lu Chen, menciptakan kubah pelindung api agar tidak ada gangguan luar yang bisa masuk. "Ini adalah momen di mana kau berhenti menjadi manusia biasa dan mulai menjadi entitas yang bisa menantang takdir!"
Lu Chen memejamkan mata. Di dalam batinnya, dia melihat jutaan jalur meridian yang kini bercahaya emas. Energi dari Inti Primordial dipaksa oleh sistem untuk mengkristal di tengah dantiannya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah jiwanya sedang ditempa di atas paron dewa, namun Lu Chen hanya tersenyum dingin.
"Aku sudah melewati kehinaan sebagai sampah. Rasa sakit ini... tidak ada apa-apanya!"
Tiba-tiba, langit di atas lembah terbelah. Petir berwarna emas menyambar berkali-kali ke arah altar—sebuah Kesengsaraan Surgawi yang menandakan lahirnya seorang ahli Inti Emas dengan bakat yang melampaui hukum alam.
Di bawah serangan petir dan tekanan gravitasi yang menggila, Lu Chen terus berkultivasi. Di bahunya, semut kecil itu kini mengeluarkan sayap naga yang lebar, menantang petir langit dengan raungan sombong.
Malam itu, di kedalaman Lembah Dewa yang Hilang, dunia kehilangan seorang "pelayan sampah" dan melahirkan seorang Penguasa Inti Emas SSS+. Dan saat Lu Chen membuka matanya kembali, pandangannya tidak lagi hanya menatap lembah, melainkan menatap seluruh benua yang sebentar lagi akan bergetar di bawah kakinya.