“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."
Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.
Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: RUMAH BARU DAN GEGER DI KAMPUS BUANA CAKRAWALA
Suasana haru menyelimuti meja sarapan di taman belakang mansion Jayadi Pratama. Setelah perut terasa kenyang oleh hidangan mewah dan hati terasa hangat oleh kebersamaan yang baru terjalin, Rimba merasa ini adalah waktu yang tepat untuk berpamitan. Ia telah menyelesaikan tugasnya menyembuhkan Kakek Jayadi dan Om Toni, serta mengamankan masa depan teman-temannya dari gangguan Julian Sukha.
"Kek, Om, Tante... sepertinya saya harus pamit sekarang," ucap Rimba sambil meletakkan cangkir tehnya.
Seketika, keceriaan di wajah para penghuni mansion itu sedikit memudar. Kakek Jayadi yang baru saja merasakan kembali nikmatnya berjalan, menatap Rimba dengan pandangan enggan kehilangan. "Lho, mau ke mana buru-buru, Rim? Tinggallah di sini beberapa hari lagi. Kami masih ingin berbincang banyak denganmu," pinta sang kakek.
Rimba tersenyum tulus. "Saya harus segera melakukan registrasi ulang di Universitas Buana Cakrawala, Kek. Selain itu, saya juga harus mencari tempat kos yang dekat dengan kampus. Tidak mungkin saya terus-terusan mengandalkan kebaikan hati keluarga ini."
Om Toni segera menyela, "Kenapa harus mencari kosan? Mansion ini sangat luas, Rimba. Kau bisa menempati sayap kanan bangunan ini sendirian kalau mau. Masalah transportasi, nanti kita belikan mobil yang kau suka."
"Terima kasih atas tawarannya, Om. Tapi mansion ini cukup jauh dari kampus kalau ditempuh setiap hari. Lagipula, saya ini mahasiswa. Pasti nanti akan banyak teman yang datang untuk mengerjakan tugas atau sekadar nongkrong. Saya tidak enak jika harus membawa keramaian kampus ke rumah yang tenang ini," tolak Rimba halus.
Kakek Jayadi tampak berpikir sejenak, lalu matanya berbinar. "Ah! Aku ingat. Kita punya sebuah rumah di Jalan Cempaka, kan, Toni? Rumah itu tepat berada di balik tembok belakang Universitas Buana Cakrawala!"
Om Toni menjentikkan jarinya. "Benar! Itu rumah peristirahatan kecil yang dulu sering kita gunakan jika ada acara di kampus. Rimba, kau tidak bisa menolak ini. Rumah itu kosong, hanya dirawat oleh dua orang asisten rumah tangga yang pulang-pergi, dan ada satu penjaga yang tinggal di paviliun belakang. Jika kau lewat jalan setapak di belakang rumah itu, kau hanya perlu berjalan kaki lima menit untuk sampai ke gerbang belakang kampus."
Rimba masih tampak ragu. Ia lebih suka hidup mandiri tanpa merasa berhutang budi. Namun, Kakek Jayadi langsung menggenggam tangannya dengan erat. "Jangan menolak lagi, Rimba. Anggaplah ini sebagai bentuk syukur kami karena kau telah mengembalikan kaki tua ini. Kau tinggal di sana tanpa harus membayar sepeser pun. Rumah itu butuh penghuni agar tidak lembap. Jika kau menolak, artinya kau menganggap kami orang asing."
Melihat desakan yang begitu kuat dan penuh kasih sayang, Rimba akhirnya menghela napas dan mengangguk. "Baiklah, Kek. Terima kasih banyak. Saya akan tinggal di sana."
Kakek Jayadi langsung memerintahkan Rendi untuk mengantar Rimba. Setelah sesi pelukan hangat dan haru dari Kakek Jayadi, Om Toni, dan Tante Dewi, Rimba melangkah keluar mansion. Rendi sudah masuk ke dalam BMW serinya, sementara sopir pribadinya sigap menutupkan pintu. Rimba sendiri menaiki Harley Davidson-nya yang gahar. Suara mesin motor besar itu menggelegar di halaman mansion, seolah berpamitan sebelum melaju mengikuti mobil Rendi.
---
Perjalanan memakan waktu sekitar lima puluh menit menembus kepadatan kota hingga mereka sampai di kawasan pendidikan. Mobil Rendi tidak berhenti di gerbang utama Universitas Buana Cakrawala, melainkan berbelok ke jalan samping yang lebih tenang. Mereka berhenti di depan sebuah rumah bergaya kolonial minimalis yang dikelilingi taman asri. Meskipun tidak semegah mansion Jayadi, rumah ini terlihat sangat elegan dan terawat.
Rendi turun dari mobil dan mengajak Rimba masuk. Ia segera memanggil tiga orang pegawai yang bekerja di sana: Bi Mamai dan Bi Ida yang bertugas mengurus kebersihan bagian dalam, serta Mang Karno yang mengurus taman dan keamanan.
"Mulai hari ini, adikku Rimba akan tinggal di sini. Perlakukan dia seperti kalian memperlakukanku. Sediakan segala kebutuhannya," ujar Rendi tegas namun tetap sopan.
Setelah menyampaikan beberapa pesan tambahan, Rendi berpamitan karena harus segera ke kantor Tulip Jewelry untuk memantau pemotongan sisa ribuan batu giok mereka. Sebelum pergi, ia memeluk Rimba dengan erat. "Kalau ada apa-apa, telepon aku. Kau sekarang adalah bagian dari keluarga Pratama," bisik Rendi penuh haru. Sebagai anak tunggal, kehadiran Rimba benar-benar mengisi kekosongan saudara dalam hidupnya.
Setelah mobil Rendi menghilang, suasana menjadi sedikit canggung. Bi Mamai dan Bi Ida terus-menerus memanggil Rimba dengan sebutan "Tuan Muda".
"Aduh, Bibi... tolong jangan panggil saya Tuan Muda. Panggil saja Rimba," pinta Rimba sambil terkekeh.
"Eh, mana berani kami, Tuan... eh, Nak Rimba," jawab Bi Mamai gelagapan.
Rimba pun mencoba mencairkan suasana. "Bibi dan Paman ini umurnya sudah sepantasnya menjadi orang tua saya. Saya ini anak yatim piatu dari desa. Saya justru merasa sangat senang jika ada orang tua yang menganggap saya seperti anak sendiri. Jadi, tolong panggil nama saja agar saya merasa punya keluarga di sini."
Ketulusan Rimba meluluhkan kekakuan mereka. Suasana seketika menjadi cair. Rimba meminta agar mereka fokus pada kebersihan rumah saja. Masalah makan, Rimba meminta agar tidak perlu disediakan setiap hari kecuali jika ia memintanya, agar makanan tidak mubazir karena jadwal kuliahnya yang pasti akan padat dan tidak menentu. Rimba juga meminta duplikat kunci rumah kepada Mang Karno agar ia tidak perlu merepotkan orang lain jika harus pulang larut malam.
Setelah urusan rumah selesai, Rimba kembali menaiki motornya. Tujuan berikutnya: Registrasi Mahasiswa Baru.
---
Begitu Harley Davidson hitam milik Rimba memasuki kawasan parkir kampus, seolah-olah waktu berhenti berputar. Raungan mesin yang berat dan penampilan Rimba yang maskulin dengan wajah bule tampannya seketika menjadi pusat perhatian. Mahasiswa yang sedang nongkrong di selasar kampus berhenti bicara, mahasiswi-mahasiswi mulai berbisik-bisik sambil mencuri pandang.
Rimba turun dari motornya dengan gerakan santai, mencantolkan helm di spion, lalu melangkah menuju gedung administrasi. Di sepanjang koridor, ia bisa merasakan tatapan mata yang mengikuti setiap gerakannya. Beberapa kelompok mahasiswi tampak cekikikan dan sengaja berjalan melambat saat berpapasan dengannya. Rimba hanya melempar senyum tipis yang semakin membuat mereka histeris di dalam hati.
Namun, ketenangan itu terusik saat ia melewati sebuah koridor yang agak sepi. Empat orang pemuda dengan pakaian yang sengaja dibuat berantakan tampak sedang duduk-duduk di tembok pembatas sambil merokok.
"Hey, Bule! Tunggu sebentar!" teriak salah satu dari mereka, seorang pemuda berambut gondrong dengan tatapan menantang.
Rimba berhenti dan menunjuk dirinya sendiri, bertanya tanpa suara. "Iya, kau! Sini!" perintah pemuda itu.
Rimba mendekat dengan langkah santai, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. "Ada apa?"
"Kau anak baru, kan? Di kampus ini ada tradisi. Junior harus memberikan 'persembahan' kepada senior agar jalannya mulus. Kami sedang kehabisan rokok. Belikan kami dua bungkus sekarang sebagai tanda hormatmu," ucap si gondrong dengan nada meremehkan.
Rimba hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang bagi mereka terlihat seperti ejekan. Salah satu teman si gondrong naik pitam. Ia mencoba meraih kerah baju Rimba, namun dengan gerakan refleks yang sangat cepat, Rimba menepis tangan itu hingga terdengar suara plak yang keras.
"Jangan menyentuhku jika kau tidak ingin kehilangan tanganmu," ucap Rimba dingin.
Geram karena merasa diremehkan, pemuda lainnya melayangkan tinju ke arah wajah Rimba sambil mencaci maki. Rimba tidak menghindar, ia hanya mengangkat tangan kirinya untuk menangkis pukulan itu, dan di saat yang bersamaan, kaki kanannya meluncur deras menghantam perut pemuda tersebut.
Bugh!
Suara sesak terdengar dari mulut pemuda itu saat tubuhnya melayang ke belakang sejauh tujuh meter, lalu jatuh tersungkur di lantai koridor. Tiga temannya tercengang, mulut mereka menganga lebar melihat kekuatan monster yang dimiliki pemuda yang mereka anggap "bule lemah" ini.
"Apa ada lagi yang belum puas?" tanya Rimba dengan senyum yang kini terasa mengerikan bagi mereka. Ketiganya gelagapan dan segera berlari menolong teman mereka yang pingsan tanpa berani menoleh lagi. Rimba melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa.
---
Proses registrasi berjalan lancar. Rimba dilayani oleh seorang petugas administrasi, mahasiswi tingkat atas yang manis. "Kamu mahasiswa beasiswa dari jalur khusus, ya? Wah, Universitas Buana Cakrawala sangat selektif untuk jalur itu. Selamat bergabung, Rimba," ucap gadis itu sambil memberikan jadwal Orientasi Mahasiswa Baru (OSMB) yang akan dimulai hari Senin depan.
Rimba melipat kertas itu, memasukkannya ke ransel, dan berjalan keluar. Saat ini masih hari Kamis, artinya ia punya waktu tiga hari untuk berdiam di Dimensi Independen dan meningkatkan kekuatannya.
Namun, saat menuju parkiran, ia kembali dihadang. Kali ini jumlahnya lebih banyak. Sekitar lima belas orang berdiri menutup jalannya. Di tengah-tengah mereka berdiri seorang pria berbadan tegap dengan jaket almamater yang sengaja tidak dikancingkan—pemimpin geng kampus yang terkenal ditakuti. Di sampingnya adalah pemuda yang tadi mendapatkan tendangan dari Rimba.
"Itu dia, Bang! Dia yang menendangku!" lapor si pemuda sambil menunjuk Rimba.
Kerumunan mahasiswa mulai berkumpul dari kejauhan, penasaran melihat "sang bule" yang berani menantang penguasa kampus. Rimba berdiri tenang di hadapan mereka, wajahnya datar tanpa emosi.
"Kau anak baru yang sok jagoan itu?" tanya si ketua geng dengan nada tinggi. "Di sini, aku adalah hukum. Kau sudah melukai anggotaku. Sekarang, sujud di depanku, minta maaf, dan biarkan kami memukulmu sampai kami puas. Jika kau setuju, masalah selesai. Jika tidak, kau akan keluar dari sini menggunakan ambulans."
Rimba mendengus remeh. "Apa yang membuatmu begitu percaya diri? Hanya karena kau punya beberapa anak buah yang badannya sedikit lebih besar dari karung beras?"
Merasa dihina di depan umum, si ketua geng berteriak, "Hajar dia!"
Namun, sebelum para anak buahnya sempat melangkah, Rimba tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Sepersekian detik kemudian, ia sudah berdiri tepat di depan wajah sang ketua geng. Kecepatannya melampaui kemampuan mata manusia biasa untuk menangkapnya.
Bugh!
Satu pukulan ringan dari Rimba bersarang tepat di mulut pimpinan geng itu. Suara rahang yang bergeser dan gigi yang patah terdengar jelas. Tubuh pria besar itu tumbang seketika, darah segar mengucur dari mulutnya yang kini berantakan. Ia pingsan dalam satu serangan tunggal.
Rimba memandang ke arah belasan anak buah geng lainnya yang kini mematung ketakutan. "Ada lagi yang mau mencoba?"
Tidak ada yang bergerak. Nyali mereka hancur berkeping-keping saat melihat bos mereka tumbang seperti karung pasir. Para mahasiswa yang menonton berseru tertahan; ada yang ketakutan, namun banyak juga yang menatap Rimba dengan kekaguman luar biasa. Pemuda ini baru saja menghancurkan rezim premanisme kampus hanya dalam hitungan detik.
"Angkat sampah ini dan pergi," perintah Rimba dingin. "Kalau kalian masih merasa kurang puas, kita bisa melanjutkannya besok atau lusa. Kita satu kampus, jadi akan sering bertemu."
Dengan tergesa-geser, mereka menggotong pemimpin mereka yang pingsan dan melarikan diri dari sana. Rimba kembali berjalan menuju parkiran dengan santai. Ia menaiki Harley Davidson-nya, mengenakan helm dan kacamata hitam. Dengan sekali tarikan gas yang menggelegar, ia meninggalkan kampus, meninggalkan desas-desus hebat yang akan menjadi legenda baru di Universitas Buana Cakrawala.
Rimba kini siap untuk kembali ke Dimensi Independen, bersiap menempa dirinya lebih keras lagi sebelum hari Senin tiba. Petualangan sesungguhnya baru saja dimulai.