NovelToon NovelToon
Doa Terakhir Sang Kyai

Doa Terakhir Sang Kyai

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Penyelamat / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Di Desa Sumberarum, ketenangan bukanlah anugerah—melainkan harga dari sebuah perjanjian gelap.

Fariz, anak petani biasa, hidup di desa yang tak pernah kekurangan apa pun. Sawah selalu subur. Penyakit jarang datang. Bencana seolah menjauh.
Namun semua itu dibayar dengan sesuatu yang tak pernah dibicarakan dengan lantang.

Ketika Kyai Salman datang untuk memutus kemusyrikan yang mengakar, kematiannya justru menanam warisan berbahaya pada Fariz—ilmu yang belum sempurna, kebenaran yang tak diinginkan siapa pun.

Di tengah cintanya pada Aisyah, putri kepala desa, Fariz dipaksa memilih:
membiarkan desa tetap “selamat” dengan dosa, atau menghancurkan keseimbangan yang telah dijaga turun-temurun.

Karena di desa ini,
kebenaran bukanlah penyelamat—
ia adalah awal dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana Jumat Kliwon

Aisyah berdiri di ambang pintu kamar Kyai Salman.

Menatap ke dalam kegelapan. Tidak tahu apa yang akan ia temukan. Tidak tahu apakah ia siap.

Tapi sebelum kakinya melangkah masuk, suara itu terdengar dari belakang.

"Aisyah!"

Ia menahan langkahnya. Lalu berbalik.

Fariz dan Rahman baru tiba dari arah gerbang. Napas mereka terengah. Seperti baru berlari jauh. Fariz membawa tas di bahu, Rahman memegang lentera yang cahayanya redup.

Aisyah menunggu mereka mendekat.

"Kenapa kamu datang kemari, Aisyah?" Rahman bertanya dengan suara yang terkejut. Matanya dengan cepat mengawasi sekeliling, mencari tanda jika ada yang mengikuti Aisyah hingga kemari.

"Bapak dan para warga sedang berdoa pada Dewi Kuasa di rumah." Aisyah menjawab pelan. "Aku berusaha untuk hati-hati. agar tidak ada yang ikut sampai ke sini."

Sepertinya.

Tapi Fariz dan Rahman tidak yakin sepenuhnya. Tapi cukup untuk membuat keduanya bernapas sedikit lega.

Rahman masih belum tahu kenapa Aisyah datang selarut ini. Terlebih dalam suasana desa yang seperti ini.

"Iz, tadi pagi aku melihat Bapak berbeda."

Aisyah menunduk. Suaranya pelan tapi jelas.

"Berbeda?"

Rahman bergumam sambil melirik ke arah Fariz.

"Apa maksudmu berbeda?" Fariz menatap Aisyah.

"Wajah Bapak pucat. Kakinya naik satu jengkal di atas tanah. Dan tubuhnya diliputi oleh kabut putih."

Aisyah menjelaskan dengan tubuh yang sedikit gemetar. Teringat kejadian pagi tadi.

"Apa kamu pernah melihat Bapakmu seperti ini sebelumnya?"

Fariz bertanya lagi.

Aisyah menggelengkan kepala.

"Selama ini yang aku tahu, Bapak selalu berdoa bersama warga di rumah belakang kalau terjadi sesuatu. Tapi saat itu aku hanya diam di kamar. Dan kali ini aku memberanikan diri untuk melihat..."

Ia berhenti sebentar. Menarik napas.

"Setelah membaca semua buku Kyai Salman yang aku ambil dari lemari Bapak."

Ketiganya terdiam.

Bingung harus berkata apa. Karena tidak ada satu pun orang yang bisa dimintai pendapat setelah mendengar semua penjelasan Aisyah.

"Aku yakin, Bapak pasti akan melakukan sesuatu agar desa ini kembali seperti semula."

Aisyah bicara lagi. Suaranya tidak yakin. Lebih seperti mencoba meyakinkan diri sendiri.

"Kalau begitu, besok pagi jam sepuluh kita berkumpul di sini untuk mencari tahu apa sebenarnya yang akan dilakukan oleh Bapakmu di saat situasi desa seperti ini."

Fariz bicara karena melihat waktu sudah mulai larut malam.

"Aku akan antar kamu pulang."

Mereka berjalan keluar dari pondok.

Fariz mengekor dari jarak yang cukup jauh di belakang Aisyah. Cukup dekat untuk melihat kalau ada yang mengancam, tapi cukup jauh agar tidak terlihat bersama kalau ada yang melihat.

Rahman kembali ke rumah persembunyian lewat jalan lain.

Aisyah berjalan dengan langkah yang cepat tapi tidak berlari. Sesekali menoleh ke belakang, melihat bayangan Fariz yang masih mengikuti.

Sampai di depan pagar rumahnya, Aisyah berhenti sebentar. Menoleh ke arah jalan. Fariz berdiri di bayang-bayang pohon besar. Mengangkat tangan sedikit. Tanda bahwa ia masih di sana.

Aisyah masuk lewat pintu belakang. Perlahan. Mengunci dari dalam.

Fariz menunggu sampai lampu di kamar Aisyah menyala. Tanda bahwa ia sampai dengan selamat.

Lalu ia berbalik dan kembali ke pondok dengan langkah yang tidak terburu tapi tidak berhenti.

PAGI HARI

Suasana desa tampak semakin membaik.

Kabut tipis masih ada, tapi sangat tipis. Nyaris transparan. Cukup untuk melihat jalan dengan jelas.

Aisyah menatap sekeliling dari jendela kamarnya. Sepi. Tidak ada siapa-siapa di sana.

Lalu ia berjalan ke arah jendela yang menghadap ke rumah yang digunakan Darma Wijaya untuk melakukan ritual.

"Apa sebenarnya yang mereka lakukan di sana?"

Ia bergumam pelan. Penasaran.

Lalu perlahan ia mengendap keluar. Mencari celah untuk melihat ritual yang dilakukan Darma Wijaya.

Saat ia mendekat, aroma bunga kantil menyelusup ke hidung.

Manis. Terlalu manis untuk pagi hari.

Saat ia semakin dekat ke arah jendela, bau itu semakin kuat. Bercampur dengan bau amis dari daging mentah. Membuat perutnya sedikit mual.

Aisyah berhenti di samping jendela. Menempelkan punggung ke dinding. Mendengar.

"Aku segera memberikan persembahan itu, Ratu."

Suara Darma Wijaya terdengar dari dalam. Bicara dengan seseorang.

Aisyah berusaha menyimak. Tapi bahasa yang digunakan sulit dipahami. Terlalu tua. Seperti bahasa yang sudah tidak dipakai lagi sejak ratusan tahun lalu.

Lalu ada hening sebentar.

Dan suara itu berubah.

Bahasanya berubah menjadi bahasa Indonesia. Jelas. Seperti sengaja diubah agar bisa didengar oleh seseorang yang sedang menguping dari luar.

"Ingat, Darma, jangan sampai semuanya gagal seperti saat si tua itu masih hidup dan akhirnya mengacaukan semuanya."

Suara wanita. Berat. Tapi halus di ujung. Seperti dua suara yang keluar bersamaan.

Aisyah terkesiap mendengar itu.

Si tua itu.

Kyai Salman.

Dewi Kuasa bicara tentang Kyai Salman. Tentang bagaimana ia pernah mengacaukan rencana mereka.

"Aku akan menunggu di makam lama bersama para pengawalku di saat Jumat Kliwon."

Suara itu semakin keras. Seperti sengaja ingin memastikan Aisyah mendengar dengan jelas.

"Ingat, Darma, jangan sampai ada orang terdekatmu yang tahu dan akhirnya menggagalkan semua rencana ini."

Aisyah merasakan bulu kuduknya berdiri.

Orang terdekat.

Putrinya.

Dewi Kuasa bicara tentang dirinya.

Tiba-tiba jendela terbuka.

Bukan didorong oleh tangan. Tapi terbuka sendiri. Dengan suara yang keras. Seperti ada angin kencang yang mendorong dari dalam.

Aisyah langsung menunduk. Jantungnya berhenti sebentar. Napasnya tertahan.

"Aku peringatkan, jangan sampai ada sesuatu yang mengganjal di hatimu. Apalagi putrimu yang sekarang sudah mulai berpihak pada sesuatu yang seharusnya tidak boleh ia dekati."

Suara itu keluar dari jendela yang terbuka. Langsung ke arah Aisyah yang masih berjongkok di bawah.

Dewi Kuasa tahu.

Ia tahu Aisyah ada di sana. Mendengar semuanya.

Aisyah tidak menunggu lagi. Ia bangkit dan berjalan menunduk. Cepat. Tidak berlari. Tapi berjalan cepat.

Setelah agak jauh, ia langsung masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang.

Napasnya belum teratur. Jantungnya masih berdetak keras.

Lalu ia melihatnya.

Kabut putih berbentuk manusia. Melayang di depan kamarnya. Perlahan membentuk wajah yang sangat cantik. Kulit putih seperti porselen. Mata tajam yang menatap langsung ke arah Aisyah. Dan di kepalanya, mahkota emas yang bersinar meski tidak ada cahaya matahari.

Aisyah membeku di tempat.

Napasnya tertahan. Kakinya tidak bisa bergerak. Matanya tidak bisa lepas dari wujud itu.

Dewi Kuasa tersenyum.

Lalu menggerakkan telunjuknya. Pelan. Dari kiri ke kanan. Isyarat yang sangat jelas.

"Jangan ikut campur." suara itu terdengar jelas di telinga AIsyah.

"Jangan ganggu aku!"

Aisyah berteriak. Suaranya keluar paksa dari tenggorokan yang terasa tersumbat.

"Pergi!"

Ia histeris. Baru kali ini ia merasakan dampak mistis dari ritual ayahnya secara langsung. Bukan hanya melihat dari jauh. Tapi berhadapan. Nyata. Mengerikan.

Angin kencang tiba-tiba berputar liar.

Kaca jendela Aisyah bergetar. Gemeratak. Suara kayu bertabrakan di luar. Benda-benda saling beradu. Membuat suasana semakin mencekam.

Kabut putih itu bergerak mendekat. Wajahnya masih tersenyum. Tapi senyum itu tidak hangat. Dingin. Seperti senyum sesuatu yang tidak pernah hidup tapi berpura-pura hidup.

"Jangan ikut campur, Aisyah..."

Suara itu berbisik tepat di telinga Aisyah meski wujud itu masih melayang jauh di depan.

Lalu tertawa.

Tawa yang membuat siapa pun yang mendengarnya pasti ketakutan. Bukan tawa manusia. Lebih seperti eraman yang dibuat jadi suara.

Lalu wujud itu menghilang.

Seperti asap yang tersedot ke dalam tanah.

Tubuh Aisyah bergetar. Ketakutan. Tapi ia berusaha untuk tetap tenang.

Setelah beberapa menit berlalu, semuanya kembali sunyi seperti biasa.

Aisyah mengintip dari balik jendela. Siluet putih itu hilang dari pandangan.

Tapi...

Dari balik jendela, ia bisa melihat dengan jelas.

Darma Wijaya berdiri di luar. Menatapnya.

Wajah beringas. Mata tajam yang tidak berkedip. Menggelengkan kepala pelan. Seperti kecewa. Seperti marah. Seperti sedang memutuskan sesuatu.

Aisyah merasakan dadanya sesak.

Itu ayahnya. Wajah yang ia kenal sejak kecil. Tapi tatapan itu bukan tatapan ayahnya. Terlalu dingin. Terlalu kosong.

Setelah beberapa detik, wujud itu menghilang. Seperti bayangan yang terhapus oleh cahaya.

Aisyah berdiri di situ cukup lama. Menatap tempat di mana ayahnya berdiri.

Lalu ia sadar.

Ia tidak bisa tinggal di sini lagi. Tidak sekarang. Tidak hari ini.

Tanpa menunggu lebih lama, Aisyah mengambil buku Kyai Salman yang ia sembunyikan di bawah kasur. Memasukkannya ke dalam tas kecil. Lalu keluar dari rumah.

Tidak peduli lagi siapa yang melihat. Tidak peduli lagi apakah ada yang mengikuti.

Ia berlari.

Menuju pondok.

"Aisyah...!"

Fariz melihat dari kejauhan.

Aisyah berjalan tergopoh-gopoh. Memegangi tas yang berisi buku Kyai Salman dengan erat. Napasnya tersengal. Wajahnya pucat.

Fariz segera mendekat. Menahan tubuhnya yang hampir ambruk ke tanah.

"Ada apa, Aisyah?"

Ia menatapnya sambil memegang lengannya. Memastikan ia tidak jatuh.

"Dewi Kuasa... aku melihatnya."

Suara Aisyah keluar di antara napas yang tersengal-sengal.

Fariz terdiam.

Menatap wajah Aisyah. Napasnya yang belum teratur. Mata yang masih dipenuhi ketakutan.

Mata yang biasanya menunduk, kali ini tidak lepas dari wajahnya. Bukan karena ia ragu. Tapi karena ia melihat sesuatu yang membuatnya yakin.

Wajah itu tidak bisa berbohong.

Ia benar-benar melihat sesuatu yang tua dan menguasai desa ini.

"Ayo masuk dulu."

Fariz membawa Aisyah ke dalam pondok. Rahman sudah menunggu di sana dengan air putih.

Mereka duduk di tajuk. Aisyah minum pelan. Tangannya masih gemetar saat memegang gelas.

"Ceritakan apa yang terjadi."

Rahman bicara pelan. Memberi waktu untuk Aisyah bernapas dulu.

Dan Aisyah mulai menceritakan semuanya.

Tentang ritual yang ia dengar. Tentang rencana persembahan di makam saat Jumat Kliwon. Tentang Dewi Kuasa yang muncul di depan kamarnya. Dan tentang wajah ayahnya yang menatapnya dengan cara yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Fariz dan Rahman mendengar dalam diam.

Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang memotong.

Hanya mendengar sampai Aisyah selesai.

Lalu hening panjang.

"Jumat Kliwon." Rahman bergumam. "Itu tiga hari lagi."

Fariz menatap Rahman. Lalu ke Aisyah.

"Kalau begitu, kita punya tiga hari untuk mencari tahu apa yang akan mereka lakukan di makam itu."

Aisyah mengangguk pelan. Masih gemetar. Tapi sudah lebih tenang dari tadi.

"Dan kita harus mencari cara untuk menghentikannya."

Fariz melanjutkan. Suaranya lebih tegas sekarang.

Tidak ada yang menjawab. Tapi ketiganya tahu.

Tiga hari lagi, sesuatu yang besar akan terjadi.

Dan mereka harus siap.

Atau semuanya akan berakhir.

1
Was pray
shalat magrib 2 rakaat? shalat model baru kah?
kang adhie: oalaaah kayaknya aku typo
thx u kak udh remind
aku coba perbaiki
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!