NovelToon NovelToon
Only Ever

Only Ever

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Running On

Kisah ini mengikuti perjalanan Karin, seorang gadis yang harus belajar memahami kehilangan, sebelum akhirnya menemukan cara untuk menyembuhkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Running On, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab : 23

Karin terbangun dengan napas tertahan.

Matanya terbuka lebar saat menyadari langit-langit di atasnya bukanlah kamar hotelnya.

Ia langsung duduk, jantungnya berdegup cepat. Pandangannya menyapu seluruh ruangan—asing, rapi, tenang.

Kepalanya terasa berat, berdenyut pelan, seolah semalam terlalu banyak yang hilang dari ingatannya.

Yang terakhir ia ingat hanyalah makan malam bersama tim di restoran.

Setelah itu… kosong.

Karin memegangi kepalanya, menghela napas pelan, lalu menurunkan kaki dari ranjang.

Saat itulah matanya menangkap sosok seseorang di sofa.

James.

Ia tertidur pulas, tubuhnya sedikit menyamping. Jaket hitamnya—jaket yang dikenali Karin—dipeluk erat, seolah benda itu lebih berharga dari bantal.

Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibandingkan saat terjaga. Tidak ada senyum ramah, tidak ada nada bercanda—hanya ekspresi polos yang nyaris tidak ia lihat sebelumnya.

Karin melangkah mendekat dengan hati-hati, lalu duduk di lantai di samping sofa.

Ia memandangi wajah James cukup lama.

Alisnya lentik, garis rahangnya tegas tapi lembut. Ada sesuatu dalam wajah itu yang membuat dadanya terasa hangat tanpa alasan jelas.

Tanpa sadar, Karin tersenyum kecil.

Dia sangat tampan, batinnya, bahkan sebelum ia sempat menyangkalnya sendiri.

Saat Karin masih larut menikmati wajah itu, James yang sejak tadi memejamkan mata sebenarnya sadar akan kehadirannya.

Sudut bibirnya terangkat, senyum kecil yang penuh percaya diri.

Tanpa membuka mata, ia berkata santai,

“I know I’m handsome, but if you keep staring, you might get bored.”

(Aku tahu aku tampan, tapi kalau kamu terus menatap, nanti kamu bosan.)

James lalu membuka matanya dan langsung bertemu pandang dengan Karin.

Karin membeku.

Wajahnya memanas seketika.

“A-aku—”

Ia terdiam, tertangkap basah.

James tertawa pelan, bangkit sedikit dari sandaran sofa.

“Good morning.”

(Selamat pagi.)

Nada suaranya ringan, hangat—seolah pagi itu memang ditakdirkan dimulai seperti ini.

Karin buru-buru mengalihkan pandangan, berdeham kecil.

“Ini… kamar siapa?” tanyanya, masih berusaha menyusun pikirannya.

James duduk lebih tegak.

“It’s mine.”

(Kamarku.)

Karin menoleh cepat. Matanya sedikit membesar.

“Kamar kamu?” ulangnya, suaranya masih serak karena baru bangun.

James mengangguk santai, seolah itu hal paling biasa di dunia.

“You passed out last night.”

(Kamu pingsan semalam.)

Ia berdiri, mengambil segelas air dari meja kecil di dekat sofa, lalu menyerahkannya pada Karin.

“You couldn’t even walk straight.”

(Kamu bahkan nggak bisa jalan lurus.)

Karin menerima gelas itu dengan tangan sedikit gemetar. Ia menyesap airnya perlahan, mencoba menyusun kepingan ingatan yang masih berserakan di kepalanya.

“Aku… nggak ingat apa-apa,” gumamnya.

James tersenyum kecil, bukan senyum menggoda, tapi senyum yang lebih lembut.

“That’s probably for the best.”

(Mungkin itu memang lebih baik.)

Karin meliriknya sekilas.

“Maksud kamu?”

James menyandarkan punggungnya ke sofa.

“You were talking a lot.”

(Kamu banyak bicara.)

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada bercanda,

“And you were very honest.”

(Dan kamu sangat jujur.)

Karin langsung tersedak kecil.

“Apa yang aku katakan?” tanyanya cepat, panik mulai muncul di wajahnya.

James tertawa pelan.

“Relax,” katanya sambil mengangkat kedua tangannya.

“I won’t tell.”

(Tenang. Aku nggak akan bilang.)

Ia lalu menatap Karin lebih lama, matanya serius tapi hangat.

“But I’m glad I was there.”

(Tapi aku senang aku ada di sana.)

Karin terdiam.

Ada sesuatu dalam nada James—tenang, tidak memaksa—yang membuat dadanya terasa aneh.

Hening menyelimuti ruangan itu sejenak.

Tenang. Pagi. Dan terlalu intim untuk sekadar kebetulan.

James kemudian duduk menghadap Karin. Jarak mereka tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuat Karin merasa percakapan ini penting. Tatapan James tertuju pada mata Karin—tenang, jujur, tanpa tekanan.

“Can I ask you something?”

(Boleh aku bertanya sesuatu?)

Nada suaranya serius. Karin langsung gugup. Dadanya mengencang, takut semalam ia melakukan atau mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak.

“Yes… go ahead.”

(Iya… silakan.)

“What is it?”

(Ada apa?)

James terdiam sejenak. Ia menunduk, seperti sedang menyusun kalimat yang tepat. Lalu, ketika ia kembali menatap Karin, suaranya terdengar lebih pelan.

“Are you close to Director Jack?”

(Apa kamu dekat dengan Sutradara Jack?)

Karin membeku.

Pertanyaan itu datang begitu langsung. Ia menarik napas perlahan, lalu memilih jujur.

“Yes.”

(Iya.)

“He’s my ex-boyfriend.”

(Dia mantan kekasihku.)

James mendengarnya tanpa perubahan ekspresi. Tidak kaget. Tidak kecewa. Seolah ia memang sudah menduga jawabannya sejak awal.

“I just wanted to hear it from you.”

(Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu.)

Senyum tipis muncul di wajahnya.

Karin memperhatikan senyum itu, ragu, lalu bertanya dengan hati-hati.

“Are you… upset?”

(Kamu… kesal?)

James mengerutkan dahi, jelas bingung.

“Upset?”

(Kesal?)

“For what?”

(Untuk apa?)

Ia tersenyum kecil.

“Because he was your boyfriend?”

(Karena dia mantan kekasihmu?)

“I think he’s a great man.”

(Menurutku dia pria yang hebat.)

“And whatever made you break up must have been a difficult decision.”

(Dan apa pun alasan kalian putus pasti keputusan yang sulit.)

Karin menunduk. Dadanya terasa sesak.

“I’m sorry,” katanya pelan.

(Aku minta maaf.)

James menatapnya heran.

“Sorry for what?”

(Minta maaf untuk apa?)

Karin mengangkat wajahnya, jujur.

“For the fact that you like me.”

(Karena… kamu menyukaiku.)

James terdiam sesaat, lalu tertawa kecil—bukan tawa mengejek, tapi hangat.

“You didn’t do anything wrong.”

(Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.)

Ia menyandarkan tubuhnya sedikit.

“I already knew.”

(Aku sudah tahu.)

“In Jeju, you were heartbroken.”

(Di Jeju, kamu sedang patah hati.)

“You screamed at the concert like you were throwing your anger away.”

(Kamu berteriak di konser seperti sedang membuang semua amarahmu.)

Karin terkejut.

“Are you some kind of mind reader?”

(Kamu peramal, ya?)

“How do you know all of that?”

(Kok kamu tahu semuanya?)

James tersenyum.

“Your expressions told me.”

(Ekspresimu yang menunjukkannya.)

“People don’t always need to ask.”

(Orang tidak selalu perlu bertanya.)

Ia memanggil nama Karin dengan suara lebih lembut.

“Karin.”

“I think Jack really loves you.”

(Aku rasa Jack sangat mencintaimu.)

“Maybe things would change if you tried to see things from his perspective.”

(Mungkin semuanya akan berbeda kalau kamu mencoba memahami sudut pandangnya.)

Karin terdiam.

Ia mencerna semua kata itu perlahan. Ada rasa hangat, ada juga perih yang samar. Tanpa ia sadari, di balik kebimbangannya, hatinya—sedikit—berharap pada kemungkinan itu.

Kalimatmu sudah kena secara rasa, cuma sebagai editor aku akan merapikannya sedikit supaya emosinya lebih mengalir dan tidak terdengar “diceritakan”, tapi dirasakan. Maknanya tidak aku ubah sama sekali.

Karin tidak tahu kapan perasaan itu tumbuh.

Ia bahkan tidak sadar sejak kapan kehadiran James menjadi penting.

Yang ia tahu, hatinya terasa lebih sunyi dari sebelumnya.

Dan mungkin, tanpa ia akui pada dirinya sendiri…

ia sudah mulai mencintai James.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!