Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Obrolan yang Hangat
Mereka duduk di ruang tamu. Suara kipas angin berputar pelan, bercampur aroma teh hangat yang baru diseduh.
“Kami dengar Ibu sempat dirawat,” kata Daniel.
“Alhamdulillah sekarang sudah membaik,” jawab Mama.
Tante Lia mengangguk pelan.
“Syukurlah. Kalau anak sudah pulang, biasanya orang tua cepat pulih.”
Daniel tertawa kecil.
“Benar itu. Anak jauh lebih bikin sakit hati daripada sakit badan.”
Abah ikut tertawa.
Nadira hanya tersenyum tipis.
Tante Lia menaruh cangkir teh di meja, wajahnya tampak lelah.
“Oh ya… punya anak satu-satunya memang harus dekat dengan orang tua. Tapi… kalau anak saya suruh jenguk orang tua, aduh, saya pusing setiap kali,” keluhnya sambil mengusap pelipis.
Nadira menatapnya penuh perhatian.
“Kenapa, Tante?”
Tante Lia menatap Nadira sambil tersenyum lelah.
“Sejak papanya pensiun dan dia urus bisnis sendiri. Bawaannya migrain tiap hari. Setiap kali saya minta datang ke rumah, rasanya deg-degan terus. Anak satu, tapi tanggung jawabnya banyak banget.”
Abah mengangguk pelan.
“Orang Andreans… bisnisnya di mana-mana. Mau jenguk orang tua, pasti sibuk terus. Kadang lupa makan, kadang lupa waktu.”
“Kamu sekarang masih kerja di Jakarta?” tanya Daniel langsung pada Nadira.
Nadira menarik napas kecil.
“Baru saja berhenti, Om.”
“Oh?” Daniel tampak terkejut.
“Kenapa?”
“Mau lebih dekat dengan orang tua dulu.”
Daniel mengangguk pelan.
“Keputusan besar di umur dua puluh enam.”
Mama menoleh pelan ke arah Nadira.
“Masih muda sebenarnya,” tambah Tante Lia lembut. “Tapi memang sudah waktunya mulai memikirkan masa depan.”
Nadira hampir bisa menebak arah pembicaraan.
Daniel tersenyum sambil menyeruput teh.
“Sekarang berarti sudah siap menetap di sini?”
“Belum tentu,” jawab Nadira pelan.
Abah menyahut santai,
“Kami tidak pernah paksa.”
Tante Lia tersenyum penuh arti.
“Orang tua memang tidak paksa… tapi pasti berharap.”
Mama hanya tersenyum kecil tanpa membantah.
Setelah Mobil Itu Pergi
Menjelang magrib, Daniel dan Tante Lia pamit.
“Senang bisa mampir,” kata Tante Lia sambil menggenggam tangan Mama.
Daniel menyalami Abah erat.
“Nadira, semoga betah di rumah,” katanya sebelum melangkah ke luar.
“Iya, Om,” jawab Nadira sopan.
Terdengar lagi suara pintu mobil tertutup.
Mesin menyala.
Mobil perlahan menjauh dari halaman rumah.
Rumah kembali sunyi.
Nadira menghela napas panjang.
“Kenapa setiap tamu pasti bahas nikah?” gumamnya pelan.
Abah tertawa kecil.
“Karena itu topik favorit orang tua seusia kami.”
Mama menatap Nadira lembut.
“Kami tidak ingin buru-buru. Tapi kami ingin lihat kamu tidak sendirian.”
Nadira terdiam.
Di luar, senja mulai turun.
Pagi itu, setelah sarapan, Abah sudah berangkat ke toko sembako. Mama memilih beristirahat di kamar karena masih dalam pemulihan
Nadira duduk di ruang tamu, menikmati teh hangat sambil menatap jendela. Udara pagi di kampung terasa sejuk, berbeda dengan hiruk-pikuk Jakarta
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang lembut. Nadira menoleh, sedikit terkejut
“Siapa ya?” gumamnya
Sesaat kemudian, pintu dibuka, dan seorang perempuan muda masuk dengan senyum lebar
“Nadira!” sapa perempuan itu riang
“Della?” Nadira menatapnya tak percaya
Nadira berdiri tergagap, tak menyangka melihat Della di depan pintu rumah. Rambutnya masih sama, rapi seperti biasanya, dan senyum lebarnya tetap hangat
“Nadira!” sapa Della riang, melangkah masuk tanpa menunggu undangan
“Della? Kamu… datang dari kampung sendiri?” Nadira menatapnya tak percaya
“Ya, kan rumah kita cuma sebentar dari sini,” jawab Della sambil tertawa kecil “Aku cuma pengen mampir sebentar, lihat kamu, dan… ngobrol-ngobrol aja”
Nadira tersenyum, hatinya hangat “Aku senang banget kamu datang. Ini… tiba-tiba banget, tapi bikin hati senang”
Della tertawa
“Nah, itu baru Dira yang aku kenal. Yuk, kita ngobrol santai sambil minum teh. Aku punya banyak cerita seru buat kamu”
Tiba-tiba, Della mencondongkan badan, matanya berbinar penasaran
“Eh… gimana-gimana, kamu udah ada pacar belum, sih?” tanyanya santai tapi penuh rasa ingin tahu
Nadira tersenyum canggung
“Ah… nggak… lagi nggak kepikiran, lah,” jawabnya sambil menoleh, berharap Della nggak terlalu serius
Della mengangkat alisnya, tersenyum nakal
“Kok gitu?”
“Ya… nggak gimana-gimana,” sahut Nadira, masih tersenyum
Lalu ia menatap Della serius sejenak “Eh… terus kamu sekarang sama Jeffi yang dulu kita kenal waktu SMA itu?”
Della mengangguk, menatap Nadira dengan tenang
“Ya, jadilah… orang udah tunangan,” ucapnya sambil mengangkat tangan, memperlihatkan cincin tunangan yang sama persis seperti yang dulu Nadira lihat di Jeffi
Nadira terkejut setengah mati, mulutnya menganga
“Hahh?! …Della?! Kamu… tunangan sama Jeffi?!”
Della tersenyum, matanya menatap Nadira penuh keyakinan
“Iya… aku tunangan sama Jeffi. Makanya aku datang ke sini, biar kamu tahu langsung dari aku, bukan dari gosip atau cerita orang lain”
Nadira masih terdiam, campuran antara kaget, bingung, dan sedikit… iri
“Wah… nggak nyangka banget… Jeffi sama kamu… duh, aku nggak tahu harus bilang apa…”
Della tertawa ringan, sambil duduk di sofa
“Nah… santai aja, Dira. Kita kan tetap teman, kan?”
“Aku… nggak nyangka kalian sampai tunangan,” gumam Nadira pelan
Della tersenyum, matanya tetap hangat
“Iya… akhirnya sampai juga ke titik ini. Kamu kan tahu sebagian perjalanan kami waktu SMA, Dira… tapi banyak hal yang kamu nggak tahu”
Nadira mengerutkan dahi, penasaran sekaligus geregat
“Eh… maksudmu… gimana ceritanya kalian bisa sampai tunangan? Aku kan udah tahu kalian selalu bareng selama tiga tahun itu, tapi kok aku nggak dengar kelanjutan ceritanya?”
Della tertawa ringan, menepuk bahu Nadira
“Nih… kamu pasti penasaran banget, ya? Jadi begini ceritanya…”