Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21: Misi Cari Jodoh
"Siapa pria sialan bernama Ryan itu?" tanya Dominic dengan suara sangat pelan, rendah, dan penuh selidik curiga.
"Bukan urusanmu," jawab Harper seraya menyambar ponselnya dari atas meja kerja Dominic. Tangannya dengan sigap membuka kunci layar untuk membalas pesan tersebut.
"Itu urusanku kalau sekretaris utamaku membuang-buang waktu mengobrol dengan laki-laki tidak jelas saat jam kerja!" sentak Dominic. Dia melangkah maju, berusaha merebut kembali ponsel itu dari tangan Harper, tapi wanita itu jauh lebih gesit menghindar.
"Jam kerja sudah selesai sepuluh menit yang lalu, Dom. Buka matamu lebar-lebar dan lihat jam dinding raksasa di belakangmu," balas Harper dingin. "Lagi pula, Ryan bukan pria tidak jelas. Dia dokter hewan profesional yang punya klinik sendiri."
"Dokter hewan?!" Dominic tertawa keras, tawa yang sengaja dipaksakan dan penuh nada merendahkan. Tawanya menggema di dinding kaca. "Kau menolakku, seorang triliuner yang menguasai pasar saham global, demi seorang pria yang kerjanya membersihkan kotoran kucing dan memvaksin anjing rabies? Standarmu tiba-tiba anjlok menyentuh tanah, Harper."
"Tepat sekali," sahut Harper santai sambil mengetik balasan di aplikasi TemanKencan. Dia sama sekali tidak terpancing emosi. "Dia menyukai hewan, sangat ramah, bicaranya sopan, dan yang paling penting, dia tidak sekaya dirimu. Dia hidup normal, punya hati nurani, dan tidak suka berteriak memecahkan gendang telinga orang. Dia pria yang sempurna untukku."
Harper tidak berbohong soal itu. Tiga hari yang lalu, setelah nyaris gila menghadapi Dominic yang tantrum membanting vas bunga hanya karena salah satu klien telat datang lima menit, Harper memutuskan mengunduh aplikasi TemanKencan.
Dia sangat lelah. Otaknya butuh penyegaran dari jadwal rapat padat dan amukan egois CEO bayi raksasa ini.
Saat melihat profil Ryan melintas di layar, Harper langsung menggeser fotonya ke kanan. Pria itu punya senyum hangat yang menenangkan, memakai kemeja flanel biasa, dan berfoto bersama seekor anak anjing peliharaannya.
Ryan sama sekali tidak memiliki aura arogan atau dominasi yang selalu mengelilingi Dominic. Kecocokan langsung terjadi di detik yang sama, dan obrolan mereka mengalir sangat lancar tanpa beban sedikit pun.
"Aplikasi pencarian jodoh murahan," cibir Dominic sambil melirik sinis ke arah layar ponsel Harper. "Kau menjual harga dirimu di katalog daring bersama ribuan orang putus asa lainnya? Kau benar-benar merendahkan dirimu sendiri. Kau tinggal di penthouse mewah, bonus dan gajimu luar biasa besar, tapi kau mencari jodoh lewat internet? Sangat menyedihkan."
"Aku mencari kehidupan normal yang gagal kudapatkan selama lima tahun terakhir ini akibat ulah dominasimu," serang balik Harper tanpa ragu. Matanya menatap Dominic menantang dengan berani. "Di aplikasi itu, tidak ada pria yang memintaku mengatur suhu kopi sampai tingkat presisi sembilan puluh derajat celcius. Tidak ada pria yang berteriak-teriak panik minta dokter spesialis bedah saat hidungnya meler gara-gara debu. Ryan bertanya tentang hariku, menanyakan kabarku, bukan menanyakan laporan laba rugi kuartal ketiga."
Dominic menggeretakkan giginya hingga tulang rahangnya menonjol tajam. Ego lelakinya terbakar hebat mendengar perbandingan itu. "Pria berpenghasilan biasa seperti dia selalu mencari celah untuk bergantung pada wanita sukses sepertimu. Dia hanya menginginkan tubuhmu atau memanfaatkan gajimu yang besar untuk melunasi cicilan kliniknya. Pria miskin selalu penuh taktik kotor."
"Tuduhan yang sangat picik dan sempit," balas Harper. Wanita itu memasukkan ponselnya ke dalam saku blazer dengan gerakan final yang tegas. "Dia pria baik-baik. Dia mandiri secara finansial. Dia bahkan yang berinisiatif memesan meja di restoran Italia favoritku untuk kencan pertama kami hari Sabtu ini. Tanpa kusuruh."
"Batalkan kencan konyol itu hari ini juga." Dominic memberi perintah mutlak dengan nada suara yang tidak menerima bantahan.
"Tidak mau."
"Aku bilang batalkan, Harper Sloane! Aku atasanmu! Aku memegang kendali penuh atas seluruh hidupmu!"
"Di luar gedung ini, kau hanyalah pria menyebalkan yang tidak punya hak sepeser pun mengatur kehidupan pribadiku. Kalau kau terus memaksa, aku akan memasukkan tuntutan pelanggaran privasi yang sangat berat ke pengacaraku hari ini juga." Harper memutar bola matanya dengan sangat malas. "Sekarang, karena kekacauan peretasan sudah beres dan data sudah aman, aku mau kembali ke mejaku di luar. Mataku lelah melihat wajah marahmu terus-menerus."
Tanpa menunggu persetujuan Dominic, Harper beranjak dari kursi kulit kebesaran itu. Dia melangkah santai keluar dari ruangan utama, membiarkan pintu mahoni berukir itu terbuka lebar.
Harper duduk di kursi kerjanya sendiri di lorong depan, merapikan beberapa dokumen sebentar ke dalam map hijau, lalu kembali mengeluarkan ponselnya secara terang-terangan.
Dominic berdiri sangat kaku di dalam ruangannya. Matanya terus mengawasi setiap gerak-gerik Harper dari balik dinding kaca transparan.
Rasa panas dan gatal yang sangat aneh mulai menjalar cepat di dadanya. Perasaan ini jauh lebih menyiksa daripada saat melihat grafik saham perusahaannya hancur dihantam peretas.
Pria itu menyadari satu hal yang luar biasa mengerikan: dia sangat benci melihat Harper memberikan perhatian pada pria lain.
Di luar sana, Harper membaca balasan terbaru dari Ryan. Pria itu menceritakan sebuah lelucon ringan tentang seekor burung beo pasiennya yang terus-menerus bernyanyi lagu pop sumbang.
Tanpa sadar, kedua sudut bibir Harper terangkat perlahan.
Dia tersenyum. Bukan senyum sinis, bukan senyum mengejek, dan bukan senyum meremehkan yang sering dia berikan pada Dominic. Itu adalah senyum manis yang sangat tulus, senyum seorang wanita biasa yang sedang merasa diistimewakan.
Pemandangan itu langsung memutus urat kesabaran terakhir Dominic. Otaknya mendidih seketika. Tangannya bergerak secepat kilat menyambar sebuah penghapus papan tulis tebal dari atas mejanya. Dengan gerakan penuh emosi meledak, dia menuju pintu dan melempar benda itu sekuat tenaga melewati batas pintu yang terbuka.
Tuk!
Penghapus itu mendarat tepat di tengah-tengah meja kerja Harper, menimbulkan suara benturan keras yang sangat mengagetkan.
Harper terlonjak di kursinya. Dia mendongak cepat, menatap langsung ke arah Dominic yang sudah berdiri berkacak pinggang di ambang pintu dengan wajah segelap badai dahsyat.
"Kerja! Jangan senyum, menakutkan!" bentak Dominic kasar.
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣