NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Sayang ,kalau boleh tahu bagaimana kamu dulu bertemu dengan mendiang suami kamu?" tanya Rizal.

Aisyah meletakkan burgernya perlahan di atas kertas minyak.

Suasana riuh jalanan mendadak terasa senyap baginya, digantikan oleh memori yang ditarik jauh ke belakang, sepuluh tahun yang lalu.

Ia menatap lampu-lampu jalan dengan pandangan yang menerawang.

"Waktu itu, Aisyah masih mondok, Mas. Usia Aisyah baru dua puluh tahun," mulanya dengan suara lembut yang sedikit bergetar. "l

"Aisyah bukan siapa-siapa, hanya santri putri yang sedang mengabdikan diri di pesantren daerah Jawa Tengah."

Rizal mendengarkan dengan saksama, menghentikan kunyahannya.

"Sore itu, tepat di bulan Ramadan, Aisyah diminta pengasuh pondok untuk mengantarkan takjil ke masjid besar di depan pasar. Saat itulah, Aisyah melihat seorang pria duduk sendirian di teras masjid. Pakaiannya sangat berantakan, wajahnya kusam, dan dia tampak sangat lelah. Dialah Mas Taufik."

Aisyah tersenyum tipis mengenang pertemuan pertama yang jauh dari kesan mewah itu.

"Ternyata, mobilnya mogok di tengah jalan, ponselnya mati, dan dia tersesat jauh dari rombongan bisnisnya. Dia tidak tahu harus ke mana untuk membatalkan puasa karena tidak membawa uang tunai sama sekali. Saat adzan Maghrib berkumandang, Aisyah melihatnya hanya meminum air keran dari tempat wudhu."

"Lalu, apa yang kamu lakukan?" tanya Rizal penasaran.

"Aisyah memberikan jatah nasi kotak takjil milik Aisyah untuknya. Aisyah bilang, 'Silakan dimakan, Pak, ini rezeki dari Allah.' Mas Taufik tertegun. Dia makan dengan lahap, dan setelah itu dia berjanji akan membalas kebaikan Aisyah."

Aisyah menghela napas panjang, menatap Rizal dengan tulus.

"Tiga bulan kemudian, dia datang kembali ke pondok bersama rombongan besar, bukan untuk memberi uang, tapi untuk melamar Aisyah kepada Kyai. Dia bilang, dia jatuh cinta pada ketulusan seorang gadis yang memberinya makan di saat dia merasa paling rendah sebagai manusia. Sejak saat itulah hidup Aisyah berubah total. Mas Taufik memperlakukan Aisyah seperti ratu, mendidik Aisyah tentang dunia bisnis, dan melindungiku dari Nenek Rimbi."

Aisyah menggenggam tangan Rizal yang berada di atas kap mobil.

"Sama seperti kamu, Mas. Mas Taufik juga berangkat dari sebuah kesederhanaan. Itulah sebabnya, saat aku melihatmu diinjak-injak oleh Intan, hatiku hancur. Aku melihat sosok suamiku yang dulu ada pada dirimu."

Rizal terdiam, merasa terharu sekaligus memikul tanggung jawab besar untuk menjaga warisan pria yang telah membentuk Aisyah menjadi wanita sehebat sekarang.

"Terima kasih sudah bercerita, Sayang," bisik Rizal.

"Aku janji tidak akan membiarkan kebaikan yang dia tanam padamu sia-sia."

Aisyah tersenyum, kembali mengambil burgernya.

"Sudah, jangan sedih lagi. Ayo habiskan burgernya, nanti dingin tidak enak!"

Setelah menghabiskan gigitan terakhirnya, Aisyah tampak masih menatap gerobak "Burger Bang Jago" dengan binar mata yang berbeda.

Sifat elegan yang biasanya melekat padanya seolah luruh, digantikan oleh rasa penasaran dan kepuasan yang tulus.

Aisyah beralih menatap Rizal, sedikit ragu namun matanya memancarkan keinginan yang lucu.

"Mas, apa boleh pesan burger lagi buat bawa pulang?" tanya Aisyah dengan suara yang terdengar seperti gadis remaja yang baru pertama kali menemukan makanan favoritnya.

Rizal tertawa renyah, hatinya menghangat melihat sisi lain dari istrinya yang biasanya begitu berwibawa di depan karyawan dan keluarga.

"Tentu saja boleh, Sayang. Kamu ketagihan ya?"

Aisyah mengangguk malu-malu sambil menyeka sedikit sisa saus di jarinya.

"Rasanya beda, Mas. Makan di hotel bintang lima tidak pernah membuatku merasa sebahagia ini. Aku ingin makan satu lagi sambil kita santai di kamar nanti."

Rizal segera melambaikan tangan kepada penjualnya.

"Bang! Tambah tiga lagi ya! Satu spesial kayak tadi, dua lagi bungkus buat orang di rumah."

"Siap, Mas Rizal!" sahut si penjual dengan semangat.

Setelah selesai makan, mereka kembali ke rumah.

Satu jam kemudian, mereka sampai di kediaman Baskoro.

Suasana rumah sudah sepi, namun lampu dapur masih menyala benderang.

Begitu pintu depan dibuka, Rizal dan Aisyah disambut oleh pemandangan yang kontras dengan kemewahan ruang tamu.

Intan tampak duduk terkulai di kursi meja makan dapur.

Rambutnya berantakan, dan wajahnya kusam karena uap masakan.

Di hadapannya, tumpukan piring kotor masih menggunung, dan ia tampak sedang mencoba memijat telapak tangannya yang mulai melepuh.

"Sudah selesai pekerjaannya, Intan?" suara dingin Aisyah memecah keheningan dapur.

Intan tersentak dan berdiri dengan kaki gemetar. Ia menatap tas plastik di tangan Rizal yang mengeluarkan aroma daging panggang yang sangat menggoda selera.

Perut Intan berbunyi nyaring; ia hanya makan nasi putih dan sisa sayur sedikit tadi sore.

"Belum, piringnya banyak sekali, Ma," jawab Intan dengan suara serak, hampir menangis.

Rizal meletakkan satu bungkus burger di atas meja, tepat di depan Intan.

"Makan ini," ucap Rizal datar.

"Aku tidak ingin pelayan di rumahku pingsan karena kelaparan sebelum pekerjaannya selesai. Setelah makan, pastikan semua piring itu bersih tanpa noda."

Intan menatap burger itu, lalu menatap Rizal. Ada rasa benci yang masih ada, namun rasa lapar yang menyiksa membuatnya tidak punya pilihan. Dengan tangan gemetar, ia meraih bungkusan itu tanpa mengucap terima kasih.

"Ayo, Mas, kita ke atas," ajak Aisyah sambil merangkul lengan suaminya.

Saat mereka menaiki tangga, Aisyah berbisik pelan, "Kamu terlalu baik padanya, Mas."

Rizal tersenyum tipis sambil menekan tongkatnya pada tiap anak tangga.

"Bukan baik, Sayang. Aku hanya ingin dia tahu, bahwa makanan yang dulu dia anggap sampah, sekarang adalah penyelamat hidupnya."

Sesampainya di kamar, Aisyah membuka bungkus burger miliknya dan duduk di tepi ranjang.

Ia menyuapi Rizal sedikit, lalu memakan bagiannya sendiri dengan penuh nikmat.

"Mas," ucap Aisyah di sela kunyahannya.

"Besok jam delapan pagi, guru bahasa Prancis-mu akan datang. Namanya Madame Claire. Jangan kaget ya, dia sangat disiplin."

Rizal mengangguk mantap. "Aku siap. Aku tidak mau jadi 'Tuan' yang hanya bisa makan burger di pinggir jalan. Aku harus bisa mengimbangi istrimu yang hebat ini."

Malam semakin larut di kediaman Baskoro. Di lantai atas, lampu kamar utama telah padam, menyisakan kesunyian yang tenang di mana Rizal dan Aisyah beristirahat. Namun, di bagian belakang rumah, sebuah bayangan bergerak dengan sangat hati-hati.

Intan, dengan langkah berjinjit dan napas tertahan, perlahan membuka pintu dapur yang berat.

Ia menyelinap keluar, melewati taman belakang yang gelap, menuju ke balik pagar tanaman tinggi di sudut area servis.

Di sana, sebuah motor terparkir dengan mesin mati. Sosok pria dengan jaket kulit hitam sudah menunggunya.

"Hadi..." bisik Intan sambil langsung menghambur ke pelukan pria itu.

Ia menangis sesenggukan, meluapkan seluruh rasa lelah dan hina yang ia pendam seharian di dapur.

"Aku tidak tahan lagi. Kakiku sakit, tanganku melepuh, dan si miskin itu, dia memperlakukanku seperti sampah!"

Hadi membalas pelukan itu, namun matanya tidak menunjukkan simpati, melainkan kilatan licik yang dingin.

Ia melepaskan pelukan Intan dan memegang kedua bahu wanita itu dengan erat.

"Dengar, Intan. Kita tidak bisa hanya menangis. Jika kita terus begini, kamu akan benar-benar menjadi babu selamanya dan aku akan tetap miskin," ucap Hadi dengan suara ditekan.

"Kita harus mencari cara agar bisa mendapatkan harta itu kembali dari tangan Aisyah."

"Tapi bagaimana caranya? Semua aksesku diputus!" keluh Intan frustrasi.

Hadi mendekatkan wajahnya, tersenyum sinis.

"Goda Rizal. Aku tahu pria itu pernah sangat mencintaimu, bahkan mungkin sampai sekarang. Cinta itu tidak mudah hilang, apalagi Rizal itu hanya orang rendahan yang baru mencicipi kemewahan. Dia pasti masih lemah jika berhadapan denganmu."

Intan terbelalak. "Apa? Menggoda si pincang itu? Aku jijik, Hadi!"

"Jangan bodoh!" bentak Hadi pelan.

"Ini soal taktik. Kalau kamu bisa membuat Rizal berpaling dari Aisyah atau setidaknya membuatnya melakukan kesalahan fatal karena kamu, kita bisa memeras mereka. Atau lebih baik lagi, kamu bisa membuatnya memberikan sebagian saham atas namanya kepadamu secara diam-diam."

Hadi kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Intan.

Ia membisikkan sebuah rencana yang sangat kotor—sebuah skenario jebakan yang melibatkan kamera tersembunyi dan rayuan maut yang harus dilakukan Intan saat Aisyah sedang sibuk di kantor besok.

Mendengar bisikan itu, mata Intan yang tadinya penuh air mata perlahan berubah menjadi dingin dan penuh ambisi.

Ia membayangkan posisi Aisyah yang terjungkal dan ia kembali menjadi ratu di rumah ini.

Intan menganggukkan kepalanya dengan mantap.

"Oke. Aku akan melakukannya. Aku akan buat Rizal berlutut kembali di bawah kakiku, dan saat itu terjadi, aku akan pastikan Rizal akan menendangnya keluar—setelah dia memberikan apa yang kita mau."

"Bagus," ucap Hadi sambil mengusap pipi Intan.

"Kembalilah sekarang sebelum ada yang tahu. Ingat, besok pagi adalah kesempatan pertamamu saat Aisyah berangkat kerja."

Intan menyelinap kembali ke dalam rumah dengan rencana busuk di kepalanya, tidak menyadari bahwa di atas sana, Aisyah sedang berdiri di balik gorden jendela kamar, menatap bayangan motor yang menjauh dengan tatapan yang sulit diartikan.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!