Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 - Sisa malam
Alea masih duduk membeku di tepi kasurnya yang sempit. Kamar kost itu terasa seperti sebuah kotak kedap suara yang mengurungnya bersama ribuan duri ingatan yang baru saja ia kumpulkan dari jalanan. Ia menunduk dalam-dalam, membiarkan rambut panjangnya yang kusut jatuh menutupi wajahnya yang kuyu, menyembunyikan sisa-sisa kehancuran yang belum sempat ia basuh. Di genggamannya, sapu tangan biru gelap itu masih ia remas, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, ia akan melayang jatuh ke jurang kegelapan yang tak berdasar.
Perlahan, ia merentangkan kain halus itu di atas paku-paku lututnya. Di bawah cahaya lampu pijar lima watt yang mulai berkedip-kedap di langit-langit, ia menatap sulaman inisial kecil berwarna perak di sudut kain: A.P.
“A.P.?” gumamnya parau. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, seperti suara retakan es di tengah musim dingin. “Siapa kamu sebenarnya? Dan kenapa kamu harus ada di sana saat aku terlihat seperti rongsokan?”
Pandangannya perlahan beralih pada ponsel yang tergeletak pasrah di samping pahanya. Layarnya yang retak di sudut kiri masih menyala terang, membiarkan barisan kata dari nomor asing itu menghakiminya kembali. Pesan yang ia terima saat ia masih bersandar di motor tadi, kini ia baca ulang dengan ketajaman yang menyakitkan.
“Lupakan malam ini. Besok, kamu punya harga diri yang harus dibangun lagi.”
Alea terhenyak. Kalimat itu bukan sekadar rangkaian kata, melainkan sebuah tuntutan yang mustahil. Ia menatap ke arah jendela kamarnya yang terbuka sedikit, sebuah celah sempit yang tiba-tiba terasa seperti mata raksasa yang sedang mengintai privasinya. Kegelapan di luar sana, yang biasanya terasa menenangkan, kini tampak seperti mulut monster yang siap menelan sisa-sisa kewarasannya.
“Gimana bisa orang ini tahu nomor aku?” bisiknya, suaranya naik satu oktav karena panik yang mulai menjalar. “Siapa yang mengawasi aku sampai tahu nomor teleponku?”
Ketakutan itu memberinya tenaga tambahan. Ia bangkit dengan kaki yang masih terasa seperti jeli, melangkah cepat menuju jendela. Brak! Ia membanting daun jendela itu hingga bunyinya memantul di dinding-dinding kayu yang mulai lapuk.
Setelah memastikan gerendelnya terkunci dengan bunyi klik yang tegas, ia menyambar ujung gorden kusamnya dan menariknya hingga tak tersisa seujung kuku pun celah bagi dunia luar untuk mengintip. Ia merasa telanjang; ia merasa kehancurannya baru saja dipamerkan di panggung dunia dan orang asing itu adalah penonton di kursi paling depan.
Ia kembali ambruk ke tepi kasur, menyandarkan punggungnya pada dinding tembok yang terasa dingin dan lembap. Sunyi di kamar itu mendadak menjelma menjadi hiruk-pikuk yang mengerikan oleh gema suara Han yang terus berputar, mencambuk pikirannya tanpa ampun.
“Al, jangan bikin drama di sini. Malu dilihat orang.”
Alea terdiam sejenak, menatap kosong ke arah lantai ubin yang dipenuhi debu-debu halus. Lalu, perlahan sebuah lengkungan aneh muncul di bibirnya. Ia tersenyum sumbing, sebuah senyum pahit yang tidak pernah ia sangka akan muncul di wajahnya sendiri. Sebuah senyum yang menyimpan rasa sakit yang sudah melampaui batas tangis.
“Malu?” tanyanya pada dinding kamar yang bisu. “Kamu bilang malu, Han?”
Ia tertawa getir, sebuah tawa kering yang membuat ulu hatinya terasa seperti ditusuk-tusuk. Bahunya berguncang pelan seiring dengan tawanya yang mulai berubah menjadi isakan parau.
“Lucu banget ya... kamu yang ciuman sama perempuan lain di depan mataku, kamu yang khianatin semua janji manis kita selama dua tahun ini, tapi kamu punya nyali buat bilang aku yang bikin malu?” Ia menggelengkan kepala, senyum sumbingnya masih bertahan, seolah ia sedang menertawakan betapa menyedihkannya hidup yang ia jalani.
“Hebat kamu, Han. Hebat banget cara kamu bikin aku kelihatan kayak sampah di depan perempuan cantik itu.”
Senyum itu perlahan luruh, menyisakan wajah yang hancur berantakan. Penyesalan datang menyergap seperti racun yang merambat ke seluruh aliran darahnya.
“Bodoh kamu, Al. Benar-benar bodoh,” maki Alea pada bayangannya yang terpantul samar di cermin lemari.
“Harusnya tadi kamu nggak usah turun dari motor. Harusnya kamu punya sedikit saja harga diri untuk diam, berbalik, dan pergi tanpa menoleh. Bukannya malah nyamperin dia cuma buat denger kata-kata yang lebih tajam dari belati.”
Kini, pikirannya mulai meliar ke fajar yang sebentar lagi akan mengetuk pintunya. Overthinking itu datang seperti air bah yang meruntuhkan segala pertahanan mental yang tersisa. Ia membayangkan dirinya besok pagi; berjalan memasuki kedai kopi tempatnya bekerja dengan mata yang pasti akan membengkak hebat, seperti dua buah jeruk yang dipaksakan menempel di wajahnya.
“Gimana besok kalau Dinda tanya?” gumamnya dengan nada cemas yang kental.
Ia bisa membayangkan wajah Dinda yang selalu peka, rekan kerja yang sudah seperti kakaknya sendiri. Dinda pasti akan langsung memegangi pundaknya, menatap matanya dalam-dalam, dan bertanya dengan nada yang sangat menyebalkan karena penuh kasih sayang, ‘Al, kamu kenapa? Kok mata kamu kayak habis nangis semalaman? Ada masalah lagi sama Han? Cerita sama aku.’
“Aku harus jawab apa, Din?” Alea memijat pangkal hidungnya yang terasa pening luar biasa. “Apa aku harus bilang, ‘Eh Din, tau nggak? Aku baru saja dipermalukan di depan umum karena dikhianati laki-laki yang aku banggakan selama ini’. Nggak...itu terlalu menjijikkan buat diucapin. Terlalu rendah.”
Alea meremas rambutnya sendiri, mencoba mencabut rasa frustrasi yang berakar di kepalanya.
“Kalau aku bilang mataku iritasi, Dinda nggak akan percaya. Dia terlalu pintar untuk dibohongin dengan alasan klasik kayak gitu. Tapi kalau aku nggak masuk kerja, dia malah bakal makin curiga dan bisa-bisa dia nyamperin ke sini jam sepuluh pagi. Sial! Aku nggak mau siapa pun lihat aku sesedih ini. Aku nggak butuh dikasihani!”
Ia membayangkan dirinya harus berdiri di belakang mesin espresso, melayani pelanggan dengan senyum palsu yang pasti akan terasa kaku seperti plastik. Bagaimana jika Han tiba-tiba lewat di depan kedai? Bagaimana jika ia melihat postingan Han di media sosial saat ia sedang sibuk bekerja? Pikiran-pikiran itu menghujamnya satu per satu, membuat dadanya terasa sesak hingga ia harus megap-megap mencari oksigen.
Di tengah kekacauan pikirannya yang nyaris meledak, ingatan Alea kembali pada pria di mobil hitam tadi, pria yang memberinya sapu tangan ini. Sebuah kilasan memori muncul dengan sangat tajam, seolah-olah otaknya baru saja memutar rekaman video berkualitas tinggi: sebuah kartu pengenal yang tergantung di dashboard mobil mewah itu, bergoyang pelan mengikuti irama mesin yang halus. Di sana, tercetak logo perusahaan yang sering Han bicarakan dengan mata berbinar, sebuah logo yang Han puja sebagai puncak karier impiannya: Pratama Group.
Alea tersentak, matanya melebar menatap kegelapan kamar. “Tunggu, kartu itu...”
Ia memejamkan mata kuat-kuat, memaksakan memorinya untuk membaca kembali setiap huruf yang tertera di sana. AKSA PRATAMA. Dan tepat di bawah nama yang terdengar sangat berkuasa itu, tercetak satu jabatan dengan huruf kapital yang sangat tegas,CEO.
“Dia... dia CEO-nya?” bibirnya bergetar, napasnya menderu tak beraturan. “Pria tadi itu... bos besarnya Pratama Group?”
Rasa malu Alea mendadak berlipat ganda, merambat hingga ke tulang-tulangnya. “Ya Tuhan... jadi dia lihat aku nangis sesenggukan kayak orang gila di pinggir jalan? Seorang CEO lihat aku dalam kondisi sehina itu?”
Ia merasa sangat kecil, tidak lebih dari sebutir debu yang tidak berarti di bawah sepatu mahal pria itu. Ia baru saja memperlihatkan titik terendah hidupnya kepada seseorang yang berada di puncak tertinggi strata sosial. Ada ironi yang sangat pahit dan kejam di sana; ia ditolong oleh pria yang jabatannya bahkan tidak akan pernah bisa digapai oleh Han dalam seribu tahun kehidupan.
Alea segera menyambar ponselnya, mematikannya dengan gerakan kasar hingga layarnya menjadi gelap gulita, lalu melemparnya ke sudut kasur seolah benda itu baru saja membakar tangannya. Ia meringkuk di tengah kasur, menarik selimut tebalnya hingga menutupi seluruh kepala, mencoba bersembunyi dari kenyataan yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendirian.
Namun, aroma maskulin yang bersih, dingin, dan sangat berwibawa dari sapu tangan Aksa masih tertinggal kuat di indra penciumannya. Anehnya, meskipun ia merasa malu setengah mati, wangi itu terasa seperti pagar pelindung yang menjauhkannya dari bau pengap kamar kostnya yang menyedihkan. Kain sutra itu terasa sejuk saat bersentuhan dengan pipinya yang masih panas akibat sisa-sisa air mata.
“Besok harus bangun,” gumamnya di balik selimut, sebuah perintah mutlak yang ia bisikkan pada dirinya sendiri agar tidak menyerah. “Bangun lagi, Al. Seperti kata pesan itu... bangun lagi harga diri kamu. Jangan biarkan laki-laki brengsek itu menang karena melihatmu hancur menjadi abu.”
Fajar mulai memberikan garis tipis cahaya kebiruan di balik tirai jendela yang tertutup rapat saat Alea akhirnya terkapar, terlelap karena kelelahan mental yang luar biasa hebatnya. Ia tertidur sambil tetap mendekap erat sapu tangan biru itu di dadanya, sebuah benda asing yang kini menjadi satu-satunya harapannya. Ia tidak tahu bahwa kartu pengenal dan sapu tangan itu bukan sekadar kebetulan malam minggu yang kelabu, melainkan awal dari sebuah tarikan benang tak terlihat yang akan menyeretnya masuk ke pusat pusaran hidup seseorang yang selama ini hanya bisa ia bayangkan di berita-berita ekonomi.
Satu hal yang pasti, jauh di luar sana, di sebuah gedung apartemen mewah yang jendelanya menghadap ke arah cakrawala kota yang masih gelap, seseorang sedang berdiri tegak menatap hamparan lampu kota. Di tangannya, sebuah ponsel masih menyala, menampilkan sebuah data profil yang singkat namun padat.