Gian pergi ke desa untuk menghilangkan penat di kota. Tapi saat menikmati keindahan desa, dia bertemu dengan Anisa, wanita galak dengan paras alami yang cantik.
Pertemuannya dengan Anisa membuat Gian ingin cepat-cepat kembali ke kota, tapi suatu kejadian mengharuskan Gian untuk tetap bertahan di desa dan sering bertemu dengan Anisa.
Sampai suatu ketika, Anisa dan Gian terpergok oleh beberapa warga sedang berdua di sebuah gubuk di tengah sawah dengan minim pakaian, warga pun marah dan memaksa Gian dan juga Anisa untuk menikah.
Mereka menjalani pernikahan masih dengan perasaan saling membenci, bagaimana kelanjutan pernikahan mereka? Berpisah atau bertahan? Stay tuned!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fareed Feeza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2
"Kenapa?" Tanya Guntur heran, padahal baru tadi pagi Gian memuji keindahan desa nya, tapi kurang dari satu hari Gian ingin segera kembali pulang.
"Desanya memang indah, tapi ada orang yang menyebalkan."
Guntur terkekeh, "Om?"
Gian langsung menggoyangkan telapak tangannya ke arah guntur, "B-bukan Om ... Maksudku, orang lain. Om Guntur baik ... Sangat baik."
"Yasudah kalau begitu, padahal om ingin mengajak kamu untuk melihat produksi biji kopi milik perkebunan Om, karena baru 2x panen ... Belum banyak cafe yang tau Kualitas biji kopi yang om punya."
Gian berfikir sejenak, keluarganya mempunyai coffe shop beberapa cabang di kota, tawaran dari Guntur ini sangat bisa menaikan popularitas coffe shopnya agar bisa berbeda dari para pesaing.
"Kapan mulai panen nya om?"
"Sedang dalam proses sangrai biji kopi, agar siap di seduh oleh para pelanggan."
Gian kembali menimbang-nimbang, tak apa dia bertahan 2 sampai 3 hari lagi di desa ini untuk menunggu biji kopi siap di nikmati.
Semoga saja aku tidak melihat wanita bermulut tidak sopan itu lagi disini!
"Baiklah Om, jika itu tentang bisnis, Gian akan menunggu disini sampai kopi itu siap untuk di coba."
"Sayang sekali, karena proses panen kemarin sudah berbulan-bulan, jadi Om tidak memiliki sisa biji kopi untuk kamu coba."
"Tak apa Om, tapi ... Kenapa Om baru cerita sekarang? Padahal kita sering berkabar lewat telpon?"
"Om masih uji coba dulu, masih pengiriman di sekitar kampung saja Gian."
***
Hari libur bekerja, Nisa menjual beberapa bungkus nasi kuning yang di titipkan ke beberapa warung kopi di sekitar rumahnya.
"Kenapa gak tiap hari aja sih Nis, enak tau nasi kuning kamu." Puji salah seorang pelanggan yang tengah mencoba nasi kuning Nisa.
Nisa yang yang sedang menikmati susu hangat di warung kopi itu tersenyum, "Pengennya gitu Bu, tapi kan Nisa utamanya kerja di pabrik, jadi gak sempet bikinnya."
"Sayang banget loh, seenak ini cuma bisa di nikmati seminggu sekali."
Bersamaan dengan itu, seorang pria paruh baya dan pria muda datang ke warung kopi tersebut. "Kopi susu sama teh tawar ya."
"Nisa?" Sapa Guntur.
"Eh ... Pak ... Guntur " Senyum Nisa langsung luntur saat melihat pria menyebalkan kemarin ada di belakang Guntur, orang yang sangat berjasa di kehidupannya.
Guntur pernah membantu Nisa untuk merebut warisan rumah peninggalan kedua orang tuanya yang hampir akan di kuasai oleh bibinya sendiri, oleh karena itu Nisa banyak berhutang Budi pada Guntur.
"Dia siapa sih pak?" Tanya Nisa ketus.
Guntur reflek menoleh kebelakang, "Ini?" Guntur menunjuk Gian di belakang dengan ibu jarinya.
"Iya!"
"Ini Gian ... Keponakan bapak dari kota, ayo kalian saling berkenalan." Ajak Guntur pada Gian dan Nisa.
"Engga!" Ucap Nisa dan Gian kompak.
Reflek guntur langsung tergelak, pria itu langsung tahu ... Orang menyebalkan yang di maksud Guntur adalah Nisa.
"Ada apa dengan kalian? Sudah saling mengenal kah?"
"Baju celana Nisa pernah kecipratan lumpur gara-gara mobilnya dia ngebut pak, terus dia gak minta maaf ... Malah merendahkan Nisa!" Oceh Nisa.
"Apa kau bilang?!" Gian langsung memajukan badannya tapi di tahan oleh Guntur.
"Tahan Gian ... Tahan ... Ini wanita, tidak boleh seperti ini." Katanya sambil tersenyum.
"Kenapa Om tersenyum seperti itu?!" Tanya Gian kesal.
"Biasanya benci jadi cinta loh."
Nisa langsung mengetuk meja warung dengan jari tangannya, lalu mengetukan kembali di kepalanya. "Ih amit-amit deh pak, Nisa gak mau!"
"Amit-amit? Apa maksudmu? Memang aku sehina itu? Siapa juga yang menginginkan wanita tidak menarik sepertimu!" Kata Gian tak mau kalah.
"Wah ... beraninya kamu!" Nisa menggulung naik lengan kaosnya sampai ke bahu, layaknya orang yang ingin bertarung.
Guntur makin tergelak, baru kali ini dia melihat sisi lain dari Nisa yang seperti ini, biasanya Nisa di kenal dengan kelembutan dan kesopanannya, tapi perlakuannya pada Gian sangatlah jauh berbeda dengan kebiasaannya.
Suasana damai dan sejuk di warung kopi pagi ini mendadak menjadi menegangkan karena keributan yang di buat oleh Nisa dan Gian.
"Udahlah Om, kita kesini kan mau ngopi sama sarapan ... Ngapain ladenin itu orang." Gian mengambil box plastik transparan yang berisi nasi kuning bertabur irisan telur dadar di atas etalase.
"Nisa, udah ah ... Jangan bikin keributan disini!" Ucap pemilik warung kopi itu, karena beberapa pelanggan berkumpul hanya untuk menonton, buka membeli dagangannya.
Nisa kembali duduk di samping guntur menikmati susu yang sudah tidak hangat lagi.
"Enak ga?" Tanya Guntur saat Gian sudah melahap habis nasi kuning, ukuran box memang kecil jika untuk porsi makan laki-laki.
"Enak banget, kenapa kecil banget sih Bu ... Saya bisa ngabisin 10 box kalau ukurannya begini." Kata Gian sedikit berteriak pada pemilik warung yang sedang sibuk menyiapkan pesanan pelanggan lain di balik etalase.
"Oh kekecilan ya? Tuh bilang sama yang punya." Kata pemilik warung tersebut menunjuk ke arah Nisa.
Reflek Gian terbatuk-batuk, "Hah! Jadi dia yang buat?! Gak jadi ... ga enak!" Ucapnya ketus.
Guntur dan pemilik warteg berusaha menahan senyumnya, sedangkan Nisa melirik ke arah Gian dengan menaikkan sebelah bibirnya.
Huh dasar ... Ga enak tapi udah habis banyak! Batin Nisa.
"Oh ya Nis, nanti siang bisa bantuin masak di rumah gak? Bu Lastri izin sakit, makanya sekarang bapak sarapan disini." Pinta Guntur.
"Ng ... Masak?"
"Iya ... Hari ini pabrik tutup, kamu pasti libur kan?"
"Iya sih pak ... Tapi ..."
"Udah ah, kamu gak usah ragu gitu. Bantu bapak ya! Oke?"
"I-iya pak." Nisa menjawab sambil memandang sinis ke arah Gian yang sedang menikmati teh dengan wajah tak peduli.
...
Di rumah Guntur.
"Antar lah sebentar Gian, Om ngantuk sekali ... Masakan dia enak sekali loh." Pinta Guntur pada Gian saat meminta tolong untuk mengantar Nisa berbelanja ke pasar.
Sedangkan Nisa hanya memandang ke atap, tak ingin melihat raut wajah Gian saat ini.
Kalau bukan karena jasa pak Guntur yang banyak sekali di hidupku, aku pasti berani menolak permintaan ini, ah sudahlah ... intinya aku tidak usah menganggap keberadaan orang kota yang sombong ini!
"Gian gak tau jalan Om." Ucapnya beralasan.
"Nisa tahu kok, iya kan Nis?"
"Ng ... Iya Pak."
"Udah ya om ngantuk, dari subuh udah nemenin kamu olahraga ... " Guntur menguap lalu berjalan ke arah kamarnya meninggalkan Gian dan juga Nisa yang masih berdiri mematung.
Gian berdecak sebal, lalu meraih kunci mobil di atas lemari kayu lalu melangkahkan kakinya keluar tanpa berkata apapun.
Karena Nisa tidak mendengar persetujuan dari Gian, wanita itu duduk di sofa menunggu instruksi selanjutnya.
Beberapa menit kemudian.
Suara klakson mobil di tekan berkali-kali oleh Gian, karena Nisa belum juga kunjung keluar dari rumah.
"Kemana dia?! menguji kesabaran sekali!" Oceh Gian.
"NISAAAAAAAAA!!!!!!" Untuk pertama kalinya nama itu keluar dari mulut Gian, setengah badannya keluar dari jendela mobil yang terbuka lebar agar suaranya terdengar sampai dalam rumah.