NovelToon NovelToon
Kupilih Keduanya

Kupilih Keduanya

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:937
Nilai: 5
Nama Author: A19

Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak laki-lakinya itu.

Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.

Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.

Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?

ikuti terus kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Vanya Pingsan

Jam pertama di kelas Vanya hari ini adalah pelajaran olahraga. Kelas mereka mendapat pelajaran ini seminggu 2 kali, hari kamis dan hari sabtu. Setiap hari sabtu itulah kelas Vanya dan kelas Vano berolahraga bersama.

Kini kelas Vanya sedang melakukan pemanasan setelah bel berbunyi beberapa menit lalu. Hari ini mereka akan mempelajari materi tentang Senam Lantai dan permainan Tennis Meja karena durasi pelajaran kali ini lumayan panjang, yaitu sampai jam istirahat pertama.

Guru olahraga kisaran umur 40 dengan nama Budi itu membagi kelas Vanya menjadi 2 kelompok. Vanya kebagian untuk mempelajari materi tentang Tennis Meja dan kebetulan 1 kelompok dengan Raza karena dalam urutan alfabet nama mereka berada di urutan nomor-nomor ahir.

Sedangkan Rain dan Lea mempelajari materi tentang Senam Lantai karena kebetulan nomer absen mereka sama-sama di nomer awal. Hal itu membuat Vanya dan dua sahabatnya berada di tempat yang berbeda.

Vanya dan Raza di tempatkan di lapangan outdoor tempat kemarin untuk tanding basket. Sedangkan Rain dan Lea berada di lapangan indoor. Lapangan indoor ini letaknya lebih dekat dengan UKS dan jaraknya 300 meter dari lapangan outdoor.

Saat Vanya berniat ingin bermain, kepalanya tiba-tiba berdenyut nyeri. Pandangan seketika buram seperti tertutup kabut, perlahan tubuhnya mulai merosot dan akan jatuh. Untungnya ada Raza yang dengan sigap menopang tubuh Vanya karena mereka berdua memang sedari tadi selalu berdekatan.

"Loh Van..... Vanya bangun. Vanya..... " Raza menepuk pelan pipi Vanya namun tak ada respon sama sekali.

Raza pun dengan cepat menggendong Vanya ala bridal style menuju ke UKS. Rain dan Lea yang melihat Vanya memejamkan mata dalam gendongan Raza langsung mengikuti laki-laki itu yang baru saja melewati lapangan indoor. Berita itu langsung menyebar dengan cepat walaupun masih dalam jam pelajaran.

Dengan pelan Raza menaruh Vanya di brankar UKS. Dokter yang kebetulan berjaga langsung memeriksa keadaan Vanya.

'Bukan nya ini nona muda ya? Setelah ini saya harus cepat lapor ke Pak Danu' batin dokter muda itu sambil tangan nya sibuk memeriksa.

"Vanya kenapa Za?" tanya Lea lirih. Takut mengganggu murid lain yang sedang sakit di UKS.

Raza mengajak Rain dan Lea untuk menunggu di luar. Mereka memutuskan untuk duduk di kursi besi panjang yang ada di depan ruang UKS terkecuali Raza, karna ia lebih memilih berdiri untuk sedikit menjaga jarak.

"Tadi gw liat Vanya mau ikutan main Tennis. Terus gw niatnya pengen ikutan juga, tiba-tiba dia oleng terus pingsan gitu aja. Untung nggak sampe jatoh karena langsung gw tangkap. Dan untungnya tadi gw mutusin buat nggak jauh-jauh dari dia" jelas Raza dengan raut wajah cemas yang sangat kentara.

"Tuh anak kenapa lagi sih? Demen banget bikin orang khawatir. Awas aja kalo bangun bakalan gw omelin tuh anak" gerutu Lea.

Raut wajah gadis itu tak kalah kacau dari Rain yang sedari tadi hanya diam. Dalam diam nya Rain sedang mendoakan keselamatan sepupunya.

"Kalian berdua balik aja, Vanya biar gw yang jagain" ucap Raza. Matanya tak pernah lepas dari ruang UKS.

"Biar gw aja. Lo kan cowo, nanti dia marah kalo udah bangun" jawab Rain yang telah selesai berdoa.

"Gw aja. Nanti gw bakal langsung kabarin kalian berdua kalo Vanya udah bangun" keukeuh Raza.

"Udah Rain, biarin dia aja" Lea mengedipkan matanya beberapa kali ke arah Rain.

"Yaudah. Tapi lo harus langsung kabarin kita ya" putus Rain ahirnya.

"Iya, pasti" jawab Raza mantap.

Setelah kepergian 2 sahabat Vanya, Raza pun masuk ke dalam ruang UKS. Dokter yang tadi memeriksa kini sudah duduk kembali ke tempatnya yang berada di dekat pintu masuk.

"Gimana dok, keadaan temen saya?" tanya Raza sopan.

Dokter muda kisaran umur 30 an kurang itu menatap Raza dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Asam lambung teman kamu naik. Sepertinya pagi tadi perutnya tidak di isi sama sekali, dan aktifitas yang sedikit berat langsung membuat tubuhnya tidak lagi bisa menahan kesadarannya" jelas dokter muda itu dengan name tag yang bertuliskan Hanafi Fahraja.

"Saya sudah memberikan obat untuk menetralkan asam. Nanti kalau teman mu sudah bangun jangan lupa ingatkan untuk makan dan minum obat yang sudah saya letakkan di meja samping pasien. Untuk sekarang ini biarkan dia istirahat terlebih dahulu" ujar dokter itu.

"Terimakasih dok" Raza pun menuju ke ranjang pasien tempat Vanya berbaring. Ia mendudukkan tubuhnya di kursi tunggu.

Setiap ranjang disediakan 1 kursi bagi yang ingin menunggui pasien. Raza menatap Vanya yang kini memejamkan matanya.

"Cepet bangun Van, gw khawatir banget sama lo" ucap Raza dengan lirih. Kedua tangan nya bertumpu pada ranjang, tidak berani menyentuh tanpa izin dari Vanya sendiri.

Sedangkan dokter muda tadi, diam-diam keluar dari ruang UKS menuju ke tempat yang lebih sepi. Ia mencoba menghubungi seseorang.

"Hallo Pak Danu. Ini saya Raja, orang yang anda tugaskan untuk menjaga UKS di SMA Bhakti Wiratmadja. Baru saja putri anda pingsan dan dibawa teman nya kesini. Saya sudah memeriksanya, asam lambung nona Vanya naik karena perut kosong tanpa asupan sama sekali. Saya sudah menanganinya, saat ini tinggal menunggu saja nona bangun"

"Rawat putri saya dengan baik, jangan sampai ada kesalahan sedikitpun. Nanti saat dia bangun suruh Pak Joko untuk datang langsung ke UKS dan suruh beliau untuk memasak makanan apa saja yang Vanya inginkan"

"Baik pak, saya mengerti"

"Terimakasih dokter Raja. Pastikan keadaan putri saya benar-benar membaik. Terus kabari saya perkembangan nya nanti"

Setelah memastikan keadaan jika tak ada yang mendengar percakapan nya barusan dengan seseorang, Dokter Raja pun kembali ke ruang UKS.

Raja mendekat ke arah Raza yang sedang duduk diam dengan mata yang tak pernah lepas dari Vanya. Kedua tangan laki-laki itu menggantung di sisi kursi.

"Kamu pacarnya ya?" tanya Raja.

"Bukan dok, saya temen sekelasnya" jawab Raza sambil menyender kan tubuhnya pada kursi agar lebih rilex.

"Masa sih? Tapi kok kayaknya care banget sama pasien" goda dokter bermata sipit itu.

"Saya emang lagi dalam proses PDKT sama dia dok" jujur Raza tanpa malu-malu.

"Hem, semangat kalau gitu. Saya bisa melihat ketulusan kamu" Raja menepuk pelan bahu Raza, lalu setelahnya pergi begitu saja.

1 jam kemudian, Vanya membuka matanya. Raza yang sedari tadi terjaga langsung sigap membantu Vanya yang ingin mencoba untuk duduk.

"Pelan-pelan aja Van" ucap Raza dengan lembut.

"Gw panggilin dokter ya?" tanya Raza.

"Nggak usah. Gw udah lebih enakan kok" cegah Vanya.

"Gw beliin makan ya. Lo mau makan apa?" tawar Raza dengan lembut.

Saat Vanya membuka mulutnya ingin menjawab, Pak Joko tiba-tiba saja datang dengan dokter Raja di sebelah nya.

"Nona Va..... E-eh maksut saya nama kamu siapa?" tanya dokter muda itu untuk mengalihkan perhatian karna baru saja ia hampir keceplosan. Pak Joko melirik sekilas sambil menahan senyum, merasa pernah berada di posisi itu sebelum nya.

"Vanya dok" diam-diam ia bernafas lega 'Peka juga nih dokter ganteng'

"Mbak Vanya, saya ditugaskan Pak Danu, eh pihak sekolah maksutnya. Untuk menyiapkan makanan bagi murid yang sakit" ucap Pak Joko sedikit gugup.

"Saya periksa lagi ya keadaan kamu" dokter Raja pun memeriksa keadaan Vanya setelah mendapat 1 kali anggukan kepala dari gadis itu.

"Hem baik, sudah lebih membaik dari pada tadi. Setelah ini kamu makan, lalu minum obat ya biar benar-benar sembuh" ucap dokter itu setelah selesai memeriksa.

"Terimakasih dok" ucap Vanya dan Raza bersamaan.

"Sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu. Kamu saya serahkan ke Pak Joko sama pacar kamu ya" goda dokter itu lalu pergi begitu saja sambil terkekeh kecil.

"Eh bukan pacar dok" ucap Vanya pelan dengan wajah cemberut. Sedangkan Raza hanya diam sambil senyum-senyum tidak jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!