Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Judul: Jebakan Lorong Gelap dan Hujan Garam
Sore itu, langit di atas Kotagede berwarna abu-abu lebam, seperti kulit yang baru saja terbentur benda tumpul. Angin berhembus kencang membawa aroma tanah basah, tanda hujan lebat akan segera turun.
Di dapur rumah Joglo, stok Kemenyan Madu—bahan penting untuk menjaga api tungku tetap stabil secara spiritual—habis total. Seno tidak bisa meninggalkan rumah karena sedang mempersiapkan adonan dasar untuk menu nanti malam.
"Biar Alya aja yang beli, Pak," kata Alya sambil memakai jaket denimnya. "Toko 'Mbah Harjo' yang di ujung jalan pasar itu kan?"
Seno tampak ragu. Dia menatap langit yang gelap, lalu menatap Alya.
Dia mengambil sutil kayu latihan Alya yang kemarin, lalu menyelipkannya ke dalam tas selempang gadis itu.
HATI-HATI. JANGAN LEWAT JALAN TIKUS. LEWAT JALAN RAYA SAJA. KALAU MERASA DIAWASI, LARI.
"Siap, Bos. Tenang aja, Alya udah bawa amunisi," Alya menepuk saku jaketnya yang menggembung berisi lima bungkus garam dapur kasar.
Gulo, si Bajang, melompat turun dari lemari, ingin ikut.
"Jangan, Gulo," larang Alya. "Lu terlalu mencolok. Nanti dikira topeng monyet lepas. Jaga rumah sama Bapak."
Gulo cemberut, melipat tangan di dada, lalu memunggungi Alya. Ngambek.
Alya tertawa kecil, lalu berlari keluar pagar, menembus gerimis yang mulai turun.
Toko Mbah Harjo untungnya masih buka. Alya membeli tiga ikat kemenyan madu.
"Mau hujan gede, Nduk. Cepat pulang," kata Mbah Harjo sambil menyerahkan bungkusan. Matanya yang rabun menatap ke belakang bahu Alya dengan tatapan aneh. "Dan... jangan menoleh kalau dipanggil."
Alya merinding mendengar peringatan klise itu. Dia mengangguk cepat, lalu bergegas pulang.
Hujan turun semakin deras. Jalanan Kotagede yang sempit menjadi sepi. Orang-orang memilih berlindung di dalam rumah. Suara hujan menyamarkan segalanya.
Alya memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati lorong di belakang Masjid Gedhe Mataram. Dia tahu Seno menyuruh lewat jalan raya, tapi hujan ini terlalu deras dan dia tidak bawa payung. Lorong itu ada atapnya sedikit.
Keputusan yang salah.
Baru setengah jalan menyusuri lorong sempit yang diapit tembok tinggi itu, Alya merasa langkah kakinya bergema aneh.
Tap... tap... tap... (Langkah Alya).
Srek... srek... srek... (Suara lain).
Alya berhenti. Suara itu ikut berhenti.
Dia menoleh ke belakang. Kosong. Hanya lorong gelap yang basah.
Alya mempercepat langkah.
Tiba-tiba, di depan ujung lorong, muncul tiga sosok bayangan.
Mereka bukan hantu transparan. Mereka memiliki fisik padat. Tiga orang pria bertubuh kekar mengenakan pakaian Prajurit Lombok Abang (seragam prajurit keraton) tapi warnanya bukan merah menyala, melainkan hitam kusam yang seolah menyerap cahaya.
Wajah mereka tertutup kain hitam seperti ninja, hanya menyisakan mata yang kosong tanpa pupil.
Alya mundur.
Di belakangnya, dua sosok serupa muncul, memblokir jalan keluar.
Dia terkepung. Lima orang.
"Nona Asisten," salah satu prajurit di depan berbicara. Suaranya berat dan bergema, seperti suara yang keluar dari dalam guci tanah liat. "Tuan Jaka ingin mengundangmu minum teh. Tanpa Tuan Seno."
Alya meraba saku jaketnya, menggenggam bungkusan garam. Tangan kirinya meraba gagang sutil kayu di dalam tas.
"Bilang sama Bos Jaka," teriak Alya, suaranya berusaha terdengar berani meski lututnya gemetar. "Gue lebih suka kopi!"
Prajurit itu tidak tertawa. Dia memberi isyarat tangan.
Dua prajurit di depan maju serentak, tangan mereka terulur hendak menangkap Alya.
Sekarang atau tidak sama sekali.
Alya menarik sutil kayunya.
"HIYA!"
Prajurit pertama menerjang. Alya merunduk, mengingat latihan subuh kemarin. Jangan lawan tenaga dengan tenaga. Alirkan.
Saat tangan prajurit itu hendak mencengkeram bahunya, Alya memutar sutilnya, menepis lengan prajurit itu ke samping, lalu menggunakan momentum itu untuk memukul ulu hatinya dengan gagang sutil.
Buk!
Prajurit itu mundur selangkah, terbatuk. Tapi dia tidak jatuh. Tubuhnya keras seperti kayu.
Prajurit kedua menyerang dari samping.
Alya merobek bungkus garam di saku kirinya, lalu melempar isinya ke wajah prajurit itu.
Tabur Garam!
Cesssss!
Garam itu bereaksi dengan kulit si prajurit bayangan. Asap hitam mengepul. Prajurit itu menjerit kesakitan, memegangi wajahnya yang melepuh seperti terbakar asam.
"ARGHH!"
"Yes! Berhasil!" sorak Alya dalam hati.
Tapi kemenangan itu singkat. Tiga prajurit lain maju bersamaan.
Alya kewalahan. Dia menangkis tendangan, memukul, menghindar. Sutil kayunya beradu dengan lengan-lengan keras mereka.
Tak! Tak! Krak!
Sutil kayu itu retak.
Salah satu prajurit berhasil menangkap rambut pendek Alya, menariknya ke belakang.
"Lepasin!" Alya menjerit, menyikut perut lawannya, tapi sia-sia.
Prajurit lain memegang kedua tangannya. Kemenyan madu yang dia beli jatuh berserakan di tanah becek.
"Bawa dia," perintah pemimpin prajurit. "Jangan sampai rusak fisiknya. Tuan Jaka butuh dia utuh untuk umpan."
Alya meronta sekuat tenaga. Air hujan bercampur air mata membasahi wajahnya. Dia teringat pisau Beras Wutah di pinggangnya. Tapi tangannya dikunci. Dia tidak bisa menjangkaunya.
Mati gue. Maafin Alya, Pak Seno.
Tiba-tiba...
SPLAT!
Sebuah benda lunak dan bau menghantam wajah prajurit yang memegangi rambut Alya.
Itu telur busuk.
Prajurit itu kaget, cengkeramannya melonggar.
SPLAT! PLOK! DUG!
Serangan udara bertubi-tubi datang dari atas tembok lorong. Tomat busuk, batu bata, dan... kulit durian?
Alya mendongak.
Di atas tembok, berdiri sosok kecil berbulu yang sedang melompat-lompat kegirangan sambil melempar sampah pasar.
Gulo!
"Kiik! Kik! Kik!" Gulo menjerit, memberi komando serangan. Dia tidak sendirian. Dia membawa teman-temannya: sekawanan kucing liar pasar yang marah.
Gulo melompat turun, mendarat tepat di wajah pemimpin prajurit, mencakar kain penutup wajahnya, lalu menggigit telinganya.
"Aaaargh! Monyet gila!"
Kekacauan terjadi. Prajurit-prajurit itu sibuk mengusir Gulo yang lincah dan kucing-kucing yang mencakar kaki mereka.
Alya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Tangannya terlepas.
Dia merogoh saku kanannya. Masih ada dua bungkus garam utuh.
Dia tidak melemparnya biasa. Dia menggenggam kedua bungkus itu, meremukkannya, lalu menepuk kedua tangannya keras-keras di depan dada.
CLAP!
Ledakan debu garam menyebar ke segala arah, bercampur dengan air hujan, menciptakan kabut asin yang mematikan bagi makhluk bayangan.
Cessssssssss!
Kelima prajurit itu berteriak serempak. Kulit bayangan mereka berasap hebat. Formasi mereka hancur.
"Gulo! Lari!" teriak Alya.
Gulo melompat dari kepala prajurit, mendarat di bahu Alya.
Alya berlari sekencang-kencangnya menembus hujan, meninggalkan lorong itu, meninggalkan kemenyan yang berserakan. Dia tidak menoleh lagi.
Mereka berlari sampai paru-paru Alya terasa mau meledak.
Gerbang rumah Joglo terlihat di depan.
Seno sudah berdiri di depan gerbang, memegang payung hitam, wajahnya tegang luar biasa.
Alya menerobos masuk halaman, lalu jatuh terduduk di pendopo yang kering.
Gulo melompat turun, napasnya juga ngos-ngosan (tapi dia masih sempat menjilat sisa telur di tangannya).
Seno segera menutup gerbang, menguncinya dengan gembok yang sudah diberi rajah (mantra). Dia menempelkan telapak tangannya ke pintu gerbang, memperkuat segelnya.
Setelah aman, Seno berlari menghampiri Alya. Dia memeriksa gadis itu dari ujung kepala sampai kaki. Ada memar di lengan Alya, jaketnya sobek, dan bibirnya berdarah sedikit. Tapi dia hidup.
Seno menghela napas lega, lalu menatap Gulo.
Gulo nyengir, membusungkan dada bangga seolah berkata: Gue pahlawannya, Bos.
Seno mengacungkan jempol pada Gulo, lalu beralih ke Alya. Wajahnya marah—marah karena khawatir.
Dia mengambil papan tulisnya.
KENAPA LEWAT LORONG? SAYA BILANG JALAN RAYA!
"Maaf, Pak..." Alya menangis, adrenalinnya surut digantikan rasa takut. "Hujannya deres... Alya pikir lebih cepet..."
Seno melihat Alya menangis. Kemarahannya luluh. Dia berlutut, memeluk Alya sebentar—pelukan kaku seorang bapak yang tidak biasa memeluk.
Lalu dia melepaskan pelukan, menatap mata Alya tajam.
MEREKA SUDAH MULAI BERGERAK TERANG-TERANGAN. KOTAGEDE SUDAH TIDAK AMAN BAGI KITA.
Seno berdiri, menatap ke arah gerbang. Hujan di luar semakin deras, seolah alam sedang menangis melihat perang yang akan datang.
KEMENYANNYA HILANG?
Alya mengangguk lemah. "Jatuh pas berantem."
Seno mengangguk. Tidak masalah. Kemenyan bisa dicari lagi. Nyawa tidak.
Seno masuk ke dalam rumah, kembali membawa kotak P3K. Dia mengobati luka di bibir Alya.
Gulo duduk di samping Alya, meminta jatah upah (gula jawa) karena sudah jadi penyelamat.
Seno melempar sebongkah gula jawa besar pada Gulo.
"Pak," kata Alya setelah napasnya tenang. "Sutil kayunya patah."
Dia mengeluarkan patahan sutil itu dari tasnya.
Seno mengambil patahan itu. Dia menatapnya lama.
Lalu dia menulis sesuatu yang membuat bulu kuduk Alya meremang.
KAYU SUDAH TIDAK CUKUP. UNTUK MELAWAN MEREKA NANTI... KAMU BUTUH BESI. DAN SAYA BUTUH API YANG LEBIH BESAR.
BESOK KITA TIDAK BUKA WARUNG. KITA AKAN PERGI MENCARI BUNGA WIJAYAKUSUMA ITU. KITA AKAN PERGI KE MAKAM RAJA IMOGIRI.
Alya menelan ludah. Makam Raja? Tempat hantu tanpa kepala kemarin berasal?
"Kita nyari bunga di kuburan keramat?" tanya Alya.
Seno mengangguk mantap.
DAN KITA HARUS BERLOMBA. KARENA JAKA PASTI SUDAH TAHU RENCANA KITA.
Malam itu, hujan tidak berhenti sampai pagi. Dan di dalam rumah Joglo, tiga makhluk beda dunia (Manusia Bisu, Gadis Depresi, dan Peri Hutan) tidur berdekatan di ruang tengah, menjaga satu sama lain dari bayangan yang mengintai di balik jendela.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂
3 hari dalam ambang batas dunia nyata dan maya
belajar berdampingan
menghantarkan mereka pulang
mungkin hal yang tak pernah terpikirkan.
3 hari menyulam asa, dari keputus asaan.
haru, sedih dan gembira berbaur
ilmu yang berat baru saja terlewati
IKHLAS
jago sekali anda merayu eyang banaspati, amarah melunak ,melebur dalam cita rasa ,aroma khas nusantara.
kereen thor, tetap semangat yaa mengetik karya indah.
menyusun kalimat perkata dengan ketelitian ekstra
sepanjang apik runut no typo
ciamik
endah thor, ora bakal cukup ratusan mangsi
horor tapi beda, auranya gak menakutkan.
perjuangan remaja putri yang merasa tidak dapat kasih sayang ,kenyamanan hidup bersama keluarga.
diambang putus asa malah ketemu sosok misterius yang terbelenggu perjanjian , pertukaran nyawa demi sang terkasih, meski tragis ...
pada akhirnya cinta tak berpihak padanya.
hanya bisa memandang dari kejauhan.
ketulusan kasih tanpa perhitungan .
memendam bara asmara seorang diri ,menuangkan rasa lewat cita masakan ,walau beda alam.
semoga di penghujung pak seno bisa menemukan kebahagiaan sejati..
bersama alya saling membantu terlepas dari kerumitan sebuah janji
adakah semua ini terinspirasi dari sana thor? atau hanya suatu kebetulan belaka?
tapi kepala yang ditanam di undakan itu desas desusnya adalah seorang penghianat? benarkah ? atau hanya cerita dongeng untuk kita selalu bersikap baik ,tulus? sebab konon barang siapa yang menginjak undakan yang ada kepalanya itu sudah dianggap menginjak nginjak harga diri sebagai hukuman sang kepala?
yang memberi pelajaran berharga buat alya.
seburuk apapun keluarga adalah tempat pulang.
tempat yang nyaman dibanding keganasan hidup diluaran.