"Di kantor kita adalah rekan kerja, di rumah kita adalah orang asing, dan di ranjang... kita hanyalah dua raga yang tak punya jiwa."
Alsava Emily Claretta punya segalanya: jabatan tinggi sebagai COO Skyline Group, kecantikan yang memabukkan, dan status sebagai istri dari Garvi Darwin—sang "Dewa Yunani" sekaligus CEO perusahaan tempat ia bekerja. Namun, di balik kemewahan mansion Darwin, Sava hanyalah seorang wanita yang terkurung dalam kesepian.
Saat Garvi sibuk menjelajahi dunianya, Sava melarikan penatnya ke lantai dansa nightclub. Ia mengira hubungan mereka akan selamanya seperti itu—dingin, berjarak, dan penuh rahasia. Hingga suatu saat, rasa jenuh itu memuncak.
"Aku butuh hiburan, Win. Butuh kebebasan," ucap Sava.
Sava tidak tahu bahwa setiap langkahnya selalu dipantau oleh mata tajam Garvi dari kejauhan. Garvi tak ingin melepaskannya, namun ia juga tak berhenti menyakitinya. Saat satu kata perceraian terucap—permainan kekuasaan pun dimulai. Siapa yang akan lebih dulu berlutut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Mentari pagi Kota Medan mulai merangkak naik, mencoba menembus celah-celah tirai beludru berwarna abu-abu gelap yang tertutup rapat. Di dalam kamar seluas apartemen tipe penthouse itu, hawa dingin dari central AC masih mendekap setiap sudut ruangan, menciptakan suasana beku yang seolah selaras dengan hati penghuninya.
Di atas ranjang king size yang berantakan, Alsava Emily Claretta masih meringkuk di bawah selimut sutra. Rambut brunette curly-nya tersebar di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang tampak sedikit pucat. Sisa-sisa kelelahan dari lantai dansa semalam masih tertinggal di persendiannya, namun rasa kantuknya seketika pecah saat suara ketukan berirama terdengar di pintu kayu jati yang kokoh itu.
Tok... Tok... Tok...
"Nyonya Sava, ini sudah pagi. Matahari sudah tinggi di atas Jalan Sudirman," suara lembut Bibi Zuni memecah keheningan.
Sava menggeliat, merasakan pening yang berdenyut di pelipisnya. Ia meraih remote di nakas, menekan tombol yang secara otomatis membuka tirai raksasanya. Cahaya terang Medan langsung membanjiri kamar, menyajikan pemandangan taman asri dan kolam renang biru di bawah sana.
"Iya, Bi," jawab Sava serak. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang sambil memijat pangkal hidungnya.
Pintu terbuka pelan. Bibi Zuni masuk dengan senyum kebapakan yang selalu menenangkan.
"Mau sarapan di sini atau di meja makan bawah, Nyonya?"
Sava menatap meja makan panjang di lantai bawah dalam bayangannya—meja yang biasanya hanya ia tempati sendirian.
"Di balkon kamar saja, Bi. Percuma di meja makan. Ruangan itu terlalu luas hanya untuk satu piring."
Bibi Zuni mengangguk paham, ada gurat prihatin di matanya yang sudah menua. Ia segera berlalu untuk menyiapkan keperluan majikannya.
Sava melangkah menuju kamar mandi. Ia menanggalkan jubah mandinya, membiarkan tubuhnya yang memiliki kurva sempurna itu terpapar udara dingin sebelum akhirnya berdiri di bawah guyuran shower. Air dingin yang menghantam kulitnya seolah menjadi cambuk agar ia segera bangun dari mimpi buruk bernama pernikahan.
Selesai mandi, ia melangkah ke dalam walk-in closet. Ruangan itu lebih mirip butik mewah di Paris daripada sekadar tempat menyimpan baju. Deretan setelan kerja dari desainer ternama, tas-tas branded seharga satu unit rumah, dan koleksi sepatu yang tertata berdasarkan gradasi warna.
Pilihan pagi ini jatuh pada setelan broken white yang tegas. Ia mematut diri di depan cermin besar. Wajah sendu itu segera ia tutupi dengan foundation dan concealer. Ia memoles bibir ranumnya dengan lipstik warna nude yang elegan.
"Kamu kuat, Sava. Kamu COO Skyline Group, bukan wanita lemah yang bisa dihancurkan hanya karena sepi," bisiknya pada bayangan di cermin, mencoba menyuntikkan keberanian yang kian hari kian menipis.
Sava melangkah ke balkon. Sepiring pancake dengan lelehan madu dan buah beri sudah menanti. Ia menyuap potongan kecil, menikmati rasa manis yang sedikit meringankan beban di dadanya.
"Bibi memang yang terbaik. Pancake ini satu-satunya alasan aku bisa tersenyum pagi ini," puji Sava tulus.
"Resep dari Nyonya sendiri yang luar biasa," balas Bibi Zuni rendah hati. "Oh iya Nyonya, ponsel Anda sejak tadi terus bergetar di nakas."
Sava menghentikan kunyahannya. Perasaan tidak enak mulai merayap. Ia meraih ponsel tipis berlogo apel tergigit itu. Layarnya menyala, menampilkan sederet notifikasi dari nomor asing.
Ia membukanya. Dan seperti yang sudah-sudah, dadanya sesak.
Foto-foto berkualitas tinggi masuk ke pesannya. Foto suaminya, Garvi Darwin, sedang duduk di sebuah bar mewah di Beijing dengan seorang wanita seksi yang bergelayut manja di lengannya. Foto lain memperlihatkan wanita itu mengecup pipi Garvi.
Yang paling menyakitkan bukan hanya fotonya, tapi pesan di bawahnya: 'Suamimu bilang dia butuh penyegaran. Ternyata benar, istri sahnya hanya pajangan kaku.'
Sava memejamkan mata, meremas ponselnya hingga buku jarinya memutih. Ini sudah tahun keempat. Dan Garvi tetaplah Garvi—pria Cassanova yang memuja kebebasan meski sudah mengikat janji suci.
Tanpa membuang waktu, ia mencari kontak bernama 'Roy'.
"Jangan menyebarkan nomor ponselku lagi ke wanita-wanitamu, Roy! Memori ponselku penuh dengan sampah foto tidak jelas!" semprot Sava begitu panggilan tersambung.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa melakukannya tanpa perintah Tuan Garvi," jawab suara pria di seberang sana dengan nada datar namun hormat.
"Lalu apa untungnya bagiku melihat semua ini? Apa dia pikir aku ini tempat sampah pengaduan selingkuhannya?"
Tiba-tiba, suara berat dan maskulin mengambil alih telepon. Suara yang selalu berhasil membuat bulu kuduk Sava meremang sekaligus memicu emosi yang meledak.
"Hai, Sugar! Kenapa pagi-pagi sudah memarahi asistenku?"
Sava mendengus sinis. "Garvi. Berhenti memberikan nomor pribadiku pada wanita-wanita murahanmu itu. Aku muak!"
Tawa kecil yang terdengar seksi namun manipulatif terdengar dari seberang sana. "Oh, ayolah. Aku memberikan nomor itu karena aku malas meladeni mereka yang mulai menuntut lebih. Biar mereka tahu siapa 'pemegang otoritas' yang sebenarnya di rumahku."
"Aku bukan petugas keamananmu, Garvi! Kita sudah empat tahun menikah, sampai kapan kamu mau bersikap seperti bajingan yang tidak tahu diri?"
"Jangan panggil namaku seperti itu, Ave," suara Garvi mendadak merendah, dingin dan penuh otoritas. "Panggil aku Mas Garvi, atau Babe, atau Sayang. Kamu tahu aku tidak suka bantahan."
"Aku tidak peduli!" bentak Sava.
"Jangan marah-marah terus, nanti cantiknya hilang. Malam ini aku pulang ke Medan. Aku akan membawakanmu sesuatu yang mahal sebagai kompensasi. Oke?" Garvi kembali ke mode merayu. "Dan satu lagi, pagi ini ada rapat penting dengan dewan komisaris. Handle semuanya. Aku ingin laporan bersih saat aku mendarat nanti."
Sava memijat keningnya. "Kamu selalu begitu. Melempar pekerjaan dan berharap aku diam hanya dengan sogokan barang mewah."
"Karena aku tahu kamu sanggup, Sugar. Sampai jumpa di rumah malam nanti. Jangan tidur duluan sebelum aku datang."
Klik. Sambungan diputus sepihak.
Sava membanting ponselnya ke atas meja balkon. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya luruh satu tetes. Ia benci betapa Garvi mengenalnya dengan baik. Ia benci betapa ia masih harus menjalankan peran sebagai COO yang hebat di bawah bayang-bayang pria yang terus mengiris hatinya.
**
Skyline Group Headquarter, Medan.
Mobil sedan mewah hitam yang membawa Sava membelah kemacetan pagi Kota Medan. Di sepanjang jalan, ia hanya menatap kosong ke arah gedung-gedung di Jalan Imam Bonjol. Pikirannya melayang pada masa kecil mereka. Dulu, Garvi adalah kakak kelas yang melindunginya. Namun kini, pria itu adalah monster yang mengurungnya dalam pernikahan tanpa kehangatan.
Begitu mobil berhenti di depan lobi gedung SL Group yang megah, Sava segera mengganti wajah sendunya dengan topeng baja.
Lantai lobi marmer berbunyi nyaring saat stiletto hitamnya menapak. Seluruh karyawan yang tadinya sibuk bergosip langsung terdiam dan menunduk hormat.
"Selamat pagi, Miss Sava," sapa para staf bergantian.
Sava hanya mengangguk singkat tanpa senyuman. Di perusahaan ini, ia dikenal sebagai Ice Queen. Tegas, dingin, dan tidak mengenal ampun pada kesalahan sekecil apa pun. Tidak ada yang tahu bahwa wanita yang mereka takuti ini adalah istri dari sang CEO yang juga mereka puja.
"Selamat pagi, Miss Sava. Saya Desi, sekretaris baru yang ditunjuk langsung oleh Pak Roy dari kantor pusat," seorang wanita muda dengan rok yang sedikit terlalu pendek untuk standar kantor menyambutnya di depan ruangan.
Sava berhenti, menatap Desi dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapan Sava begitu tajam seolah sedang memindai malware di sebuah sistem.
"Pak Roy yang memilihmu?" tanya Sava dingin.
"I-iya, Miss." Desi tampak gemetar di bawah tatapan itu.
"Aku tidak peduli siapa yang memilihmu. Di sini, kinerjamu adalah nyawamu. Jika dalam seminggu kamu melakukan dua kesalahan fatal, kamu boleh kemasi barangmu," ujar Sava ketus sambil melangkah masuk ke ruangannya.
"Baik, Miss. Mohon bimbingannya."
Sava duduk di kursi kebesarannya. "Apa kamu sudah pernah bertemu dengan Tuan Garvi?"
Desi menggeleng cepat. "Belum pernah, Miss. Saya dengar beliau lebih banyak di luar negeri."
Sava tersenyum miring—sebuah senyum yang tidak mencapai mata. "Baguslah. Besok dia akan datang. Pastikan semua jadwalnya sinkron. Kamu boleh keluar sekarang."
Begitu Desi menutup pintu, Sava menghela napas panjang. Ia meraih interkom.
"Koneksikan saya dengan Winata. Sekarang."
Ia butuh satu-satunya orang yang bisa ia percaya di gedung ini. Sebab malam ini, saat Garvi menginjakkan kaki di Medan, Sava tahu dia tidak bisa lagi hanya diam. Pernikahan ini sudah berada di tepi jurang, dan Sava mulai bertanya-tanya, apakah sebaiknya ia sendiri yang mendorongnya jatuh agar semuanya berakhir?
***