Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Anda Segalanya
Abi menunggu Zella di depan pintu masuk utama gedung Rumah Sakit itu. Di kepalanya masih terbayang adegan panas yang dilihatnya dari layar laptopnya tadi. Biasanya dia merasa jijik saat CCTV yang dia pasang diam-diam, menangkap adegan panas Anjani dan Thom. Entah mengapa saat dirinya akan menikahi wanita berbeda dari Anjani dan Fatma, Abi merasa membutuhkan wawasan segi itu, dan ingin mempelajari hal itu.
Abi masih fokus pada layar laptopnya, memutar tayangan ulang beberapa menit yang lalu. Anjani terlihat begitu semangat di atas pangkuan Thom.
Apakah Zella mau seperti itu jika aku masih berpura-pura lumpuh?
Abi membuang napasnya kasar. Hanya memikirkan Zella di posisi Anjani seketika membuat bagian celananya mengetat. Beruntung laptop yang dia pangku bisa menutupi bagian yang menyembul itu
"Pak Abi mau kemana?" sapa Miko.
"Mau ke market fresh di seberang, Rihana dan Rayhan minta belikan sesuatu."
"Pak Abi sedang melihat rekaman yang baru saya kirim barusan?"
"Bukan, aku sedang menyaksikan adegan panas di ruang meeting khusus di perusahaan." Abi menutup laptopnya.
Miko sangat faham apa yang dimaksud Abi. "Tumben Pak Abi tidak jijik melihat kelakuan mereka," ledek Miko.
"Sebenarnya rada menggelikan, tapi anggap saja aku tengah memperluas wawasan tentang kegiatan itu, kan sebentar lagi aku menikah, ilmu baru bagiku. Ehm!" Abi berusaha terlihat cool walau membahas hal yang tabu.
"Ternyata Anda di sini. Aku dari tadi mencari Anda." Zella tiba-tiba muncul dari arah samping.
"Ayo silakan masuk mobil, walau cuma di seberang jalan, tapi Pak Abi rasanya tak bisa lama-lama berada di bawah terik matahari." ucap Miko.
Zella merasa malas untuk naik mobil karena hanya berbelanja di seberang jalan. Tapi dia harus memahami kondisi Abi. Zella segera berjalan mengikuti 2 pria yang di depannya yang berjalan lebih dulu menuju mobil. Tak butuh waktu lama, mobil Abi sampai di tempat tujuan.
"Kamu yakin mau turun?" Zella memastikan.
"Kenapa? Kamu malu jalan bareng sama orang cacat yang duduk di kursi roda sepertiku?" Abi balas bertanya.
"Tidak sama sekali. Aku hanya khawatir."
"Terima kasih perhatiannya." Abi melempar senyum pada Zella, lalu bersiap untuk keluar dari mobil.
"Saya tunggu di parkiran. Kalau butuh saya telepon saya Pak." Miko ingin memberi kesempatan buat calon pengantin itu untuk berdua lebih lama.
Zella dan Abi memasuki Area perbelanjaan itu. Ice cream, buah potong dan jus buah yang diinginkan kedua anak itu jadi fokus tujuannya.
"Cuma itu yang dibeli?" Abi memastikan.
"Lalu apa lagi? Aku tidak butuh apa-apa." sahut Zella.
"Pikirkan dulu, Rumah Sakit tempat yang sangat membosankan. Waktu terasa berjalan sangat lama jika berada di sana."
"Aku tak membutuhkan apa-apa, aku sudah memiliki segalanya," sahut Zella.
"Segalanya?" Abi memicingkan matanya.
"Anda, aku punya Anda, membuatku tak membutuhkan lainnya. Karena Anda segalanya bagiku."
Abi sangat senang mendengar rayuan kecil Zella, Abi berusaha memasang wajah datar. "Ehem!" Batuk palsu untuk menetralkan perasaan yang terlanjur membuncah bahagia.
"Pastikan dulu. Lihat-lihat mungkin ada yang menarik perhatianmu," saran Abi.
Perhatian Zella tertuju pada deretan rak yang dipenuhi aneka macam roti. Zella langsung ke bagian itu dan mengambil beberapa roti. Dia kembali pada Abi dengan keranjang yang berisi Roti.
Zella mengambil satu roti dan menatapnya haru. "Aku suka banget roti ini. Walau aku sangat suka aku sering menahan diri karena tak bersahabat dengan uang sakuku saat sekolah. Saat aku sudah berpenghasilan sendiri, roti ini tak ada lagi di kota aku tinggal. Ada uang tapi rotinya yang nggak ada."
Abi tersenyum melihat merk roti yang Zella sukai. Roti itu salah satu keluaran pabrik roti milik Kakeknya yang sudah dia miliki.
"Perusahan Roti itu diambang kebangkrutan. Produksinya beberapa tahun ini hanya menjaga berputarnya keuangan pabrik agar tak memecat karyawan yang tersisa." terang Abi.
"Sayang banget! Padahal rotinya enak. Nggak akan kalah saing dengan produk-produk yang baru. Andai perusahaannya bisa diselamatkan. Bayangkan berapa banyak lapangan pekerjaan yang tersedia."
"Kenapa kamu memikirkan lapangan pekerjaan? Kau kekurangan uang apa kurang kerjaan?" tanya Abi.
"Aku tak kekurangan apa pun, kan aku punya Anda yang segalanya bagiku."
"Cih! Rayuanmu nggak mempan buat orang tua sepertiku!"
"Maaf." Zella berusaha menutupi rasa malunya, niat mengisengi Abi, malah dirinya merasa malu sendiri dengan respon Abi.
"Aku punya Ayah dan mama. Saat aku kehilangan tonggak kekuatanku yang selama ini menopangku untuk berdiri, aku tak roboh. Ada bahu yang kokoh dari Ayah dan mama untuk menopangku. Jadi aku tak merasa kekurangan."
Zella melompat kecil berusaha agar air matanya tak keluar.
"Kenapa? Mau pup?" tanya Abi.
"Ah tidak. Aku hanya sulit percaya keadaanku sekarang. Aku merasa mimpi berjalan bersama Anda. Aku merasa seperti protagonis wanita di drama yang tiba-tiba mendapat jodoh terbaik."
Ah sial! Kenapa wanita ini senang sekali menerbangkan perasaanku! Awas saja kau kalau tiba-tiba menjatuhkan ku! Tak akan ku maafkan dirimu! Abi menatap tajam pada Zella.
"Hubungannya dengan ketersediaan lapangan pekerjaan?" tanya Abi.
"Banyak wanita yang bernasib sepertiku, ibu rumah tangga yang tak punya penghasilan, tiba-tiba kehilangan suami. Mana tak punya pekerjaan, tak punya keluarga. Ingin bekerja terhalang oleh persyaratan masuk kerja batasan umur, tampilan diri, ijazah, banyak lagi. Padahal mereka sangat butuh pekerjaan untuk kehidupan bersama anak-anak."
Abi membayangkan posisi wanita yang Zella ceritakan.
"Aku beruntung ada keluarga yang membantu membuka jalan untuk membangun usaha kecil. Tapi tak banyak yang beruntung sepertiku."
"Lalu, kamu bekerja apa setelah berpisah dengan suamimu?"
"Aku punya teman yang punya UMKM, aku bekerja sama dengan dia dan usaha kami di dukung Ayahku. Sedang mama menjamin menjaga putriku yang kala itu berusia 9 tahun."
Abi terpana melihat senyuman di wajah Zella. Sangat jelas wanita itu merasa bahagia kala melewati fase dalam ceritanya.
"Lalu usaha kami lumayan, kami merekrut wanita-wanita yang bernasib sepertiku. Sangat bahagia bisa membantu wanita-wanita yang kurang beruntung itu dengan memberi pekerjaan."
"Kenapa harus pekerjaan yang kamu beri? Kenapa nggak uang saja?" tanya Abi.
"Uang hanya membantu sementara. Sedang pekerjaan selama mereka mau, itu jadi pembantu kehidupan mereka. Seperti menyelamatkan hidup orang, lebih baik memberi pancing, umpan dan tempat yang ada ikan, biar dia tangkap ikan sendiri. Sedang memberi uang saja, seperti memberi seekor ikan saja."
"Aku mengerti maksudmu." Abi tersenyum bangga pada wanita di depannya. "Andai kamu memiliki pabrik roti itu, target pekerja yang ingin kau pekerjakan seperti apa?"
"Wanita yang mau bekerja. Tak masalahkan tentang umur, status, atau pendidikan. Bahkan aku ingin membuka lapangan pekerjaan khusus buat janda atau para Ayah yang banyak tanggungan."
"Janda? Kau tak takut suamimu di embat Janda?"
"Kalau suamiku yang mau aku bisa apa? Paling aku memikirkan mau bertahan atau menyerah."
"Kalau aku menikah lagi, berarti kamu akan pergi?"
"Tergantung. Kalau prosesnya benar. Aku berusaha menerima. Kalau menikah diam-diam itu bukan poligami atau berbagi suami. Tapi itu mencuri. Karena sejatinya orang berbagi itu atas persetujuan pemilik yang terkait."
"Sebab itu kau kagum pada Anjani saat pertama bertemu dengannya?" tanya Abi.
"Karena dia sangat berbesar hati menerima wanita lain untuk membahagiakan suaminya. Kalau aku tak punya kebesaran hati seperti itu."
"Dia tak pantas menerima pandangan kekaguman darimu!" ucap Abi bernada tegas.
"Kenapa? Zella sulit mempercayai ucapan Abi barusan.
"Suatu saat kamu akan mengetahuinya."
Abi berusaha menenangkan perasaanya yang seketika emosi karena menyebut Anjani. "Kalau kamu suka roti itu, aku akan persiapkan itu sebagai hadiah pernikahan nanti."
"Heh? Roti ini buat hadiah pernikahan?" Zella memandangi roti yang dia pegang.
"Kan kamu suka. Aku akan siapkan untukmu."
Maksud Abi menyediakan roti ini saat resepsi? Tapi bagus juga. Roti ini langka dan enak.
Zella tersenyum kecil. "Aku setuju dengan idemu. Tapi jangan banyak-banyak, tamu yang akan menghadiri akad nggak banyak, kalau kamu sedia roti banyak-banyak, nanti nggak habis."
Abi tersenyum mendengar jawaban Zella yang mengira dia akan membeli banyak roti untuk akad. "Terserah kamu, karena yang aku berikan pabriknya."