Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Diandra untuk Armand
Tak segera menjawab. Diandra mematung teringat beberapa bulan yang lalu.
Flashback on.
"Aku janji bulan depan kita akan menikah." Ucap Armand yang saat itu tergila-gila kepada Diandra. Seakan melupakan Alma begitu saja. Tulisan Alma yang terngiang-ngiang di kepala kalau Alma tak mencintai dirinya selama pernikahan, membuat hati Armand kecewa.
Diandra tersenyum bahagia ketika Armand menjanjikan pernikahan indah padanya. Selama enam bulan bertemu di Amerika karena pekerjaan keduanya, Diandra merasakan jika Armand lah yang mampu meluluhkan hati nya.
Keduanya bahkan kompak memilih sepasang cincin cantik yang sudah dilingkarkan ke jari Diandra dan Armand. Namun sayang, Diandra kecewa karena Armand ternyata sudah memiliki istri. Armand tak pernah cerita hal itu. Itulah yang membuat nya pergi sementara, menjauh dari Armand sebentar untuk memulihkan hatinya yang kecewa. Sengaja tidak memperbolehkan Armand menghubunginya. Namun sayang, ketika dia pulih dan kembali, Armand terlanjur sudah pulang ke Indonesia. Membuat nya tak sempat berpamitan, Armand bahkan mengganti nomor ponsel nya dan sulit untuk dihubungi. Sampai dia memutuskan untuk ke Indonesia, mencari Armand tidaklah begitu sulit baginya.
Flashback off.
Diandra menggeleng.
Tidak hanya status Diandra saja yang ditanyakan oleh Alma. Terkait keluarga Diandra juga namun semua jawaban Diandra kesemuanya bohong.
Sementara Armand sama sekali tidak fokus kerja. Entah apa yang dipikiran nya. Meeting dengan klien tidak membuahkan hasil karena Armand presentasi nya kurang bagus membuat klien tidak puas dan pekerjaan Armand berantakan hari itu.
Armand marah dan menggebrak meja kerja nya. Mengacak kasar rambutnya, mondar-mandir di ruang kerjanya dengan pikiran yang tak jelas. Entah mengapa hari itu isi kepalanya terngiang-ngiang sosok Diandra. Padahal sebelum-sebelumnya dia hampir tak pernah memikirkan nya. "Shit, semua gara-gara baby sitter itu! Kenapa harus nama nya sama? Jadi mengingatkan ku saja." Gumam Armand. Tidak berselang lama ponsel nya berdering. "Siapa?" Lirih Armand menatap layar ponselnya, karena tidak ada nama pemanggil dalam ponsel nya. Armand tetap mengangkatnya. Karena biasanya masih seputaran dengan pekerjaan nya. "Hallo." Jawab Armand namun tak ada jawaban dari balik panggilan. Berulang kali Armand menyapa, namun tak ada jawaban dari balik telepon selulernya.
Armand tutup panggilan selulernya lalu meletakkan ponsel nya di atas meja. Namun lagi-lagi ponselnya berdering beberapa kali dan setiap dia angkat masih sama tak ada jawaban. Sampai-sampai membuat Armand geram bahkan hampir-hampir dibanting ponsel nya namun seketika Armand tersadar dan menarik nafas panjang.
Sementara di balik telepon, Diandra cekikikan, karena bisa menangkap kemarahan Armand. "Ini baru permulaan, Armand." Lirihnya Diandra yang sudah siap dengan rencana-rencana nya.
Setelah memandikan baby Arkan dan semua tugas Diandra selesai. Diandra berpamitan pulang kepada Alma. Diandra sengaja menutup sebagian wajahnya supaya tidak dikenali saat Diandra menyamar jadi petugas cleaning service di kantor Armand. Ya, Diandra tidak bekerja sendirian. Dia punya satu orang suruhan yang sudah dia suruh untuk meminjam seragam petugas cleaning service di kantor Armand. Keduanya janjian di jalan. Diandra memberikan uang kepada orang suruhan nya. Lalu dia berganti memakai seragam tersebut dan masuk ke kantor Armand. Dengan cepat Diandra masuk lift menuju lantai 25. Melihat Armand tengah sibuk di ruang kerja nya. Diandra mengetuk pintu. Masuk dan membersihkan ruangan Armand selayaknya petugas cleaning service.
Armand sibuk berkomunikasi dengan entah siapa dibalik telepon genggam nya. Diandra tanpa sengaja melihat fotonya tergeletak di atas meja. Sesaat beralih menatap Armand yang tengah sibuk berbincang dengan panggilan selulernya.
Ketika Armand juga melihat Diandra dalam penyamarannya. Diandra segera pura-pura mengepel lantai supaya Armand tidak mencurigainya.
"Itu kenapa wajahnya di tutup?" Tanya Armand yang membuat jantung Diandra deg-degan.
"Flu dan batuk, pak." Jawab Diandra yang kemudian pura-pura bersin di depan Armand.
"Keluar, keluar sana!" Usir Armand karena tidak ingin tertular.
Diandra yang melangkah keluar, mendengar Armand memesan kopi untuk menemani lemburnya malam ini ke bagian dapur. Diandra segera bergegas menuju dapur kantor. Kebetulan sekali petugasnya sangat mudah dikelabuhi, Diandra hanya berkata dia yang disuruh pak Armand untuk buatkan kopi. Petugas itu pergi dan Diandra lah yang membuat racikan kopi untuk Armand.
Ketukan pintu dari Diandra yang mengantar kopi Armand.
"Lho, kok kamu lagi?" Armand yang kurang suka mengapa harus petugas cleaning service barusan yang diusirnya yang mengantar kopi.
"Iya, pak. Shift malam bagian saya, pak." Jawab Diandra.
"Ya udah, taruh aja di meja!" Suruh Armand. Tidak lama kopi tersebut Armand minum namun beberapa menit kemudian perut Armand mulas-mulas tidak karuan. Awalnya Armand pikir sekali dua kali dan mulas biasa, namun ternyata dia salah, berulang kali dia ke toilet dan membuat tubuhnya lemas. Penampilan Armand sudah berantakan. Sempat memanggil Diandra dan bertanya ada apa di dalam kopinya. Namun belum selesai pertanyaan nya, perut Armand sudah kesakitan dan Armand lari ke toilet lagi. Sementara Diandra, cekikikan tak berhenti karena puas memberi pelajaran kepada Armand yang sudah membohongi nya.
"Upz, maaf." Ucapnya di balik masker yang dikenakan nya untuk menutupi sebagian wajahnya.
Tidak hanya itu saja, tampaknya Diandra masih beraksi dengan mengempeskan ban mobil Armand semuanya. Diandra sangat hati-hati melakukan nya, mengingat ada dua orang satpam yang berjaga tidak jauh dari tempat mobil Armand terparkir. Diandra kemudian segera memasuki mobil kantor yang kuncinya sengaja dia berhasil ambil secara diam-diam pula. Karena sudah pasti Armand akan suruh sopir kantor mengantar nya pulang jika Armand mengetahui kalau ban mobilnya semuanya kempes.
Diandra dengan sabar menunggu Armand keluar dari gedung kantor. Dan benar saja, beberapa saat Armand keluar dengan penampilan yang berantakan dan tampak lemas karena obat pencahar yang Diandra campurkan.
Armand syok melihat ban mobilnya kempes. Seketika mengambil ponsel di sakunya, namun belum sampai Armand memanggil supir kantor untuk mengantarnya pulang, Diandra lebih dulu melajukan mobil kantor dan berhenti tepat di hadapan Armand.
Tanpa pikir panjang, Armand menaikinya. Diandra juga sudah dengan penyamaran yang berbeda, tidak hanya mengenakan masker untuk menutupi sebagian wajahnya, Diandra menambahkan topi hitam untuk menyembunyikan rambutnya yang panjang. Memakai jaket berwarna hitam pula, supaya terlihat seperti seorang laki-laki.
Situasi di dalam mobil tampak hening. Namun semakin lama Armand perlahan mulai panik. Ya, Diandra memacu kecepatan mobil tidak kira-kira yang membuat Armand ketakutan. "Pak, bisa agak pelan, nggak?!" Armand yang mulai panik. "Bapak, nggak sedang mengantuk, kan?" Lanjutnya dengan wajah takut yang membuat Diandra lagi-lagi tersenyum dibalik masker.
Namun bukannya mengurangi kecepatan, Diandra sengaja menginjak pedal gas lebih dalam dan membuat Armand berteriak. "Berhenti!" Teriak keras Armand.
Bersambung