Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alma dan Armand berbaikan
"Iya, Rin." Armand menjawab panggilan telepon dari Zahrin.
"Armand aku minta maaf tidak bisa bantu kamu ajak Arkan supaya bisa bertemu dengan mu." Ucap Zahrin.
"Oh, itu, iya nggak apa-apa. Lupakan, Rin!" Armand baru mengingat jika dia kemarin meminta tolong Zahrin untuk membujuk Alma supaya dia bisa melihat Arkan.
Armand tak lupa mengucapkan terimakasih dan menutup ponsel nya. Alma bahkan mendengar nya karena Alma menyuruh Armand untuk loud speaker ponsel nya.
"Oh, jadi kamu punya rencana sama mbak Zahrin buat bujuk aku supaya kamu bisa bertemu Arkan."
"Itu kemarin, sayang. Sekarang kan kita udah baikan. Sekarang kamu mandi, gih! Kita ke rumah sakit jenguk papa." Perintah Armand.
Di rumah sakit.
Ibu Olivia tengah menyuapi pak Hanung dengan bubur rumah sakit.
Dari balik pintu ruangan terdengar ketukan, Alma yang menggendong Arkan dan Armand sengaja menjenguk pak Hanung ke rumah sakit. Alma dan Armand sekaligus ingin berpamitan. Ya, Alma sudah mau diajak pulang bersama dengan Armand.
Awalnya pak Hanung memasang wajah tidak suka saat melihat Armand berjalan mendekat kepadanya. "Pah, mas Armand mau meminta maaf terkait semua hal permasalahan akhir-akhir ini." Alma pelan-pelan bicara ke papa nya. Mengingat serangan jantung papa nya baru saja pulih.
"Iya, pah. Armand mau meminta maaf dan semua foto-foto itu hanya salah paham. Jadi tolong papa jangan berpikir buruk dengan Armand." Armand juga dengan pelan-pelan menyampaikan kepada pak Hanung.
"Iya, pah. Hari ini kita juga mau pamit pulang. Alma mau minta maaf sama mama dan papa karena Alma malah bikin papa sakit. Alma sudah maafkan mas Armand terkait tes DNA Arkan." Imbuh Alma yang berusaha menjelaskan.
"Syukurlah, kalau kalian sudah berbaikan. Kalau kayak begini adem lihatnya. Ya kan, pah?" Lanjut ibu Olivia.
Pak Hanung mengangguk. Ingin melihat wajah cucu nya dan Alma mendekatkan baby Arkan pada pak Hanung.
Ditempat berbeda.
Zahrin yang kesakitan karena kakinya dibawa Akhyar ke tukang pijit keseleo.
"Tahan, Rin. Sebentar lagi selesai." Akhyar berusaha membuat Zahrin diam supaya tidak jerit-jerit saat dipijit.
"Ini apa nggak bisa pelan? Sakit lho, mas." Protes Zahrin.
Namun dengan cepat, si tukang pijit menyelesaikan pijitannya. "Bagaimana? Coba dipakai jalan."
Zahrin yang kemudian mencoba kaki nya buat jalan. "Masih sakit, sih."
"Ya, kan nggak mungkin langsung sembuh, Rin. Bertahap. Itu juga minyak urutnya biar meresap ke tulang otot-otot gitu. Ya, kan Bu?" Akhyar yang memberi penjelasan ke Zahrin.
"Kemungkinan besok sudah sembuh." Jawab ibu tukang pijit.
Setelah itu keduanya berpamitan. Akhyar masih mengajak Zahrin untuk makan yang sebelum nya Zahrin tolak namun sesaat kemudian Zahrin meminta Akhyar memutar mobilnya untuk ke makam Regi.
Sesampainya di makam. Zahrin yang lebih dulu mendoakan untuk kelapangan kubur almarhum suaminya. Perlahan air mata Zahrin menetes kala menabur bunga. Zahrin memberi tahu pada Regi kalau Arsyad dan Arsyla semakin pintar sekolahnya. Arsyad dan Arsyla juga menjadi anak-anak yang penurut selama dia tinggal. Semakin sesenggukan Zahrin diatas makam suaminya. Sekelebat kenangan bersama suaminya terlintas di kepala nya, membuat Zahrin tak kuat membendung air mata nya yang semakin deras.
Akhyar yang sedari tadi berdiri tidak jauh dari Zahrin lalu meraih pundak Zahrin dan mengajak Zahrin pulang. Tak lupa selembar tisu dia berikan ke mantan istrinya itu untuk menyeka jejak basah di kedua pipi nya.
Zahrin masih tak bisa mengusir dengan cepat kesedihan nya. Buliran-buliran jernih dari kedua matanya masih silih berganti berjatuhan.
Akhyar hanya bisa diam. Bisa merasakan kesedihan wanita disamping nya itu. Pernah dia ceraikan dengan sangat kejam tapi nyatanya Zahrin masih tangguh duduk di sampingnya malahan dia yang masih sulit berharap maaf dari Zahrin. Sekarang ditinggal Regi selama nya, Zahrin tetap berpegang teguh pendirian masih setia menyendiri padahal jelas-jelas Regi berpesan untuk kembali pada nya.
Ingin meraih cinta Nina kembali, nyatanya itu tidak pernah Akhyar lakukan. Yang ada sekarang duduk di samping mantan istrinya dengan segala ketidaktegaannya dan segala rasa cinta nya yang masih besar untuk Zahrin.
Arsyad dan Arsyla yang tidak terlalu mudah diabaikan begitu saja mengingat keduanya bertahta di hati Akhyar pula. Nina, hanyalah gadis dengan seuprit cerita cinta di hati Akhyar. Terlalu pendek dan singkat atau bahkan tidak bermakna dalam sama sekali dibanding Zahrin, Arsyad dan Arsyla yang bahkan menguasai keseharian nya.
Membiarkan usianya bertambah dengan ketidakmenentuan Zahrin yang sama sekali tidak tertarik padanya untuk kembali. Itulah yang kadang-kadang membuat Akhyar frustasi.
"Sudah nangisnya, Rin?" Tanya Akhyar yang baru akan menjalankan mobilnya kalau Zahrin sudah berhenti menangis.
Zahrin mengangguk dengan sisa-sisa mata yang masih terlihat merah. Berusaha menyembunyikan nya dengan memilih menatap luar jendela mobil saat Akhyar mulai melajukan mobilnya.
Disepanjang perjalanan, Akhyar tak banyak bicara. Keduanya saling diam sampai di sekolah Arsyad dan Arsyla. Bel memang setengah jam lagi baru akan berbunyi, menandakan anak-anak pulang sekolah. Namun baik Zahrin dan Akhyar memilih menunggu di bawah pohon Asam Jawa sambil mengobrol hal sederhana. Bagaimana dengan kabar Mega, Dewa dan Rania? Apakah masih sering berkunjung ke rumah Akhyar atau sekedar bertanya Yanuar yang sekarang bagaimana keadaannya?
Karena perut Akhyar kosong dan sedari tadi belum makan, Akhyar menyodorkan batagor abang-abang sekolah kepada Zahrin. "Aku lapar, Rin. Kalau kamu mau, ini kamu makan. Kalau kamu nggak mau, bilang aja, biar tak makan nya." Ujar Akhyar yang setelahnya mengunyah batagor abang-abang sekolah.
"Kamu makan aja, mas. Aku masih belum lapar." Zahrin yang memberikan nya kembali ke Akhyar.
"Aku dengar bibi katanya tadi kamu nggak sempat sarapan. Aku ajak berhenti makan, kamu juga nggak mau. Sekarang sudah siang kamu tetap nggak mau makan. Kamu puasa, Rin?" Tanya Akhyar.
Zahrin menggeleng.
"Kalau es dawet jabung yang itu mau nggak, Rin?" Akhyar yang menunjuk pada penjual es dawet jabung di seberang jalan.
"Enggak, mas. Kamu aja. Terimakasih." Jawab Zahrin yang memilih menatap layar ponsel nya, ketimbang memperhatikan Akhyar yang sepertinya kelaparan.
Akhyar manggut-manggut, berjalan menyebrang jalan dan menikmati semangkok es dawet jabung sembari memperhatikan Zahrin yang duduk menatap layar ponsel nya di bawah pohon asam Jawa.
Tidak berselang lama, bel berbunyi. Tampak Arsyad dan Arsyla yang berlari menghampiri mommy nya. "Lho papa A, mana?" Tanya Arsyla.
Zahrin menunjuk ke arah Akhyar. Arsyla melambaikan tangan kepada Akhyar dan begitu sebaliknya. Akhyar selesai dan membayar es dawet jabung nya, kembali menghampiri mereka bertiga dan Arsyla yang sudah heboh menunjukkan nilai ulangan nya yang mendapat nilai seratus kepada Akhyar.
"Wah, anak papa A hebat sekali." Puji Akhyar kepada Arsyla dan mengusap-usap puncak kepala Arsyla. Memperhatikan lembaran kertas yang diberikan Arsyla kepada nya. "Kalau Arsyad?" Tanya Akhyar yang dijawab Arsyad kalau yang ditunjukkan Arsyla adalah nilai ulangan harian. Sedangkan kelasnya tidak sedang melaksanakan ulangan harian hari itu.
"Papa A, Syla boleh minta hadiah, nggak?" Tanya Arsyla dengan wajah semangat cerianya.
"Boleh dong. Memangnya Arsyla mau minta hadiah apa?" Akhyar yang mencubit manja pipi Arsyla.
"Besok kan hari minggu, Arsyla ingin ke makam Daddy. Arsyla kangen banget sama Daddy. Besok papa A ikut ya. Papa A libur kerja kan kalau hari Minggu?" Pinta Arsyla kepada Akhyar.
"Oh, tentu. Papa A akan antar kamu, Arsyad dan mommy mu kemana pun kalian mau. Mau ke makam Daddy, ke rumah Oma Olivia, ke rumah adek Arkan. Kemanapun sayang, kemanapun Arsyla mau pergi. Papa A siap untuk tuan putri yang cantik anak mommy Zahrin." Akhyar dan Arsyla yang kemudian tertawa.
Sepanjang perjalanan pulang, Arsyla juga bertanya terkait kaki mommy nya yang sudah dipijit kan atau belum. Apakah kaki mommy nya masih sakit atau sudah sembuh? Karena Arsyla khawatir kalau kaki mommy nya kenapa-napa dan mommy nya terjatuh itu gara-gara mencari dia dan Arsyad.
Usai mengantar Zahrin dan anak-anak nya pulang. Tidak sengaja Akhyar melewati toko perhiasan. Melihat sepasang cincin cantik sepasang, membuat hati Akhyar tergerak mendekati. Akhyar masih berdiri lama memandangi sepasang cincin cantik tersebut. Menyembunyikan kedua tangan nya pada saku celana, memperhatikan betul-betul cincin tersebut dengan seksama.
Sedikit ragu namun Akhyar memutuskan untuk membeli nya. Entah mengapa jantungnya deg-degan nggak karu-karuan, padahal dia belum ada wacana bahkan keberanian untuk melamar Zahrin kembali.
"Rin, maukah kamu jadi istriku lagi?" Lirih Akhyar yang memperagakan kala berhadapan dengan Zahrin nanti. Setelahnya Akhyar merasa kata-kata itu kurang pas dan mencoba dengan kata-kata lain sampai-sampai Akhyar tampak frustasi. Akhyar yang kemudian menyimpan kembali sepasang cincin itu. Mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan nya. Menyandarkan kepalanya dengan wajah kusut mengingat tak ada keberanian sedikitpun dari Akhyar sebenarnya.
"Terus mau sampai kapan kamu akan begini, Akhyar?" Lirih Akhyar kembali, yang merasa dirinya pecundang.
Bersambung