Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Pingsan Sekejap
"Greta!" teriak Arion panik.
Arion langsung berlari mendekati putrinya. Greta tidak sadarkan diri saat Arion mengangkat tubuh kecil itu ke dalam pelukannya.
Para pelayan segera menyingkir. Beberapa menunduk, beberapa melirik dengan wajah tegang.
Tidak ada yang berani bertanya. Thaddeus berjalan di sisi lain, menopang Chelyne yang kembali terlihat lemah setelah batuk panjang itu.
Di sepanjang lorong, bisik-bisik mulai lagi seperti bayangan yang merayap di dinding.
"Putri Greta tiba-tiba pingsan."
"Tadi banyak kupu-kupu berhamburan."
"Sepertinya putri kerajaan tidak bisa diharapkan."
Bahkan saat Greta pingsan pun tetap saja masih ada bisik-bisik dari pelayan.
Orang-orang mungkin lebih mempercayai mitos dari pada mencari tahu yang sebenarnya.
Di kamar, Arion membaringkan putrinya dengan hati-hati. Selimut ditarik sampai dada. Wajah Greta tetap pucat, napasnya teratur tapi dangkal, seolah ia sedang berada di tempat yang sangat jauh.
Chelyne duduk di sisi ranjang, tangannya gemetar saat menyentuh pipi anaknya.
"Ya Tuhan..."
"Apa yang terjadi padamu, sayang?" isak Chelyne.
Arion berdiri di kaki ranjang, tangannya terkepal. Ia memandang Greta seperti mencoba memastikan bahwa anak itu benar-benar ada di sana, bukan menghilang seperti kupu-kupu kaca yang tadi berhamburan keluar castle.
"Grace," katanya tanpa menoleh. "Buatkan air hangat."
Grace yang berdiri tak jauh dari pintu sedikit tersentak. Ia segera menunduk.
"Baik, Yang Mulia."
Saat ia berbalik pergi, seekor kupu-kupu kaca melintas rendah di dekat bahunya. Grace berhenti sejenak, refleks melangkah mundur.
Sayap bening itu berkilau sesaat sebelum terbang menjauh. Tidak ada yang memperhatikan reaksi Grace kecuali Thaddeus.
Tatapan Thaddeus mengeras, tapi ia tidak berkata apa-apa.
...****************...
Waktu berjalan lambat. Satu jam terasa seperti dua jam. Greta belum juga membuka mata. Pelayan keluar-masuk dengan langkah hati-hati.
Chelyne tidak beranjak dari sisi ranjang. Arion berdiri di dekat jendela, kembali pada posisi yang sama seperti sebelumnya, tapi kali ini tatapannya tidak kosong.
Grace kembali membawa cangkir air hangat. Uap tipis mengepul.
"Ini, Yang Mulia." katanya pelan.
Chelyne mengangguk. Arion mendekat, mengangkat kepala Greta sedikit agar ia bisa minum saat sadar nanti.
Tak lama setelah itu, satu kupu-kupu kaca masuk melalui jendela yang sedikit terbuka. Tidak berputar-putar dan tidak berhamburan. Ia terbang lurus, hinggap sebentar di tepi ranjang, lalu mengepak pelan di dekat wajah Greta.
Kelopak mata Greta bergerak.
"Greta?" panggil Chelyne cemas.
Beberapa detik kemudian, mata itu terbuka. Greta tidak terkejut. Seolah ia hanya bangun dari tidur yang terlalu dalam.
"Ibu," gumamnya.
Chelyne langsung memeluknya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh. Arion menghela napas panjang. Akhirnya Ia lega melihat putrinya kembali sadar.
Kupu-kupu kaca itu terbang pergi, keluar dari kamar, seolah tugasnya selesai.
"Pelan-pelan," kata Arion. "Minum sedikit."
Greta menurut. Ia menyesap air hangat yang disodorkan ayahnya. Tidak ada rasa pahit. Tidak ada reaksi aneh. Setelah beberapa teguk, warna wajahnya perlahan kembali.
"Kau pusing, sayang?" tanya Chelyne.
Greta menggeleng.
"Apa yang kau rasakan sebelum pingsan?" Arion bertanya, suaranya rendah, berusaha tenang.
Greta berpikir sejenak. "Mereka ribut."
"Siapa?" tanya Arion.
Greta menoleh ke jendela. "Kupu-kupu."
Chelyne mengusap rambut anaknya.
"Sayang, kau mungkin kelelahan. Banyak hal terjadi hari ini."
"Tapi mereka bilang ibu belum sembuh," ucap Greta polos.
Ruangan hening seketika.
"Itu tidak benar," kata Chelyne, meski suaranya sedikit goyah.
"Ibu sudah jauh lebih baik." lanjutnya
"Kupu-kupu bilang ibu bohong," lanjut Greta tanpa maksud menyakiti.
"Ibu tidak bohong, sayang. Tapi ibu belum sembuh."
Kebohongan itu memunculkan batuk lagi. Chelyne langsung batuk tapi hanya dua kali.
Arion mengernyit, mengapa kejadian ini terasa tepat.
"Greta, manusia tidak bisa mendengar serangga." ujar Arion
Greta menatap ayahnya, bingung.
"Tapi aku dengar."
"Itu hanya imajinasimu, Greta" Arion berkata, lebih lembut.
"Kau anak kecil, kau tadi pingsan. Kadang pikiran bisa membuat cerita."
Greta terdiam. Ia tidak membantah. Tidak menangis. Hanya menunduk, seolah menyimpan sesuatu yang tidak tahu harus ia jelaskan dengan kata apa.
Chelyne menarik Greta ke dalam pelukannya lagi.
"Yang penting kau baik-baik saja."
Di sudut ruangan, Thaddeus berdiri dengan pikiran yang tidak tenang. Ia mengingat momen-momen tadi.
Kupu-kupu berhamburan saat Greta bicara. Batuk ibunya reda saat tangan Greta menyentuhnya. Dan kini, kupu-kupu datang lalu pergi tepat sebelum Greta sadar.
Semua itu terlalu tepat untuk disebut kebetulan.
"Ayah," ujar Thaddeus akhirnya.
"Tadi... kupu-kupu itu datang sebelum Greta bangun."
Arion menoleh. "Itu hanya serangga."
"Mungkin," jawab Thaddeus pelan.
"Tapi mereka selalu datang saat Greta ada."
Arion tidak menjawab. Ia tidak ingin memperpanjang hal yang menurutnya tidak masuk akal. Tapi muncul keraguan sudah terlanjur ada dipikirannya.
Grace berdiri tak jauh dari pintu. Wajahnya kembali tenang, tapi tangannya saling menggenggam erat. Ia menghindari jendela. Menghindari simbol-simbol kaca di dinding.
Grace merasa castle ini tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya.
Greta kembali berbaring. Matanya mulai berat.
"Ibu," katanya pelan. "Kalau aku dengar mereka lagi...aku bilang, ya."
Chelyne mengangguk, meski tidak benar-benar mengerti.
"Tidurlah."
Greta memejamkan mata.
...****************...
Di luar jendela, kupu-kupu kaca kembali terlihat, terbang pelan di udara sore. Kupu-kupu itu tidak masuk ke kamar, mereka hanya berterbangan disekitaran castle.
"Yang Mulia. Saya izin ke belakang." ujar Grace
"Ya, silakan. Terima kasih, Grace." balas Arion
Grace perlahan keluar dari kamar Arion dan Chelyne. Ia kembali ke belakang, tempat dimana Ia biasa membuat ramuan untuk Chelyne.
"Grace, apakah putri sudah sadar?" tanya salah datu pelayan perempuan
"Sudah." jawab Grace singkat.
"Apa kau tau mengapa tadi tiba-tiba banyak kupu-kupu yang berhamburan?" tanya pelayan perempuan itu
Grace berpikir sejenak. Tidak masuk akal jika kupu-kupu kaca itu terbang berhamburan dicastle tadi.
"Aku juga tidak tahu." jawab Grace
"Tapi aku merasa Putri Greta memang selalu membuat masalah." bisik pelayan perempuan itu.
Grace tersenyum perlahan. Memang, bagi Grace juga Greta adalah anak pembawa sial.
"Tapi aku akui mata heterochromia Putri Greta itu benar-benar cantik." ujar pelayan perempuan itu.
"Kecantikan belum tentu membawa keberuntungan" jawab Grace dengan wajah mengernyit.
Tanpa mereka sadari, ternyata Thaddeus mendengar pembicaraan mereka. Bahkan pelayan lain pun membenci putri kerajaan.
Tadinya Thaddeus melihat didepan pintu kamar orang tuanya ada satu ekor kupu-kupu kaca seolah-olah memanggil Thaddeus untuk memberi tahu sesuatu.
Tanpa berpikir panjang, Thaddeus pun mengikuti kupu-kupu itu. Dan disitulah Ia mendengar pembicaraan Grace dan pelayan perempuan lain.