NovelToon NovelToon
Kapan Cinta Datang?

Kapan Cinta Datang?

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Evelyn12

"Menikah tentulah merupakan hal yang sangat didambakan seseorang. Apalagi menikah dengan orang yang kita inginkan dan kita cintai."

" Namun, bagaimana jika kamu menikah atas dasar keterpaksaan? Disisi lain, kamu ingin melihat orang tua mu bahagia, tapi disisi lain kamu masih terjebak dimasa lalu. Seolah cintamu sudah habis dimasa itu."

"Menjalani semuanya tanpa perasaan cinta. Akankah berakhir bahagia? Atau justru malah menambah masalah baru untuk aku... dan juga dia..."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Evelyn12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan Dipendam Sendiri

Suara deringan telpon memecah keheningan. Naina yang baru saja melihat keberangkatan Dimas bergegas mengambil handphone nya. Tertera nama Sofia di layar.

"Halo, Mbak. Assalamu'alaikum." Ucap Naina saat mengangkat telpon itu.

"Waalaikumsalam. Halo, Nai." Jawab Sofia lembut. "Gimana kabar kamu?" Sambungnya.

"Alhamdulillah, baik. Mbak. Mbak apa kabar?"

"Alhamdulillah, baik juga. Maaf pagi-pagi nelpon, soalnya Mbak kangen banget sama kamu, Nai. Kenapa tidak pernah mengabari Mbak?"

Naina tertawa kecil, "Maaf, Mbak. Sebenarnya pengen juga mengabari, tapi takut Mbak lagi sibuk."

"Haduh! Jangan canggung gitu. Mbak suka khawatir sama kamu. Gimana keadaan kamu sekarang? Gimana hubungan kalian sejauh ini, apakah baik-baik aja?"

Naina diam sesaat.

"Aku dan mas Dimas baik-baik saja, Mbak. Alhamdulillah tidak ada hal-hal yang tidak mengenakan selama ini."

"Syukurlah kalau begitu. Mbak seneng banget dengernya. Tapi, beberapa hari lalu, mas Tony bilang ketemu mas Dimas lagi nongkrong padahal sudah larut. Mbak jadi kepikiran sama kamu, Nai."

"Ah, i--iya, Mbak. Mas Dimas hari itu sudah izin sama aku untuk nongkrong." Naina yang kebingungan sengaja berbohong yang tentu saja untuk membuat tenang hati Sofia. Tapi didalam hatinya yang paling dalam penuh tanda tanya. "Nongkrong? Bukannya mas Dimas selalu bilang, kalau dia ada lembur?" Batin Naina.

"Oh. Yaudah. Mbak senang denger kamu baik-baik saja. Kadang Mbak suka kepikiran, tapi gak enak hati jika terlalu banyak pertanyaan."

"Mbak jangan banyak pikiran, kasian dedek yang didalam perut. Mbak tenang saja pokoknya. Aku baik-baik saja."

"Baiklah, Nai. Kamu jaga diri, ya. Bilang sama Mbak kalau ada apa-apa. Mbak ini adalah kakak kamu. Jangan segan kalau mau cerita-cerita."

"Mbak juga. sehat-sehat sekeluarga. Terimakasih banyak Mbak selalu perhatian sama aku." Mata Naina berbinar, air mata menggenang di sana. Sebelum air mata itu jatuh, ia segera mengusapnya. ia terharu, dibalik beban pikiran yang ia pikul, ada beberapa orang yang perhatian dan peduli padanya, mertuanya dan juga sepupunya Sofia.

"Iya, Nai. Sama-sama." Jawab Sofia. Dalam hati ia merasa lega. Apa yang mengganjal dalam hati selama ini terjawab sudah. Kekhawatirannya pada Naina mereda setelah mendengar langsung dari mulut sepupunya itu.

Sesaat kemudian, telepon itu terputus.

Naina duduk di sofa, ia menggenggam erat teleponnya dengan pikiran melayang. Didalam hatinya masih bertanya-tanya.

"Apakah selama ini mas Dimas sengaja menghindari ku?" Tanya Naina pada diri sendiri. Raut sedih terukir di wajahnya.

"Tapi setidaknya, akhir-akhir ini mas Dimas selalu pulang cepat, kan? Aku berharap, ini salah satu usaha mas Dimas untuk memperbaiki rumah tangga ini." Hibur Naina pada diri sendiri.

***

Sore,

Sinar matahari mulai mereda, tidak sepanas tadi siang. Angin bertiup pelan membawa dedaunan kering turun ke tanah. Banyak anak-anak mulai keluar rumah untuk bermain. Ada yang bermain sepeda, bermain sepatu roda, dan lain sebagainya. Komplek ini ramai, wajar saja anak-anak pun ramai.

Naina duduk di teras rumah. Ia sengaja duduk disana untuk menunggu Dimas pulang sekaligus memperhatikan anak-anak yang sedang bermain yang menjadi hiburan tersendiri untuknya.

Mata Naina tertuju pada gadis kecil yang sedang bermain sepatu roda. Terlihat sangat pandai, ia bergerak kesana-kemari seolah sengaja membuat seorang yang mengikutinya kewalahan. Sosok gadis kecil yang tidak asing.

Naina lantas berjalan ke arah pagar, ia ingin melihat lebih dekat.

"Kimmy!" Panggil Naina dengan senyuman sembari melambaikan tangan.

Kimmy yang mendengar panggilan itu lantas menghampiri. Ia berhenti tepat di depan Naina.

"Halo, Tante!" Balas Kimmy sumringah. Senyum khas yang memperlihatkan barisan giginya serta mata yang menyipit sempurna.

"Kamu hebat sekali bermain sepatu rodanya. Tante sangat kagum!" Puji Naina.

"Makasih, Tante. Ini Kimmy masih belajar. Soalnya, Kimmy masih suka terjatuh."

"Uh! Hati-hati, ya." Naina memasang wajah khawatir. Ia mengelus pelan kepala Kimmy.

Lalu gadis yang sedari tadi mengikuti Kimmy datang. Ia tersenyum pada Naina.

"Sore, Mbak. Saya Tika, pengasuhnya Kimmy." Sapa gadis muda itu ramah. Ia terlihat ngos-ngosan saat tiba disana.

"Iya, sore." Balas Naina. "Mbak tidak apa-apa?" Tanya Naina kemudian sembari memperhatikan.

"Huhu capek sekali." Jawab Susi sembari memegangi pinggangnya.

Kimmy tertawa menutup mulutnya melihat pengasuhnya itu. Naina melihat ke arah kimmy, ia menggelengkan kepala serta menggoyangkan jari telunjuknya.

"Kimmy pelan-pelan saja mainnya. Kasian mbaknya sampai kelelahan mengejar."

"Iya, Tante." Jawab Kimmy. "Maaf, ya Sus." Ucapnya kemudian.

"Nah, gitu. Anak baik." Lagi-lagi Naina mengusap lembut kepala Kimmy membuat gadis kecil itu terlihat sangat nyaman.

"Yaudah, ayo kita pulang. Sudah sore, saatnya mandi." Ajak Tika.

"Oke, Sus."

Kimmy dan pengasuhnya berpamitan pada Naina.

"Jumpa lagi, Tante!" Ucap Kimmy melambaikan tangan dan melaju dengan sepatu rodanya. Kali ini ia berjalan lebih pelan, di ikuti Tika disebelahnya.

"Iya, jumpa lagi." Balas Naina.

Sesaat kemudian, mobil Dimas tiba. Naina yang memang sudah menunggu bergegas menyambut Dimas.

"Assalamu'alaikum." Ucap Dimas

"Waalaikumsalam, Mas." Naina menjawab dan menyalami tangan suaminya itu dan mengambil tas kerja Dimas.

"Kamu kok sumringah sekali?" Tanya Dimas heran saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah.

"Ada anak tetangga, Mas. Dia cantik dan juga lucu. Baru dua kali aku bertemu dengannya, tapi rasanya sukaaa sekali." Jawab Naina

"Oh, iya?"

"Em. Semoga nanti kita punya anak seperti itu, ya Mas." Naina melirik Dimas. Pria itu terdiam, tanpa menjawab sepatah katapun. Ada raut wajah yang sulit di jelaskan.

"Aku... mandi dulu." Balas Dimas kemudian. Ia meninggalkan Naina dan masuk ke kamarnya.

Naina hanya diam menatap. Ia hanya bisa menghela nafas pelan saat Dimas hilang dari pandangannya.

1
pojok_kulon
Kamunya setia belum tentu dia yang disana juga setia sama kamu Dim 🤭🤭
pojok_kulon
Duh gemasnya
pojok_kulon
Pasti Dimas menunggu cinta pertamanya ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!