NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:33.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 18

Langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu VIP.

Satu detik hening.

Lalu—

DOR!

Peluru menembus gagang pintu. Kayu meledak serpihannya.

“Turun!” Jay menarik Anna ke lantai, menutup tubuhnya dengan tubuhnya sendiri.

Pintu didobrak.

Empat pria bersenjata masuk dengan gerakan terlatih. Bukan preman klub. Bukan bayaran murahan. Mereka bergerak seperti tim taktis—formasi segitiga, dua di depan, dua menutup sisi.

Jay menggeram pelan.

“Drew, sekarang!”

Lampu kembali padam sepersekian detik. Tapi kali ini para penyerang sudah siap. Senter taktis menyala, membelah gelap.

Jay membalas tembakan.

DOR! DOR!

Satu pria tersentak mundur, bahunya tertembus. Namun dua lainnya langsung membalas. Kaca dinding pecah. Botol minuman meledak berantakan.

Anna menutup telinganya, napasnya tak terkontrol.

“Pegang aku dan jangan lepaskan,” bisik Jay.

Ia menggandeng Anna ke arah pintu darurat belakang. Namun lorong itu sudah dijaga.

Dua pria lagi muncul dari tangga.

Jay terjebak.

DORR!

Ruang sempit. Anna di belakangnya. Peluru semakin dekat. Satu peluru menyerempet lengan Jay.

SREG!

Darah mengalir tipis di jas hitamnya. Pria itu tak bergeming. Namun jumlah mereka terlalu banyak.

“Serahkan wanitanya!” salah satu pria berteriak. “Kau bukan target utama!”

Tatapan Jay berubah membeku.

“Kalau begitu kalian datang ke tempat yang salah.” Jay menembak lagi—peluru terakhir.

Klik.

Kosong.

Langkah kaki mendekat.

Dan di saat itulah—

DOR! DOR! DOR!

Tiga tembakan dari arah tangga.

Satu penyerang tumbang. Dua lainnya refleks berlindung.

Sosok tinggi muncul di ujung lorong, pistol terangkat mantap.

Drew.

Wajahnya tenang. Terlalu tenang untuk situasi seperti ini.

“Tuan,” katanya santai tanpa menoleh, “saya rasa pesta amalnya pindah ke sini.”

Jay menyeringai tipis.

“Kau lama.”

“Aku harus membereskan sisa tikus di atas.”

Drew melangkah maju, menembak presisi. Ia tidak asal melepaskan peluru. Setiap tembakan memaksa musuh mundur beberapa langkah.

Namun mereka masih banyak.

“Tuan… Bawa nona Anna turun lewat lift servis!” teriak Drew. “Saya akan tahan mereka!”

“Tidak, kau masih terluka.” jawab Jay tegas.

“Tuan! Keselamatan Nona Anna jauh lebih penting.” Kata Drew.

Peluru kembali menghujani lorong. Dinding berlubang. Alarm kebakaran menyala. Asap tipis mulai memenuhi udara.

Anna memegang lengan Jay.

“Apa yang terjadi? Kenapa mereka ingin aku?!” Jay tak menjawab.

Karena ia mulai menyadari kebenaran yang lebih buruk— Ini bukan sekadar ancaman untuk menantangnya. Ini strategi untuk menguji siapa yang akan ia pilih.

Kekuasaan sebagai penerus Jackman atau wanita itu.

Drew mundur selangkah, menembak lagi. Salah satu pria jatuh. Tapi peluru Drew juga hampir habis.

“Tuan Pergi!” teriaknya.

Jay menatapnya sepersekian detik. Tatapan yang tak perlu banyak kata.

Drew mengangguk kecil.

Keputusan dibuat.

Jay menarik Anna menuju lift servis. Pintu besi dibuka paksa. Mereka masuk.

Tepat sebelum pintu menutup—

DOR!

Peluru menghantam dinding dekat kepala Drew. Ia tak bergerak. Ia justru melangkah maju. Mengangkat pistolnya dengan satu tangan. Senyumnya tipis.

“Kalau mau dia,” katanya pelan pada para penyerang, “kalian harus lewat aku dulu.”

Pintu lift tertutup.

Jay dan Anna turun ke parkiran bawah tanah. Suara tembakan masih terdengar samar di atas.

Anna menatap Jay dengan campuran takut dan kebingungan.

“Kau siapa sebenarnya?”

Jay menatap pintu lift yang tertutup rapat.

Rahangnya mengeras.

“Pria yang tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu.”

Namun jauh di atas mereka— Suara tembakan belum berhenti. Dan Jay tahu. Drew mungkin baru saja membeli waktu— Dengan nyawanya.

Lift servis terbuka dengan denting keras di parkiran bawah tanah. Jay menarik Anna keluar, langkahnya cepat namun terukur. Darah di lengannya hanya goresan. Tatapannya tetap setajam biasanya.

Di atas— Suara tembakan berubah pola. Bukan lagi tembakan panik. Itu ritme. Itu perhitungan. Drew tidak sedang bertahan. Ia sedang berburu.

Lantai tiga kini dipenuhi asap tipis dari sistem pemadam otomatis yang aktif sebagian. Para penyerang bergerak hati-hati.

Kesalahan pertama mereka adalah mengira Drew sendirian. Kesalahan kedua… mengira ia terpojok. Satu pria melangkah melewati pilar—

DOR.

Tepat di lutut.

Jeritan memecah lorong.

Drew muncul dari balik sudut, mengambil senjata pria itu sebelum tubuhnya menyentuh lantai. Gerakannya bersih. Efisien. Tanpa emosi.

“Formasi pecah!” teriak salah satu penyerang.

Terlambat. Lampu darurat berkedip. Bayangan Drew menghilang dan muncul lagi di sisi berbeda.

Dua tembakan. Dua tubuh jatuh. Ia tidak membuang peluru. Ia tidak membuang waktu.

Sementara itu—

Di parkiran bawah tanah, tiga pria lain sudah menunggu di dekat pintu keluar. Mereka tahu Jay akan turun.

Begitu Jay muncul—

DOR! DOR!

Peluru memantul di kap mobil.

Jay mendorong Anna berlindung di balik SUV hitam.

“Diam di sini,” perintahnya rendah.

“Kau terluka—”

“Hanya goresan kecil.”

Jay memeriksa magazine cadangan yang tersembunyi di pinggangnya. Masih penuh. Satu napas. Lalu Jay bergerak.

Ia tidak maju lurus. Ia memutar melalui deretan mobil, memanfaatkan kaca dan tiang beton sebagai pantulan bayangan.

Satu penyerang mencoba mengejar— Jay muncul dari sisi tak terduga.

DOR.

Pria itu tumbang. Dua lainnya panik dan menembak membabi buta. Jay memanfaatkan suara itu. Saat salah satu reload— Ia meluncur rendah di lantai beton, menembak ke arah kaki lawan.

Jeritan.

Senjata terlepas.

Tersisa satu.

Pria terakhir mundur, jelas tak menyangka targetnya bukan tipe pria sosialita yang hanya bisa berdiri di panggung amal. Dia benar-benar anak Jackman sang penerus.

Jay berdiri perlahan.

“Siapa yang mengirim kalian?” tanyanya dingin.

Pria itu ragu sepersekian detik. Kesalahan fatal.

Jay menembak tepat di bahunya. Pria itu jatuh dan tak lagi mampu bergerak.

Sunyi.

Hanya suara alarm kebakaran dan napas Anna yang masih gemetar.

Beberapa detik kemudian, langkah mantap terdengar dari tangga darurat.

Drew turun.

Jasnya sedikit berdebu. Satu memar di pelipis. Tapi langkahnya stabil.

“Lantai tiga bersih,” katanya ringan. “Mereka bukan kelas berat.”

Jay menatapnya.

“Kau terlalu lama.”

Drew mengangkat bahu. “Maaf tuan saya menikmati pemanasannya.”

Anna memandang keduanya bergantian. Wajahnya pucat.

“Kalian ini siapa sebenarnya…?” suaranya hampir berbisik.

Jay menoleh padanya. Untuk pertama kalinya malam itu, tidak ada kemarahan di matanya. Hanya ketegangan yang tertahan.

“Kami bukan orang yang mudah ditumbangkan nona,” jawab Drew.

Jay menambahkan dengan nada datar, “Dan yang mengirim mereka… jelas belum memahami itu.”

Sirene polisi mulai terdengar di kejauhan. Jay menatap pintu keluar parkiran. Ini bukan serangan acak. Tim terlatih. Server dibersihkan. Pengawal Anna disabotase rapi. Seseorang dengan sumber daya besar. Dan cukup dekat untuk membaca langkahnya.

Jay membuka pintu mobil dan membantu Anna masuk.

Sebelum ia menutup pintu, Anna mencengkeram lengan jasnya.

“Kau mengawasiku, bukan?” tanyanya lirih. Jay terdiam.

Jawaban itu ada di matanya. Dan Anna menyadarinya. Bukan sekadar kebetulan. Bukan sekadar pahlawan misterius. Ia memang selalu ada di sekitarnya. Jay menutup pintu mobil perlahan.

Lalu menatap Drew.

“Ini belum selesai.” Drew menyeringai tipis.

“Bagus. Aku juga belum puas.”

Mobil melaju keluar dari parkiran tepat saat sirene semakin dekat. Di atas gedung klub yang kini kacau

———

Seseorang berdiri di balkon apartmen melihat bangunan club malam mewah dan memandangi mobil-mobil yang terlihat seperti titik-titik cahaya.

Ia tidak panik. Ia justru tersenyum. Karena malam ini bukan tentang membunuh Jay atau membunuh gadis itu. Hanya tentang memastikan satu hal. Bahwa Jay memang punya titik lemah.

Balkon itu sedikit gelap. Hanya cahaya lampu kota yang memantul tipis di lantai marmer hitam.

Sosok pria itu berdiri tenang, satu tangan di saku, tangan lainnya memegang gelas kristal.

Seorang pria lain berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Tuan Zavier… semua sudah terkonfirmasi. Jay turun tangan sendiri. Meninggalkan acara amal, dan meninggalkan acara pengukuhannya sebagai penerus Tuan Jackman. Jay Bukan hanya mengirim orang. Ia yang memimpin.”

Hening sepersekian detik.

Lalu—

Tawa rendah terdengar. Pelan. Tajam.

“Hahahaha… Seorang Jay. Menyelamatkan gadis rendahan.”

Ia meneguk minumannya perlahan.

Bersambung

1
Arifgreenday
lnjut
samiya
next
May Maya
tuh akibat org ngeyel bgtu Anna Jay GK perlu harum manis dia tuh butuh nya kau n kepatuhan mu skrg dah kyak bgni yg susah Jay blm lg kau jg akan d sakiti hadehhhhh Jay yg sabar ya
wiliss
ngiyiill
graver el mubarak
lanjut
celline
lnjut
gogled
sioop
higdominos
upp
bambangsans
up
lalisafajr
next
johanna
upp lg
Bluekastil
yup
Yuyun
upp
Javiz
next
Laura
lnjut
ppok
upp
@emak aisyah
mampuss siksa sekalian,di bilangin ngeyel,males banget aku Ama orng yang di kasih perhatian malah sok berkuasa segala baik² saja ternyata,rugi sendiri kan Anna² wanita sialan
eva nindia
ngeyel bngett deh anna pdhal klo mau beli nnti z breng am jay 🙈
tpi bgitu la wanita 😅🤭
siapa ni yg nyulik anna, zavier kah atwa si penelepon misterius 🤔
gak kebyang semurka apa c jay skrg...
thor hayu up lagiii 😁
May Maya
Bagus
May Maya
cari masalah n penyakit sendiri ini si namanya ana hrusnya kau bs memahami situasi Jay saat ini kejadian saat d apartemen Jay kan bisa buat mu takut n tau kondisi nya sperti apa sampai2 Jay membawa mu k mention yg jauh agar kau aman eh skrg kau malah ingin pergi k tempat umum d mna para penjahat bs memburu mu sbgai kelemahan jay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!