"Aku akan selalu mencintaimu, tapi ketika kau mengkhianati aku, di saat itulah aku akan pergi." Yasmin
"Aku hanya sekali melakukan kesalahan, tolong maafkan aku dan beri aku kesempatan." Jacob
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku baik-baik saja
Keesokan paginya...
Yasmin sudah bangun sebelum matahari menampakan sinarnya, seperti hari-hari sebelumnya, pagi itu Yasmin mengawali harinya dengan memasak sarapan pagi untuk Jacob sang suami tercinta.
"Ara, sedang apa kamu di sini?"
Tapi betapa terkejutnya Yasmin ketika melihat Ara sudah lebih dulu berada di dapur, bahkan Ara sudah mempersiapkan bahan untuk memasak beberapa menu makanan untuk sarapan mereka bertiga hari ini.
"Selamat pagi Dokter Yasmin, maaf aku membuatmu terkejut." Ucap Ara dengan senyumnya yang lebar.
"Aku merasa tidak enak karena sejak kemarin dokter Yasmin terus melayani aku, jadi hari ini aku ingin membalas kebaikan dokter Yasmin dengan membuatkan sarapan." Lanjut wanita yang tengah mengandung itu.
"Tidak perlu merasa sungkan, Ara. Karena memuliakan tamu merupakan tugas tuan rumah." Ucapan Dokter Yasmin seakan mengingatkan Ara kalau dirinya hanyalah tamu di rumah ini. Senyum di wajah Ara meremang.
"Kenapa banyak sekali bahan makanan di atas meja? Memangnya kamu mau masak apa, Ara?" Yasmin tidak enak hati melihat wajah sedih Ara, Yasmin bermaksud untuk mengalihkan perhatian.
"Rencananya aku akan membuat nasi goreng ati ampela dan juga bakwan jagung Dokter." Seru Ara antusias.
"Tapi makanan itu mengandung banyak lemak Ara, tidak baik untuk kesehatan." Yasmin menegur Ara karena makanan yang akan di masak wanita itu mengandung banyak minyak, dan tentunya tidak baik untuk kesehatan.
"Sudahlah, kamu tunggu saja di meja makan. Biar aku yang memasak." Yasmin mengambil alih kembali dapur dari tangan Ara.
"Yasmin benar Ara, sebagai seorang tamu harusnya kamu tidak sembarangan menggunakan dapur milik orang lain, karena bagi Yasmin dapur adalah ruang privasinya." Ucap Dokter Jacob yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Yasmin.
Ara terlihat kecewa mendengar ucapan Dokter Jacob, yang seakan memihak pada istrinya. Namun Ara hanya bisa memendam perasaan itu dalam hati. Matanya memerah sedikit, tapi Ia cepat menunduk agar tidak terlihat. Sakit di hati Ara semakin bertambah saat Dokter Jacob memeluk sang istri dari belakang. Seakan keberadaan dirinya tidak dianggap sama sekali oleh sepasang suami istri itu.
"Sayang, mau aku bantu memotongkan sayurnya?" kata Jacob sambil menggesekan dagunya di bahu sang istri.
"Tidak usah sayang, bukannya kamu ada jadwal operasi pagi ini? Lebih baik kamu mandi saja." Yasmin mengingatkan.
"Astaga aku lupa lagi! Entah apa jadinya aku tanpa dirimu." Jacob menepuk kepalanya sendiri, kemudian bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Yasmin hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ceroboh sang suami. Tapi senyuman tetap mengembang di wajah cantiknya.
Kemudian Yasmin mengalihkan pandangannya ke arah Ara, wajah wanita itu terlihat murung. "Apa sikapku terlalu keras pada Ara?" Batinnya. Yasmin merasa tidak enak hati.
"Ara, apa kamu mau membantu aku memotong sayuran?" tanya Dokter Yasmin dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya.
Ara hanya mengangguk perlahan, lalu kakinya melangkah perlahan ke arah Dokter Yasmin. Tangan Ara meraih pisau yang tergeletak di atas meja, kemudian menggenggam pisau untuk memotong sayur tersebut dengan sangat erat. Di dalam hatinya, Ara membayangkan Ia menjadi nyonya di rumah ini menggantikan Yasmin, bibirnya tersenyum miring.
Yasmin terus memasak dengan gerakan cepat, mengacuhkan Ara yang berdiri diam di sudut dapur. Entah sedang memikirkan apa? Yasmin tak mau terlalu banyak bicara lagi, takut menyinggung perasaan wanita itu.
30 menit kemudian sarapan akhirnya siap, bubur ayam dengan aroma yang segar, telur orak-arik tanpa banyak minyak, serta sayuran rebus. Sudah tertata rapih di atas meja.
Ketiganya sudah duduk di meja makan. Dokter Jacob dan Dokter Yasmin sibuk bertukar cerita tentang pasien yang mereka tangani di sela makan pagi mereka. Sedangkan Ara hanya mendengarkan keduanya dalam keheningan yang menyakitkan.
Setelah selesai makan, Yasmin berdiri dari kursinya.
"Aku akan membuatkan teh untuk kalian." Ucap Dokter Yasmin, kaki jenjangnya berjalan menuju arah dapur.
"Biar aku bantu Dokter Yasmin." Ara mengikuti langkah Dokter Yasmin dari belakang. Dokter Yasmin hanya tersenyum, tidak melarang ataupun mengiyakan keinginan Ara.
Yasmin mengambil 3 cangkir dari dalam lemari, kemudian mengisinya dengan teh tubruk dan juga sedikit gula.
"Biar aku saja Dokter." Ara merebut teko berisikan air panas dari tangan Yasmin, Yasmin yang tidak siap kehilangan keseimbangannya sehingga teko berisikan air panas tersebut tumpah dan mengenai keduanya.
Ara dan Yasmin merintih kesakitan.
"Kau tidak papa?" Dokter Jacob berjalan menghampiri Yasmin dan Ara dengan wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja kok, hanya luka kecil saja." Yasmin membersihkan pahanya yang terkena tumpahan air panas.
"Kau ini ceroboh sekali! Kenapa tidak membiarkan Yasmin saja yang melakukannya? Kenapa selalu ingin ikut campur? Kalau kau sampai terluka bagaimana?" Dokter Jacob meraih tangan Ara yang memerah karena luka bakar, meniupnya dengan penuh perhatian.
Bersambung...