Ririn tidak menyangka, nasibnya akan seperti ini. Setelah kedua orang tuanya meninggal, Seluruh kekayaan Orang tuanya di curi Akuntan keluarganya, dan Akuntan itu kabur keluar negri.
Rumahnya di sita karena harus membayar hutang, dan sekarang Ririn harus tinggal di rumah Sahabat Anggie.
Anggie menawarkan pekerjaan kepada Ririn sebagai Disagner di perusahan IT ternama, tanpa Ririn tau ternyata perusahan IT itu milik mantan pacarnya Baskara, yang punya dendam kesumat sama Ririn.
Apa yang akan terjadi dengan Ririn akan kah dia bertahan dengan pekerjaannya karena kebutuhan, Atau kah dia akan menemukan cinta yang lama yang sempat terputus karena salah paham
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rita Sri Rosita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Terdalam
Hari itu Baskara sengaja datang ke rumah neneknya, keluarga Purwadinata, sambil ditemani Ririn suasana langsung tegang begitu mereka memasuki ruang tamu yang luas dan mewah.
Nenek Baskara segera berdiri begitu melihat mereka.
“Baskara! Apa maksud mu datang ke sini? Dan wanita ini nenek tidak menerimanya di sini,”
Bima, om Baskara, ikut bangkit, wajahnya memerah.
“Kamu berani-beraninya! Keluar sekarang! Dan jangan harap kamu jadi penerus perusahaan keluarga kami!”
Baskara tersenyum tipis, menatap mereka dengan santai.
“Penerus? Perusahaan kalian mau bangkrut, tapi masih membanggakan kekayaan kalian?”
Ririn menatapnya tegang, tapi tetap diam Baskara melanjutkan, suaranya rendah tapi tegas,
“Aku cuma ingin kalian tahu satu hal.”
Dia menatap neneknya dan pamannya, matanya tajam.
“Aku berbeda dengan Ayah ku, seorang anak manja yang membuat hidup ku dan ibu menderita.”
Baskara menoleh ke arah Ririn sebentar, senyumnya tipis.
“Bukan ibuku yang beruntung, tapi anak laki-laki kalian yang beruntung menikahi ibu ku,.”
Dia menekankan di setiap kata-katanya.
“Dan sekarang aku memilih seorang wanita yang nggak punya apa-apa, sama seperti ibu ku,”
Baskara kembali menatap nenek dan pamannya,
“Aku bukan orang miskin, Aku kaya raya dan aku memilih dia bukan untuk kepentingan ku," Kata Baskara masih menatap mereka tajam.
"Bukan karena status tapi karena dia berbeda dari semua orang yang kalian anggap penting.”
Baskara menggenggam tangan Ririn lalu berlalu dari hadapan Nenek dan pamannya langkahnya mantap saat meninggalkan ruang tamu.
“Selamat menikmati sisa hidup kalian dengan ‘sampah’ warisan itu,” gumamnya pelan sambil melangkah pergi.
Ririn menatap Baskara kagum dan sedikit rasa takut, tetapi juga lega.
Baskara tak hanya melindunginya dia berhasil menunjukkan pada keluarga Purwadinata bahwa mereka bukan siapa-siapa di hidupnya.
Mereka masuk kedalam mobil, Ririn menatap wajah Baskara yang tampak letih dan bekas luka di hatinya tak benar-benar bisa sembuh.
“Bapak baik-baik saja, kan?” ucap Ririn pelan, masih menatapnya penuh perhatian.
Baskara hanya tersenyum tipis, matanya seakan menyimpan banyak cerita.
“Mereka semua menghina dan merendahkan ibu,” suaranya hampir menghilang.
Ririn terdiam, masih menatap baskara mencoba mengerti apa yang di rasakan Baskara.
“Sekarang saya mengerti, kenapa anda seperti itu pak.”
Baskara menatap Ririn tajam, suara pelan tapi tegas.
“Dan kamu tahu, Ririn keluargamu, ibu mu membuat aku semakin mati rasa.”
Ririn memunduk, hatinya perih ada sedikit penyesalan di wajahnya.
“Mamah sudah pergi, sekarang dia hanya ingin yang terbaik untukku,” jawabnya lirih.
Baskara mendekat, menatap Ririn dalam.
“Kamu harus menebus dosanya,” kata Baskara suara nyaris berbisik.
Ririn terkejut, dia menarik tubuhnya menjaga jarak.
“Apa maksudmu?” tanya Ririn suara bergetar.
Baskara mencondongkan tubuhnya lebih dekat menutup jarak.
“Kamu harus jadi, milik ku selamanya,” katanya sambil menekankan kata-katanya dengan ciuman.
Ririn tak bisa menolak dia hanya terdiam, membiarkan itu terjadi di dalam hatinya, pertanyaan itu terus berulang.
Kenapa, setiap Baskara melakukannya, aku tak bisa menolak?”
Setelah itu suasana jadi canggung Ririn terdiam dan Baskara fokus menyetir.
Dan sesampainya di apartemen, Baskara langsung terkapar di atas sopa badannya terlihat lemah.
“Jangan pulang Rin,” kata Baskara dengan nada lemah.
Ririn menaruh tangan di kening Baskara.
“Bapak demam, Bapak harus ke rumah sakit," kata Ririn tampak cemas.
"Aku hanya butuh minum obat, dan kamu," sela Baskara.
Ririn menghela napas panjang memikirkan permintaan Baskara
“Baiklah, tapi kalau setelah minum obat panasnya nggak turun kita ke rumah sakit,” kata Ririn sambil duduk si sebelah Baskara.
Baskara mengangguk lemah.
"Bapak pasti belum makan," Ririn menebak, Baskara hanya tersenyum
Tanpa banyak bicara Ririn pergi ke dapur lalu membuat kan bubur untuk Baskara
Baskara masuk kedalam kamarnya dan berbaring di atas tempat tidurnya memejamkan mata.
sementara Ririn menyiapkan bubur hangat dan membawanya ke kamar Baskara, lalu menyuapinya perlahan Baskara tersenyum, menikmati perhatian dari Ririn.
“Aku mau sakit terus kalau begini,” katanya, setengah menggoda.
Ririn menghela napas masih menyuapi Baskara dengan sabar.
“Jangan suka ngomong sembarangan, Pak.”
Baskara terkejut, sedikit sewot.
“Kamu masih manggil aku ‘Pak’?”
“Biasanya juga begitu,” jawab Ririn datar.
Tiba-tiba Baskara nyeletuk nyeleneh.
“Aku mau mandi air hangat, tapi mau dimandiin sama kamu.”
Mata Ririn membelalak. dia meletakkan mangkuknya dan hendak pergi Baskara menyadari reaksi Ririn.
“Eh, aku bercanda," katanya sambil meraih pergelangan tangan Ririn.
"Bantu aku siapin air panas, aku mau mandi,” katanya dengan nada manja.
"Tapi minum obatnya dulu," kata Ririn sambil menuangkan obat pereda panas.
Tanpa pikir panjang Baskara menuruti permintaan Ririn.
“Sepertinya nggak ada perubahan, aku tetap pelayan bapak, Dan anehnya, aku selalu menuruti perintah bapak,” Ririn nyerocos sambil memegang kening Baskara mengukur suhu tubuhnya.
"Bukan pembantu, kamu calon istri ku," ucap Baskara sambil tersenyum menatap Ririn.