Kenzo Huang, pria keturunan Jepang&Cina yang terjebak dalam kasus palsu perdagangan barang ilegal, memasuki penjara dengan hati hampa dan sering diintimidasi oleh geng dalam tahanan. Sampai suatu hari, dia diselamatkan oleh Lin Dong – seorang tahanan yang ditangkap karena membela adik perempuannya, Lin Xian Mei. Meski berbeda latar belakang, mereka menjalin persahabatan yang seperti saudara kandung, berbagi cerita tentang keluarga dan harapan masa depan.
Demi membalas kebaikan Lin Dong, Kenzo Huang berjanji untuk mencari jejak dan menjaga adik serta ibu nya.
Dalam perjalanan mencari jejak sang adik Lin Dong, Kenzo Terlibat organisasi dunia bawah Shehua dan menjadikannya pembunuh bayaran yg di kenal dengan sebutan Shadow Of Death
(update setiap hari)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr.Mounyenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.20 — KOTA HITAM BAI MA
Kenzo dan Xiu Zhu pun sampai di sebuah kota. Di mana kota tersebut terlihat sangat sepi. Kendaraan yang melintas dapat dihitung dengan jari. Tiga mobil dalam satu jam. Sepuluh motor. Dua truk. Kota mati. Kota yang tidur di siang bolong.
Mereka pun menghentikan mobilnya di sebuah hotel di kota tersebut. Mereka melangkahkan kakinya ke dalam hotel. Langkahnya pelan. Menyatu dengan debu dan keheningan.
"Xiu, jaga sikapmu. Dan jangan melakukan gerakan mencurigakan."
"Aku tahu."
Bisik Xiu Zhu. Suaranya pelan. Hampir tak terdengar. Tapi Kenzo mendengar. Telinganya terlatih.
Karena menyadari bahwa mereka berdua sedang diawasi, Kenzo pun mulai berusaha mengingat hal-hal yang bisa membuatnya mengeluarkan emosi. Wajah Lin Dong. Wajah Xian Mei. Wajah Yue Yan. Semua yang dia coba lindungi. Semua yang dia coba tinggalkan.
"(Hei, kenapa kau diam?)"
Bisik Xiu Zhu kepada Kenzo. Yang tiba-tiba memejamkan matanya. Seolah tidur. Seolah mati.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya."
"Apa yang bisa aku lakukan."
"Kami ingin menginap."
Ucap Xiu Zhu kepada resepsionis hotel. Suaranya tegang. Terlalu tegang.
"Baiklah, bisa saya lihat identitas Anda?"
"(Psst... psst... Ken... Kenzo...)"
Bisik Xiu Zhu kepadanya. Sambil menyikut pinggang Kenzo. Namun Kenzo tak bergeming sedikit pun. Matanya masih tertutup rapat. Napasnya pelan. Teratur. Seolah tak ada di dunia ini.
"Hehehe... sebentar."
Ucapnya kepada resepsionis. Tangan kanannya meraih dompet. Tapi dompet kosong. Tidak ada identitas palsu. Tidak ada cadangan.
Tiba-tiba angin berhembus. Dari mana, tak ada yang tahu. Suasana mulai mencekam. Seolah ada yang menarik napas dari ruangan ini. Seolah ada yang mengintai dari bayangan.
"A-ada apa ini?!"
Xiu Zhu pun mulai menatap sekelilingnya. Tangan kirinya meraih pistol di balik jaket. Tapi terlambat.
"Mengapa tubuhku merinding??"
Ucap resepsionis. Gadis muda, kurus, takut. Dia merasa. Dia tahu. Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Kenzo membuka matanya. Perlahan. Seperti harimau yang bangun dari tidur. Seperti maut yang tiba.
Xiu Zhu terkejut saat melihat tatapan tajam Kenzo. Dan melihat kornea matanya berubah. Bukan merah darah. Bukan metafora. Tapi lebih gelap. Lebih dalam. Lebih tak berjiwa. Napasnya memburu. Bagaikan hewan buas yang menemukan mangsa. Bagaikan monster yang akhirnya dilepaskan.
Tiba-tiba Kenzo bergerak. Dengan cepat. Menuju ke tiang penyangga bangunan hotel. Yang berlapiskan emas palsu. Dan mencengkram wajah pria. Yang sembari tadi mengawasi mereka. Dari sudut. Dari bayangan. Dari kamera pengintai.
Kenzo dengan sekuat tenaga menghantam wajahnya ke tiang penyangga tersebut. Bunyi brak yang keras. Hingga darah menyebar ke sekitar. Hingga gigi-giginya berserakan di lantai. Pria itu tak sempat berteriak. Tak sempat melawan. Hanya terkejut. Hanya mati.
Tak berhenti sampai di situ. Kenzo kembali bergerak. Mengikuti insting pemburuan nya. Melesat ke dinding sudut ruangan. Tempat seseorang lagi bersembunyi. Di balik tirai. Di balik meja. Tak ada yang bisa bersembunyi dari monster.
Kenzo menarik pria tersebut. Lalu melemparkannya ke udara. Dengan sangat cepat, Kenzo melompat ke arah pria tersebut. Dan menyarangkan lututnya ke dada. Mendorong tubuhnya yang melayang di udara ke lantai. Hingga lantai hotel tersebut retak. Dan pecah. Membuat serpihan lantai berterbangan. Debu naik. Suara ambruk menggema.
Gadis resepsionis hotel yang melihat itu mundur ketakutan. Dan berteriak kencang. Dan berlari dari lobby hotel. Teriakan yang pecah di kota sepi. Teriakan yang tak akan ditolong.
Xiu Zhu yang melihat Kenzo untuk pertama kalinya seperti itu tak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya gemetar. Dan ketakutan luar biasa melanda komandan pasukan khusus tersebut. Dia terlatih. Dia profesional. Tapi ini bukan manusia. Ini bukan target. Ini monster yang hidup.
"K-Kenzo... K-Kau M-Monster...?!!!"
Setelah tak mendapati buruan lain, Kenzo terdiam. Namun matanya bergerak. Melihat sekeliling ruangan lobby hotel itu. Mencari. Menghitung. Menunggu.
Ritme pernapasan mulai melambat. Mata gelapnya mulai memudar. Kembali ke coklat biasa. Kembali ke manusia. Tapi sesuatu yang lain tetap ada. Di dalam. Menunggu.
"Hebat... sangat-sangat mengagumkan."
Tiba-tiba muncul dari arah pintu masuk lobby, seseorang. Dengan pakaian casual. Rambut tersisir rapi ke belakang. Bertepuk tangan. Seolah menonton pertunjukan. Seolah menyambut tamu.
Kenzo yang mulai tersadar menoleh ke arah pria tersebut. Tubuhnya masih tegang. Tangan kanannya masih berdarah. Tapi dia tersenyum. Senyum dingin.
"Perkenalkan, namaku Hong Feng. Walikota Bai Ma."
Menyodorkan tangannya. Mengajak bersalaman. Seolah tak ada yang baru saja terjadi. Seolah darah di lantai adalah hiasan.
"Kenzo."
"Kenzo Huang."
Meraih tangannya. Menerima jabat tangan Hong Feng. Genggaman yang sama kuatnya. Genggaman yang sama berbahayanya.
"Ah... Kenzo... sang misterius yang mendapatkan julukan Shadow of Death."
"Pagi ini aku mengetahui dari media. Pembunuhan berantai yang terjadi di provinsi Hei Nan adalah ulah dari dirimu."
Kenzo hanya memasang wajah dingin. Menanggapi ucapan Hong Feng. Tak ada penyangkalan. Tak ada pengakuan. Hanya diam. Hanya senyum.
"Apa karena itu kau datang ke Bai Ma?"
"Aku dengar Bai Ma adalah kota hitam yang tak terjamah hukum."jawab Kenzo datar "Jadi memang benar tujuan ku kemari adalah untuk menghindari polisi,"lanjutnya.
"Bagus... bagus sekali... jadi... siapa dia?"
Menatap ke arah Xiu Zhu. Yang masih terduduk di lantai. Yang masih gemetar. Yang tak berdaya.
"Apa gadis tersebut datang denganmu?"
"Dia adalah Huang Yin. Adik sepupuku."
"Ah... jadi begitu."
"Selamat datang di Bai Ma."
"Aku sangat senang menerima kedatangan seorang yang kejam dan berhati dingin seperti mu."
"Resepsionis... sediakan kamar untuk mereka beristirahat."
"Perbincangan ini kita lanjutkan esok hari."
"Silahkan menikmati kehidupan di Bai Ma."
"Hahahahaha..."
Sembari tertawa, Hong Feng meninggalkan lobby hotel. Tawa yang menggema. Tawa yang menakutkan. Tawa yang mengundang.
"Kau, apa yang kau lakukan duduk di lantai seperti itu."
"Apa yang aku lakukan??"
"Kau sadar dengan ucapanmu?"
"Apa maksudmu?"
"T-Tuan... I-Ini K-Kartu akses ke K-Kamar anda."sela resepsionis tersebut
Dengan tangan gemetar, gadis resepsionis tersebut menyerahkan kartu kamar untuk Kenzo. Wajahnya pucat. Matanya tak berani menatap.
"Baik, terima kasih nona."
Kenzo mengambil kartu tersebut. Dan mendekatkan wajahnya ke resepsionis. Sambil memegang dagu gadis tersebut menggoda.
"Aromamu sangat wangi. Boleh aku memakanmu?"
Mendengar ucapan Kenzo, gadis tersebut mundur. Menjauhi Kenzo. Dan jatuh terduduk. Karena salah menafsirkan perkataan Kenzo. Karena takut. Karena kota ini telah mengajarkannya untuk takut.
"J-Jangan-jangan M-Makan A-Aku..."ucap Resepsionis itu sambil berlari meninggalkannya.
"(Ada apa dengannya? Kenapa dia ketakutan?)"
"(Apa perkataanku salah?)"
Pikirnya dalam hati. Melihat gadis tersebut ketakutan. Dia lupa. Lupa bahwa dirinya sekarang adalah monster. Lupa bahwa kata-katanya adalah ancaman.
"Ken...!!!"
"Jangan menggoda gadis itu!!"
Xiu Zhu pun menarik lengan Kenzo. Menjauhi gadis tersebut. Tangan kecil tapi kuat. Tangan yang bergetar tapi berani.
"Hei... pelan-pelan... kau membuatku hampir terjatuh."
Mereka pun pergi. Menuju kamar mereka. Lorong panjang. Lampu redup. Bau karat dan semen.
"Apa maksudmu memberi ku nama Huang Yin?!"
"Lalu apa kau akan memakai nama Xiu Zhu sang komandan pasukan khusus?"
"Dan membiarkan mereka membakar kita hidup-hidup?!"
"B-Bukan itu maksudku."
Xiu Zhu tertunduk. Saat melihat tatapan Kenzo. Dan mengingat kembali kejadian di lobby hotel. Monster yang bangun. Monster yang sekarang tidur lagi.
"Kau telah berjanji kepada ku akan menuruti ucapanku dan perintahku."
"Jadi sebaiknya kau diam."
Ucapnya sambil melepaskan pakaiannya di hadapan Xiu Zhu. Jaket. Kemeja. Celana. Tangan kanannya berdarah. Luka bekas. Luka baru saat tiba di kamar.
"A-apa yang kau lakukan?!!"
"Apa??"jawab Kenzo ketus.
"Tentu saja aku akan pergi mandi."
"Kau pikir tubuhku tak kepanasan memakai pakaian rangkap dua?"
Xiu Zhu duduk di ranjang. Dan memalingkan wajahnya. Saat Kenzo mulai melepaskan celananya. Dan hanya memakai boxer hitam. Tubuh atletis. Penuh luka. Peta kekerasan. Peta kehidupan.
Sesekali dia melirik ke arahnya. Dan menelan ludah.Karena gairah. Pada seseorang yang bertahan. Pada seseorang yang hidup di neraka.
Kenzo pun masuk ke dalam kamar mandi. Dan menghidupkan shower. Suara air mengalir. Menutupi semua suara.
Xiu Zhu mendengar aliran shower. Dan pikirannya melayang. Terbayang tubuh Kenzo. Luka yang lebih banyak daripada miliknya. Luka yang menceritakan kisah. Dia meremas lututnya. Dan memainkan jari-jarinya.Karena gugup.
Pikirnya mulai tak menentu. Berkali-kali dia menelan ludahnya sendiri. Membayangkan sesuatu di balik suara guyuran shower.
Beberapa saat kemudian, Kenzo pun keluar dari kamar mandi. Menuju keranjang. Hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang. Air menetes. Tubuh basah. Luka terlihat lebih jelas.
"H-Hei...?!!"
"Apa?"
"K-Kau akan tidur di ranjang??"
"Menurutmu?"Kenzo naik keatas ranjang hanya berbalut handuk.
"Kau...!!!"
"Tidur di bawah!!"
"Tidak mau."Xiu Zhu bangkit dari duduknya
Kenzo membalikkan tubuhnya. Membelakangi Xiu Zhu. Tangan kanannya mengusap luka di perut. Luka tembak. Luka yang belum sembuh.
"K-Kau...!!"
"Tidur di ranjang. Jika kau keberatan, silahkan tidur di lantai."
Xiu Zhu dengan kesal meninggalkan Kenzo. Dan masuk ke dalam kamar mandi. Air dingin. Menenangkan. Menghapus pikiran.
Setelah selesai mandi, Xiu Zhu pun mulai menyisir rambutnya. Lalu mengeringkan rambutnya yang terurai. Dengan menggunakan hair dryer. Sambil memandangi Kenzo yang tertidur pulas. Melalui cermin rias. Seolah tak ada yang terjadi. Seolah monster itu hanya mimpi.
"Pria brengsek!!"
Gerutu Xiu Zhu. Tapi senyumnya tipis. Karena dia masih hidup. Karena misi masih berjalan.
Setelah selesai mengeringkan rambutnya, Xiu Zhu melangkah menuju ke ranjang. Dia terdiam sejenak. Merasa ragu untuk berbaring di ranjang. Di samping monster. Di samping pelindung.
"Sial... sial..."
Ucapnya kesal.
"Ah biarlah."
Xiu Zhu pun naik ke atas ranjang. Dan membaringkan tubuhnya. Di samping Kenzo yang terlelap. Jarak beberapa inci. Napas yang berbeda. Tapi sama-sama berbahaya.
...$ BERSAMBUNG $...