NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Terlahir Kembali: Membuang Pengkhianat

Status: sedang berlangsung
Genre:Hari Kiamat / Ruang Ajaib / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:184.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yulianti Azis

Naomi Allora mati membeku di tengah bencana cuaca ekstrem setelah dikeluarkan dari bunker oleh orang tua kandung dan tunangannya sendiri, dikorbankan demi anak angkat keluarga Elios, Viviane. Padahal Naomi adalah anak kandung yang pernah tertukar sejak kecil dan rela meninggalkan keluarga angkatnya demi kembali ke darah dagingnya, namun justru ditolak dan dibuang.

Diberi kesempatan kedua sebelum kiamat memusnahkan umat manusia, Naomi bangkit dengan ingatan penuh dan bantuan sistem. Kali ini, ia memilih keluarga angkat yang benar-benar mencintainya, mempersiapkan diri menghadapi bencana, mengumpulkan pengikut, dan membalas pengkhianatan. Dari kehancuran dunia lama, Naomi membangun peradaban baru sebagai sosok yang tak lagi bisa dikorbankan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mengganti

Naomi berdiri di depan gerbang besar keluarga Atlas, melambaikan tangan kepada ketiga sahabatnya yang masih berada di dalam mobil.

“Terima kasih sudah mengantarkanku,” ucap Naomi sambil tersenyum. “Masuklah dulu. Kita minum teh sebentar.”

Sonya yang duduk di kursi pengemudi menoleh dan tersenyum lembut. Namun sebelum ia sempat menjawab, Timmy sudah lebih dulu menyahut dengan wajah dramatis.

“Tidak, tidak. Aku tidak mau masuk,” katanya cepat. “Di dalam sana ada harimau ganas. Aku masih ingin hidup.”

Yura langsung menahan tawa. “Harimau ganas apanya? Itu cuma Kak Max.”

Timmy menggeleng mantap. “Justru itu. Tatapannya saja sudah cukup membuatku merasa seperti mangsa.”

Naomi mengerutkan keningnya. “Kalian ini berlebihan sekali.”

Sonya terkekeh pelan. “Maaf, Na. Lain kali saja, ya. Kami juga masih ada urusan.”

Naomi akhirnya mengangguk. “Baiklah. Hati-hati di jalan.”

“Iya. Kamu juga jangan macam-macam,” balas Yura sambil tersenyum penuh arti.

Mobil Sonya perlahan meninggalkan gerbang Atlas. Naomi memandangi mereka hingga kendaraan itu menghilang di tikungan, lalu ia berbalik dan melangkah masuk ke halaman luas mansion.

Begitu memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti.

Barang-barang belanjaan yang tadi dikirim lebih dulu telah memenuhi hampir seluruh ruangan. Kardus pakaian, kotak makanan, perlengkapan, semuanya tertata rapi namun jumlahnya memang tidak sedikit.

Di tengah ruangan, Nyonya Arumi dan Tuan Bastian sudah duduk menunggunya.

“Naomi,” panggil Nyonya Arumi lembut.

Naomi langsung menegakkan tubuhnya. “Ma … Pa .…”

Tuan Bastian menatap tumpukan barang itu lalu kembali pada Naomi. “Boleh Papa tahu, untuk apa semua ini?”

Naomi meringis kecil, mengira orang tua angkatnya marah. “Maaf, Pa … Ma … Naomi mungkin terlalu banyak membeli.”

Nyonya Arumi buru-buru menggeleng. “Bukan begitu maksud Mama. Kami tidak marah. Mama hanya ingin tahu, kamu berencana apa?”

Tuan Bastian menimpali dengan nada tenang, “Apakah kamu ingin menyumbang ke panti asuhan? Atau ingin membuka usaha kecil? Kalau itu rencananya, Papa bisa membantu menyiapkannya.”

Naomi terdiam sejenak. Ia menatap kedua orang tua angkatnya itu dengan ragu.

“Bukan untuk itu, Ma, Pa,” ucapnya pelan.

“Kemudian untuk apa?” tanya Nyonya Arumi, keningnya sedikit berkerut.

Naomi menggigit bibir bawahnya. Ia jelas tidak mungkin mengatakan tentang badai salju besar yang akan datang. Tentang dunia yang akan berubah.

Akhirnya ia berkata pelan, “Ma … Pa … percaya pada Naomi?”

Tanpa berpikir panjang, keduanya langsung mengangguk.

“Tentu saja,” jawab Tuan Bastian tegas.

“Kami selalu percaya padamu,” tambah Nyonya Arumi lembut.

Naomi menarik napas panjang. “Kalau begit, biarkan Naomi menyimpan semua ini. Naomi yakin, semua barang ini akan sangat berguna di masa depan.”

Keduanya saling pandang sebentar. Tidak ada keraguan di mata mereka, hanya rasa percaya.

“Baik,” kata Tuan Bastian akhirnya.

“Kalau itu keinginanmu, Mama dan Papa mendukung,” ujar Nyonya Arumi.

Senyum Naomi mengembang lega. “Terima kasih, Ma. Terima kasih, Pa.”

Baru saja suasana menjadi hangat, pintu utama kembali terbuka.

Maximilian Atlas masuk dengan langkah panjang. Jas mahal masih melekat rapi di tubuhnya, meski rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja melepas ikatan formalitas setelah hari yang panjang. Aura dinginnya tetap kuat, membuat ruangan terasa berbeda.

Naomi tanpa sadar menahan napas sesaat.

Ding!

Tiba-tiba suara Sila terdengar di sampingnya, berbisik pelan, [“Tampan sekali, bukan, Tuan? Ayo, Nona, jatuh cintalah sedikit saja.”]

Naomi langsung menggelengkan kepala kecil.

“Dasar Sila,” gumamnya dalam hati.

Gerakan kecil itu tidak luput dari perhatian Max. Ia mengerutkan keningnya. “Kamu kenaap? Pusing?”

Naomi tersentak. “Tidak … tidak apa-apa.”

Tatapan Max kemudian beralih pada tumpukan barang di ruang tamu. “Semua ini milik siapa?”

Nyonya Arumi menjawab santai, “Milik Naomi. Katanya ingin disimpan.”

Max kembali menatap Naomi sejenak. Tatapannya dalam, sulit ditebak.

“Hm.” Ia hanya mengangguk singkat. “Pastikan tersusun rapi.”

“Baik,” jawab Naomi cepat.

Tanpa berkata lagi, Max berjalan menuju tangga dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.

Setelah ia menghilang dari pandangan, Nyonya Arumi tersenyum pada Naomi. “Kamu juga sebaiknya beristirahat. Bersihkan diri dulu.”

“Iya, Ma.”

Naomi menatap sekali lagi barang-barang yang memenuhi ruang tamu itu. Dalam hatinya, ia berjanji semuanya akan menjadi penyelamat saat waktunya tiba.

Dengan langkah mantap, ia berjalan menaiki tangga menuju lantai atas.

*

*

Malam itu suasana mansion Atlas terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Lampu-lampu taman menyala lembut, sementara dari lantai dua, cahaya ruang kerja Maximilian masih tampak terang.

Naomi berdiri di depan pintu ruang kerja itu sambil membawa secangkir latte hangat—minuman favorit Max. Ia menarik napas pelan sebelum akhirnya mengetuk pintu.

Tok!

Tok!

Tok!

“Masuk!” terdengar suara berat dan tenang dari dalam.

Naomi membuka pintu perlahan. Max sedang duduk di balik meja kerjanya yang besar, membaca laporan dengan ekspresi datar seperti biasa. Jasnya sudah dilepas, menyisakan kemeja putih yang lengannya tergulung rapi, terlihat tangannya yang kekar.

Naomi melangkah mendekat dan meletakkan cangkir di samping tangannya.

“Latte-mu, Kak,” ucapnya pelan.

Max melirik sekilas ke cangkir itu, lalu menatap Naomi. “Ada apa?”

Naomi tersenyum kecil, tetapi jelas terlihat ragu. Tangannya saling bertaut di depan tubuhnya.

“Tidak ada apa-apa,” jawabnya cepat.

Max menutup map laporan dengan tenang. “Naomi.” Ia menegakkan punggungnya. “Katakan saja.”

Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup membuat Naomi merasa tidak mungkin berbohong.

Naomi menghela napas pelan. “Mobil pemberian Kak Max … rusak parah.”

Tangan Max yang semula hendak mengambil cangkir latte itu terhenti sesaat. Namun wajahnya tetap datar. Ia memang sudah mengetahui laporan itu sejak sore tadi. Ia hanya menunggu Naomi mengatakannya sendiri.

“Siapa yang melakukannya?” tanyanya tenang.

Naomi menunduk sedikit. “Carlos dan Viviane.”

Sorot mata Max berubah lebih tajam, meski suaranya tetap stabil. “Bagaimana bisa?”

“Saat aku keluar dari kampus mobilku sudah rusak kak,” jawab Naomi jujur.

Max terdiam beberapa detik. “Lalu?”

Naomi semakin tidak enak. “Tapi … aku juga sudah menghancurkan dua mobil mereka.”

Alis Max terangkat tipis. “Oh?”

“Aku tidak bisa menahan diri,” ucap Naomi pelan. “Aku marah.”

Ruang kerja itu hening sejenak.

Kemudian Max bersandar di kursinya. “Itu tidak sebanding.”

Naomi langsung mengangkat wajahnya. “Maksudnya?”

“Harga mobil milikmu jauh lebih mahal,” jawab Max tenang. “Dua mobil mereka tidak menutup kerugian.”

Naomi tercekat. “Aku tidak memikirkan soal harga.”

Max mengambil latte-nya dan menyesapnya perlahan. “Tidak apa-apa. Nanti aku ganti.”

Naomi langsung menggeleng cepat. “Tidak perlu, Kak. Aku tidak enak. Itu salahku juga.”

“Aku tidak suka penolakan,” potong Max singkat.

Naomi terdiam.

“Atau,” lanjut Max pelan, menatapnya lurus, “kamu mau mengganti mobil itu?”

Naomi mengernyit. “Mengganti dengan uang? Aku bisa—”

“Bukan dengan uang,” sela Max.

Naomi menegang. “Lalu dengan apa?”

Sudut bibir Max terangkat tipis, nyaris tak terlihat. “Nanti aku beri tahu.”

Jantung Naomi berdetak lebih cepat. “Kak Max .…”

Max meletakkan cangkirnya kembali di meja. Tatapannya berubah dingin ketika ia mengingat nama Carlos dan Viviane.

“Lain kali, kalau ada yang merusak milikmu hancurkan sekalian dengan orangnya saja,” katanya santai.

Naomi membeku. “Kak .…”

“Aku tidak bercanda,” lanjutnya tenang. “Kalau mereka berani menyentuhmu, mereka harus siap menanggung akibatnya.”

Naomi menatap Max cukup lama. Di balik wajah datarnya, ia tahu pria itu benar-benar marah.

Namun entah mengapa, bukannya takut, Naomi justru merasa aman.

“Aku tidak ingin membuat masalah lebih besar,” ucap Naomi pelan.

Max menatapnya dalam. “Masalah sudah ada sejak mereka menyentuhmu.”

Suasana kembali hening.

Akhirnya Naomi mengangguk kecil. “Baiklah. Tapi lain kali, aku akan lebih berhati-hati.”

“Bukan berhati-hati,” koreksi Max. “Lebih tegas.”

Naomi tersenyum tipis. “Baik, Kak.”

Max kembali membuka laporannya. “Sudah malam. Istirahatlah.”

Naomi berbalik menuju pintu. Namun sebelum keluar, ia menoleh sekali lagi. “Terima kasih karena selalu di pihakku.”

Max tidak mengangkat kepala, tetapi jawabannya terdengar jelas. “Aku selalu di pihakmu.”

Naomi menutup pintu perlahan. Di dalam ruang kerja itu, Max terdiam beberapa detik sebelum akhirnya mengambil ponselnya.

Matanya kembali dingin.

Besok, seseorang harus belajar bahwa menyentuh milik Maximilian Atlas bukanlah pilihan yang bijak.

1
Sribundanya Gifran
lanjut
SENJA
naaah mantabs max 🤣
SENJA
owalaaah 😤
SENJA
ihhh males banget melihara kaya ginian isssh 😤
SENJA
huhhh murahan sangaaaat 🤣🤣🤣
vj'z tri
akhir nyaaaaaaa /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
kenapa gak jatuh beneran sih biar akoh senang /Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
vj'z tri
selesai masalah di tangan max /Angry//Angry//Angry//Angry/
vj'z tri
sabar max sabar /Determined//Determined//Determined//Determined/
Nor Azlin
kenyataan itu pahit untuk di dengarkan yah ...bodoh amat tidak sedikit pun curiga sama sekali ni orang...Coba untuk sekali ini kamu lihat & dengar mengenai nya apa salah nya ayo Max tunjukkan bukti pada nya pasti kamu punya tu kannn😂😂😂lanjutkan thor
Nor Azlin
sifat asli seseorang itu akan terlihat masa dewasa nya yah kerana itu adalah sifat yang di turunkan oleh keluarga asli nya ...Vivian bukan dibesarkan sedari bayi tapi sudah belita kerana orang tua nya kemalangan mobil maka mereka mati di rumah sakit sebelum mati dia menyuruh kedua suami isteri Elios untuk menjaga nya yah...nah pada kemana kerabat keluarga nya si Vivian pasti ada kan ...mustahil banget kalau satu pun keluarga nya tidak ada sama sekali yah CK CK CK pasti ada koperasi di dalam nya kan ...kemungkinan orang tua Vivian sudah merencanakan itu yah atau sebalik nya aku pun penasaran ni bagai mana cerita nya deh😂😂 lanjutkan thor
Cindy
lanjut
syh 03
di kira seorang max ga bisa mukul perempuan..klo perempuanya kya ular betina viviane..emang pantas di gampar ampai keok 😆
Nor Azlin
aku rasa di maafkan aja tapi tidak dengan Vivian nya ...walau bagai mana pun mereka orang tua yang melahirkan nya ...namun dengan itu jangan memaafkan mereka demi kedua kakek nenek nya Naumi ...perkara yang menakutkan orang adalah dimaafkan tapi tidak diakui oleh anak sendiri itu lebih menyakiti nya itu bagi hukuman yang pantas ...buat Vivian biar keluarga Elios yang membuangkan nya kalau mereka memilih nya maka mereka tidak mendapat tempat di kalangan orang-orang yang ingin selamat yah...tapi bagi aku biarkan aja keluarga nya membusuk deh kalau masih membawa anak angkat nya itu ...bagi aja kakek nenek mu tempat biar mereka hidup bahagia bersama dengan mu 😂😂😂itu pendapat aku yah peribadi ...lanjutkan thor
Arbaati
kapokmu kapan
Kusii Yaati
nah kan kena gampar sama max, terlalu kepedean sih... tubuh max itu terlalu mahal untuk di sentuh sama yang murahan kayak elo... sakit nggak seberapa tapi malunya luar biasa, udah di tolak di depan umum kena gampar pula 🤣🤣🤣🤣
Atalia
mampus kau vivian 😂😂😂
Silla Okta
babang max emang the best,,, gak mungkin tergoda sama ulet keket,,,,, 🤣🤣🤣🤣🤣 next Thor
≛⃝⃕|ℙ$ Ŋบ𝑟ļịãŊã ᴍ͜͡s͜͡𝆺𝅥⃝©🍃
🤣🤣 Tumaan 🤣🤣 dipuskn berpa pri tuh 😤
Eka Haslinda
babang Max Seraaamm 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!