Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di balik dinding kayu
Dunia di rumah Nenek adalah dunia yang sempit, pengap, dan penuh dengan aturan yang tidak pernah tertulis namun harus dipatuhi dengan rasa takut. Rumah panggung itu, yang seharusnya menjadi pelindung, perlahan berubah menjadi penjara bagi jiwaku yang masih sangat kecil. Saat itu aku baru duduk di bangku kelas tiga SD. Tubuhku kurus, kulitku seringkali kusam karena debu jalanan dan getah jambu monyet yang menjadi teman setiaku setiap sore.
Di rumah ini, aku dan Bayu hanyalah "penumpang". Meskipun Ayah adalah anak laki-laki tertua, di mata ketiga paman kami tidak lebih dari sekadar pengungsi. Mereka selalu memandang kami dengan tatapan yang mengatakan bahwa setiap butir nasi yang kami telan adalah beban bagi mereka. Tanah tempat rumah ini berdiri bukan milik Ayah, dan kenyataan pahit itu seringkali dilemparkan ke wajah kami saat ada perselisihan kecil.
"Ingat ya, kalian itu cuma menumpang di sini!" Itulah kalimat yang paling sering kudengar dari paman-pamanku.
Namun, bukan hanya rasa tidak memiliki yang menyiksaku. Ada sesuatu yang lebih gelap, sesuatu yang terjadi di siang hari yang sangat sunyi, yang akan mengubahku selamanya.
Hari itu adalah hari Sabtu. Matahari tepat berada di atas kepala, membakar genteng tanah liat rumah Nenek hingga udaranya terasa menyesakkan. Nenek belum pulang dari pasar, Paman sedang memancing, dan Bayu sedang asyik bermain bola di lapangan desa. Aku sendirian di rumah, sedang menjemur kain-kain toge di belakang rumah. Tanganku masih berbau tanah dan getah hitam karena baru saja pulang mencari besi tua.
Lalu, terdengar suara pagar bambu yang dibuka.
Seorang pria dewasa, tetangga yang selama ini dianggap "orang baik" oleh keluarga kami, berdiri di sana. Wajahnya ramah, jenis keramahan yang menipu semua orang dewasa di desa kami. Dia bertanya apakah Paman ada di rumah. Dengan polos, aku menjawab bahwa aku sendirian.
Aku tidak tahu bahwa kejujuranku akan menjadi undangan bagi petaka.
Dia menarik tanganku. Tenaganya tidak kasar di awal, tapi sangat menekan. Aku ditarik masuk ke dalam rumah. Ruang tengah yang remang-remang itu mendadak terasa seperti mulut raksasa yang siap menelanku. Suara kunci yang diputar klik adalah suara paling menyeramkan yang pernah kudengar. Suara itu seolah memutus hubunganku dengan dunia luar yang aman.
"Jangan berisik, May. Nanti Om kasih uang," bisiknya. Suaranya rendah, penuh dengan ancaman yang dibalut kelembutan palsu.
Di siang yang sunyi itu, di atas lantai kayu yang berdebu, sesuatu yang sangat berharga dalam diriku dicuri paksa. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Di usiaku yang sembilan tahun, aku hanya merasa takut yang luar biasa. Aku merasa mual. Aku mencoba berteriak, tapi tangannya yang kasar membungkam mulutku. Aku mencoba meronta, tapi tenagaku tidak ada artinya di depan pria dewasa itu.
Aku hanya bisa menatap langit-langit kayu, menghitung retakan di sana, sambil memohon dalam hati agar Nenek atau siapapun segera pulang. Tapi langit tetap bisu. Hanya ada suara jam dinding yang berdetak, menyaksikan kehancuranku dalam diam.
Setelah semuanya berakhir, dia mengancamku. "Kalau kamu bilang siapa-siapa, Pamanmu bakal pukul kamu karena masukin laki-laki ke rumah. Kamu mau disiksa?"
Aku menggeleng lemah. Rasa takutku pada kemarahan keluarga lebih besar daripada rasa sakit fisikku. Maka, aku memilih diam. Aku mencuci bajuku sendiri di sumur belakang dengan tangan gemetar, menggosoknya sekuat tenaga seolah bisa menghapus kejadian itu dari kulitku. Tapi aku tahu, noda itu tidak akan pernah hilang. Ia meresap ke dalam jiwaku.
Sejak siang itu, aku bukan lagi Maya yang ceria. Aku tumbuh menjadi anak yang sangat "pengertian" dan penurut. Aku merasa diriku sudah kotor, sudah punya aib, jadi aku harus menebusnya dengan menjadi anak yang paling rajin. Aku tidak ingin membuat kesalahan sedikit pun karena aku takut jika aku nakal, orang-orang akan tahu rahasia busuk ini dan akan membuangku selamanya.
Aku mulai bekerja lebih keras. Pagi-pagi sekali, sebelum sekolah, aku sudah mencuci tumpukan piring kotor milik Paman dan Nenek. Pulang sekolah, saat teman-temanku bermain, aku membawa karung goni kecil. Aku menyusuri parit, tempat sampah, dan pinggiran jalan untuk mencari gelas plastik bekas atau potongan besi tua yang bisa dijual.
"Anak kecil kok rajin sekali cari rongsokan," ejek beberapa orang saat melihatku memanggul karung goni yang beratnya melebihi beban tubuhku.
Aku hanya tersenyum tipis. Mereka tidak tahu bahwa setiap butir besi tua yang kukumpulkan adalah caraku untuk merasa "berguna" di rumah orang. Mereka tidak tahu bahwa aku sedang mengumpulkan uang receh demi receh agar aku punya "harga diri" yang bisa kubayar.
Sore harinya, aku akan naik ke bukit belakang rumah mencari pohon jambu monyet. Aku memanjat pohon yang dahannya kasar, tidak peduli pada luka lecet di kakiku. Aku mengumpulkan biji jambu monyet, memisahkan bijinya dari buahnya yang berair. Getahnya yang keras seringkali membakar kulit tanganku, meninggalkan bekas hitam yang perih dan gatal. Tapi rasa perih di tangan tidak seberapa dibanding rasa perih di hatiku setiap kali aku melihat tetangga pria itu lewat di depan rumah.
Aku akan bersembunyi di balik pintu jika
Melihatnya. Jantungku akan berdegup kencang, tanganku berkeringat dingin. Tapi di depan keluarga, aku harus tetap terlihat normal. Aku harus tetap menjadi Maya yang manis, yang membantu Nenek membersihkan toge di malam hari, yang tidak pernah membantah meskipun Paman mencubitku karena kopinya kurang manis.
Di sela-sela kerja keras itu, aku selalu menatap jalan desa, berharap melihat sosok Ibu muncul. Ibu masi pulang balik dari rumah orang tuanya ke rumah Nenek, tapi setiap kali ia datang, kehadirannya terasa seperti tamu. Setiap kenaikan kelas, Ibu akan menjenguk kami dengan mata yang sembap.
"Maya sayang, sabar ya. Nanti kalau keadaan sudah baik, Ibu jemput," bisik Ibu sambil memelukku erat.
Aku hanya bisa mengangguk dalam pelukannya. Aku ingin sekali berteriak, "Ibu, tolong bawa aku sekarang! Di rumah ini aku tidak aman! Di rumah ini aku sudah dihancurkan!" Namun, lidahku kelu. Aku melihat betapa rapuhnya Ibu. Aku tidak ingin menambah bebannya. Inilah awal mula aku menjadi people pleaser orang yang terlalu mementingkan perasaan orang lain dibanding perasaanku sendiri.
Aku membiarkan diriku lelah, aku membiarkan diriku lapar, dan aku membiarkan rahasia itu menggerogotiku dari dalam. Aku belajar bahwa di dunia ini, suaraku tidak penting. Yang penting adalah bagaimana aku bisa membuat orang lain tenang.
Malam hari, setelah semua pekerjaan selesai, aku akan duduk di sudut kamar yang sempit. Aku menatap uang hasil menjual besi tua dan biji jambu monyet yang kuselipkan di bawah kasur. Uang itu jumlahnya tidak seberapa, tapi bagiku, itu adalah tiket untuk keluar dari neraka ini suatu hari nanti.
Aku bertanya pada bayanganku di dinding: Kapan matahari akan terasa hangat lagi? Kapan aku bisa tidur tanpa takut melihat bayangan pintu yang dikunci?
Tapi tidak ada jawaban. Yang ada hanyalah suara jangkrik dan derit lantai kayu rumah panggung yang menyimpan seribu satu rahasia kepedihanku. Aku menutup mata, memeluk diriku sendiri, mencoba
Memberikan kehangatan yang tidak pernah diberikan oleh siapapun di rumah ini.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..