"Mulutmu harimaumu"
Demikian lah peribahasa sederhana yang seringkali kita dengar. Dijadikan pengingat agar kita berhati-hati dalam bertutur kata.
Sayangnya itu tak berlaku untuk seseorang di luar sana. Dengan ringan lisannya berucap tanpa peduli imbas negatif yang ditimbulkan.
Malam-malam yang tenang dalam sekejap berubah jadi menegangkan.
Hadirnya sosok tak kasat mata yang selalu mengawasi, tak hanya membawa rasa sakit tapi juga ketakutan.
Lalu siapa yang bisa bertahan sampai akhir, 'dia' atau mereka ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ummiqu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Silakan Memilih ...
Melihat kekacauan itu, ustadz Firman segera bertindak. Yakin belasan pelaku akan pergi meninggalkan pendopo, dia segera melangkah mendahului menuju ambang pintu pagar. Tiba di sana dia berdiri sambil merentangkan kedua tangannya untuk menghadang langkah belasan pelaku.
"Tolong biarin kami pergi Ustadz. Kami ga bisa ada di sini lebih lama," kata seorang pelaku yang diangguki belasan pelaku lainnya.
"Ga bisa. Ga ada seorang pun yang keluar dari tempat ini sekarang," sahut ustadz Firman sambil menggelengkan kepala.
"Tapi kami takut pocong Ginah ngeludahin kami kaya Burhan dan Narti Ustadz ...," kata salah seorang pelaku sambil menoleh ke belakang dengan tatapan takut.
"Kalian tenang aja. Pocong bu Ginah ga mungkin melakukan itu sama kalian," sahut ustadz Firman.
"Kenapa Ustadz begitu yakin pocong itu ga bakal memburu kami juga?" tanya pelaku lain.
Ustadz Firman nampak menghela nafas kasar. Dia tak ingin membocorkan apa yang telah Burhan dan Narti lakukan sehingga membuat pocong Ginah marah. Baginya memegang rahasia para pelaku adalah harga mati yang tak bisa ditawar.
"Kalian ga perlu repot ngurus urusan orang lain karena urusan kalian juga bukan urusan yang ringan. Kalian inget pepatah yang bilang berani berbuat harus berani bertanggung jawab?. Kira-kira seperti itu lah yang terjadi. Burhan dan Narti harus siap menerima resiko dari perbuatan jahat yang mereka lakukan," kata ustadz Firman.
"Apa itu artinya perbuatan Burhan dan Narti lebih jahat dari yang kami lakukan Ustadz?" tanya salah seorang pelaku.
"Bukan hak saya menghakimi siapa yang lebih jahat diantara kalian. Yang pasti, menyantet atau meneluh orang tetap salah dan jahat. Tak ada pembenaran sama sekali untuk itu," sahut ustadz Firman tegas.
Belasan pelaku nampak salah tingkah mendengar jawaban ustadz Firman.
"Saran saya, kalo kalian mau menyelesaikan semuanya sekarang, tetaplah di sini. Tapi kalo kalian mau pergi, artinya kalian siap terus menerus dikejar pocong Bu Ginah. Kalo itu mau kalian, ya silakan ...," kata ustadz Firman sambil menepi seolah memberi jalan kepada para pelaku untuk keluar dari area kediamannya.
Para pelaku terdiam sambil saling menatap bingung. Setelahnya serempak mereka menoleh ke belakang. Melihat Burhan dan Narti menangis sambil menutupi wajah di hadapan pocong Ginah, mau tak mau membuat nyali mereka kembali menciut.
Ustadz Firman mulai kesal melihat sikap para pelaku. Dia tak ingin waktu yang baik terlewat hanya untuk mengurusi para pelaku kejahatan yang manja itu.
"Kalian bisa berpikir lebih cepat kan?. Saya ga bisa membuang waktu di sini karena saya harus membantu Burhan dan Narti. Kalo mau pergi, pergi lah. Tapi jangan pernah datang ke sini lagi dan minta bantuan saya karena saya ga akan mau membantu. Silakan kalian cari bantuan dari yang lain," kata ustadz Firman sambil berlalu meninggalkan para pelaku begitu saja.
Melihat ustadz Firman meninggalkan mereka, para pelaku pun panik.
"Ini satu-satunya kesempatan kita untuk lepas dari kejaran pocong Ginah. Kalo gitu saya bakal tinggal di sini," kata salah seorang pelaku sambil melangkah mengikuti ustadz Firman.
"Tapi saya takut diludahin sama pocong Ginah. Kalian liat kan gimana efeknya sama Burhan dan Narti?. Hiiy ... serem banget," sahut pelaku lainnya.
"Soal takut, bukan situ aja yang punya. Kita semua takut. Tapi kan takutnya rame-rame. Ustadz Firman bener, daripada diteror lagi sama pocong Ginah nanti, lebih baik akhiri sekarang aja. Kalo ustadz Firman bilang ga bakal mau bantu lagi, artinya kita harus sendirian nyari solusi dan saya ga mau itu. Susah lho cari orang yang bisa bantu menyelesaikan masalah ini. Kalo pun ada yang bisa, pasti jauh dari desa ini dan perlu uang yang ga sedikit. Kalo gitu saya balik lagi deh, terserah sama kalian," kata seorang pelaku sambil berlari kecil mengejar ustadz Firman.
Melihat dua rekan mereka kembali, para pelaku akhirnya memutuskan kembali.
Aksi saling dorong mendorong terlihat saat belasan pelaku mendekat kearah pendopo dimana Burhan, Narti dan pocong Ginah berada.
Melihat para pelaku kembali, ustadz Firman nampak tersenyum. Dia senang para pelaku menuruti sarannya.
Di sisi lain terlihat Danu dan Rama sedang menatap takjub kearah ustadz Firman. Mereka tak menyangka ustadz yang lumayan sepuh itu masih bisa bergerak lincah seperti kijang dengan melompat dan berlari menuju pintu pagar tadi.
Di saat suasana kacau dan semua orang sibuk mengurus para pelaku yang berusaha melarikan diri, Sastro tampak tak terpengaruh sama sekali. Dia justru mematung di tempat dengan kedua mata yang menatap lekat kearah pocong Ginah. Tak ada rasa gentar atau takut yang melingkupi Sastro. Justru rasa rindu lah yang menyelimuti hatinya ketika berhadapan dengan wujud lain wanita yang telah menjadi istrinya selama puluhan tahun itu.
Dengan hati-hati Sastro mendatangi pocong Ginah dari arah samping. Semakin dekat dengan pocong yang sedang berdiri mengamati Burhan dan Narti itu, detak jantungnya kian memburu. Setelah mengumpulkan keberanian, Sastro mencoba menyapa pocong Ginah.
"Bu ... i-ini kamu kan. Kamu inget sama aku ga ...?" tanya Sastro dengan suara tercekat.
Tak ada reaksi apa pun yang diperlihatkan oleh pocong Ginah.
Entah karena tak mendengar suara Sastro atau karena tak menyadari kehadiran Sastro, pocong Ginah nampak tak bergeming. Jangankan merespon, menoleh pun tidak.
Meski kecewa, tapi Sastro tak ingin menyerah. Dia kembali mengucapkan kalimat yang sama dan berharap pocong Ginah mau menoleh kearahnya.
Melihat usaha Sastro, ustadz Firman pun iba. Dia mendekati Sastro lalu menepuk bahunya.
"Pak Sastro ...," panggil ustadz Firman.
Sastro menoleh dan kecewa melihat ustadz Firman menggelengkan kepala. Dia tahu apa maksud sang ustadz.
"Maaf kalo saya harus jujur, pocong itu bukan Bu Ginah yang dulu. Dia ... " ucapan ustadz Firman terputus karena Sastro memotong cepat.
"Tapi dia tau kalo Burhan dan Narti lah orang yang udah mengguna-gunai anak kami Ustadz. Artinya dia inget sama mereka. Kok bisa dia ga inget sama saya," kata Sastro gusar.
"Itu dua hal yang berbeda Pak Sastro. Saya ga bisa jelasin sekarang tapi tolong mengerti lah. Kita harus memanfaatkan waktu yang ada sebaik mungkin," sahut ustadz Firman sambil mencekal bahu Sastro dengan erat.
Sastro terkejut. Apalagi melihat tatapan tajam ustadz Firman yang terarah padanya.
Menyadari sikap ustadz Firman yang berbeda dari biasanya mau tak mau membuat Sastro gentar. Setelah berdehem untuk menetralisir perasaannya, Sastro pun mengangguk.
"Maafin saya Ustadz. Saya memang sempat terbawa perasaan tadi. Silakan, silakan selesaikan semuanya. Saya ga akan menggangu lagi," kata Sastro sambil menjauh dari pocong Ginah.
Ustadz Firman nampak menghela nafas lega. Setelah yakin Sastro turun dari pendopo, ustadz Firman menoleh kearah para pelaku. Dia memberi isyarat agar semua pelaku naik kembali ke atas pendopo.
Melihat isyarat yang diberikan ustadz Firman, Danu dan Rama segera turun tangan membantu. Mereka mengarahkan para pelaku untuk segera menuruti permintaan ustadz Firman untuk naik ke pendopo. Meski takut, para pelaku terpaksa menurut.
Setelah tiba di atas pendopo, dalam kondisi merapat seperti tadi, para pelaku dipaksa menyaksikan sebuah kejadian yang menegangkan. Penderitaan Burhan dan Narti sekaligus penampakan pocong Ginah yang berdiri kaku menjulang.
"Liat, Burhan dan Narti masih menutupi wajah. Itu artinya sakit yang mereka rasakan lebih dari biasanya kan," bisik salah seorang pelaku.
"Ya wajar lah. Namanya juga diludahi pocong," sahut pelaku lainnya.
"Saya penasaran gimana wajah mereka setelah ini. Jangan-jangan bakal hancur kaya ... "
"Sssttt ... udah ga usah ngomong lagi. Liat, kita lagi diliatin sama pocong Ginah," kata salah seorang pelaku mengingatkan.
Para pelaku di pendopo pun sontak menoleh dan mereka terkejut melihat pocong Ginah sedang menatap kearah mereka.
Ditatap dengan tatapan tajam oleh pocong Ginah, dengan kedua bola matanya yang melotot membuat para pelaku menjerit seketika.
\=\=\=\=\=
bru baca soalnya