***++++++++
" Brengsek, benar benar Bajingan kalian ." teriak seorang gadis cantik saat memergoki suaminya sedang bergulat panas dengan pelayan di rumah nya.
Mari nantikan kelanjutannya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queenvyy27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Tamu
Sementara itu di dapur, Jule terus saja menggerutu sambil menyiapkan makan malam, mau tidak mau dia harus membereskan semua pekerjaan rumah agar tidak menimbulkan kecurigaan Rea, dengan wajah sebal dia mulai memasak menu yang sebelumnya sudah di rencana kan bersama mbak citra sebelum wanita itu pulang.
" Sialan !!! Kenapa gue beneran cosplay jadi pelayan begini ?? Ternyata pekerjaan pelayan tuh capek banget!! ." gumamnya kesal sambil mengaduk sayur sop nya di atas kompor.
Keringat mulai membasahi dahi nya, tapi rasa marah nya yang memuncak lebih panas dari kompor di depannya. " Awas saja kamu Rea, suatu saat nanti aku yang bakal bikin kamu akan ngerasain, rasa nya jadi pelayan, aku bakal membuat mas Dean benci sama kamu dan jijik sama kamu." ucap nya dengan nada penuh dendam, bibirnya mulai tersenyum sini di tengah masakan yang mulai matang dan tercium harum di seluruh ruangan dapur.
Dean sudah kembali ke kamar, dia berniat mengajak sang istri makan malam bersama, berbeda dengan siang tadi, sifat Rea kini kembali melembut dan manis, Dean tersenyum lega, mungkin tadi Rea sedang tidak mood, pikirnya melihat wajah istri nya yang kembali ceria, dia yakin bahwa semua sudah baik baik saja.
Mereka berdua menikmati makan malam dengan rasa hangat, sambil berbincang ringan seperti malam malam sebelum nya, dari kejauhan Jule yang membersihkan meja hanya bisa mengepalkan tangannya kuat kuat, matanya menatap tajam ke arah keduanya, terutama ketika melihat Dean memperlakukan Rea dengan penuh perhatian, rasa iri dan amarah berkecamuk di dadanya.
Usai makan malam Dean dan Rea kembali ke kamar, malam ini hati nya terasa hangat dia berharap bisa lebih dekat dengan sang istri, bahkan sempat membayangkan malam pertama yang sempurna, namun, harapan itu sirna ketika seseorang keluar dari kamar mandi.
Rea tampak meringis kesakitan sambil memegangi perut nya.
" Kenapa dek?? Kamu sakit?? ." tanya Dean cemas.
" Mas Dean, aku boleh minta tolong gak?? ." ucap Rea dengan muka menahan sakit.
" Minta tolong apa dek ??." tanya Dean terllihat khawatir.
" Tolong belikan aku pembalut di mini Market mas, kayanya aku datang bulan." ucap Rea pelan.
Dean langsung terdiam, wajahnya memucat. " Da... Datang bulan?? ." tanya nya tergagap.
" Iya mas, aku lupa, stok pembalutku habis, tolong ya mas, beliin, masa aku harus pergi sendiri atau nyuruh pak Budi??." Ucap Rea lirih.
Dean yang masih bingung dan kikuk akhirnya mengangguk pasrah. " Ya sudah biar mas yang beliin, tapi merek apa ya dek??."
Rea tersenyum tipis. " Terserah mas aja, pokoknya satu untuk siang, satu untuk malam, yang ada sayapnya ya." Dean menghela nafas panjang lalu bangkit dari duduknya, dengan wajah dongkol namun tak bisa menolak, dia mengambil kunci motor matic lalu keluar kamar, hujan rintik rintik mulai turun saat dia menyalakan motor dan dengan perasaan campur aduk Dean pun melaju ke minimarket, demi membeli barang keperluan istrinya.
" Ah sialan!!! Kalau saja tadi malam Jule tidak berulah, aku pasti sudah membobol Rea, terus sekarang aku harus bersabar satu Minggu lagi, kalau ingin melakukan malam pertama bareng Rea ??." ucap Dean di Sepenjang jalan menuju minimarket. Padahal tadi dia sudah membayangkan betapa indahnya malam pertama bersama sang istri, tapi ternyata harapannya pupus karna Rea kedatangan tamu bulanan.
Setelah memastikan Dean pergi, Rea meledakkan tawa, tawa panjang dan puas yang menggema di seluruh kamar, wajah Dean yang pucat tadi masih terngiang di benaknya, itu membuatnya semakin puas, sebenarnya dia tidak sedang lagi datang bulan dia cuma mencari alasan agar Dean tak menagih malam pertama nya.
Rea memutuskan keluar dari kamar, dia ingin pergi ke dapur untuk mengambil air mineral.
" Dasar laki laki berengsek!!! Masa gue mau di bobol sama laki laki kotor kaya dia !!!." ucap Rea di dalam hati sambil menutup mulutnya agar tidak tertawa.
Di balik senyum tipisnya, rencana itu mengetes menjadi tekad, dia menatap ke arah kamar Jule seolah bisa menatap masa depan yang sudah dia susun dengan rapi~ jebakan yang rapi langkah yang terukur. " liat saja kalian berdua, besok akan ku pastikan kalian masuk perangkap ku, tunggu tanggal mainnya kalian akan menyesal, Dean Alexander. " Bisiknya dingin dan penuh kepastian.
Setelah memastikan Dean benar benar sudah pergi, Rea kembali membuka laptop nya, dia memastikan pekerjaan nya sudah selesai sebelum malam semakin larut, sementara itu Jule yang sedari tadi mondar mandir di ruang tamu tampak penasaran, ke mana sebenarnya Dean pergi dengan motor maticnya.
Setengah jam kemudian suara motor terdengar di halaman, Dean datang dengan menenteng paperbag minimarket, Jule yang sedang menunggunya langsung menghadang langkah pria itu.
" Dari mana kamu sayang ??." tanya Jule dengan nada manjanya membuat Dean sedikit terkejut.
" Ngapain sih kamu buat terkejut." tanya Dean cepat dengan menatap sekelilingnya. " jangan ngomong sembarangan kalau sampai Rea tau kita bisa hancur." lanjutnya dengan suara rendah namun tegas.
Jule mendengus kesal tapi rasa penasarannya lebih besar, dia langsung merampas paperbag di tangan Dean dan memeriksa isinya, namun ketika melihat dua bungkus pembalut di dalamnya, tawa Jule pecah tak tertahankan.
" Ternyata aku gak perlu repot repot cari cara buat gagalkan malam pertama mu mas." Jule tertawa geli, Dean tidak membalas, dia hanya menatapnya sekilas lalu mengambil paperbag itu dan meninggalkan Jule yang masih tertawa puas di tempatnya.
Dean melangkah pelan menuju kamar, setiap langkahnya terasa berat, seolah membawa beban rahasia yang bisa meledak kapan saja dia berhenti sejenak di depan pintu, menarik nafas lalu mengetuk nya.
" Mas sudah pulang." tanya Rea dari dalam, lembut namun jelas.
" Iya sayang." jawab Dean sambil membuka pintu perlahan, di dalam Rea masih duduk di depan laptop, cahaya monitor tampak menyorot wajahnya yang lelah tapi terlihat cantik.
Dean mendekat dan meletakkan paperbag di dekatnya. " ini barang yang kamu butuhkan sayang, aku GK tau merek apa yang biasa kamu pakai tapi aku minta yang paling bagus." ucap Dean.
Rea menoleh matanya langsung berbinar saat melihat paperbag itu. " Terimakasih mas, aku sudah merepotkan kamu ya mas." katany sambil tersenyum yang dibuat buat.
Dean ikut tersenyum meski hatinya berdebar debar karena merasa bersalah yang tiba tiba muncul.
" Sama sama sayang apa sih yang nggk buat Istri mas yang paling cantik ini." ucap Dean sambil mengelus puncak kepala Rea, dalm hati Rea merasa jijik dan sangat mual mendengar ucapan manis dari mulut kotornya .
Rea cepat cepat masuk ke dalam kamar mandi dan sengaja berlama lama. "permainan baru saja di mulai mas." gumamnya pelan. " tapi tenang saja, aku tidak akan menahan mu terlalu lama, besok baru kamu akan kehilangan segalanya~ rumah ini, mobil, dan juga uang tabungan mu ." lanjutnya dengan nada licik dan senyum menyeringai.
" Dasar pria brengsek." Rea mengusap rambutnya perlahan. " Besok ada lah jebakan yang sesungguhnya." ucapnya yakin, matanya memancarkan kepuasan tersendiri. " tapi besok pagi aku pastikan Jule akan merasakan terlebih dahulu merasa kesal dan benci." dia keluar kamar mandi dengan tenang seolah tidak terjadi apa apa tetapi rencana nya sudah tersusun rapi.
Waktu sudah menunjukan pukul 22:35 Dean masih belum tidur ini adalah malam ke dua pernikahan nya dengan Rea, harapannya dan impian nya untuk melaksanakan malam pertama yang indah tertunda karena Rea kedatangan tamu bulanan, sebenarnya keinginan itu sudah mendesak di dalam dirinya, sempat terlintas di dalam benaknya untuk melampiaskan nya bersama Jule, namun rasa takut jauh lebih besar, takut Rea bangun dan mencarinya, maka dari itu Dean mati Matian menahan diri berusaha keras untuk tetap diam di tempat.
Dia mencoba untuk memejamkan mata tetapi tak bisa tertidur, sementara itu Rea yang belum juga terlelap tersenyum tipis, menyadari gelagat di sisi ranjangnya, dia yakin suaminya itu sedang gelisah.
" Dasar pria gila." ucap Rea di dalam hati. " Awa saja kalau kamu berani menyelinap ke dalam kamar wanita itu, gue gak akan tunggu besok malam ini kalian akan merasakan akibatnya ."
Rea kemudian berusaha memejamkan mata, namun sama seperti Dean masih tetap terjaga, terperangkap diantara marah kecewa dan gelisah di malam yang panjang itu.