Demi kebebasan sejati, Abimanyu, Sang Profesor, membakar masa lalunya dan meninggalkan peradaban "Manusia Kertas" di Lembah Nama. Dengan mendaki Gunung Kehendak, ia bertransformasi dari pemikul beban menjadi pencipta nilai dalam sebuah pencarian filosofis untuk melampaui batas kemanusiaan dan menjadi arsitek atas nasibnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19 MADU YANG PAHIT
Ketinggian ini tidak lagi mengundang dialog. Di atas lereng kristal yang memantulkan cahaya bintang dengan kejernihan yang menyakitkan mata, Abimanyu menemukan dirinya berada dalam kesunyian yang absolut—sebuah jenis kesunyian yang tidak hanya berarti ketiadaan suara, tetapi ketiadaan "orang lain". Di Lembah Nama, kesunyian adalah sesuatu yang ditakuti, sesuatu yang harus segera diisi dengan seminar, diskusi meja bundar, atau kebisingan kutipan. Di sini, kesunyian adalah jubah kebesaran yang berat namun sangat pas di tubuhnya.
Ia duduk di atas sebuah bongkahan batu es yang tampak seperti takhta yang membeku. Tubuhnya—"Akal Besar" yang telah melewati ujian api, badai kertas, dan gravitasi—kini berada dalam kondisi keletihan yang paling estetis. Sendi-sendinya berdenyut dengan ritme yang stabil, dan rasa lapar di perutnya bukan lagi sebuah penderitaan, melainkan sebuah pengingat yang jujur bahwa ia masih merupakan bagian dari kehidupan yang berkehendak.
Abimanyu meraba celah di antara batu kristal di samping tempat duduknya. Di sana, ia menemukan sesuatu yang aneh: sebuah substansi kental berwarna keemasan gelap yang merembes dari jantung gunung. Ia menciduknya dengan ujung jari yang kasar dan mencicipinya.
Rasanya meledak di lidahnya. Ia manis dengan intensitas yang tak terbayangkan, namun sedetik kemudian, rasa pahit yang tajam seperti empedu menyusul, membakar tenggorokannya dan membuat matanya berair.
"Madu yang pahit," bisiknya, suaranya kini terdengar seperti gesekan es yang menyatu. "Inilah madu dari ketinggian. Ia tidak diciptakan untuk memanjakan lidah para budak kenyamanan di bawah sana. Ia diciptakan untuk mereka yang sanggup menelan kebenaran tanpa perlu mencampurnya dengan gula ilusi."
Di lembah, kebenaran selalu diberikan dalam bentuk sirup yang manis—diberi rasa "etika sosial", "kepentingan umum", atau "masa depan bangsa". Di sini, kebenaran adalah madu murni: ia memberi energi yang luar biasa, namun ia juga menyakitkan untuk dikonsumsi.
Abimanyu menyadari bahwa ia telah mencapai puncak kesepian intelektual. Tidak ada lagi Dr. Hardi untuk didebat, tidak ada Profesor Danu untuk dimintai persetujuan, dan tidak ada mahasiswa untuk diberi ceramah. Ia adalah guru tanpa murid, dan dalam kondisi itu, ia akhirnya menjadi murid yang sesungguhnya bagi dirinya sendiri.
"Betapa indahnya kesendirian ini!" gumamnya sambil menatap galaksi yang membentang di atas kepalanya. "Di bawah sana, aku adalah apa yang mereka katakan tentangku. Di sini, aku adalah apa yang aku lakukan terhadap penderitaanku. Aku telah melampaui kebutuhan untuk dipahami. Dipahami adalah bentuk dari penjarahan jiwa, orang yang memahamimu sebenarnya sedang mencoba mengecilkanmu agar pas dalam kotak pikiran mereka."
Ia teringat betapa dulu ia sangat haus akan sitasi—sebuah pengakuan bahwa pikirannya "berguna" bagi orang lain. Sekarang, ia melihat sitasi sebagai rantai. Madu yang pahit ini tidak butuh dikutip untuk menjadi nyata. Penderitaannya di atas gunung ini tidak butuh divalidasi oleh jurnal mana pun untuk menjadi sah.
Rasa sakit di kaki Abimanyu semakin menjadi karena suhu yang terus merosot. Namun, alih-alih mengutuk rasa sakit itu, ia justru merangkulnya. Inilah Amor Fati—cinta pada takdir. Ia tidak menginginkan rasa sakit itu hilang, karena jika rasa sakit itu hilang, maka pendakiannya pun akan kehilangan maknanya.
"Aku mencintai kedinginan ini! Aku mencintai batu-batu tajam ini!" teriaknya pada cakrawala yang membeku. "Semua ini adalah bahan baku dari keberadaanku. Kalian di lembah menginginkan kebahagiaan yang 'tanpa rasa sakit', sebuah kebahagiaan yang hambar seperti air suling. Aku memilih kebahagiaan yang pahit, kebahagiaan yang berakar pada kemampuan untuk menanggung beban yang paling berat."
Ia menyadari bahwa penderitaan fisik adalah "jangkar" yang menjaganya agar tidak melayang ke dalam abstraksi kosong. Tanpa rasa sakit, pikirannya akan kembali menjadi "Manusia Kertas" yang hanya bermain dengan simbol. Dengan rasa sakit, setiap pemikirannya memiliki berat, memiliki darah, dan memiliki nyawa.
Abimanyu mengambil sesap lagi dari madu pahit itu. Ia merasakan kekuatannya kembali pulih, namun bukan kekuatan untuk "menang" melawan orang lain, melainkan kekuatan untuk "mengatasi" dirinya sendiri sekali lagi.
"Madu ini adalah makanan bagi mereka yang berani menjadi 'Yatim Piatu' secara intelektual," pikirnya. "Mereka yang tidak lagi mencari perlindungan pada 'Bapak Negara', 'Ibu Gereja', atau 'Keluarga Akademik'. Mereka yang berani berdiri di atas kakinya sendiri dan berkata 'Ya' pada hidup, meskipun hidup itu terasa seperti cuka dan empedu."
Ia menatap tangannya. Noda tinta permanen itu kini benar-benar hilang, terkikis oleh pasir granit dan kristal es. Ia adalah manusia baru. Seorang pendaki yang telah menemukan bahwa kebahagiaan tertinggi bukanlah ketiadaan masalah, melainkan penguasaan penuh atas penderitaan.
Malam mulai mencapai titik tergelapnya, momen tepat sebelum fajar yang paling dinanti. Abimanyu berdiri dari takhta esnya. Madu pahit itu telah memberikan kejelasan yang kejam di dalam kepalanya. Ia tidak lagi memiliki keraguan. Ia tidak lagi memiliki penyesalan.
Ia melihat ke atas, ke arah sisa beberapa puluh meter yang memisahkannya dengan puncak tertinggi Gunung Kehendak. Puncak itu kini tampak sangat dekat, namun ia juga tahu bahwa di sana, ia mungkin tidak akan menemukan apa-apa selain dirinya yang lebih murni.
"Aku telah mencicipi madu yang pahit, dan kini lidahku sudah terbiasa dengan rasa takdir," ucapnya sambil melangkah kembali. "Biarlah Manusia Terakhir tetap dengan gula-gula mereka. Aku akan terus mendaki, karena di puncak sana, madu itu mungkin akan menjadi api."
Abimanyu bergerak dalam ritme yang hampir supranatural, seolah-olah rasa sakit di tubuhnya telah berubah menjadi bahan bakar bagi gerakan yang tak terhentikan. Ia telah menemukan kebahagiaan dalam kesepian, dan kekuatan dalam luka. Kini, hanya ada satu bab tersisa antara dia dan keabadian yang ia ciptakan sendiri.