Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 3 bagian 1
Siang itu tidak hujan, suasana sangat cerah dan tidak ada satu titik pun awan hitam yang menghiasi langit. Hampir tidak terasa ada semilir angin yang berembus membuat udara cenderung panas, suhunya hampir melebihi 31⁰ membuat sebagian orang lebih memilih untuk diam di rumah untuk menonton TV dengan pendingin udara mereka. Menghindar dari sengatan matahari memang pilihan terbaik saat ini.
Danila baru saja turun dari kereta dan harus berjalan kaki selama 15 menit untuk sampai ke tempat pertemuan. Sebenarnya ia bis memesan taksi dan akan menghemat waktu, tapi ia ingat kalau Dion dan Krista bukan lah orang yang tepat waktu. Ia akan menunggu terlalu lama jika menggunakan taksi. Lagi pula ia tidak berolahraga akhir-akhir ini, hitung-hitungan sebagai ganti olahraga sebelumnya. Beruntung hari ini tidak hujan, kalau tidak ia akan memilih untuk membatalkan pertemuan ini.
Seharusnya ia sudah berada di rumah sejak seminggu yang lalu, tapi berhubung ia sedang malas berinteraksi dengan keluarganya ia memutuskan untuk pulang setelah tahun baru. Apalagi saat ini adalah libur akhir semester, adiknya pasti ada di rumah. Ia tidak ingin ada di tempat yang sama dengan adiknya. Sebenarnya ia tidak tahu mengapa ia begitu membenci adiknya, seolah itu sudah tertanam dalam hatinya.
‘Seharusnya aku mengiyakan permintaan Krista yang mau menjemputku di tempat kos, aku tidak perlu pergi jauh-jauh dan terkena panas’ pikir Danila yang menyesali keputusannya sambil berjalan di trotoar kota yang sepi. Hujan terjadi beberapa hari yang lalu meninggalkan jejak-jejak genangan air yang kotor, membuatnya harus menghindar sesekali. Sepatunya berwarna putih dan akan sangat terlihat jika terkena lumpur. Sepertinya keputusannya untuk keluar rumah hari ini adalah kesalahan besar. Cahaya matahari membakar kulitnya dan jejak air yang akan menodai pakaiannya, ia benar-benar kesal.
Ia masih tidak mengerti kenapa Dion dan Krista mengajaknya bertemu, sudah hampir satu bulan mereka tidak bertemu ia tidak begitu memikirkannya. Mereka adalah sepasang kekasih dan apa gunanya dia hidup di antara mereka? Mereka tidak lagi membutuhkannya untuk sekedar teman mengobrol. Kenapa pula ia selalu tidak bisa mengatakan tidak pada permintaan keduanya. Setiap kali ada dirinya di antara keduanya, pandangan orang-orang akan menghakimi, seolah dia akan merebut Dion dari Krista. Padahal mereka lah yang ingin dia ada dalam kehidupan mereka.
Danila memegang erat tali tas selempangnya dan berhenti begitu melihat sebuah kursi taman. Ia menghela nafas sebelum duduk dan meminum sebotol air yang selalu ia bawa. Ternyata berjalan di antara terik matahari bukanlah sesuatu yang menyenangkan, tubuhnya terasa panas dan keringat membanjiri hampir setiap sudut wajahnya. Di siang bolong seperti ini mengapa suasana begitu sepi? Selama perjalanannya ke tempat ini tidak ada satu pun orang atau kendaraan yang ia lihat. Ia merasa ini sedikit aneh.
Kursi tempatnya duduk terletak di tepi jalan protokol, berhadapan langsung dengan sebuah bangunan tua yang konon katanya berhantu. Cat putih bangunan itu sudah terkelupas, beberapa sisi temboknya juga sudah berlumut. Memberikan kesan horor yang sangat terasa, apalagi ditambah lingkungan sekitar yang sangat sepi.
‘Mengapa Krista dan Dion belum datang, berapa lama ia harus menunggu?’ pikir Danila. Ia tahu teman-temannya bukanlah orang yang tepat waktu, tapi tidak menyangka ia harus menunggu selama ini.
Hingga 15 menit kemudian mobil yang ditunggangi oleh Krista dan Dion sampai. Mungkin jika ia harus menunggu lebih lama ia akan berbalik ke stasiun dan pulang.
“Maaf lama, macet La” ucap Krista yang duduk di kursi samping kemudi.
Danila hanya mengangguk kesal. Waktu berlalu begitu saja, sudah hampir satu jam ia menunggu dan mereka datang tanpa rasa bersalah. Ingin rasanya ia menjambak rambut Krista. Ia masuk ke dalam mobil dengan sedikit kesal dan membanting pintu dengan kertas begitu ia duduk. Namun tampaknya kemarahannya tidak berefek apapun pada mereka.
“Telat kalian itu keterlaluan” ucap Danila masam.
Danila memperhatikan kedua temannya ini dengan seksama, terakhir kali mereka bertemu adalah saat wisuda kelulusan itu artinya sudah satu bulan yang lalu. Dia menyadari ada begitu banyak perubahan dalam diri keduanya. Dion tidak merokok terakhir kali mereka bertemu, namun saat ini tubuhnya berbau seperti tembakau. Tidak ada lagi bau cologne mahal yang selalu ia gunakan. Krista pun demikian, ia ingat benar beberapa bulan yang lalu ia masih lah gadis polos yang tidak suka berdandan tebal. Namun saat ini ia telah menggunakan riasan tebal dengan eyeliner hitam yang membingkai mata sipitnya. Ada beberapa tato dan tindik kecil di ujung mata kirinya, menegaskan kesan tomboy.
“Sejak kapan kau memasang tindik di wajahmu?” tanya Danila.
“Beberapa Minggu yang lalu, ini sedang tren kamu tidak tahu?” jawab Krista.
Ia rasa ini bukan tren saat ini. Tapi itu tidak penting yang terpenting saat ini adalah mengetahui ke mana mereka akan membawanya pergi.
“Kita akan ke mana?” Tanya Danila mengalihkan topik pembicaraan.
“Kita akan bersenang-senang, besok adalah tahun baru dan tahun depan adalah tahun kita. Semua media akan memberitakan kita. Kita akan terkenal, kamu tenang saja” jawab Krista sambil melempar pandangan manja pada kekasihnya. Danila tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan jadi hanya diam.
“Untuk apa memberitakan kita, kita tidak melakukan apa pun?” Tanya Danila bingung.
“Kamu bilang ingin menjadi influenser terkenal, setidaknya sesekali harus masuk portal berita donk agar orang-orang tahu siapa dirimu, santai saja itu hanya pembukaan bar baru Dion kok, tidak akan melibatkan hal negatif” jawab Krista.
Bagaimana mungkin tidak melibatkan hal negatif, bar yang dipenuhi alkohol dan terkadang pelaku usaha gelap tentu akan selalu menjadi hal negatif dalam benak Danila. Terakhir kali ia mabuk adalah sebelum acara kelulusan dimulai, dia benar-benar tidak mengenali dirinya saat itu. Ia bahkan tidak ingat apa yang ia lakukan. Krista yang punya toleransi alkohol lebih kuat membawanya kembali ke tempat kos dan memarahinya di pagi hari. Ia masih ingat saat itu.
Dion tidak mengatakan sepatah kata pun dari awal Danila masuk ke mobil. Ia terlihat menikmati sebatang rokok yang kini hanya tinggal setengah, ia dengan lihai membelokkan setir mobilnya ke sebuah perumahan asri yang tampak sepi. Danila memperhatikan sekitar, meski cuaca sangat cerah tempat ini penuh dengan pepohonan yang rimbun membuat suasana sedikit lebih dingin dari jalanan sebelumnya. Di seberang jalan protokol itu Danila melihat sebuah rumah megah yang tampak sangat tua, gerbangnya berkarat dan ada begitu banyak rumput alang-alang tumbuh di depannya. Sangat disayangkan rumah sebesar itu terbengkalai, kira-kira siapa pemiliknya.
“Apa kalian akan mengadakan pesta?” Tanya Danila.
“Tentu saja, tapi tenang kami sudah menyiapkan segalanya untukmu. Kau tidak akan mabuk dan akan tetap sadar hingga akhir” jawab Krista penuh penekanan.
Sesaat Danila melihat kilat membunuh dalam mata Krista, namun segera menepisnya. Krista adalah temannya mana mungkin dia berniat membunuhnya, apa alasan Krista ingin membunuhnya? Lagipula bagaimana mungkin mereka mengatakan niat membunuhnya pada korbannya. Ia hanya berpikir terlalu jauh.
“Aku harap pestanya akan menyenangkan” ucap Danila akhirnya.
“Kalian tahu tempat itu?” Tanya Dion mengalihkan pembicaraan. Ia mematikan rokoknya pada sebuah asbak portabel yang ia letakan di dashboard mobil. .
“Tidak, tempat apa itu?” Tanya Krista ikut mengalihkan perhatiannya.
“Kalian tahu berita pembunuhan satu keluarga yang terjadi 15 tahun yang lalu? Ini adalah TKP-nya. Aku dengar dari beberapa orang warga kalau mereka adalah salah keluarga penganut sekte sesat yang menikahi keturunan sedarah, dan beberapa orang bilang pelaku yang mendekam di penjara saat ini sebenarnya bukan pelaku yang aslinya” jawab Dion tanpa kehilangan fokusnya dari jalanan.
“Pernikahan sedarah? Bagaimana ada orang yang bernafsu bercinta dengan saudara kandungnya sendiri. Aku tidak pernah membaca artikel seperti itu” ujar Danila. Dia tidak memperhatikan ketika Dion dan Krista bertukar pandang sambil menyeringai
“Karena fakta itu terlalu mengerikan, maka dari itu kepolisian hanya mengatakan kalau mereka adalah penganut sekte sesat” jawab Dion.
“Ya kalau dengan saudara sendiri tidak bernafsu, mungkin dengan pacar teman sendiri bisa menaikkan nafsumu” ucap Krista sambil menatap Danila tajam.
Danila merasa kalau kata-kata yang Krista ucapkan itu untuknya. Tapi apa maksudnya? Ia bahkan tidak pernah dekat dengan kekasih siapa pun. Apa Krista sedang menuduhnya ingin merebut pacarnya? Rasanya tidak mungkin, dia tahu bagaimana perasaannya terhadap Dion.
Setelah kalimat itu keheningan terjadi. Mobil melaju dengan kecepatan konstan, menyusuri jalan-jalan kota yang cenderung sepi. Mereka perlu melewati alun-alun kota yang asri, sebuah lapangan golf besar dan hutan buatan kecil untuk sampai ke tujuan. Sebuah bar baru yang pintunya masih diikat dengan pita. Beberapa warga sekitar sudah mengantri untuk masuk dan melihat langsung acara potong pita itu. Kedua orang tua Dion ada di sana tengah bersantai di sebuah kursi panjang yang diletakan di dekat pohon besar.
“Sayangnya donatur utama tidak bisa datang dan melihat langsung apa yang akan terjadi” ucap Dion setelah memarkirkan mobilnya.
“Eh sudah datang, ayo cepat! Ayah dan Ibu ada pekerjaan lainnya setelah ini” ucap sang Ayah setelah melihat Dion keluar dari mobil.
Mereka segera bergegas menuju tempat potong pita itu. Satu-satunya hal aneh yang Danila lihat dalam acara kali ini adalah beberapa batang dupa yang tertancap di kedua sisi pintu, sebuah baki berisi bunga berwarna warni, dan beberapa jenis buah yang biasa digunakan untuk sesaji di kuil. Danila tidak terlalu mengerti apa maksudnya jadi ia hanya melihat apa yang mereka lakukan.
Tidak seperti bar pada umumnya yang menggunakan pintu kaca, bar yang baru diresmikan ini menggunakan pintu kayu solid yang berat namun berserat indah. Hanya jendela mati di sisi kanan bangunan yang menggunakan kaca tebal, dari sisi ini semua bagian dalam bar terlihat dari luar. Menjadikannya daya tarik pelanggan. Sementara sisi lainnya dibiarkan kosong dengan tembok yang dicat dengan warna gelap. Tampak tidak serasi, itu lah yang ada dalam pikiran Danila. Tapi apa yang akan ia lakukan memberi masukan tanpa diminta, bagaimana jika ia dimintai biaya?
Bagian dalam bar ini terdiri dari 2 lantai beralaskan marmer gelap yang terlihat sangat mahal. Lantai dasar merupakan ruangan bebas yang dibiarkan kosong tanpa satu pun kursi atau meja di bagian tengah ruangan dan sisi lain bangunan digunakan untuk alat DJ, meja bar mewah diletakan sedikit jauh dari tempat DJ memajang begitu banyak jenis minuman mahal dan gelas-gelas unik. 3 orang bartender berseragam putih dengan rompi hitam ada di balik meja bar, menyapa pengunjung dengan senyum sopan dan ramah.
Dion dan Krista membawa Danila ke lantai atas yang merupakan ruang VIP. Tempat itu lebih indah dari apa yang ia bayangkan, lantai marmernya lebih mengkilat dan pencahayaannya lebih redup. Dari tempatnya berdiri saat ini ia dapat melihat yang terjadi di lantai dasar, walau ada lampu gantung besar yang menghalangi penglihatan. Mereka membawanya ke sebuah ruangan bertuliskan VVIP. Ruangan itu kedap suara dan kaca dua arah besar terbentang di hadapannya.
“Kita bisa melihat dan mendengar apa yang terjadi di bawah, namun orang-orang yang berada di bawah tidak bisa melihat atau mendengar apa yang kita lakukan di dalam sini” ucap Dion dengan suara beratnya, sekilas Danila melihat tatapan sadis di mata temannya dan sekali lagi ia memutuskan untuk mengabaikannya.
“Ini tempat yang indah, kau pasti perlu banyak uang untuk membangunnya” ucap Danila.
“Ya, aku punya orang tua yang kaya dan bukankah aku sudah bilang ada donatur utama yang mendanai semua ini? Sayangnya mereka tidak dapat hadir hati ini, jadi kamu tidak bisa melihat mereka secara langsung” jawab Dion. Dia melirik Krista yang kini duduk di sofa putih di sisi kanan ruangan, menghadap langsung pada kaca.
“Donatur utama?” tanya Danila bingung.
“Iya, ada yang memberiku uang untuk membangun usaha ini dan sebagai imbalannya aku harus memberikan persentase keuntungan bulanan selama 5 tahun ke depan” jawab Dion.
“Itu penipuan bukan, kenapa kamu begitu mudah percaya?” Tegur Danila keras.
“Mengapa kamu begitu memperhatikan bisnis Dion?” tanya Krista yang sejak tadi memperhatikan suasana hati Danila yang berubah begitu cepat.
“Ya kita kan teman, masa tidak boleh saling perhatian” jawab Danila gugup.
“Oh, ku kira kamu juga ingin menjadi donatur” ucap Krista sambil menyeringai.
“Aku tidak sekaya itu untuk menjadi donatur, aku bahkan tidak tahu apa yang orang tuaku kerjakan hingga punya uang sebanyak itu. Kalian tahu sendiri aku masih mencari pekerjaan saat ini” ujar Danila. Ia membalikan badan untuk menatap keramaian di lantai dasar, tidak menyadari apa yang dilakukan Dion dan Krista.
“Apakah pesannya sudah ditentukan?”
Terdengar suara seorang bartender dengan rambut panjang membuka pintu. Ia membawa sebuah nampan yang
“Oh begitu ya, sudah lah lupakan masalah pekerjaan ayo cepat kita mulai pestanya ini sudah menjelang sore” ucap Krista menjawab ucapan Danila. Ia beralih pada bartender itu, menulis beberapa pesanan dan menyerahkannya kembali. Ia tersenyum kecil pada Danila dan mengangkat satu alisnya seolah menantang.
“...tentu.” jawab Danila dengan bimbang.
Danila memperhatikan semuanya dengan pandangan curiga. Ia ingat betul sebulan yang lalu Krista bukan lah orang yang suka berpesta dan mabuk-mabukan, meski ia sering berada di tengah pesta seperti ini ia hanya akan minum beberapa teguk minum keras sebelum memesan makanan lain. Namun kali ini berbeda, ia yang mengajaknya ke tempat ini untuk berpesta dan dia pula yang memesan semua minumannya. Apa Danila tidak mengenal Krista dan Dion dengan baik, sehingga ia melewatkan hal-hal sepenting ini.
‘pergi dan pulang’
Danila memperhatikan sekitar dengan bingung. Krista dan Dion jelas tengah bermesraan dan tidak mengatakan sepatah kata pun. Siapa yang membisikan suara yang baru saja ia dengar.
“Apa kalian mendengar sesuatu?” Tanya Danila pada keduanya.
Krista dan Dion hanya bertukar pandang.
“Sepertinya kau berhalusinasi, atau mungkin itu suara dari lantai bawah. Kami tidak mendengar apa pun” jawab Dion malas.
Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang dan seketika itu juga meja penuh dengan berbagai macam minuman dan makanan ringan. Danila melihatnya dengan tatapan gelisah, ia tidak pernah minum sebanyak ini. Bagaimana jika ia mabuk dan mempermalukan diri sendiri?
“Ini minuman yang aku pesan kusus untukmu, ini tidak memabukkan kasar alkoholnya sangat rendah” ucap Krista sambil memberikan segelas minuman bening yang berbau sangat manis.
Danila dengan yakin meminum cairan itu dan seketika tubuhnya lemas. Di ambang kesadarannya yang mulai hilang ia melihat Dion dan Krista yang menyeringai puas.
“Tumbal pertama akan segera dirilis”