NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Tiba-Tiba Nikahin Sahabat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cinta setelah menikah / Persahabatan / Perjodohan / Gadis nakal
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Soju Kimchizz

Siapa sangka hubungan persahabatan sejak kecil mengantarkan Viona dan Noah ke jenjang yang lebih serius?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Viona vz Mami

Kalau orang dengar nama 'Skylar', yang kebayang pasti hotel bintang lima, karpet merah, dan orang-orang kaku berjas. Viona? Dia malah kebalikannya. Dia itu definisi 'anak semua orang'. Temannya mulai dari barista langganan sampai anak band yang nggak jelas tinggal di mana.

"Satu shot lagi, Vi?"

Viona cuma ketawa, nyampirin rambutnya yang udah berantakan ke belakang. "Gas aja, mumpung belum kiamat," sahutnya enteng.

Dia lagi asyik ketawa waktu ponselnya getar di saku celana. Begitu layar nyala, nama 'Mama Rose' terpampang nyata. Di bawahnya, ada sebuah link portal gosip dengan judul bombastis: 'Pewaris Skylar Hotel Tertangkap Kamera Party Gila-gilaan'.

Viona mendesah pelan. Well, setidaknya fotonya di situ nggak jelek-jelek amat.

Viona membayar sopir taksi dengan gerakan tangan yang serabutan, beberapa lembar uang merah jatuh ke lantai mobil, tapi dia nggak peduli. Dia cuma butuh masuk ke rumah dan tenggelam di balik selimut sebelum dunia berhenti berputar.

Lantai marmer mansion itu kerasa dingin waktu tumit heels-nya beradu dengan lantai. Viona menarik napas dalam, berusaha mengatur fokus matanya yang mulai ganda.

Dia mencoba berjalan selurus mungkin, melewati lorong panjang yang dipenuhi lukisan-lukisan mahal yang seolah-olah lagi menghakimi langkahnya yang sempoyongan.

Tepat saat pintu utama tertutup di belakangnya, lampu ruang tengah yang tadinya redup mendadak terang benderang.

Viona silau. Dia menutup matanya dengan punggung tangan. Di sana, di atas sofa beludru, Rose duduk dengan punggung tegak dan dagu terangkat. Tatapannya lebih tajam dari jarum jam.

"Masih ingat jalan pulang, Viona?" Suara Rose tenang, tapi auranya bikin udara di ruangan itu mendadak beku.

"Ma... kok belum tidur?" Viona berusaha nyengir, tapi gagal total. Bibirnya terasa kaku.

Rose berdiri, melangkah mendekat. Setiap ketukan langkahnya bikin jantung Viona makin nggak keruan. Rose berhenti tepat di depan anak tunggalnya, menatap noda minuman di gaun mahal Viona dengan jijik.

"Besok pagi, foto kamu ini bakal ada di meja semua pemegang saham," Rose mengangkat ponselnya, menunjukkan layar yang sudah penuh dengan headline berita lokal. "Kalau kamu terus-terusan begini dan nggak bisa jaga nama baik keluarga, Mama nggak akan segan kirim kamu ke Jeju. Mama pindahkan kamu ke sana sebagai staf biasa, bukan sebagai pemilik. Mau kamu?"

Mata Viona membulat. Jeju? Jadi staf hotel yang kerjanya beres-beres kamar dan senyum ke tamu 24 jam? Itu mimpi buruk bagi seorang Viona yang sudah terbiasa duduk di kursi kebesarannya.

"Ma... nggak mau ih!" Viona merengek, berusaha membela diri. Tapi baru saja satu kalimat itu keluar, dunianya mendadak miring. Rasa pening yang sedari tadi dia tahan mendadak menyerang habis-habisan.

Viona limbung. Kesadarannya seolah ditarik paksa, dan hal terakhir yang dia dengar sebelum semuanya gelap adalah suara Rose yang memanggil namanya dengan nada antara marah dan panik.

———

Sinar matahari yang nerobos masuk lewat celah gorden kerasa kayak laser yang nusuk langsung ke bola mata Viona. Dia mengerang, mencengkeram kepalanya yang rasanya kayak lagi dipukulin palu godam. Hangover parah.

Viona memejamkan mata, berusaha merangkai kepingan ingatan semalam. Musik kencang... lampu warna-warni... lalu...

"Jeju!" Viona tersentak duduk. "Staf biasa?!"

Ingatan itu menghantamnya kayak truk. Tanpa peduli rambutnya yang masih acak-acakan atau nyawa yang belum kekumpul utuh, Viona lari keluar kamar. Dia harus negosiasi. Dia harus membatalkan hukuman konyol itu.

Begitu sampai di ruang makan, langkahnya mendadak kaku. Di sana, di meja makan yang penuh sama aroma roti panggang dan kopi mahal, udah lengkap ada Mama dan Papa. Dan yang paling bikin Viona pengen balik badan adalah sosok laki-laki yang lagi duduk santai sambil ngetawain layar ponselnya.

Noah. Si tamu tak diundang yang udah kayak pajangan tetap di rumahnya sejak mereka masih balita.

"Ma! Please, jangan pindahin aku ke Jeju ya? Aku janji nggak bakal ke club lagi, deh!" rengek Viona, nggak peduli lagi sama harga dirinya di depan Noah.

Noah melirik Viona dari atas sampai bawah, lalu kembali asyik menyuap potongan apel ke mulutnya. "Hadeh... kali ini lo lakuin apa lagi? Mabuk di atas meja atau nyebur ke kolam ikan?" gumamnya dengan nada ngeledek yang khas.

"Diem deh lo! Pasti lo seneng kan gue dimarahin?!" semprot Viona, matanya melotot tajam ke arah cowok itu.

"Viona, duduk." Suara tenang Papa kali ini bikin Viona bungkam.

Mama Rose meletakkan cangkir tehnya perlahan, bunyi denting keramiknya kedengaran horor di telinga Viona. Mama menatap Viona lurus-lurus, seolah bisa membaca setiap isi pikiran anaknya.

"Pilihannya sudah bulat, Viona. Mama nggak bisa biarin kamu ngerusak masa depan Skylar lebih jauh lagi," ucap Mama Rose dingin.

"Tapi, Mama kasih kamu jalan keluar lain kalau memang Jeju kerasa terlalu berat buat kamu."

Viona berbinar. "Apa? Apa aja, Ma! Aku lakuin!"

Mama Rose melirik ke arah Noah sebentar, lalu kembali ke Viona. "Kalau gitu kamu nikah aja. Pilihannya cuma dua sekarang: menikah atau ke Jeju sebagai staf biasa. No third option."

"Hah? Nikah?! Sama siapa, Ma? Aku bahkan nggak punya pacar!" seru Viona. Suaranya naik dua oktav, bikin kepala Noah sedikit menjauh seolah telinganya habis kena ledakan bom.

Rose nggak kaget. Dia cuma menghela napas, tipe orang tua yang udah terlalu khatam sama drama anaknya. "Emang Mama ada bilang kamu bisa bebas nikah sama siapa aja?" gerutu Rose sambil mengoles selai ke rotinya dengan sangat rapi, terlalu rapi sampai kelihatan menyeramkan.

Viona melongo. Butuh tiga detik sampai otaknya yang masih sisa alkohol itu mencerna maksud Mamanya.

"Lah, terus? Dijodohin gitu? Ma! Udah jaman apa sih sekarang? Manusia megalitikum ketawa loh denger Mama jodoh-jodohin anaknya begini," ujar Viona blak-blakan. Dia berdiri, tangannya menunjuk-nunjuk udara dengan frustrasi. "Ini tuh mansion, Ma, bukan museum sejarah!"

Di seberang meja, Noah hampir tersedak potongan apel terakhirnya. Dia berusaha keras menahan tawa, tapi bahunya yang gemetar nggak bisa bohong.

"Viona, jaga bicaramu," Jeremy, papa Viona menyela, meski nadanya lebih ke arah lelah daripada marah.

"Nggak bisa, Pa! Ini tuh hak asasi manusia!"

Viona kembali menatap Mamanya dengan tatapan memohon sekaligus nggak percaya.

"Ma, aku masih muda. Aku masih pengen... pengen hidup! Masa tiba-tiba harus jadi istri orang? Sama siapa coba? Anak kolega Mama yang pake kacamata tebel dan hobi bahas kurs mata uang itu? Atau om-om yang—"

"Sama Noah."

Dua kata itu keluar dari mulut Rose setenang dia memesan menu di restoran bintang lima.

Detik itu juga, Viona mendadak lupa gimana caranya ngomong.

Jarinya yang tadi menunjuk-nunjuk udara mendadak kaku. Dia menoleh pelan-pelan ke arah Noah, yang sekarang juga ikut membeku dengan mulut setengah terbuka.

"Sama... siapa tadi, Ma?" tanya Viona pelan, berharap telinganya cuma salah dengar karena sisa hangover.

"Noah. Noah Sebastian Willey," ulang Rose, kali ini sambil menatap Noah yang mendadak hilang nafsu makan. "Keluarga Willey sudah setuju. Sekarang pilihannya ada di kamu. Jeju yang dingin dan sepi, atau Noah yang... yah, setidaknya kamu sudah kenal dia luar dalam."

Viona ngerasa dunianya bener-bener runtuh. Dia ngeliat Noah. Noah ngeliat dia. Dan di kepala Viona cuma ada satu pikiran: Mending gue hidup sama manusia megalitikum beneran daripada sama cowok ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!