Han Feng, seorang peneliti sejarah kuno dari Bumi, meninggal karena kecelakaan di situs penggalian. Jiwanya bertransmigrasi ke Benua Roh Azure, masuk ke dalam tubuh Tuan Muda Ketiga keluarga Han yang dikenal sebagai "sampah" karena meridiannya yang rusak.
Namun, Han Feng membawa serta sebuah Pustaka Ilahi di dalam jiwanya—sebuah perpustakaan gaib yang berisi semua teknik bela diri yang pernah hilang dalam sejarah. Di dunia di mana kekuatan adalah segalanya, Han Feng menolak nasibnya sebagai sampah. Dia akan memperbaiki meridiannya, membantai mereka yang menghinanya, dan mendaki puncak Sembilan Langit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Kultivasi Han Feng yang sebelumnya berada di Tingkat 1 Awal, mulai merangkak naik dengan kecepatan yang mengerikan. Otot-ototnya semakin padat, dan kulitnya menjadi semakin keras dan ulet.
Tepat ketika Han Feng hendak mengambil sebatang Rumput Roh Angin yang tergeletak di dekat sebuah batu besar, suara desisan tajam terdengar dari balik bayangan.
Ssshhhh!
Han Feng melompat mundur secara refleks.
Dari balik batu besar itu, merayap keluar seekor binatang buas sebesar anjing dewasa. Binatang itu berbentuk seperti tikus, namun kulitnya tidak berbulu, melainkan tertutup sisik-sisik keras berwarna abu-abu metalik. Matanya merah menyala, dan gigi depannya yang panjang tampak setajam pisau belati.
[Terdeteksi Ancaman: Tikus Besi Pemakan Mayat] [Tingkat: Binatang Buas Tingkat 1 (Setara Kultivator Pembentukan Tubuh Tingkat 2)]
Tikus Besi itu menatap Han Feng dengan lapar. Bagi tikus itu, Han Feng adalah daging segar yang menyusup ke wilayah kekuasaannya. Binatang itu jelas sudah bermutasi karena memakan sisa-sisa sampah alkimia di lembah ini selama bertahun-tahun, membuatnya lebih besar dan lebih agresif daripada tikus biasa.
"Jadi kau penguasa tempat sampah ini?" Han Feng tersenyum dingin. Dia tidak melarikan diri. Sebaliknya, darah di dalam tubuh Han Feng mendidih karena antusiasme. "Kebetulan sekali. Aku butuh samsak hidup untuk menguji kekuatan baruku."
Tikus Besi itu memekik keras dan melesat maju. Kecepatannya luar biasa, meninggalkan bayangan abu-abu di udara. Gigi tajamnya mengarah langsung ke leher Han Feng.
Han Feng tidak memiliki senjata. Dia hanya memiliki sepasang tangan kosong dan tubuh yang baru saja ditempa ulang.
Saat Tikus Besi itu menerjang, Han Feng memusatkan seluruh kekuatannya pada kaki kanan. Lantai tanah di bawah kakinya retak saat Han Feng menahan kuda-kuda.
Bukannya menghindar, Han Feng melangkah maju menyambut serangan itu!
Tangan kiri Han Feng bergerak seperti cakar naga, menyambar leher tikus itu di udara. Sisik besi tikus itu yang keras bergesekan dengan kulit telapak tangan Han Feng, memercikkan bunga api kecil.
"Kena kau!"
Han Feng berhasil mencengkeram leher binatang itu, namun momentum serudukan Tikus Besi terlalu kuat, mendorong Han Feng terseret mundur beberapa meter. Kuku-kuku tajam tikus itu mencakar lengan Han Feng, merobek lengan baju dan meninggalkan goresan putih di kulitnya.
Hanya goresan putih. Tidak ada darah.
Kulit Han Feng, yang telah diperkuat oleh tahap awal Sutra Hati Naga, ternyata sekeras kulit kerbau tua yang direndam minyak.
Tikus Besi itu panik. Ia meronta-ronta, mencoba menggigit tangan Han Feng. Namun cengkeraman Han Feng sekuat catok besi.
"Sekarang giliranku," geram Han Feng.
Han Feng mengepalkan tangan kanannya, menyalurkan seluruh energi yang baru saja didapatnya dari pil-pil gagal tadi. Urat-urat di lengannya menonjol seperti cacing tanah.
BUGH!
Tinju Han Feng menghantam kepala Tikus Besi itu dengan telak.
Suara tengkorak retak terdengar mengerikan di lembah sunyi itu. Tikus Besi itu memekik kesakitan, matanya hampir keluar. Namun binatang itu masih hidup, vitalitasnya sangat ulet.
"Masih belum mati?" Han Feng tidak memberi ampun.
BUGH! BUGH! BUGH!
Han Feng memukul lagi, lagi, dan lagi. Tiga pukulan berturut-turut dengan kekuatan penuh. Kepala Tikus Besi itu akhirnya remuk, darah hitam muncrat membasahi wajah dan jubah Han Feng. Tubuh binatang itu mengejang sesaat sebelum akhirnya terkulai lemas dalam genggaman Han Feng.
Han Feng menjatuhkan bangkai tikus itu ke tanah, napasnya memburu. Adrenalin membanjiri otaknya. Ini adalah pertarungan hidup mati pertamanya di dunia ini, dan sensasi kemenangan itu terasa memabukkan.
Tiba-tiba, Pustaka Ilahi mengirimkan notifikasi baru yang membuat Han Feng terdiam.
[Terdeteksi Daging dan Darah yang kaya Energi Vital.] [Sutra Hati Naga Purba dapat mengekstrak Esensi Darah untuk memperkuat Fisik.] [Apakah Tuan ingin menyerapnya?]
Han Feng menatap bangkai tikus yang berlumuran darah itu. Bagi manusia normal, memakan atau menyerap darah tikus mutasi adalah tindakan menjijikkan dan gila. Tapi Han Feng ingat deskripsi tekniknya: Tirani. Naga tidak peduli dari mana asalnya kekuatan, selama itu bisa membuatnya menjadi penguasa langit.
"Di dunia di mana yang lemah dimakan oleh yang kuat..." Han Feng berlutut di samping bangkai itu, meletakkan telapak tangannya di atas tubuh Tikus Besi. "Aku memilih menjadi pemangsa."
"Serap!"
Pusaran energi emas kembali muncul dari telapak tangan Han Feng, kali ini berwarna sedikit kemerahan. Bangkai Tikus Besi itu perlahan layu dan mengering dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang. Gumpalan kabut merah darah tersedot keluar dari mayat itu, masuk ke dalam pori-pori telapak tangan Han Feng.
Sensasi panas yang membara—jauh lebih kuat daripada pil gagal tadi—mengalir deras ke dalam tubuh Han Feng.
Krak! Krak!
Suara tulang Han Feng berbunyi lagi. Kali ini lebih keras.
[Selamat! Kultivasi meningkat!] [Tingkat Saat Ini: Pembentukan Tubuh Tingkat 1 (Puncak)] [Kekuatan Fisik meningkat setara dengan kekuatan Dua Banteng.]
Han Feng berdiri, merasakan kekuatan baru yang bergejolak di dalam dirinya. Dia melihat tangannya yang berlumuran darah kering. Tidak ada rasa jijik, hanya ada kepuasan dingin.
Dengan metode ini... mencapai Tingkat 2, atau bahkan Tingkat 3 sebelum turnamen bulan depan, bukan lagi sekadar mimpi.
Han Feng menatap tumpukan sampah di sekelilingnya dengan tatapan serakah. "Lembah ini... malam ini aku akan membersihkannya."
Malam di Lembah Kabut Sisa berlalu dengan penuh kebrutalan dan keheningan yang mencekam.
Bagi tikus-tikus besi dan serangga beracun yang selama bertahun-tahun merajai tumpukan sampah alkimia ini, malam ini adalah kiamat. Predator puncak baru telah turun ke wilayah mereka. Bukan seekor binatang buas raksasa, melainkan seorang pemuda manusia yang memancarkan aura kelaparan yang tak berdasar.
Han Feng bergerak seperti hantu di antara kabut beracun. Setiap kali Han Feng menemukan pil gagal yang masih memancarkan sisa energi, Han Feng akan menelannya tanpa ragu. Setiap kali Han Feng bertemu dengan binatang mutasi—baik itu kelabang berkaki seribu atau ular tanah berbisa—Han Feng akan membunuhnya dengan tangan kosong dan menyerap esensi darah mereka menggunakan Sutra Hati Naga Purba.
Tubuh Han Feng yang sebelumnya kurus kering kini mengalami transformasi drastis. Di bawah jubahnya yang robek dan berlumuran darah hitam, otot-otot baru mulai terbentuk. Bukan otot yang menggembung besar seperti binaragawan, melainkan otot yang padat, terdefinisi dengan tajam, dan sekeras kawat baja yang dipilin.
Saat fajar mulai menyingsing di ufuk timur, Han Feng duduk bersila di atas sebuah batu besar di tengah lembah. Di sekeliling Han Feng, puluhan bangkai binatang buas yang telah kering kerontang berserakan seperti dedaunan mati.
"Huuufft..."
Han Feng menghembuskan napas panjang. Udara putih keluar dari hidungnya, melesat lurus seperti anak panah sejauh satu meter sebelum memudar. Ini adalah tanda bahwa organ dalam Han Feng telah mencapai tingkat kekuatan yang luar biasa. Paru-parunya kini mampu memadatkan udara.
Di dalam tubuhnya, suara gemuruh samar terdengar. Darah Han Feng mengalir deras seperti sungai merkuri yang berat, menghantam dinding pembuluh darah dengan kekuatan yang bisa membuat orang biasa meledak.
[Peringatan: Energi Vital mencapai titik kritis.] [Memulai terobosan ke Tingkat 2 Pembentukan Tubuh.]
Han Feng tidak perlu peringatan itu. Han Feng sudah merasakannya.
Rasa sakit kembali datang, namun kali ini Han Feng menyambutnya dengan seringai lebar. Tulang-tulang di seluruh tubuh Han Feng terasa gatal dan panas. Sumsum tulangnya sedang diproduksi ulang, menjadi lebih padat dan berat. Kulit Han Feng yang penuh luka goresan perlahan mengelupas, digantikan oleh lapisan kulit baru yang berwarna sedikit lebih gelap, namun memiliki kilau samar seperti logam tembaga.
Krak! Krak! DUAR!
Sebuah ledakan energi yang tertahan meletus dari dalam tubuh Han Feng, menyapu kabut di sekitarnya hingga radius lima meter.