Hidup bergelimang harta, tetapi tanpa kasih sayang seorang ibu, membuat Abiyan tumbuh menjadi sosok pemuda yang keras kepala dan pembangkang. Suatu hari dia melakukan kesalahan fatal dengan terlibat balapan liar yang mengakibatkan dirinya tertangkap polisi.
Akibat perbuatannya, Bastian sang ayah murka dan Abiyan harus menerima hukuman terberat: dia terbuang dari rumah yang selama ini menjadi istananya. Tanpa kemewahan, tanpa perlindungan, Abiyan terpaksa harus menghadapi dunia yang keras dan penuh tantangan seorang diri.
Mampukah Abiyan sang tuan muda yang terbuang, bertahan hidup dan belajar menjadi pribadi yang bertanggungjawab? Atau justru dia akan semakin terpuruk dalam kesengsaraan?
Ikuti kisahnya hanya di sini:
"Abiyan, Tuan Muda Terbuang" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Terlalu berharap
Tatapan tajam Pak Joni membuat Tyo semakin gugup. Pemuda itu tidak langsung menjawab, dia berusaha mengingat-ingat apa yang tertulis dalam laporan tersebut. Namun, dia benar-benar tidak memahami detailnya karena hanya membacanya sekilas dan memperhatikan dengan jelas.
"Duh, gawat." Tyo merasa terjebak. "Ah, kenapa dia sangat menyusahkan, sih!"
"Bagaimana, Tyo? Kenapa kamu hanya diam?" desak Pak Joni.
"Emmm... itu... anu, Pak," jawab Tyo terbata-bata. "Itu berdasarkan... data yang saya dapatkan dari... dari... survei lapangan."
Pak Joni mengangkat sebelah alisnya, tidak percaya jawaban Tyo. "Survei lapangan? Kapan kamu melakukannya? Sepertinya saya tidak pernah meminta siapapun untuk melakukan hal itu."
Tyo semakin panik telah ketahuan berbohong. Dia mencoba mencari alasan lain, tetapi pikirannya buntu.
"Sebenarnya... sebenarnya itu inisiatif saya sendiri, Pak." Tyo berkata lirih. "Saya ingin memberikan hasil yang terbaik untuk kafe ini, jadi saya melakukannya diam-diam."
Pak Joni menggelengkan kepalanya, kecewa. "Tyo, saya tidak suka orang yang berbohong," katanya dengan nada dingin.
"Saya sudah lama mengelola kafe ini dan saya tahu betul mana laporan yang dibuat dengan sungguh-sungguh dan mana yang hanya hasil jiplakan," lanjutnya kemudian.
"Pagi ini, kamu yang memimpin briefing, seperti yang sudah Abiyan lakukan kemarin. Saya mau lihat kemampuanmu dalam memimpin dan memberikan arahan pada karyawan yang lain," tambahnya masih dengan nada suaranya yang dingin.
Tyo menelan ludah dengan susah payah. Ini adalah ujian berat baginya. Dia sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam memimpin briefing. Selama ini dia tidak pernah benar-benar memperhatikan dengan serius. Namun, dia berharap keajaiban akan terjadi.
"Baik, Pak," jawab Tyo, suaranya sedikit bergetar.
Dia segera berbalik dan berjalan ke luar dengan langkah gontai. Tyo melihat rekan-rekannya sudah berkumpul. Dia menatap Abiyan sekilas, mendadak rasa gugup dan tidak percaya diri menyergapnya. Pikirannya kosong, dia hanya bisa mengandalkan instingnya.
.
Selesai briefing yang kacau, Tyo menghampiri Abiyan dengan langkah tergesa-gesa. "Loe pasti senang, kan? Gue gagal memimpin briefing pagi ini?" bisiknya pelan di telinga Abiyan, nada suaranya sarat tuduhan serta kebencian.
Abiyan menghentikan pekerjaannya, menatap Tyo dengan heran juga bingung. Dia tidak mengerti mengapa Tyo menyalahkannya atas kegagalannya sendiri. "Loe sendiri yang ngomong, bukan gue," ucapnya santai, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya, seolah tidak ingin meladeni Tyo.
"Nggak usah sok baik deh, loe! Gue tahu apa yang ada di pikiran loe saat ini!" tekan Tyo, berusaha memprovokasi Abiyan.
Kali ini senyum Abiyan mengembang lebih lebar, tetapi sorot matanya tetap dingin. "Oh, ya? Baguslah... dengan begitu, gue nggak perlu ragu untuk nuduh loe yang menukar berkas laporan gue."
"Apa maksud, loe, hahhh?" Tyo tampak panik, tetapi berusaha tetap bersikap tenang dan menyangkal tuduhan Abiyan.
Abiyan menatap Tyo dingin dan menusuk, bibirnya menyunggingkan seringai tipis yang membuat Tyo semakin tidak nyaman. "Apa loe nggak berpikir panjang saat ingin melakukan aksi loe itu? Di ruangan Pak Joni tentu saja ada CCTV, apa loe lupa?" Abiyan sengaja menekan kata "CCTV" agar Tyo semakin merasa terpojok.
Tyo tersentak kecil dan Abiyan menangkap ekspresi ketakutan di wajahnya. "Bukankah gue sudah bilang, mari kita bersaing secara sehat?" Abiyan menambahkan dengan nada mengejek, membuat Tyo semakin geram.
"Ah, si*l... Kenapa gue nggak kepikiran, sih?" umpat Tyo dalam hati.
"Tapi gue nggak akan menyerah. Gue harus berhasil mendapatkan posisi itu dengan cara apapun?" tekatnya dengan kuat.
.
.
.
Beralih ke tempat lain
Hari ini Naraya terpaksa menuruti permintaan Abiyan untuk tidak masuk kerja. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati, tetapi ia juga menyadari bahwa tubuhnya memang membutuhkan istirahat. Ia menatap isi plastik besar pemberian Abiyan kemarin. Ada beberapa cemilan sehat, susu bubuk khusus ibu hamil dua varian rasa stroberi dan cokelat yang tampak menggugah selera, serta buah-buahan segar.
Naraya menghela napas pelan, lalu tersenyum tipis. Hatinya merasa tersentuh oleh perhatian Abiyan, pemuda yang baru dikenalnya beberapa hari lalu. Namun, entah mengapa, ia merasa seolah mereka sudah saling mengenal lama, ada kenyamanan yang aneh, tetapi menenangkan.
"Hari ini kamu nggak usah pergi kerja, Ra," kata Abiyan pagi tadi ketika hendak berangkat kerja. "Gunakan hari ini untuk beristirahat dengan baik. Ingat, jangan pikirkan apapun, oke!" lanjutnya dengan nada lembut penuh perhatian, Sikapnya itu persis seorang kekasih atau bahkan suami yang sangat perhatian pada pasangannya. Namun, tak sadar sikapnya itu bisa menimbulkan prasangka.
Naraya tak mampu berkata-kata. Perhatian Abiyan membuat hatinya menghangat. Ia tersenyum getir mengingatnya. Andai saja... bisa memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman dengan Abiyan. Namun, kemudian ia menggelengkan kepalanya cepat, mencoba menepis harapan yang mulai tumbuh di hatinya.
"Nggak, aku nggak boleh berharap lebih. Dia hanya merasa kasihan padamu. Kamu harus ingat itu, Ra."
Naraya meraih sekotak susu bubuk rasa stroberi dan membukanya. Aroma manis stroberi langsung memenuhi indra penciumannya, membuatnya merasa sedikit lebih baik. Ia kemudian beranjak ke dapur untuk menyeduh susu tersebut dengan air hangat, lalu kembali ke depan dan meminumnya sembari berpikir untuk membalas kebaikan Abiyan.
"Aku harus kasih apa ya, sama dia?" Naraya mencari ide sambil mengetuk dagunya.
"Ah, iya. Lebih baik aku memasak untuknya," serunya kemudian.
Dia segera menghabiskan susunya, lalu belanja ke warung.
"Permisi, Bu. Apa ayamnya masih ada?" tanya Naraya pada pemilik warung sayuran.
"Eh, Neng Nara," sahut pemilik warung itu sambil tersenyum. Ada, Neng, mau berapa?"
"Setengah kilo saja, Bu." Naraya menjawab sembari memilih sayuran dan pilihannya jatuh pada seikat bayam yang masih segar dan jagung. Tak ketinggalan ia mengambil tempe sepotong juga tahu.
"Mau cabe sama bawang merah, bawang putihnya sekalian ya, Bu," tambahnya.
"Siap, Neng." Ibu warung dengan cekatan melayani apa yang Naraya minta.
Sampai di kontrakan, Naraya dengan semangat segera mengeksekusi hasil belanjaan yang dibelinya. Ia akan memasak sayur bening bayam dengan jagung manis, serta ayam dan tahu tempe goreng sebagai lauk. Tak lupa, ia membuat sambal terasi sebagai pelengkap, menambah cita rasa pedas yang menggugah selera.
Satu jam kemudian, Naraya telah selesai memasak. Aroma masakan yang lezat memenuhi seluruh ruangan kamarnya yang sempit. Ia menata hasil masakannya di meja lipat kecil. Setelahnya, ia segera membersihkan lantai dan mengepelnya. Kemudian ia mandi air hangat untuk menyegarkan tubuhnya.
Naraya mengenakan pakaian yang bersih dan nyaman, lalu duduk di teras kamarnya, menikmati semilir angin sore yang sejuk. Ia tersenyum tipis, menyadari bahwa sikapnya ini persis seperti seorang istri yang sedang menunggu suaminya pulang bekerja. Menyiapkan makanan dengan penuh cinta, membersihkan rumah agar nyaman, dan berdandan agar terlihat cantik. "Benarkah aku seperti itu?" gumamnya dalam hati, merasa malu dengan pikirannya sendiri.
Mendadak Naraya merasa insecure, mengingat status dirinya yang menggantung, janda bukan gadis juga bukan. Apalagi, saat ini dirinya tengah hamil. "Masih adakah pria baik yang mau sama aku? Apakah aku terlalu berharap?"
Terus pemuda itu anak tirinya. Nggak punya sopan santun banget ....