NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan ditengah badai Salju

Kehidupan di perkebunan Provence yang damai seolah menjadi surga kecil bagi Max dan Guzzel. Putri kedua mereka, Aurelia Vance, kini telah tumbuh menjadi gadis cilik berusia 8 tahun yang cantik, mewarisi mata biru Max dan kelembutan hati Guzzel. Leo, sang kakak, sudah menjadi remaja yang protektif dan cerdas.

Keluarga Vance sedang melakukan perjalanan musim dingin ke pegunungan Alpen, Swiss, untuk merayakan ulang tahun pernikahan mereka. Di sebuah desa terpencil yang tertutup salju tebal, saat Max sedang mengemudikan mobilnya menembus badai, ia melihat sebuah pemandangan yang menyayat hati di pinggir jalan yang sunyi.

​Seorang gadis kecil, dengan pakaian tipis yang koyak dan tubuh yang membiru karena kedinginan, sedang duduk meringkuk di samping sebuah gubuk tua yang runtuh. Tangannya memegang sebuah kalung perak usang, dan matanya yang besar menatap kosong ke arah butiran salju.

​Guzzel segera turun dari mobil tanpa memedulikan dingin yang menusuk tulang. Ia menyelimuti gadis itu dengan mantel bulunya yang tebal.

"Siapa namamu, sayang? Di mana orang tuamu?"

​Gadis itu hanya menggeleng lemah. Suaranya hampir hilang karena hipotermia. "Ibu... Ibu sudah tidur lama sekali di dalam sana," bisiknya menunjuk ke arah gubuk yang tertimbun salju.

​Max memeriksa gubuk itu dan menemukan kenyataan pahit, ibu dari gadis itu telah meninggal dunia karena sakit dan kedinginan beberapa hari yang lalu. Gadis itu, yang kemudian mereka ketahui bernama Elara, telah bertahan hidup sendirian di tengah badai hanya dengan memakan sisa-sisa roti kering.

​Guzzel tidak bisa meninggalkan Elara begitu saja. Rasa keibuannya bergejolak hebat. Setelah melalui proses penyelidikan pihak berwenang yang menyatakan bahwa Elara benar-benar sebatang kara dan merupakan korban dari kemiskinan ekstrem di wilayah tersebut, Max dan Guzzel membuat keputusan besar.

​"Dia seusia Aurelia, Max. Lihat betapa takutnya dia," ujar Guzzel sambil menatap Elara yang sedang makan dengan lahap di rumah sakit, namun tangannya tetap gemetar.

​Max, pria yang dulu kaku dan dingin, kini telah menjadi sosok ayah yang sangat lembut.

Ia mengelus kepala Elara. "Kita tidak akan membiarkannya kembali ke panti asuhan. Jika kau setuju, kita akan membawanya pulang ke Provence. Dia akan menjadi putri ketiga kita."

​Proses adopsi berjalan lancar dengan bantuan kekuasaan Pieter Van Der Wood dan Mr. Dante. Elara secara resmi menjadi bagian dari keluarga Vance.

​Awalnya, kehadiran Elara menciptakan dinamika baru yang menantang. Aurelia, yang selama ini menjadi putri bungsu kesayangan, merasa cemburu melihat perhatian ibunya terbagi. Elara yang pendiam dan trauma sering kali ketakutan jika mendengar suara keras, membuat Aurelia merasa "saudara barunya" sangat aneh.

​Suatu malam, Aurelia menangis di kamar Max. "Kenapa Mommy selalu memeluk Elara? Apakah Mommy tidak sayang lagi padaku?"

​Max menggendong Aurelia, mendudukkannya di pangkuannya. "Sayang, Elara tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Dia tidak pernah merasakan hangatnya pelukan Mommy seperti yang kau rasakan setiap hari selama delapan tahun. Kita tidak sedang membagi cinta, kita sedang melipatgandakannya. Kau adalah kakak sekarang bagi Elara, meski usiamu hampir sama. Kau adalah pelindungnya."

​Mendengar itu, Aurelia mulai berubah. Ia mulai membawakan mainan untuk Elara dan mengajarinya bahasa Prancis. Perlahan, Elara mulai berani tersenyum, dan tawa dua gadis kecil itu mulai memenuhi lorong-lorong mansion mereka.

​Meskipun sudah memiliki tiga anak yang tumbuh besar, gairah di antara Max dan Guzzel justru semakin matang dan mendalam. Kehadiran Elara memberikan warna baru bagi kebahagiaan mereka.

​Malam itu, setelah memastikan Aurelia dan Elara tertidur pulas di kamar mereka yang bersebelahan, dan Leo sedang sibuk dengan buku-bukunya di perpustakaan, Max menarik Guzzel ke arah balkon kamar utama mereka.

​"Terima kasih telah menemukannya, Lia," bisik Max, memeluk pinggang Guzzel yang masih tetap ramping meski sudah melahirkan dua kali.

"Elara melengkapi kita dengan cara yang tidak pernah aku duga."

​Guzzel bersandar di dada bidang Max, menghirup aroma maskulin suaminya yang selalu menenangkannya. "Dia mengingatkanku pada kita, Max. Sendirian dan butuh seseorang untuk menariknya keluar dari kegelapan. Kau adalah penyelamatku, dan sekarang kita adalah penyelamatnya."

​Max memutar tubuh Guzzel, menatap mata istrinya yang kini penuh dengan kedamaian. Ia mencium Guzzel dengan penuh gairah, sebuah ciuman yang menceritakan ribuan kata tentang perjalanan panjang mereka. Max mengangkat Guzzel ke dalam gendongannya, membawanya menuju tempat tidur besar mereka yang berhiaskan kelambu sutra.

​Di sana, di tengah keheningan malam Swiss yang dingin, mereka menyatu dalam kehangatan cinta yang membara. Max memuja setiap inci tubuh Guzzel, memberikan kenikmatan yang membuat Guzzel terus memanggil namanya. Bagi mereka, penyatuan ini bukan lagi soal gairah muda yang meledak-ledak, melainkan sebuah ritual syukur atas keluarga besar yang kini mereka miliki.

​Kembalinya mereka ke New York disambut oleh Pieter Van Der Wood yang sudah sangat merindukan cucu-cucunya. Saat Pieter melihat Elara, air matanya jatuh. Elara memiliki sorot mata yang mengingatkannya pada Chelsea saat masih sangat kecil, Sorot mata yang penuh rasa ingin tahu namun rapuh.

​"Kemari lah, Elara," panggil Pieter dengan tangan terbuka.

​Elara, yang awalnya takut, melihat senyum tulus Pieter dan segera berlari ke pelukannya. Pieter langsung memberikan sebuah kalung berlian biru yang indah padanya. "Mulai sekarang, kau adalah putri dari kerajaan Van Der Wood. Tidak akan ada lagi yang berani menyakitimu."

​Penyatuan tiga dinasti ini semakin kokoh dengan kehadiran Elara. Elara bukan hanya anak adopsi, dia adalah simbol bahwa keluarga tidak selalu tentang darah, melainkan tentang siapa yang bersedia memegang tanganmu saat dunia terasa begitu dingin.

​Keluarga Vance-Dante-Van Der Wood kini memiliki formasi lengkap, Leo sang pewaris, Aurelia sang putri ceria, dan Elara sang penyembuh luka. Mereka hidup dalam kemewahan yang tidak lagi membuat mereka sombong, melainkan membuat mereka lebih banyak berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

... ~Tamat~...

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!