Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Elisa-9
Udara di dalam kontrakan Elisa terasa semakin tipis. Meski kipas angin di sudut ruangan berputar dengan bunyi berderit yang konsisten, ketegangan di antara dua orang yang duduk berhadapan itu tak kunjung mencair. Di sudut lain, tawa Aris pecah saat Gery sengaja menjatuhkan robot mainannya dengan gerakan dramatis.
"Waduh! Robotnya kena serangan maut dari Kapten Aris!" seru Gery heboh.
Kalandra melirik ke arah adiknya Elisa sejenak, lalu kembali menatap Elisa. Gadis itu tampak masih ragu, jemarinya terus meremas ujung bajunya.
"Kamu serius dengan syarat itu?" tanya Kalandra dengan suara rendah agar tidak terdengar oleh Aris.
Elisa mendongak, matanya berkilat tegas namun ada sisa-sisa kerapuhan di sana. "Hanya itu cara saya bisa bertahan hidup, Tuan Kalandra. Aris menganggap orang tua kami adalah pahlawan. Dia percaya bahwa kehormatan keluarga adalah segalanya. Kalau dia tahu kakaknya... kalau dia tahu kebenarannya, dunianya akan runtuh. Saya tidak mau itu terjadi."
Kalandra mengangguk perlahan. Ia memahami beban itu. "Baik. Mulai hari ini, di depan Aris dan siapa pun itu, kita adalah pasangan yang sudah lama menjalin hubungan. Saya akan mengatur semuanya agar terlihat masuk akal."
"Kapan... kapan kita akan melakukan pernikahan itu?" suara Elisa hampir tidak terdengar.
"Secepatnya. Bimo sedang mengurus administrasinya. Saya ingin minggu depan kamu dan Aris sudah pindah dari sini," jawab Kalandra.
Elisa tersentak. "Minggu depan? Itu terlalu cepat! Saya masih punya tanggungan cucian tetangga, saya harus pamit dengan pemilik kontrakan, dan Aris... dia baru saja ujian tengah semester."
"Semua urusan kontrakan dan pekerjaanmu, biar asisten saya yang selesaikan. Kamu tidak perlu kembali ke jalanan sebagai kurir. Itu berbahaya untuk kandunganmu, Elisa," Kalandra berkata dengan nada otoriter yang biasa ia gunakan di kantor, namun segera melembut saat melihat Elisa mengerutkan kening. "Maksud saya...tolong pikirkan kesehatanmu dulu."
Elisa terdiam. Rasa pahit kembali muncul di pangkal tenggorokannya. Bukan karena mual, tapi karena kenyataan bahwa hidupnya kini diatur oleh pria yang asing baginya.
Tiba-tiba, Aris berlari mendekat ke arah mereka. Wajahnya yang bulat penuh keringat karena asyik bermain.
"Kak! Kak Gery bilang, Kak Kalandra punya rumah yang ada kolam renangnya? Beneran?" tanya Aris dengan mata berbinar-binar.
Kalandra berdehem, sedikit canggung menghadapi antusiasme anak kecil. "Iya, Aris. Ada kolam renangnya. Kamu suka berenang?"
"Suka banget! Tapi biasanya cuma berenang di kali kalau pulang sekolah sama temen-temen," jawab Aris polos.
Elisa memejamkan mata sejenak, hatinya terasa tersayat. Sementara itu, Gery ikut bergabung, duduk di lantai dekat kaki kursi Kalandra.
"Bukan cuma kolam renang, Ris! Ada ruang game, ada kulkas yang isinya es krim semua, pokoknya keren deh!" Gery mengedipkan mata ke arah Kalandra, memberi kode agar sahabatnya itu lebih luwes.
Kalandra mencoba berjongkok agar tingginya sejajar dengan Aris. "Aris... Kakak mau tanya. Kalau Kakak ajak Aris dan Kak Elisa pindah ke rumah Kakak, Aris mau?"
Aris menoleh ke arah Elisa, mencari persetujuan. "Kak Elisa ikut?"
Elisa memaksakan senyum paling manis yang ia punya. "Iya, sayang. Kakak ikut."
"Kalau Kakak ikut, Aris mau! Tapi... sekolah Aris gimana? kan Aris sekolah Kak.”
"Kamu akan sekolah di tempat yang lebih bagus. Dan itu dekat dengan rumah baru nanti. Kamu tidak perlu jalan kaki yang jauh lagi," ujar Kalandra.
Aris tampak berpikir sejenak, lalu mengulurkan jari kelingkingnya yang mungil ke arah Kalandra. "Janji ya, Kak Elisa nggak akan nangis lagi kalau kita pindah?"
Pertanyaan polos itu seperti bogem mentah yang menghantam ulu hati Kalandra. Ia terdiam cukup lama, menatap jari kelingking Aris, lalu melirik Elisa yang kembali menunduk sembari menyembunyikan air mata yang mulai menggenang.
"Janji," bisik Kalandra sambil menautkan kelingking besarnya ke kelingking Aris. "Kakak janji akan menjaga Kak Elisa."
////////
Dua jam kemudian, Kalandra dan Gery berpamitan. Setelah mobil SUV hitam itu menjauh dari gang, suasana di dalam mobil terasa berbeda. Gery tidak langsung menghidupkan musik kencang seperti biasanya.
"Lan," panggil Gery pelan.
"Hm?"
"Lo liat kan gimana Aris sayang banget sama kakaknya?" Gery menghela napas. "Gue nggak bisa bayangin kalau suatu saat dia tau lo adalah orang yang bikin kakaknya trauma. Lo harus bener-bener jadi pria yang baik buat mereka, Lan. Bukan cuma sekadar kasih uang."
Kalandra menatap jalanan di depannya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Gue tau, Ger. Gue ngerasa punya beban di pundak yang sekarang jauh lebih berat daripada mimpin sepuluh perusahaan Mahendra."
Tiba-tiba, mobil terhenti di lampu merah. Kalandra mendadak menutup hidungnya dengan punggung tangan.
"Aduh... bau apa nih?" gumam Kalandra, wajahnya kembali pucat.
Gery mengendus-endus udara di dalam mobil. "Bau apa? Wangi parfum lo ini mah."
"Nggak... bau... bau minyak goreng yang bekas. Amis banget!" Kalandra segera membuka kaca jendela mobil, mencari udara segar, namun bau asap knalpot justru membuatnya semakin mual. "Huekk... pinggirin mobilnya, Ger! Cepetan!"
Gery dengan sigap meminggirkan mobil ke bahu jalan. Kalandra langsung keluar dan membungkuk di samping pohon pelindung jalan.
Huekk... huekk...
Hanya cairan bening yang keluar karena perutnya memang kosong. Gery keluar membawa botol air mineral dan memijat tengkuk Kalandra.
"Gila... ini bener-bener gila. Si Elisa di sana pasti lagi mual juga nih," ujar Gery sambil tertawa kecil meski kasihan. "Ternyata hormon bayi Mahendra nggak main-main ya pengaruhnya ke bapaknya."
"Diem lo... ugh... rasanya kayak lambung gue mau keluar," rintih Kalandra.
"Sabar, Lan. Ini baru awal. Lo bayangin, ini masih bulan pertama. Perjalanan lo masih delapan bulan lagi," goda Gery. "Makanya, jangan bikin Elisa stres. Kalau dia stres, dia mual. Kalau dia mual, lo juga yang menderita. Jadi, bahagiain dia itu kunci keselamatan perut lo."
Kalandra menyeka mulutnya dengan tisu, ia menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Ucapan konyol Gery ada benarnya. Ada ikatan biologis yang tak terlihat namun sangat nyata antara dirinya, Elisa, dan janin itu. (Ya iyalah nyata, orang kamu yang nanam benihnya kalandra…wkwkw)
...----------------...
Sore harinya, Elisa sedang merapikan beberapa pakaiannya ke dalam kardus bekas. Pikirannya melayang pada percakapannya dengan Kalandra tadi siang. Pria itu tampak sangat berbeda dari malam kejadian. Tidak ada lagi mata liar penuh gairah yang mengerikan, yang ada hanya mata yang penuh beban.
"Benarkah dia dijebak?" batin Elisa.
Ia mengusap perutnya. "Tapi Apapun alasannya, kamu sudah ada di sini. Maafkan Ibu yang sempat membencimu..."
Tiba-tiba, pintu kontrakannya diketuk. Kali ini ketukannya lebih berisik.
"Lisa! Lisa! Keluar lu!" suara Bu RT terdengar nyaring.
Elisa segera membuka pintu. Di depan rumahnya, Bu RT berdiri dengan tangan di pinggang, diikuti oleh beberapa ibu-ibu tetangga yang wajahnya penuh rasa ingin tahu.
"Ada apa, Bu RT?" tanya Elisa sopan.
"Itu... tadi ada mobil mewah parkir di depan gang lama banget. Katanya nyari rumah kamu. Terus si Aris cerita sama anak-anak kalau katanya kalian mau pindah ke rumah besar yang ada kolam renangnya?" Bu RT menatap Elisa dari atas ke bawah. "Kamu dapet warisan atau... jangan-jangan kamu jadi simpanan orang kaya ya?"
Darah Elisa mendidih. "Jaga bicara Ibu ya. Saya tidak pernah macam-macam."
"Lha terus itu siapa? Ganteng banget katanya, pake mobil mahal lagi. Kita semua curigalah, Lis. Kamu kan cuma kurir, tiba-tiba mau pindah ke rumah mewah. Nanti kalau ada apa-apa di lingkungan sini, saya yang kena tegur pemilik kontrakan!" cerocos ibu-ibu yang lain.
Elisa menarik napas panjang. Ia ingat janji Kalandra. Ini saatnya ia mulai berakting.
"Dia... dia itu tunangan saya, Bu," jawab Elisa dengan suara yang diusahakan tenang. "Dia baru pulang dari luar negeri dan memang sengaja mencari saya. Kami akan segera menikah, jadi dia meminta saya dan Aris pindah agar lebih dekat dengan kantornya."
Ibu-ibu itu saling berpandangan, tampak tidak percaya namun tidak punya alasan untuk membantah.
"Tunangan? Kok nggak pernah cerita?"
"Hubungan kami privat, Bu. Ya sudah saya Permisi bu, saya harus lanjut packing," Elisa menutup pintu dengan tegas.
Ia terduduk di lantai, jantungnya berdebar kencang. Ia baru saja berbohong secara terang-terangan. Namun, di satu sisi, ia merasa lega. Setidaknya, fitnah itu bisa diredam untuk sementara.
Ponsel butut Elisa bergetar. Sebuah nomor baru mengirimkan pesan singkat.
“Saya sudah mengirimkan beberapa pakaian untukmu dan Aris lewat kurir malam ini. Pakailah saat pindahan nanti. Jangan menolak, ini untuk kenyamanan kalian. - Kalandra”
Elisa menatap layar ponsel itu lama. Kalimatnya singkat dan masih terasa memerintah, namun entah mengapa, ada sedikit rasa aman yang menyelinap di hatinya. Untuk pertama kalinya dalam dua tahun terakhir, ia tidak merasa benar-benar sendirian memikul beban dunia.
...----------------...
Malam semakin larut di Mansion Mahendra. Kalandra sedang duduk di balkon kamarnya yang luas, menatap pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Di tangannya, ada sebuah foto kecil yang ia ambil diam-diam dari meja belajar Elisa tadi siang. Foto Elisa yang sedang tertawa bersama Aris saat mereka masih mengenakan baju sekolah.
"Huft…Gadis sekecil itu dan sudah harus menanggung beban sebesar ini," gumam Kalandra.
Ia meminum teh jahenya untuk meredakan mual yang masih tersisa. Pikirannya beralih pada orang tuanya. Ia tahu, langkah tercepat adalah membawa Elisa ke apartemen pribadinya, namun ia tidak bisa menyembunyikan pernikahan ini selamanya dari Tuan dan Nyonya Mahendra.
"Lan? Belum tidur?"
Kalandra tersentak. Mamanya, Siska, masuk ke kamar sambil membawa segelas susu hangat.
"Belum, Ma. Masih banyak kerjaan," jawab Kalandra cepat, ia menyembunyikan foto Elisa di balik ponselnya.
Siska duduk di samping putranya. "Mama perhatikan kamu beberapa hari ini aneh sekali. Sering mual, pusing, wajahmu juga sering melamun. Ada apa? Kamu sedang jatuh cinta?"
Kalandra tersenyum tipis, sebuah senyum pahit. "Jatuh cinta sepertinya kata yang terlalu indah untuk situasi Landra sekarang, Ma."
"Maksudmu?"
Kalandra menatap ibunya dengan tatapan serius. "Ma... kalau seandainya Landra melakukan kesalahan besar, tapi Landra mau bertanggung jawab, apa Mama tetap akan bangga pada Landra?"
Siska mengusap bahu putranya dengan sayang. "Landra, papa dan mama mendidik kamu untuk jadi ksatria. Selama kamu berani mengakui kesalahan dan bertanggung jawab, kami tidak akan pernah meninggalkanmu. Kenapa? Apa ada masalah di kantor?"
Kalandra menggeleng. "Bukan kantor. Tapi... ada seseorang yang harus Landra jaga. Nanti, pada saatnya, Landra akan bawa dia menemui Mama."
Siska mengernyitkan dahi, namun ia tidak mau mendesak. Ia tahu putranya sangat tertutup. "Baiklah. Mama pegang janji kamu. Sekarang tidurlah, besok kamu harus ke Singapura, kan?"
"Landra batalkan, Ma. Bimo yang berangkat. Landra ada urusan mendesak di Jakarta minggu ini."
Siska hanya bisa geleng-geleng kepala. Urusan apa yang lebih penting daripada audit tahunan di Singapura bagi seorang workaholic seperti Kalandra? Namun ia tidak tahu, bahwa bagi Kalandra, urusan mendesak itu adalah memindahkan dunianya ke sebuah apartemen demi seorang gadis kurir yang sedang mengandung darah dagingnya.
---
Seminggu kemudian, hari yang ditentukan pun tiba. Sebuah truk pindahan dan mobil SUV Kalandra sudah terparkir di depan gang. Elisa keluar dari kontrakan dengan mengenakan gamis sederhana berwarna abu-abu yang dikirimkan Kalandra. Wajahnya terlihat lebih segar meskipun matanya masih memancarkan kecemasan.
Aris melompat-lompat kegirangan sambil menggendong tas ranselnya yang berisi mainan pemberian Gery.
"Dadah rumah lama! Aris mau berenang!" teriaknya senang.
Kalandra turun dari mobil, ia membukakan pintu untuk Elisa. "Sudah siap?"
Elisa menatap kontrakan kecil itu untuk terakhir kalinya. Tempat ia menangis, berjuang, dan akhirnya hancur. Ia menarik napas panjang dan menatap Kalandra.
"Saya siap. Demi Aris."
Kalandra mengangguk. Saat Elisa hendak masuk ke mobil, Kalandra secara refleks mengulurkan tangannya untuk melindungi kepala Elisa agar tidak terbentur pintu mobil. Sentuhan ringan itu membuat Elisa terdiam sejenak. Ada percikan listrik yang aneh, bukan gairah, melainkan sebuah pengakuan bahwa mulai detik ini, hidup mereka benar-benar telah menyatu.
Perjalanan menuju kehidupan baru telah dimulai. Namun, di balik kemewahan apartemen yang menanti, bayang-bayang Pak Danu dan rahasia besar di balik malam itu masih mengintai, siap meledak kapan saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Selamat membaca☺️🥰
Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya Manteman🙏🏻🙌🏾❤️