NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:41
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Belati di Balik Sutra

​Sisa-sisa kaca jendela yang dipecahkan Elena masih berserakan di lantai lorong, berkilau seperti berlian palsu di bawah lampu darurat yang berkedip. Udara malam yang dingin masuk melalui celah besar itu, membawa aroma tanah basah dan mesiu. Aruna duduk di tepi tempat tidur Bumi, menatap putranya yang telah kembali terlelap setelah ketegangan yang hampir merenggut nyawa mereka.

​Tangan Aruna tidak lagi gemetar. Sebaliknya, tangannya terasa dingin dan kaku. Di pangkuannya, sebuah pistol semi-otomatis milik Dante tergeletak diam. Ia mengusap laras logamnya yang dingin, merasakan beban senjata itu sebagai beban takdir barunya.

​"Dia sudah pergi, Aruna. Tim penyisir sedang mengejar mereka ke dalam hutan," suara Dante terdengar dari ambang pintu.

​Aruna tidak menoleh. "Dia akan kembali, Dante. Dan saat dia kembali, aku tidak ingin anakku yang harus menjadi garis pertahanan terakhir. Bumi mengenaliku karena bau tepung terigu... itu karena aku terlalu banyak menghabiskan waktu di dapur untuk berpura-pura bahwa hidup kita normal."

​Aruna berdiri, menyelipkan pistol itu ke pinggang belakang celananya. Ia berbalik dan menatap Dante dengan sorot mata yang membuat pria itu merasa seperti orang asing. "Mulai besok, aku tidak akan menyentuh tepung lagi. Ajari aku cara menggunakan ini dengan benar."

​Dante tertegun. "Aruna, kau tidak perlu melakukan ini. Aku memiliki pasukan—"

​"Pasukanmu tidak bisa membedakan aku dengan kembaranku sendiri tadi!" potong Aruna tajam. "Kau hampir menembakku, Dante. Aku tidak menyalahkanmu karena kau ragu, tapi aku menyalahkan diriku sendiri karena aku lemah sehingga keraguan itu bisa membunuhku. Aku ingin belajar menembak. Aku ingin belajar taktik. Aku ingin menjadi seseorang yang ditakuti Elena, bukan seseorang yang dia kasihani."

​Keesokan paginya, di sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi jauh di bawah lantai safe house, suara dentuman peluru bergema berulang kali. Ruangan itu adalah ruang latihan menembak pribadi Dante, kedap suara dan dilengkapi dengan teknologi simulasi terbaru.

​Aruna berdiri tegak di jalur tembak. Ia mengenakan pelindung telinga dan kacamata hitam. Di depannya, sebuah target siluet manusia berjarak lima belas meter tampak penuh dengan lubang, namun sebagian besar pelurunya hanya mengenai bahu atau kaki, bukan titik fatal.

​Dante berdiri di belakangnya, mengamati dengan sabar. Ia mendekat, meletakkan tangannya di atas bahu Aruna untuk memperbaiki posisinya. "Napasmu terlalu pendek, Aruna. Jangan melawan recoil-nya. Biarkan pistol itu menjadi bagian dari lenganmu. Bayangkan target itu bukan kertas, tapi Julian Thorne."

​Aruna menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak untuk memanggil kembali rasa takutnya semalam, rasa sakit atas pengkhianatan Satria, dan kebenciannya pada Julian. Saat ia membuka mata, fokusnya menajam.

​Bang! Bang! Bang!

​Tiga peluru bersarang tepat di bagian jantung siluet tersebut.

​Aruna menurunkan senjatanya, napasnya memburu. "Lagi," ucapnya singkat.

​"Cukup untuk hari ini. Tanganmu mulai lecet," Dante mencoba mengambil pistol dari tangan Aruna, namun Aruna menghindar.

​"Aku bilang lagi, Dante. Aku tidak punya waktu untuk memanjakan tanganku."

​Dante menghela napas, ia melihat tekad yang hampir merusak di mata Aruna. Ia menyadari bahwa ia telah melepaskan sesuatu yang mungkin lebih berbahaya dari yang ia duga. "Baiklah. Tapi setelah ini, Enzo akan mengajarimu cara menggunakan pisau. Di dunia kita, peluru bisa habis, tapi pisau hanya butuh satu gerakan yang tepat."

​Selama minggu-minggu berikutnya, Aruna berubah total. Ia menghabiskan pagi dengan latihan fisik yang berat bersama Enzo, dan siang harinya ia duduk di depan deretan layar monitor untuk mempelajari arus keuangan global bersama tim intelijen. Ia mulai memahami bagaimana Julian Thorne memindahkan uangnya, bagaimana bank-bank di Panama menyembunyikan dosa-dosa para elite, dan bagaimana satu perintah darinya bisa menjatuhkan nilai saham sebuah perusahaan dalam hitungan detik.

​Namun, transformasi ini menciptakan jurang yang semakin lebar antara dia dan Dante. Mereka jarang bicara di luar urusan strategi. Dante sering menemukannya sedang menatap peta kota dengan tatapan dingin, atau membersihkan senjata di ruang tamu sambil menemani Bumi bermain.

​"Kau kehilangan dirimu, Aruna," ucap Dante suatu malam di ruang kerja.

​Aruna sedang memeriksa laporan pengiriman senjata yang baru saja masuk. "Aku tidak kehilangan diriku. Aku hanya sedang mengganti kulit. Aruna yang dulu sudah mati di Jalan Kenanga bersama Satria. Aruna yang sekarang adalah Aruna yang kau ciptakan sendiri."

​"Aku tidak ingin kau menjadi monster sepertiku," suara Dante terdengar penuh penyesalan.

​Aruna berdiri, berjalan mendekati Dante. Ia menyentuh bekas luka di pipi Dante yang ia berikan saat menamparnya waktu itu. "Kau tidak bisa memilih, Dante. Kau membawaku ke duniaku, kau menunjukkan padaku bahwa kejujuran adalah kelemahan. Sekarang, jangan mengeluh saat aku mulai bermain dengan aturanmu."

​Tiba-tiba, interkom di meja Dante berbunyi. Suara Enzo terdengar mendesak. "Tuan, Nyonya, ada pesan video masuk dari jalur terenkripsi. Ini dari Elena."

​Mereka segera menatap layar monitor besar. Elena muncul di sana, duduk di sebuah ruangan mewah yang tampak seperti kantor Julian Thorne. Bahunya dibalut perban, namun senyumnya tetap merendahkan.

​"Halo lagi, Keluarga Bahagia," Elena menyapa, melambaikan tangan ke kamera. "Aruna, aku harus mengakui, kau cukup hebat bisa membuat anakmu mengenaliku hanya dari bau badan. Tapi aku punya kejutan untukmu. Kau pikir kau satu-satunya yang punya kembaran?"

​Elena menggeser kameranya ke samping. Di sana, terikat di sebuah kursi, adalah seorang pria tua yang wajahnya sangat familiar bagi Aruna. Pria itu tampak babak belur, namun matanya masih memancarkan keberanian.

​"Ayah?" Aruna menutup mulutnya dengan tangan. "Dante, itu ayahku! Mereka bilang dia sudah meninggal sepuluh tahun lalu!"

​"Ternyata orang tuamu tidak hanya menjual satu anak, Aruna," ucap Elena sambil mengelus pipi pria tua itu dengan belati. "Ayahmu dipenjara oleh Marco selama sepuluh tahun sebagai jaminan agar Satria tetap bekerja untuk mereka. Dan sekarang, Julian memilikinya. Jika kau ingin ayahmu tetap bernapas, serahkan flashdisk itu di Pelabuhan Lama malam ini. Sendiri. Tanpa Dante, tanpa Enzo, tanpa pasukan."

​Video itu berakhir dengan layar hitam.

​Aruna jatuh terduduk di kursi. Seluruh dunianya kembali berguncang. Semua yang ia yakini tentang orang tuanya, tentang kematian ayahnya, ternyata adalah bohong.

​"Aruna, ini jebakan," Dante memperingatkan, memegang tangan Aruna yang kini mulai mendingin. "Julian ingin menarikmu keluar dari benteng ini. Dia tahu kau akan melakukan apa pun untuk keluargamu."

​Aruna menatap Dante dengan mata yang penuh tekad dan amarah yang dingin. Ia melepaskan tangan Dante dan berdiri tegak.

​"Aku tahu ini jebakan," ucap Aruna. "Tapi dia lupa satu hal. Dia mengundang Aruna sang penjahit ke pelabuhan itu. Dia belum tahu bahwa yang akan datang adalah wanita yang baru saja kau latih untuk membunuh."

​Aruna berjalan menuju lemari senjatanya, mengambil dua buah belati keramik yang tidak terdeteksi detektor logam dan sebuah pistol compact.

​"Kau tidak akan pergi sendiri," tegas Dante.

​"Aku akan pergi sendiri secara fisik, Dante. Tapi kau dan Enzo akan berada di telingaku. Dan jika sesuatu terjadi..." Aruna menjeda sejenak, menatap ke arah kamar Bumi. "Pastikan Bumi tidak pernah tahu siapa kakeknya yang sebenarnya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!