NovelToon NovelToon
The Monster'S Debt

The Monster'S Debt

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Berbaikan
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: ALNA SELVIATA

Dante Valerius tidak mengenal ampun. Sebagai pemimpin sindikat paling ditakuti, tangannya telah terlalu banyak menumpahkan darah. Namun, sebuah pengkhianatan fatal membuatnya sekarat di gang sempit—hingga sepasang tangan lembut membawanya pulang.
​Aruna hanya seorang janda yang mencoba bertahan hidup demi putra kecilnya. Ia tahu pria yang ia selamatkan adalah maut yang menyamar, namun nuraninya tak bisa membiarkan nyawa hilang di depan matanya.
​Kini, Dante terjebak dalam hutang nyawa yang tidak bisa ia bayar dengan uang. Ia bersumpah akan melindungi Aruna dari bayang-bayang masa lalunya. Namun, mampukah seekor monster mencintai tanpa menghancurkan satu-satunya cahaya yang ia miliki?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ALNA SELVIATA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Darah di Atas Altar Pelarian

​​Van itu melesat membelah kegelapan malam di sepanjang jalan pesisir Liguria yang berkelok-kelok. Di sisi kiri, jurang curam mengarah langsung ke Laut Mediterania yang kelam, sementara di sisi kanan, dinding tebing batu mengintai seperti raksasa. Di dalam kabin yang sempit, bau mesiu bercampur dengan aroma logam dari darah yang menggenang di lantai mobil.

​"Enzo! Dia kehilangan terlalu banyak darah! Detak jantungnya melemah!" teriak Aruna. Tangannya menekan kuat luka di perut Dante, namun darah terus merembes keluar di sela-sela jarinya.

​Dante setengah sadar, matanya berputar ke atas, dan napasnya terdengar seperti suara gesekan amplas. Setiap guncangan mobil membuatnya meringis pelan, sebuah suara yang lebih menyakitkan bagi Aruna daripada suara tembakan di biara tadi.

​"Ada bengkel kapal milik jaringan kita di depan, sekitar lima kilometer lagi!" sahut Enzo dari kursi kemudi, wajahnya tegang menatap spion yang menangkap kilatan lampu sorot dari helikopter Julian di kejauhan. "Kita tidak bisa ke rumah sakit. Seluruh Italia sudah menjadi zona merah bagi kita!"

​"Aku butuh alat medis! Benang bedah, alkohol, apa saja!" Aruna menoleh ke arah Bumi yang meringkuk di sudut, ditenangkan oleh Martha. "Bumi, tutup matamu, Sayang. Jangan lihat. Berdoa saja untuk Paman, ya?"

​Bumi mengangguk kecil dengan air mata yang mengalir tanpa suara. Ketangguhan bocah itu adalah satu-satunya hal yang mencegah Aruna untuk tidak ikut hancur saat itu juga.

​Mereka tiba di sebuah gudang kapal yang terbengkalai di pinggiran San Remo. Enzo menghantam pintu gudang dengan moncong van, lalu segera melompat keluar untuk menutup gerbang baja secara manual. Aruna dan dua pengawal yang tersisa menyeret tubuh Dante yang berat ke atas meja kayu panjang yang biasanya digunakan untuk memperbaiki mesin kapal.

​Lampu neon yang berkedip-kedip menjadi satu-satunya penerangan. Aruna menyobek kemeja Dante, memperlihatkan luka yang sudah membiru dan membengkak. Infeksi itu bukan lagi ancaman masa depan; itu sedang membunuhnya sekarang.

​"Nyonya, tim medis kita tidak akan sampai tepat waktu. Helikopter mereka dicegat di perbatasan," ucap Enzo, suaranya mengandung keputusasaan yang jarang ia tunjukkan.

​Aruna menatap tangan Dante yang terkulai lemas. Ia teringat bagaimana tangan itu memegang pistol untuk melindunginya, bagaimana tangan itu membelai rambut Bumi. Ia menarik napas panjang, menyingkirkan semua keraguan.

​"Enzo, ambilkan kotak obat di van. Cari epinefrin dan lidokain. Aku yang akan melakukannya," perintah Aruna. Suaranya tidak lagi bergetar.

​"Tapi Nyonya, Anda bukan dokter bedah—"

​"Aku adalah penjahit, Enzo!" Aruna menatapnya tajam. "Aku tahu cara menyambung jaringan. Aku tahu cara mengikat simpul agar tidak lepas. Jika aku diam saja, dia mati. Berikan peralatannya!"

​Selama satu jam berikutnya, gudang kapal itu menjadi saksi bisu transformasi Aruna. Dengan tangan yang kini stabil oleh adrenalin, ia membersihkan luka Dante dengan alkohol murni, membuat pria itu mengerang dalam ketidaksadaran yang menyakitkan. Aruna harus mengeluarkan serpihan peluru yang tertinggal dan membuang jaringan yang membusuk sebelum menjahitnya kembali.

​Setiap tusukan jarum terasa seperti menusuk jantungnya sendiri. Ia menjahit kulit pria itu dengan ketelitian yang sama saat ia membuat gaun pengantin di Jalan Kenanga, namun kali ini, kain yang ia hadapi adalah nyawa manusia.

​"Jangan mati, Dante," bisiknya berkali-kali di antara deru napasnya sendiri. "Hutangmu padaku belum lunas. Kau belum melihat Bumi tumbuh besar."

​Saat jahitan terakhir selesai, Aruna menyuntikkan antibiotik dosis tinggi ke lengan Dante. Ia jatuh terduduk di lantai yang dingin, seluruh pakaiannya bersimbah darah. Dante masih hidup. Napasnya mulai stabil, meski masih dangkal.

​Sambil menunggu Dante melewati masa kritisnya, Aruna duduk di pojok gudang, membuka kotak besi yang diberikan Beatrice Thorne. Kotak itu berisi dokumen-dokumen asli yang menunjukkan bagaimana Julian Thorne mencuri dana kemanusiaan melalui perusahaan cangkang bernama Aethelgard.

​Namun, di dasar kotak, terdapat sebuah surat kecil yang ditulis tangan oleh Beatrice. Aruna membacanya dengan saksama.

​“Untuk siapa pun yang memegang surat ini: Julian adalah monster, tapi dia diciptakan oleh ketakutan akan kemiskinan. Namun, rahasia terbesar bukan pada uangnya. Rahasia itu ada pada daftar nama 'Anak-Anak Icarus'. Mereka adalah anak-anak yatim piatu yang diberi identitas baru dan disusupkan ke dalam pemerintahan di seluruh dunia. Satria Kirana adalah salah satu dari mereka, tapi dia memilih untuk mencintai daripada berkhianat. Ada satu lagi yang masih aktif... dan dia berada sangat dekat dengan lingkaran Valerius.”

​Darah Aruna membeku. Ia menatap Enzo yang sedang berjaga di pintu masuk, lalu menatap pengawal-pengawal lainnya. Siapa yang bisa ia percayai? Jika Satria adalah 'Anak Icarus' yang memberontak, apakah ada orang lain di sekitar Dante yang sebenarnya bekerja untuk Julian sejak awal?

​Tiba-tiba, suara tepuk tangan pelan terdengar dari arah kegelapan di atas balkon gudang.

​"Sungguh kemampuan menjahit yang luar biasa, Aruna. Aku tidak menyangka kau punya bakat bedah lapangan," suara itu bukan milik Julian. Itu suara wanita.

​Aruna segera meraih pistolnya dan mengarahkannya ke atas. Di sana, berdiri seorang wanita dengan pakaian tempur lengkap. Elena.

​Elena turun dari tangga besi dengan gerakan lincah, meski lengannya masih dibalut perban. "Jangan tembak. Jika aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya saat kau sedang asyik membedah kekasihmu itu."

​"Bagaimana kau bisa selamat dari bank itu?!" seru Aruna.

​"Aku tahu setiap celah di bank itu, Aruna. Gas halon itu bisa diakali jika kau tahu di mana katup ventilasi daruratnya," Elena mendekat, wajahnya tampak lelah namun matanya tetap tajam. "Julian mengira aku sudah mati. Itu memberiku keuntungan untuk sementara."

​"Kenapa kau ke sini?"

​Elena menunjuk ke arah kotak besi di pangkuan Aruna. "Karena kau baru saja membaca tentang 'Anak-Anak Icarus'. Kau butuh aku untuk mengidentifikasi siapa mata-mata yang ada di ruangan ini sekarang."

​Enzo dan para pengawal segera menodongkan senjata ke arah Elena. "Jangan dengarkan dia, Nyonya! Dia hanya mencoba mengadu domba kita lagi!" teriak Enzo.

​Elena tersenyum dingin. "Enzo, kau setia pada Dante, aku tahu itu. Tapi bagaimana dengan anak buahmu, si raksasa Branko yang tadi kau bilang sedang menjemput tim medis? Kenapa tim medis itu tidak pernah sampai? Kenapa frekuensi radio kalian terus bocor ke pihak Julian?"

​Aruna menatap Enzo. "Di mana Branko sekarang?"

​Enzo tampak ragu. "Dia... dia seharusnya sudah sampai di titik temu lima menit yang lalu."

​Tiba-tiba, ponsel salah satu pengawal di sudut ruangan berbunyi. Sebelum pria itu sempat menjawab, Elena melepaskan tembakan tepat ke arah dahi pria tersebut.

​Bang!

​"Dia sedang mengirimkan koordinat lokasi ini!" teriak Elena.

​Kekacauan pecah. Pengawal lainnya mencoba menembak Elena, namun Enzo dengan sigap melumpuhkan mereka. Ternyata, pengkhianatan itu ada di dalam tim pengawal yang selama ini dianggap paling setia oleh Dante.

​Aruna segera berdiri di depan meja bedah Dante, melindungi pria yang tak berdaya itu. "Cukup! Berhenti!"

​Elena berdiri di tengah ruangan yang kini penuh mayat pengkhianat. "Sekarang kau percaya padaku, Aruna? Julian sudah memiliki orang-orang di setiap lini kehidupan Dante. Kau tidak bisa lari ke mana-mana kecuali kau menyerang jantungnya."

​Aruna menatap saudarinya, lalu menatap Dante yang mulai sadar dan membuka matanya sedikit. Dante melihat Aruna, melihat darah di tangannya, dan melihat Elena yang berdiri di sana.

​"Aruna..." gumam Dante lemah.

​Aruna memegang tangan Dante. "Dante, kita tidak bisa lari lagi. Kita harus melakukan apa yang tidak pernah mereka duga."

​Aruna berdiri tegak, menatap Elena. "Kau tahu di mana Julian sekarang?"

​"Dia menuju vila pribadinya di Como. Dia sedang menyiapkan pesta kemenangan karena dia pikir kau sudah terjepit," jawab Elena.

​"Maka kita akan datang ke pesta itu," ucap Aruna dengan nada yang begitu dingin hingga membuat Enzo sekalipun merasa ngeri. "Bukan sebagai mangsa, tapi sebagai malaikat maut. Elena, kau bantu aku menyusup. Enzo, kau bawa Bumi dan ayahku ke kedutaan Prancis. Gunakan dokumen ini sebagai jaminan perlindungan diplomatik."

​Bab 30 ditutup dengan pembentukan aliansi yang paling tidak terduga: dua saudari Kirana dan seorang raja mafia yang sedang sekarat, bersatu untuk melakukan serangan bunuh diri ke sarang Julian Thorne. Aruna bukan lagi wanita yang menunggu diselamatkan. Ia telah menjahit luka suaminya, dan sekarang ia siap merobek jantung musuhnya.

1
Nasya Sifa Aura
sampai sini sungguh mengesal kn dante atau labonte sbgai lelaki tdk punya ketegasan
Kusii Yaati
Aruna harus di latih agar menjadi kuat dan tangguh 💪
mama ubay
keren cerita novelnya 💪💪💪lanjut lanjut
mama ubay
berarti aruna sudah jadi kekasih dante yah??
mama ubay
mantap.semoga dante bs jatuh cinta sm aruna
mama ubay
tidak lama lagi d tandai sebagai orang istimewah
mama ubay
selamat tp masuk kandang harimau
mama ubay
emang tdk bs panggil nama apa
mama ubay
keren keren letak tanda baca dan alur cerita tdk membuat bosan 👍👍👍👍👍
mama ubay
aanak yg polos
mama ubay
setiap kebaikan insyaALLAH pasti akan kembali lg ke diri kita👍
mama ubay
andaikan itu aku pasti cari aman
mama ubay
penasaran kenapa dia d tolong
Vanni Sr
di bab bro aruna sm dante nikah?? ko tau² udh kek suami istri aja
🇬‌🇦‌🇩‌🇮‌🇸‌🇰‌: Alur nya cepat, jadi pembaca harus tau tau sendiri..🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!