Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Cahaya di Atas Awan
BAB 23: Cahaya di Atas Awan
Februari 2026 terasa berjalan begitu cepat, seolah waktu pun ikut berpacu dengan ambisi Nayla. Di dalam ruko Matahari Food, suasana berubah menjadi markas koordinasi diplomatik kuliner yang sangat sibuk. Ranti tampak tak lepas dari ponselnya, mengurus dokumen paspor, visa, hingga urusan kargo udara khusus untuk pameran internasional di Dubai. Sementara itu, Bagas dan tim produksi bekerja ekstra keras untuk memastikan stok di gudang tetap aman selama ditinggal Nayla dan ibunya selama sepuluh hari ke depan.
"Nay, apa kamu benar-benar yakin mau membawa Ibu ke Dubai?" tanya ibunya suatu sore. Tangannya gemetar pelan saat melipat baju ke dalam koper besar yang baru saja mereka beli. Wajah ibunya tampak cemas—sebuah pemandangan langka bagi wanita yang biasanya sangat tangguh berdiri di depan wajan panas selama belasan jam.
Nayla menghentikan aktivitasnya memeriksa draf brosur bahasa Inggris hasil terjemahan tim profesional. Ia mendekati ibunya, lalu memegang tangan yang kini sudah tidak lagi sekeras dulu.
"Tentu saja, Bu. Keberhasilan Basreng Matahari ini adalah hasil doa dan tangan Ibu. Nayla ingin Ibu melihat sendiri bagaimana dunia menghargai kerja keras Ibu. Kita bukan lagi orang yang harus takut ditagih utang atau menunduk malu saat lewat di depan rumah orang kaya. Kita adalah tamu undangan negara," ujar Nayla dengan suara yang tenang namun penuh penekanan.
Ibunya terdiam, matanya berkaca-kaca menatap paspor pertamanya yang masih berbau tinta baru. Di tahun 2026, perjalanan internasional bagi keluarga Nayla bukan lagi sekadar khayalan di depan televisi, melainkan sebuah tiket yang sudah digenggam erat.
Namun, di balik kegembiraan itu, Nayla merasakan tekanan yang luar biasa berat di pundaknya. Sebagai salah satu produk UMKM unggulan yang dipilih langsung oleh Kementerian Perdagangan, Basreng Matahari bukan lagi sekadar bisnis pribadi milik Nayla. Ia membawa beban sebagai perwakilan rasa dari nusantara. Setiap malam, Nayla berlatih presentasi dalam bahasa Inggris di depan cermin besar kamarnya. Ia mencoba menghilangkan logat daerahnya yang kental, berusaha melafalkan kata-kata teknis seperti “Artisanal snack” atau “Traditional spices with modern technology”.
"Matahari... The Sun... No, Sun-Shine..." Nayla mendesah frustrasi, melemparkan naskahnya ke atas kasur. "Kenapa bicara di depan orang asing jauh lebih sulit daripada bernegosiasi dengan tengkulak bakso di pasar induk?"
"Mbak Nay, jangan terlalu membebani diri sendiri," ujar Ranti yang masuk membawakan sampel kemasan khusus untuk Dubai. Kemasannya kali ini sangat mewah—menggunakan kaleng premium berwarna emas dengan desain matahari yang sangat artistik hasil sentuhan Mas Aris. "Orang Dubai itu sangat menghargai kualitas dan keaslian. Selama rasanya tetap sama seperti yang Mbak goreng di ruko ini, mereka pasti akan jatuh cinta."
Keesokan harinya, hari keberangkatan pun tiba. Sebelum berangkat ke bandara, Nayla mengumpulkan seluruh karyawannya di ruang produksi. Ia ingin memastikan bahwa selama ia pergi, detak jantung ruko tidak boleh berhenti sedetik pun.
"Ibu-ibu, Bagas, Ranti... saya titipkan ruko ini pada kalian. Ingat, meskipun saya sedang berada di Dubai, standar kualitas kita tidak boleh turun walau satu persen pun. Setiap bungkus yang keluar dari sini adalah janji kita pada pelanggan," pesan Nayla dengan penuh wibawa.
Momen keberangkatan di Bandara Soekarno-Hatta menjadi sangat emosional bagi mereka. Ayah Nayla, yang kini sudah jauh lebih sehat meski masih menggunakan kursi roda, melepas mereka dengan air mata bangga. Di tahun 2026, terminal internasional sudah menggunakan sistem pengenalan wajah (face recognition) yang sangat canggih, namun langkah Nayla tetap terasa berat karena tanggung jawab yang ia pikul.
Saat pesawat besar yang mereka tumpangi mulai lepas landas, Nayla menatap gumpalan awan dari jendela kecil di sampingnya. Ia teringat kembali ke Bab 1, saat ia hanya seorang gadis yang dianggap pembawa sial karena kemiskinan keluarganya. Kini, ia terbang di ketinggian 30.000 kaki, menuju salah satu kota termegah di dunia sebagai seorang pengusaha yang dihormati.
"Takdir itu unik ya, Bu," bisik Nayla pada ibunya yang tampak tegang memegang sabuk pengaman karena baru pertama kali naik pesawat. "Setahun lalu kita bingung mau makan apa besok pagi. Sekarang kita bingung mau presentasi apa di depan investor Timur Tengah."
Ibunya tersenyum kecil, menggenggam tangan Nayla. "Matahari memang tidak pernah terlambat terbit, Nay. Tapi Ibu baru sadar sekarang, sinarnya ternyata bisa membawa kita sejauh ini."
Selama penerbangan delapan jam itu, Nayla tidak bisa tidur.
"Dubai mungkin adalah panggung yang megah, tapi panggung yang sebenarnya tetaplah dapur kecil kita di rumah. Kita sering merasa kecil karena lingkungan kita terbatas, padahal dunia di luar sana sedang menunggu sesuatu yang asli dan jujur dari tangan kita. Menjadi besar bukan berarti melupakan asal-usul, tapi membawa martabat asal-usul kita ke tempat yang lebih terhormat. Sinar matahari tidak pernah memilih tempat untuk bersinar, ia hanya terus memancarkan cahaya hingga kegelapan akhirnya menyerah."
Nayla menutup laptopnya saat pilot mengumumkan bahwa mereka akan segera mendarat di Dubai International Airport. Di bawah sana, lampu-lampu kota Dubai berkilau seperti jutaan permata yang tersebar di tengah padang pasir yang luas.
"Kita sudah sampai, Bu," ujar Nayla mantap, sambil membenarkan kerudungnya.
Ia melangkah keluar dari pesawat dengan kepala tegak. Ia bukan lagi Nayla yang malu-malu dan merasa rendah diri. Ia adalah Nayla, CEO Matahari Food, pengusaha kuliner kebanggaan Indonesia yang siap "membakar" lidah warga dunia dengan rasa pedas gurih dari Basreng Matahari. Petualangan internasional sesungguhnya baru saja dimulai, dan ia tidak akan membiarkan cahayanya redup di negeri orang.