NovelToon NovelToon
Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Pernikahan Paksa Dengan Pembullyku Di Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Putri Sabina

Rania Wiratama seorang gadis yang dipaksa menikahi pembully-nya di Masa lalu atas keinginan terakhir Eyang Kartika, Rania bekerja sebagai Photography dan penjual foto lewat website.
Arga Prananda seorang pria yang bekerja di anjungan laut lepas, nampak menyesali perbuatannya pada Rania. Rasa bersalah selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi obsesi sekaligus cinta. Rania yang sudah memendam rasa benci dan trauma tak mampu menatap apalagi bersama Arga. Tapi Arga selaku suami dan Imam bagi Rania berjanji untuk membimbing dan menuntun istrinya ke jalan agama, sekaligus mencintai Rania. Bagaimana akhir pernikahan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Pagi ini Rania duduk di meja makan dengan perasaan gelisah, punggungnya tegak dan hanya di temani deting sendok makan.

Arga memperhatikan istrinya yang duduk di sampingnya.

"Sayang...," sapa Arga dengan lirih menepuk bahu istrinya.

Rania hanya diam tanpa ekspresi menoleh ke samping, menatap sang suami.

Sarapan pagi ini adalah nasi goreng dan telur, "kamu memikirkan eyang?" tanya Arga.

Rania hanya menganggukkan kepalanya, dan Arga menyentuh tangan istrinya sambil tersenyum.

"Makanlah dengan tenang, soal eyang biar saya yang atasi," ucap Arga menyuapkan nasi goreng ke mulutnya.

Rania tersenyum lega lantaran sang suami berhasil memberikannya alasan dan membuatnya damai.

Pagi ini Rania sarapan dengan damai bukan karena lapar, melainkan karena ingin menghindari tatapan dan pertanyaan dari sang suami yang tak mampu dirinya jawab sekarang.

"Bagaimana apa kamu siap punya anak?"

"Eyang udah mau cicit loh."

"Rania, aku tak bisa sentuh kamu lalu bagaimana dengan eyang?"

Pertanyaan-pertanyaan itu seolah Rania tak mau jawab, karena pernikahan ini tak sesuai keinginannya---hanya saja takdir yang menjebaknya.

Tadi pagi Eyang Kartika sudah sangat 'effort' membuat jamu untuk cucunya agar cepat memliki anak, dan benar saja pagi hari baru juga Rania selesai mandi.

Sang nenek tiba.

Sedikit lebih cepat, padahal Rania tengah duduk di depan cermin kamar menyapukan foundation ke wajahnya.

Bel berbunyi di depan rumah Arga dan Rania.

Ting Nong....Ting Nong.

Arga yang membukakan pintu untuk sang nenek, dari bawah terdengar suara langkah cepat.

"Eh eyang silahkan masuk," kata Arga melihat eyang yang pagi ini mengenakan kebaya warna hijau, dan selendang.

Tangannya membawa tas berisi botol jamu.

"Mana istri kamu?" tanya eyang Kartika.

"Eyang duduk dulu dong Rania masih di atas lagi dandan," jawab Arga menyuruh eyang mertuanya duduk.

"Panggilin istri kamu eyang mau ngomong," titah Kartika.

Kartika terlihat mengepak-ngepakan kipas di depan wajahnya, Rania yang tengah berdandan di kamarnya memejamkan matanya merasakan firasat buruk.

Rania masih bercermin dan berdandan.

"Iya eyang! aku lagi dandan," ujar Rania berteriak dari kamarnya yang ada di lantai atas.

Di ruang tamu.

Arga dan eyang saling berbincang satu sama lain, sebotol kaca berisi jamu di serahkan pada Arga.

"Ini jamu kuat, biar kalian kuat dalam hubungan intim," kata eyang kartika menyerahkan botol itu.

Arga menerima botol itu dengan dua tangan---memegangnya dengan hati-hati.

Arga tersenyum sopan entah mengapa dirinya merasa jika ini semua akan sia-sia, selama Rania belum bisa menerima pernikahan ini.

Jamu kuat ini tak akan berarti apapun.

"Terimakasih eyang."

Tatapan eyang Kartika tajam, penuh makna pembicaraan nampak serius.

"Dimana Rania, eyang mau ngomong!" ucap tegas Kartika.

"Lagi siap-siap eyang," ujar Arga.

Kartika langsung mengerutkan keningnya menatap cucu menantunya, dan mulai bertanya dengan rasa ingin tahu.

"Kalian mau kemana?" tanya Kartika.

"Kami mau ke rumah ibuku buat tradisi juga eyang," kata Arga.

"Oh iyaa, nanti eyang telepon ibumu...buat kalian program hamil biasanya wanita modern paham soal beginian," ujar Kartika.

Arga menggelengkan kepalanya.

Disisi lain Rania yang belum memberikan izin untuk melakukan ibadah, dan disisi lain eyangnya yang terus merengek meminta cicit.

Beberapa saat kemudian.

Rania turun dari tangga, wajahnya sudah di poles makeup tipis-tipis, namun matanya masih menyimpan sikap waspada.

"Eyang," ujar Rania dengan senyuman.

Hari ini Rania dengan rambutnya yang ikal di biarkan tergerai, dan tubuhnya mengenakan gaun lengan panjang motif bunga merah muda warna krem.

Rania menyalami sang eyang lalu duduk di samping sang suami, eyang membenarkan kacamatanya lalu mulai menasihati keduanya.

"Rania mana sprei putihnya?" tanya eyang Kartika.

"Eyang semalam---" ucapan Rania buru-buru di potong oleh Arga dengan kebohongan demi kebaikan istrinya.

"Eyang semalam sedang tak bisa, Rania lagi haid," jawab Arga.

Hal yang membuat Rania menatap sang suami dengan heran, tangan Arga menyentuh tangan Rania berusaha mengisyaratkan jika semua akan baik-baik saja.

"Oh begitu yaa," ujar Eyang Kartika.

Lalu eyang Kartika mengeluarkan akting sedihnya, pura-pura menangis.

"Kalian kapan ngasih eyang cicit...hiks...eyang ini udah tua...hiks...hidup eyang nggak akan lama lagi," ucap Eyang Kartika yang berakting menangis.

"Apaan sih eyang! Aktingnya murahan banget!" ujar Rania yang 'ilfeel' dengan neneknya sendiri, terlihat wajah Rania sudah merenggut tak suka.

Arga berusaha mendekati eyang dan duduk di bawahnya, berusaha menjadi menantu yang perhatian.

"Eyang jangan nangis begini dong," kata Arga yang di bawah kaki Kartika.

"Sebentar lagi kita akan punya anak...dan untuk sprei biarkan Rania selesai menstruasi dulu yaa."

Arga memijat dengkul eyang Kartika dengan penuh perhatian, meski Arga tahu itu semua hanya sandiwara.

"Kapan kalian punya anak, eyang mau di akhir masa hidup ini...hiks...hiks...pengen banget nimang cicit," kata Eyang Kartika dengan akting sedihnya.

Tangan wanita tua itu memperagakan seolah mau menggendong bayi.

"Eyang mau menggendong cicit, dan kalian apa nggak mau menuruti permintaan terakhir eyang?" ujar Kartika.

Arga menatap sekilas Rania.

Lalu Kartika Wiratama memegang dadanya, dan berakting selayaknya orang terkena sakit jantung.

"Aduh...shhhh...aduh...," ucap Kartika.

Sontak hal itu membuat Rania dan Arga panik, mau menelepon ambulance.

"Eyang nggak mau ke rumah sakit! Eyang mau gendong cicit...sshhh!" ucap Kartika masih memegang dadanya.

"Iya nanti akan ada cicit eyang!" tegas Rania.

Sontak seluruh ruangan terdiam, dan Arga hanya menggelengkan kepala dengan sabar.

"Ah bagus, mentruasi kamu baru 'kan?" tanya eyang Kartika.

"Iya," jawab Rania singkat.

"Dua minggu eyang kesini lagi, sekalian mau telepon ibu mertua kamu Rania!" ujar Eyang Kartika.

"Mau ngapain eyang?" tanya Rania yang berdiri dan kaget.

"Tentu saja untuk program hamil! Eyang mau cicit dan ibunya Arga pasti mau cucu!" kata Kartika dengan keras kepala.

Kartika berdiri dari sofa dan memeluk cucu pertamanya, dengan erat.

"Ingat eyang akan kesini lagi meminta sprei yang ada darah perawan kamu Rania!" ucapnya tegas segera memesan taxi.

Rania dan Arga hanya mendengus napas lelah.

Setelah kepergian Eyang Kartika keduanya memutuskan menghibur diri, sebenarnya eyang Kartika sempat di tawari di antar Arga.

"Enggak usah kamu jangan mikirin eyang, habisin waktu ama istri kamu biar cepet dapet cicit!" kata Kartika.

Ini baru kali pertama Rania amat 'ilfeel' dengan sifat sang nenek, biasanya eyang Kartika bersikap bijaksana---Tapi kali ini kenapa 180 derajat berbeda.

Di garasi rumah.

Rania dan Arga menaiki mobil untuk menghibur diri, mereka memutuskan naik mobil untuk menuju kediaman keluarga Prananda.

Di dalam mobil Arga menyetir sementara Rania duduk di sampingnya, Arga melihat Rania hanya diam sejak tadi tanpa mau bicara.

Jadi pria itu berinisiatif untuk menghibur sang istri.

"Sayang, jangan pikirkan apa kata eyang tadi," ujar Arga.

Rania menatap suaminya dan tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya.

*

*

*

1
DewiKar72501823
kak putri cerita mu bagus sekali..the best 👍🏻🥰
Putri Sabina: makasih kakak udah mampir🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!