NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Fragmen Yang Tercecer

Langkah Abel terburu-buru menyusuri koridor yang mulai temaram. Suara pantulan bola basket di kejauhan perlahan memudar, digantikan oleh deru mesin motor dari arah gerbang. Ia tahu Reno bukan tipe orang yang suka menunggu lebih dari tiga ratus detik.

Namun, tepat di tikungan dekat laboratorium biologi, nasib seolah ingin bermain-main. Abel yang sedang merapikan tali tasnya tidak menyadari bahwa resleting tas sekolahnya yang sedikit terbuka. Guncangan akibat langkah cepatnya membuat sebuah buku tipis dengan sampul cokelat polos—buku yang disembunyikan di balik buku Fisika—merosot keluar dan mendarat tanpa suara di atas lantai semen yang dingin.

Abel terus melangkah, tak menyadari bahwa separuh jiwanya baru saja tertinggal di lorong sunyi itu.

"Lama amat, Bel. Habis ngitung bintang lagi?" Reno menyapa ketus sambil menyodorkan helm cadangan.

Abel hanya tersenyum tipis, segera naik ke jok belakang motor sport kakaknya. "Maaf, Kak. Tadi agak asyik di lapangan... eh, maksudnya di bawah pohon."

Saat motor Reno melaju membelah kemacetan, Abel merasa ada sesuatu yang janggal. Beban di tasnya terasa lebih ringan. Ia meraba bagian samping tas, lalu tangannya gemetar hebat. Buku sketsa itu. Tidak ada.

"Kak! Putar balik! Ada yang ketinggalan!" teriak Abel panik.

"Nggak bisa, Bel! Lihat bensin gue, udah merah. Lagian gerbang sekolah pasti udah dikunci lima menit lagi. Besok aja!" balas Reno tanpa mengurangi kecepatan.

Abel lemas. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia bertabrakan dengan Arslan tadi siang. Di dalam buku itu bukan hanya ada sketsa, tapi ada potongan puisi, tanggal-tanggal penting Arslan, dan yang paling parah: identitasnya.

Latihan basket baru saja usai. Arslan berjalan sendirian menuju lokernya, bermaksud mengambil kunci motor yang tertinggal. Napasnya masih menderu. Saat ia melewati koridor laboratorium, matanya menangkap sesuatu yang asing di lantai.

Arslan memungutnya. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun sekolah sudah sepi. Secara refleks, ia membuka halaman pertama.

"Untuk matahari yang tak pernah tahu bahwa ia memberi hangat pada debu yang paling sunyi."

Arslan mengernyit. Ia membalik halaman demi halaman hingga matanya membelalak. Di sana, tertuang wajahnya dalam berbagai sudut. Sketsa yang sangat detail, bahkan tahi lalat kecil di daun telinga kirinya yang jarang disadari orang pun tergambar dengan sempurna.

"Gila... siapa yang gambar ini?" bisiknya tak percaya.

Ia sampai pada halaman terakhir yang baru saja diselesaikan sore tadi. Di sudut bawah, ada inisial kecil yang ditulis dengan teknik kaligrafi yang indah: A.B.L.

"A.B.L?" Arslan bergumam. Ia mencoba mengingat semua siswi populer di sekolahnya. Amanda? Bella? Luna? Tidak ada yang terlintas di pikirannya. Pikirannya melayang tidak menentu mencari nama siswi dengan inisial A.B.L.

Tiba-tiba, sebuah suara sepatu pantofel khas anak sekolah mendekat. Clarissa muncul dengan wajah ditekuk.

"Lan! Kok lama banget sih? Katanya mau temenin aku beli sepatu?" Clarissa melirik benda di tangan Arslan. "Apaan tuh? Sampah ya?"

Secara impulsif, Arslan langsung menyembunyikan buku itu ke dalam tas olahraganya. "Bukan. Cuma buku catatan rumus yang jatuh. Yuk, jalan."

Malam itu, Abel tidak bisa tidur. Ia duduk di meja belajarnya, menatap kosong pada deretan angka kalkulus yang biasanya menjadi pelariannya. Ia merasa telanjang. Rahasianya kini berada di tangan takdir. Jika buku itu ditemukan oleh Clarissa atau gengnya, tamatlah riwayatnya sebagai si tak terlihat. Ia akan menjadi bahan olokan satu sekolah.

Namun, ia lebih takut jika Arslan yang menemukannya.

Keesokan paginya, Abel masuk ke kelas dengan wajah lebih pucat dari biasanya. Ia melewati koridor dengan kepala tertunduk dalam, berharap buku itu masih tergeletak di sana. Namun, lantai itu bersih. Mengkilap seolah tak pernah ada rahasia yang jatuh di atasnya.

Saat jam istirahat, suasana kantin seperti biasa: bising. Abel duduk di pojok, mencoba fokus pada ensiklopedianya. Tiba-tiba, bayangan seseorang menutupi mejanya.

Abel mendongak dan hampir tersedak ludahnya sendiri. Arslan.

Pria itu tidak tersenyum seperti biasanya. Ia menatap Abel dengan intensitas yang membuat Abel ingin menghilang ke dalam tanah. Di tangan Arslan, terselip sebuah pensil yang sangat dikenali Abel—pensil yang selalu ia gunakan untuk menggambar sketsa.

"Gue baru tahu kalau 'gadis kacamata' di koridor punya bakat terpendam," ucap Arslan dengan nada rendah, hampir seperti bisikan yang berbahaya.

Abel membeku. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

"Itu... bukan milikku," dusta Abel, suaranya bergetar.

Arslan membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Abel hingga gadis itu bisa mencium aroma citrus yang kuat. "Jangan bohong, A.B.L. Sketsa di halaman dua belas... itu baju yang gue pakai waktu gue bantu lo di perpustakaan semester lalu. Waktu lo pikir gue nggak lihat lo."

Arslan meletakkan sebuah kertas kecil yang dilipat di atas meja Abel. "Ketemu gue di atap sekolah setelah bel pulang. Sendiri. Atau buku ini bakal jadi pengisi mading sekolah siang ini."

Arslan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Abel dalam pusaran ketakutan dan kebingungan. Ini bukan lagi tentang cinta yang diam-diam; ini telah berubah menjadi sebuah permainan kendali yang tidak pernah Abel bayangkan sebelumnya.

Abel menatap kertas itu. Hanya ada satu kalimat tertulis di sana:

f(x) \= Cintaㅡ> Hasilnya tidak terdefinisi.

Abel menyadari satu hal: Arslan yang ia lihat dari jauh mungkin bukan Arslan yang sebenarnya. Ada sesuatu yang gelap dan penuh teka-teki di balik senyum karismatik sang kapten basket.

...*................*...

Dibalik penyelidikan, ada sebuah permainan yang menyakitkan bagi Abel. Sebuah tantangan yang Arslan terima dari teman-temannya. Malam itu Arslan mencari tahu tentang A.B.L. melalui grup WhatsApp.

Grup WhatsApp: 🏀 EAGLES TEAM 🏀

Arslan (07): [Mengirim Foto Sampul Buku Cokelat]

Arslan (07): Ada yang tahu ini punya siapa? Gue nemu di koridor Lab Bio tadi sore. Ada inisialnya di dalem: A.B.L.

Bimo (Point Guard): A.B.L? Anak mading? Anak OSIS?

Raka (Small Forward): Bentar, A.B.L... 12 IPA 3 bukan sih? Itu loh, si anak juara umum. Yang namanya Arabella Bellvania Laurent? Si cewek yang nggak pernah lepas kepangan itu?

Arslan (07): Arabella? Si kutu buku yang kacamata bulet itu?

Bimo (Point Guard): Iyalah! Siapa lagi yang namanya aneh di sekolah ini. Kenapa emang, Lan? Isinya apaan? Catatan rumus fisika kuantum?

Arslan (07): [Mengirim Foto Sketsa Wajah Arslan dari Buku Abel]

Arslan (07): Bukan rumus. Isinya muka gue semua. Detail banget lagi gambarnya.

Dion (Center): WIDIH! Fans rahasia garis keras ternyata! Gila, si culun itu diem-diem obsesi banget sama lo, Lan.

Raka (Small Forward): Hahaha! Bayangin cewek se-kaku itu jatuh cinta sama kapten basket. Kayak bumi sama langit. Nggak bakal nyambung lah.

Dion (Center): Tapi seru juga sih kalau dipikir-pikir. Si Abel itu kan anti-sosial banget. Jangankan diajak pacaran, diajak ngomong aja mungkin dia pingsan.

Bimo (Point Guard): Eh, gue punya ide. Gimana kalau kita tes pesona lo, Lan?

Arslan (07): Maksud lo?

Bimo (Point Guard): Kalau lo bisa bikin si Arabella yang 'dingin' dan 'aneh' itu beneran jatuh cinta sampai tergila-gila sama lo dalam 3 bulan, kita semua anak tim patungan kasih lo 30 JUTA. Cash.

Raka (Small Forward): Setuju! Gue ikut patungan. Tapi ada syaratnya. Kalau lo gagal, atau dia yang malah mutusin lo sebelum 3 bulan, lo yang traktir kita semua makan di Sky Lounge Cafe setiap hari selama sebulan penuh. Gimana? Berani nggak, Kapten?

Arslan (07): 30 juta? Lumayan buat ganti ban baru.

Arslan (07): Deal. Tiga bulan dari sekarang, gue bakal bikin Arabella Bellvani nggak bisa hidup tanpa gue.

Dion (Center): SIKAT! Game on! 🎰

Pesan lain yang Bimo kirimkan ke Arslan seolah meyakinkan Arslan akan tantangannya.

"Lan, tantangan 30 juta buat bikin Arabella jatuh cinta dalam 3 bulan resmi dimulai ya. Jangan sampai gagal atau dompet lo jebol traktir kita sebulan di kafe mewah!"

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!