Di sebuah kota yang sibuk, seorang wanita menghabiskan waktu dengan deretan mawar dan lili di toko bunga kecil miliknya. Baginya bunga adalah bahasa untuk orang-orang yang tidak bisa bicara. Di pagi yang cerah lonceng pintu berbunyi. Seorang anak laki-laki berpakaian seragam lengkap berdiri disana. Bukan membeli bunga tapi membawa permohonan yang menggetarkan hati.
"Bolehkah aku meminjam waktu tante sebentar menjadi ibuku sehari saja."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ririn rira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memperbaiki kekacauan
Lonceng toko bunga berdenting pelan saat Jehan melangkah masuk. Suasana yang biasanya hangat kini terasa kaku, tertutup oleh aroma lili yang pekat dan kesibukan sang pemilik toko yang sengaja membelakanginya.
"Byan, tidak mau makan malam ini," Ucap pria itu tanpa basa-basi, suaranya berat penuh kekhawatiran. "Sepulang sekolah dia hanya diam dan satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan mengapa tante Bria tiba-tiba menjadi orang asing." Lanjutnya saat mengingat percakapan nya pada Byan di dalam kamar.
Sebria menghentikan gerakannya, namun tetap enggan berbalik. Jemarinya mencengkeram pinggiran meja kayu, mencoba menahan getaran di tangannya. Kehadiran pria itu justru membawa kembali rasa sakit dari kata-kata sang sekretaris di kantor kemarin.
"Ada apa sebenarnya? Apa Byan berbuat salah?" Tanya Jehan lagi, kali ini melangkah lebih dekat.
Akhirnya, Sebria berbalik dengan mata yang memerah. "Byan tidak salah apa-apa," Jawabnya dengan nada getir. "Yang salah adalah kehadiranku yang dianggap sebagai strategi murahan untuk mendekatimu. Aku hanya ingin menjaga jarak yang diinginkan oleh orang-orang di sekitarmu, sebelum harga diriku benar-benar habis tak bersisa."
Jehan terpaku masih belum memahami meski begitu ia pamit baik-baik pada Sebria. Suasana di dalam mobil terasa begitu mencekam. Jehan mencengkeram kemudi dengan buku-buku jari yang memutih, sementara pikirannya terus berputar pada dua bayangan yang kontras. Wajah murung putra nya yang kehilangan binar mata dan wajah Sebria yang penuh luka saat bicara tentang harga diri.
Rasa bersalah menghimpit dada Jehan. Ia merasa gagal melindungi ketulusan yang sempat terjalin di antara mereka. Begitu sampai di lobi kantor, langkah kakinya terdengar tegas dan berat, menciptakan gema yang membuat para karyawan menunduk segan.
Staf depan mengabarkan bahwa ada tamu telah menunggunya dengan ekspresi yang tak bersahabat.
"Siapa?"
"Tuan Alinzy."
Keona
Di dalam ruang kerja, Keona tidak membuang waktu. Ia berdiri tegap, menatap langsung ke mata Jehan tanpa rasa segan. "Saya datang ke sini bukan untuk urusan bisnis," Ucapnya dengan nada dingin yang menusuk. "Saya datang karena kakak saya bukan orang yang pantas dijadikan sasaran penerima kata-kata yang tidak pantas oleh staf anda."
Mendengar kalimat langsung itu, Jehan merasa dunianya seolah runtuh. Rasa bersalahnya kini bercampur dengan amarah yang membara terhadap staf entah yang mana telah bertindak terlalu jauh melampaui batas wewenang dan kemanusiaan.
Setelah menumpahkan segala kemarahan yang tertahan, Keona berbalik dan melangkah keluar tanpa menunggu pembelaan apa pun. Ia meninggalkan ruangan dengan keheningan yang memekakkan telinga, seolah baru saja menjatuhkan bom yang menghancurkan profesionalisme di kantor itu.
Jehan hanya bisa mematung, menatap pintu yang tertutup rapat dengan perasaan yang semakin karam. Di luar, para karyawan berbisik, sementara Delia yang sedari tadi mencuri dengar kini berdiri kaku dengan wajah pucat pasi di balik mejanya. Ia tahu bahwa kepergian pemuda itu bukanlah akhir, melainkan awal dari konsekuensi fatal yang harus ia hadapi.
Jehan perlahan menarik napas panjang, mencoba menguasai amarahnya yang mulai meluap ke permukaan. Ia meraih telepon internal, suaranya terdengar sangat rendah namun penuh ancaman saat memanggil asisten pribadi nya. Ia tidak lagi peduli pada tumpukan dokumen di mejanya. fokus Jehan kini hanyalah mencari kebenaran yang telah merusak kedamaian rumah dan hatinya.
"Saya minta semua rekaman cctv di area lobi, ruang tamu dan koridor depan ruangan saya kemarin. Terutama di jam saat anak saya datang untuk makan siang," Perintahnya singkat.
Asisten pribadinya sempat tertegun melihat kilat kemarahan di mata sang atasan, namun segera mengangguk patuh dan bergegas melaksanakannya.
Hanya dalam hitungan menit, asisten tersebut kembali membawa perangkat penyimpanan. Saat layar mulai menampilkan adegan di mana Sebria tertunduk lesu di depan meja sekretaris, rahang Jehan mengeras. Ia melihat segalanya, gestur tubuh yang menghina, telunjuk yang menuding dan bagaimana wanita yang ia kagumi itu akhirnya pergi dengan bahu yang bergetar.
"Masuk ke ruangan saya sekarang. Sendiri." Suara Jehan melalui interkom terdengar datar, namun memiliki nada rendah yang sangat mengancam.
Delia melangkah masuk dengan kaki gemetar, mencoba memasang topeng profesionalitas meski wajahnya sepucat kertas. Di atas meja, Jehan memutar layar monitor yang menampilkan rekaman cctv kemarin tepat di hadapannya. Video itu menunjukkan dengan jelas bagaimana sang sekretaris menyudutkan Sebria hingga wanita itu pergi dengan perasaan hancur.
"Saya menggaji Anda untuk mengelola jadwal saya, bukan untuk mengelola perasaan orang-orang yang saya sayangi dengan kebencian," Ucap Jehan dengan amarah yang dingin. Ia tidak memberikan ruang bagi sekretaris itu untuk membela diri, karena setiap detik rekaman itu adalah bukti nyata dari perilaku yang tak termaafkan.
"S—saya minta maaf, Pak. B—bukan seperti itu maksud saya. Itu hanya peringatan supaya wanita itu tidak sesuka hati disini karena merasa dekat sama Bapak dan Levin."
"Cukup," Potong Jehan dengan satu gerakan tangan yang tegas, membungkam setiap kalimat pembelaan diri yang keluar dari bibir sekretarisnya. "Jangan menghina kecerdasan saya dengan alasan 'demi kebaikan saya'. Anda memperlakukan tamu saya dengan sangat tidak baik."
Delia tertunduk, air matanya mulai jatuh namun Jehan tidak luluh. Baginya, kata-kata tajam yang telah membuat putranya murung dan Sebria merasa rendah adalah kesalahan fatal yang tak bisa diperbaiki hanya dengan kata maaf. Tidak perduli dengan dedikasi dan kinerja Delia yang baik bagi nya perasaan Byan dan Sebria lebih penting.
"Anda tidak perlu meminta maaf pada saya," lanjut Jehan sambil menutup laptop dengan suara keras. "Bersihkan meja Anda sekarang juga. Saya akan mengirimkan sisa hak Anda melalui bagian keuangan." Jehan bangkit dari kursi nya lalu melangkah ke arah pintu. Ia tidak ingin menghabiskan waktu lama di kantor. Jehan harus menemui Sebria bukan untuk memberitahu pelaku yang sudah ia usir tapi untuk memohon membuka pintu telah di tutup rapat oleh Sebria terbuka untuk dirinya dan Byan.
"Semua ini karena saya peduli pada Anda!" Teriak Delia, suaranya pecah oleh tangis yang tak lagi bisa ia tahan.
Langkah Jehan terhenti tepat di ambang pintu. Wanita itu akhirnya mengaku bahwa selama bertahun-tahun ia telah menyimpan perasaan sepihak. Ia merasa paling berhak berada di sisi Jehan karena dia lah yang menemani masa-masa sulit perusahaan, bukan Sebria yang tiba-tiba datang dan mengambil perhatian sang bos serta putranya. Kecemburuan itulah yang membuatnya gelap mata dan menggunakan kata-kata tajam untuk mengusir pemilik toko bunga itu secara halus.
"Saya hanya ingin menjauhkan orang-orang yang saya anggap hanya memanfaatkan Anda!" lanjut Delia dengan nada putus asa.
Jehan berbalik, namun tatapannya tetap dingin tanpa ada rasa iba. "Ketulusan tidak pernah dilakukan dengan cara menghancurkan orang lain. Apa yang Anda rasakan bukan cinta, melainkan obsesi yang beracun."
Tanpa memberikan kesempatan lagi, Jehan melangkah pergi meninggalkan sekretarisnya yang jatuh terduduk. Kini tujuannya hanya satu memperbaiki kekacauan yang diciptakan oleh ego orang lain.