NovelToon NovelToon
Hiraeth

Hiraeth

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / Percintaan Konglomerat / Tamat
Popularitas:26.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.

"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.

"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."

David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Matahari sudah merangkak tinggi, menyorotkan garis-garis emas di atas lantai kayu apartemen saat Leonor akhirnya mulai tersadar dari tidur lelapnya. Tubuhnya masih terasa berat, namun rasa dingin yang menusuk tulang tadi pagi sudah berganti dengan rasa hangat yang nyaman. Ia perlahan menyadari bahwa lengan kokoh yang tadi mendekapnya kini masih melingkar di pinggangnya, seolah-olah Edgar takut melepaskannya meski hanya sedetik.

"Leonor... bangunlah sebentar," suara bisikan lembut itu terdengar tepat di telinganya.

Leonor mengerjap, menoleh sedikit dan mendapati wajah Edgar berada sangat dekat dengannya. Tatapan mata pria itu tidak lagi tajam dan penuh perhitungan, ada sorot kecemasan yang tulus di sana.

"Aku lepas dulu sebentar, ya?" Edgar berbisik pelan, seolah meminta izin untuk menjauh. "Aku harus menghangatkan bubur yang kubawa tadi pagi. Kau harus makan supaya bisa minum obat."

Leonor hanya bisa mengangguk lemah. Saat pelukan itu terlepas, ia merasa kehilangan sumber panas yang selama beberapa jam terakhir menjadi pelindungnya. Ia memperhatikan punggung Edgar yang berjalan menuju dapur kecilnya.

Edgar Martinez, pewaris tunggal MTZ Group yang biasanya hanya tahu cara memerintah kini sibuk di depan kompor, dengan telaten memindahkan bubur ke dalam mangkuk dan menghangatkannya.

Tak lama kemudian, Edgar kembali dengan sebuah mangkuk yang mengepulkan aroma gurih jahe dan kaldu ayam. Ia duduk di tepi ranjang, membantu Leonor untuk duduk bersandar pada tumpukan bantal.

"Pelan-pelan," ucap Edgar sembari meniup sesendok bubur agar suhunya pas.

Ia kemudian mengarahkan sendok itu ke bibir Leonor. Leonor terdiam sejenak, menatap sendok itu, lalu menatap Edgar. Ia merasa dunia ini sedang terbalik. Seorang pria yang seminggu lalu hampir mencabut nyawanya dengan mobil mewah, kini sedang menyuapinya dengan penuh kesabaran.

Leonor membuka mulutnya, menerima suapan itu. Hangatnya bubur mulai mengalir ke perutnya, namun ada rasa hangat lain yang justru menyesakkan dadanya.

Tiba-tiba, tanpa bisa ia cegah, air mata mulai menggenang di pelupuk mata Leonor dan jatuh membasahi pipinya yang masih pucat.

"Hei, kenapa menangis? Apa rasanya tidak enak? Atau masih terlalu panas?" tanya Edgar panik. Ia segera meletakkan mangkuk itu di nakas dan meraih wajah Leonor dengan kedua tangannya.

Leonor menggeleng pelan, isakannya mulai terdengar. "Bukan... bukan itu."

Leonor menunduk, menatap jemarinya yang gemetar. Selama dua puluh dua tahun hidupnya, rasa sakit adalah teman yang harus ia hadapi sendirian. Sejak ibunya meninggal saat ia berusia 11 tahun, tidak ada lagi tangan yang mengusap dahinya saat ia demam. Tidak ada lagi suara lembut yang membujuknya untuk makan.

Di mansion Gonzales, jika Leonor sakit, ia hanya akan mengunci diri di kamarnya yang dingin. David Gonzales tidak akan peduli selama Leonor tidak mengganggu bisnisnya. Para pelayan hanya akan menaruh nampan makanan di depan pintu tanpa bertanya.

Selama bertahun-tahun, Leonor belajar untuk sembuh dengan sendirinya, minum air putih sebanyak mungkin, membalut tubuhnya dengan selimut lusuh, dan menunggu hingga badai di tubuhnya reda melalui waktu.

Ia dipaksa menjadi kuat karena tidak ada tempat untuk bersandar.

"Selama ini..." suara Leonor bergetar hebat. "Aku selalu sakit sendirian, Edgar. Aku tidak pernah tahu... kalau dirawat oleh seseorang rasanya akan seperti ini. Aku merasa... tidak perlu menjadi kuat untuk sebentar saja."

Hati Edgar mencelos mendengar pengakuan itu. Ia menarik Leonor ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis di pundaknya. Edgar menyadari betapa kejamnya dunia memperlakukan Leonor, bagaimana seorang wanita secantik dan secerdas ini bisa merasa begitu asing dengan sebuah perhatian sederhana.

"Terima kasih, Edgar," bisik Leonor di tengah tangisnya. "Terima kasih sudah ada di sini."

Edgar mengusap punggung Leonor, membiarkan gadis itu menumpahkan segala sesak yang ia simpan selama bertahun-tahun. Namun, ia tidak ingin Leonor tenggelam dalam kesedihan terlalu lama. Ia ingin melihat kembali binar di mata gadis itu, meski itu berarti ia harus kembali menjadi Alay.

Edgar menarik diri, menyeka air mata Leonor dengan ibu jarinya, lalu kembali meraih mangkuk bubur.

"Sudah, jangan menangis terus. Nanti buburnya jadi asin karena air matamu," goda Edgar dengan senyum miring yang mulai kembali.

Ia menyuapkan sesendok lagi ke mulut Leonor. Kali ini, Leonor menerimanya sambil sedikit tersenyum meski matanya masih sembab.

"Ayo, makan yang banyak, Leonor," ucap Edgar dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi sangat serius namun jenaka. "Kau harus makan dua porsi sekarang. Ingat, kau harus menjaga nutrisi supaya baby kita di dalam sana tetap sehat."

Leonor hampir saja tersedak. Ia menatap Edgar dengan tatapan tak percaya. "Edgar! Kau mulai lagi dengan lelucon konyol itu!"

Edgar tertawa lepas, tawa yang memenuhi ruangan dan membuat suasana tidak lagi terasa pilu. "Kenapa? Bukankah tadi kau sendiri yang bilang kalau aku sudah memberi stok banyak di dalam sini?" Edgar menepuk pelan perut Leonor yang tertutup selimut.

"Itu stok kulkas, Tuan Martinez yang terhormat!" balas Leonor dengan wajah yang kini memerah sempurna, bukan lagi karena demam, tapi karena malu.

"Ah, masa? Tapi menurutku, kita terlihat sangat cocok sebagai pasangan muda yang sedang menunggu kelahiran anak pertama. Aku suaminya yang tampan dan kaya raya, dan kau... istriku yang galak tapi hobi muntah-muntah," Edgar kembali terkekeh, terus menyuapi Leonor hingga mangkuk itu kosong.

Leonor hanya bisa mendengus malas, namun di dalam hatinya, ia merasa sangat lega. Candaan Edgar dan tidak masuk akal itu justru menjadi obat yang paling ampuh. Edgar tidak memperlakukannya sebagai objek kasihan, melainkan sebagai seseorang yang berharga untuk digoda dan dicintai.

"Istirahatlah lagi," ucap Edgar setelah memberikan Leonor obat. Ia merapikan selimut Leonor dan mencium keningnya sekali lagi, kali ini lebih lama dan lebih lembut. "Aku akan ada di ruang tamu. Jika kau butuh sesuatu, panggil saja suamimu ini, oke?"

Leonor menarik selimutnya hingga ke hidung, menyembunyikan senyumnya. "Dasar alay."

"Tapi kau suka, kan?" sahut Edgar dari ambang pintu sambil mengedipkan mata sebelum akhirnya menutup pintu kamar dengan rapat.

Leonor memejamkan mata dengan hati yang tenang. Sumpah untuk mencampakkan Edgar kini terasa sangat jauh di lubuk hatinya. Yang ia tahu sekarang adalah, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Leonor Kaia tidak lagi harus sembuh sendirian.

🌷🌷🌷🌷

Happy reading dear 🥰

1
Endang Sulistia
mampir
Triana Oktafiani
Ga bisa berkata2 lagi, semua karyamu luarrrrr biasa 👍
ros 🍂: Ma'aciww, Terharu kak😍
total 1 replies
Dian Erawati
👍👍👍❤️
Dian Erawati
👍👍👍💞
Dian Erawati
👍👍👍/Heart/
Amiera Syaqilla
artistik💕🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!