Di fajar zaman purba, semesta mengenal satu nama yang sanggup membekukan waktu: Dewa Kehampaan.
Ia adalah pemuncak segala eksistensi, penguasa tunggal yang titahnya menjadi hukum alam dan langkah kakinya adalah nubuat bagi kehancuran.
Di bawah bayang-bayang jubahnya, jutaan pendekar bersujud dan raja-raja siluman gemetar dalam ketakutan.
Namun, takhta yang dibangun di atas keagungan itu runtuh bukan oleh serangan musuh, melainkan oleh racun pengkhianatan.
Di puncak kejayaannya, pedang yang menembus jantungnya adalah milik murid yang ia kasihi. Jiwanya dihancurkan oleh sahabat yang pernah berbagi napas di medan laga.
Dan benteng pertahanannya yang tak tertembus diserahkan kepada maut oleh wanita yang merupakan pelabuhan terakhir hatinya.
Dalam kepungan pengkhianat, Dewa Kehampaan jatuh, namun kehendaknya menolak untuk padam.
Jiwanya yang retak terlempar menembus celah kehampaan, melintasi ribuan tahun untuk kemudian terjaga dalam raga yang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arus yang Mulai Menyimpang
Langit Dunia Bawah tampak sama seperti biasanya. Kelabu, berat, dan seolah tak pernah benar-benar bergerak, seperti kanvas usang yang digantung di atas neraka.
Namun bagi mereka yang hidup cukup lama di dalamnya—mereka yang kulitnya telah menebal oleh debu dan jiwanya telah ditempa oleh ketakutan—perubahan sekecil apa pun pada arus energi di udara bisa terasa seperti isyarat kematian yang mendekat.
Di ruang observasi Paviliun Senyap, Luo Yan berdiri kaku di depan meja kristal yang memetakan seluruh jaringan wilayah Dunia Bawah.
Garis-garis cahaya tipis di permukaan kristal itu, yang biasanya bergerak selaras dan tenang, kini berdenyut tidak stabil, memancar dengan frekuensi yang jauh lebih cepat dari biasanya.
Cahaya itu berkedip-kedip, seolah-olah sedang memberikan peringatan bahwa tatanan telah retak.
Luo Yan mengerutkan kening, jemarinya yang pucat menekan pinggiran meja.
"Pergerakan suplai Paviliun Darah meningkat hampir tiga kali lipat dalam tiga hari terakhir," ucapnya, suaranya memecah kesunyian yang mencekam.
Di sekelilingnya, beberapa kultivator intel Paviliun Senyap saling pandang. Wajah-wajah mereka pucat, mata mereka menyiratkan ketakutan yang tak mampu lagi disembunyikan.
"Gudang pil di Lembah Batu Gelap telah dikosongkan total," lapor seorang kultivator dengan suara bergetar. "Tidak ada satu botol pun yang tersisa. Bahkan sisa debu obat pun mereka sapu bersih."
"Tambang kristal di wilayah selatan ditutup mendadak," tambah yang lain. "Seluruh tenaga kerja ditarik mundur, dan penjaga dikerahkan untuk memblokade akses masuk."
"Formasi pertahanan di wilayah inti mereka diperkuat berkali-kali lipat," lanjut seorang lagi. "Energi yang mereka gunakan sangat masif."
Luo Yan menghela napas perlahan. Kepulan uap tipis keluar dari bibirnya di ruangan yang mendadak terasa beku itu.
Ini bukan pola perburuan. Bukan lagi tentang melacak satu buronan atau memperebutkan wilayah kecil. Ini adalah persiapan perang—perang yang sistematis, dingin, dan tak terelakkan.
"Berapa banyak pasukan yang telah mereka kumpulkan?" tanya Luo Yan pelan, suaranya sedingin es.
Seorang pria berambut kelabu, kepala intelijen Paviliun Senyap, melangkah maju. Ia menundukkan kepala, suaranya parau.
"Perkiraan ada dua ratus kultivator aktif dengan minimal tingkat Pengolah Tubuh tahap akhir. Termasuk di dalamnya ada seratus ratus kultivator tingkat Transformasi Roh. Mereka tidak datang untuk bernegosiasi, Pemimpin."
Ruangan itu seketika terasa lebih dingin. Jumlah itu bukan jumlah untuk sebuah operasi sabotase. Itu adalah angka untuk pemusnahan total.
Luo Yan menutup mata sejenak, membiarkan kebenaran itu meresap ke dalam tulang-tulangnya.
Mereka tidak berniat menekan atau mengintimidasi lagi. Paviliun Darah ingin menghapus Paviliun Senyap dari peta Dunia Bawah selamanya.
Di sisi lain markas, Ye Chenxu berdiri di balkon batu yang menjorok keluar menuju jurang tak berdasar. Di bawahnya, kabut bergerak malas, menelan suara apa pun yang jatuh ke dalamnya.
Angin tipis yang dingin menggerakkan jubahnya, namun pikirannya jauh lebih bergolak daripada badai apa pun di permukaan.
Sejak pertemuannya dengan Cao Tianxu di Istana Darah, Ye Chenxu merasakan perubahan halus namun pasti di dalam arus dunia. Seolah-olah seluruh tatanan takdir sedang bergeser, mengerucut, memusatkan seluruh tekanan ke satu titik.
Dan titik itu, dengan kejam dan mutlak, adalah Paviliun Senyap.
Langkah kaki ringan terdengar di belakangnya. Luo Yan berhenti tepat di sampingnya, menatap ke dalam kabut yang sama.
"Perang besar akan datang," ucap Luo Yan.
Ye Chenxu tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada kegelapan di kejauhan.
"Aku tahu. Aku sudah merasakannya sejak aku melangkah keluar dari istana itu. Cepat atau lambat, mereka akan menagih harganya."
Keheningan membentang di antara keduanya, hanya ditemani oleh desau angin yang membawa aroma besi. Luo Yan menghela napas, sebuah gestur yang jarang sekali ia lakukan.
"Aku sudah hidup cukup lama di Dunia Bawah untuk mengenali bau kematian. Dan kali in baunya sangat pekat. Ia memenuhi setiap sudut udara."
Ye Chenxu mengepalkan tangannya perlahan di atas pagar batu hingga batu itu retak.
"Jika aku adalah alasan utama dari badai ini, biarkan aku yang maju ke depan. Biarkan aku menanggung bebannya sendiri."
Luo Yan menggeleng pelan. Rambut peraknya bergoyang pelan. "Tidak. Kau tidak mengerti. Paviliun Senyap berdiri bukan karena satu orang. Kami adalah jaringan, kami adalah bayangan yang saling mengikat. Dan kami tidak akan menyerahkan salah satu dari kita, apalagi tamu kami, sebagai daging umpan hanya untuk menunda kematian."
Ye Chenxu terdiam. Untuk pertama kalinya sejak memasuki Dunia Bawah yang kejam ini, ia merasakan sesuatu yang asing. Bukan ancaman, bukan tekanan dari musuh, bukan pula ketakutan akan kematian.
Melainkan tanggung jawab. Sebuah beban yang hangat sekaligus berat yang menuntutnya untuk tidak lagi berdiri sendiri.
Di sebuah ruangan terpisah yang lebih hangat, ibunya duduk di depan meja kayu sederhana. Di hadapannya, beberapa ramuan tanaman liar berserakan.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia sedang meracik pil pemulih. Wajahnya tampak pucat dan menua, namun sorot matanya tetap jernih dan tajam.
Ia bisa merasakan kegelisahan yang memancar dari setiap dinding markas. Sebagai wanita yang telah melewati pengkhianatan klan, siksaan rantai jiwa, dan pengejaran bertahun-tahun, instingnya terhadap bahaya jauh lebih tajam daripada kultivator mana pun.
Saat Ye Chenxu masuk, ibunya langsung menoleh. "Xu’er."
Nada suaranya membuat langkah Ye Chenxu terhenti. Ada ketegasan yang menyakitkan di sana.
"Ada apa, Bu? Apakah ramuannya kurang?"
Wanita itu menatapnya dalam-dalam, sebuah tatapan yang seolah ingin mengunci wajah putranya ke dalam ingatannya selamanya.
"Perasaan ibu tidak baik. Dunia ini terasa tidak stabil, seolah ia bisa runtuh kapan saja."
Ye Chenxu tersenyum tipis, mencoba mengulas wajah yang tenang. "Kita akan baik-baik saja, Bu. Senior Luo Yan sudah menyiapkan segalanya."
Ibunya menggeleng pelan. Ia bangkit perlahan, mendekat, lalu menggenggam tangan Ye Chenxu.
"Kau selalu berkata begitu, nak. Kau selalu berkata semuanya akan baik-baik saja untuk menenangkan ibu."
"Ibu ..." suara Ye Chenxu sedikit tercekat.
Wanita itu menangkup wajah Ye Chenxu dengan kedua tangannya yang kasar dan penuh luka.
"Jika suatu hari nanti terjadi sesuatu, jangan pikirkan ibu. Jangan menoleh sedikit pun. Jangan biarkan masa lalumu menjadi beban yang membuatmu jatuh. Hiduplah. Kau harus terus hidup."
Kalimat itu menghantam dada Ye Chenxu lebih keras daripada tebasan pedang mana pun yang pernah ia terima.
"Ibu, jangan bicara begitu. Kita akan pergi dari sini bersama-sama."
Wanita itu hanya tersenyum lembut, sebuah senyuman yang penuh dengan kepasrahan seorang ibu yang telah melihat terlalu banyak kematian.
"Ini dunia yang kejam, Xu’er. Dan ibu sudah terlalu lelah untuk lari. Jika akhirnya harus tiba, Ibu hanya ingin melihatmu tetap berdiri."
Semangat
Habiskan
Ye Chenxu 💪💪
Tdk sabar menunggu kelanjutannya