Terlahir kembali sebagai Riser Phenex—bangsawan iblis paling dibenci dengan reputasi sampah—bukanlah pilihan yang buruk bagi seorang pemuda dari dunia modern. Dengan sistem "Yui" yang bermulut tajam namun setia, serta kekuatan terlarang dari masa lalu yang terkubur (Meliodas), Riser memutuskan untuk berhenti mengejar wanita yang tidak menginginkannya. Di hari Rating Game yang seharusnya menjadi kehancurannya, dia justru membakar naskah takdir. Dia membatalkan pertunangan, melepaskan gelar "pecundang", dan mulai membangun "keluarga" sejatinya sendiri. Dari pedang Saeko Busujima hingga kesetiaan Yasaka, Riser tidak hanya ingin bertahan hidup; dia ingin mendominasi dunia supranatural dengan gaya yang elegan, sarkastik, dan tak terbantahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Darah
Udara di halaman Akademi Kuoh mendadak berubah menjadi statis. Bulu kuduk siapa pun yang berdiri di sana akan meremang seketika. Langit yang tadinya ungu gelap kini tertutup oleh gumpalan awan hitam pekat yang berputar-putar layaknya pusaran neraka. Kilatan cahaya kuning keunguan menyambar-nyambar di balik awan, diiringi suara gemuruh yang menggetarkan kaca-kaca gedung sekolah.
Riser mendongak, matanya yang berpendar jingga menatap sosok yang melayang anggun di tengah badai tersebut. Akeno Himejima, sang "Holy Lightning", berdiri dengan sayap iblisnya yang membentang luas, tangannya memegang simbol sihir yang memancarkan energi penghancur.
"Ara, ara... Riser-san," suara Akeno terdengar merdu namun mengandung ancaman mematikan yang tidak bisa disembunyikan. "Menyakiti Issei-kun seperti itu sangat tidak sopan. Bagaimana kalau aku memberikan sedikit hukuman?"
Riser tidak bergeming. Dia merasakan tekanan udara meningkat tajam. "Hukuman? Kau selalu suka bermain peran, Akeno. Tapi sayang sekali, petirmu hari ini hanya akan menjadi kembang api yang tidak berarti."
"Kita lihat saja," balas Akeno dengan senyum sadis yang menghiasi wajah cantiknya. "Turunlah! Holy Lightning Strike!"
CRAAAKKK!
Sebuah pilar petir raksasa menyambar turun dari langit, mengincar posisi Riser dan Shizuka dengan kecepatan cahaya. Tanah di sekitar mereka seketika hangus, dan suara ledakannya sanggup memekakkan telinga siapa pun yang berada dalam radius satu kilometer.
Namun, saat cahaya petir itu memudar, pemandangan di tengah kawah yang tercipta membuat Akeno terbelalak.
Shizuka Marikawa berdiri dengan satu tangan terangkat ke atas. Di atas kepala mereka, sebuah kubah energi berwarna putih keperakan berpendar lembut, menyerap setiap sisa listrik yang mencoba merembes masuk.
[ Sacred Gear Terdeteksi: White Sanctuary – Miracle Pulse. ]
[ Mode: Area Protection. ]
[ Status: 100% Absorpsi Serangan Elemen. ]
"Wah, panas sekali!" Shizuka mengipasi wajahnya dengan tangannya yang bebas, sementara tangannya yang lain tetap menjaga kubah tersebut. "Tapi, energi listrik ini rasanya seperti pijat elektrik gratis. Terima kasih ya, Nona Kuil!"
Akeno menggertakkan giginya. "Penyembuh yang juga ahli penghalang? Menarik sekali."
"Yubelluna, dia milikmu," ucap Riser datar tanpa menoleh.
Tiba-tiba, dari balik bayang-bayang gedung olahraga, sebuah ledakan api ungu meletus. Yubelluna muncul dengan keanggunan seorang ratu iblis sejati. Tongkat sihirnya bersinar terang, menciptakan lingkaran sihir berantai yang menutupi langit, seolah-olah dia sedang mencoba menggambar ulang peta bintang di tengah badai Akeno.
"Sudah lama aku ingin mengadu sihir denganmu, Priestess of Thunder," ujar Yubelluna. Suaranya dingin dan kalkulatif. "Mari kita lihat, siapa yang akan lebih dulu kehabisan mana di arena ini."
Di sisi lain lapangan, pertarungan antara Saeko dan Kiba telah mencapai titik didih. Gedung sekolah di sekitar mereka sudah hancur sebagian akibat tekanan dari benturan senjata mereka. Kiba Yuuto kini tidak lagi menggunakan banyak pedang. Dia fokus pada satu pedang suci-iblis yang dia ciptakan dengan seluruh sisa energinya.
"Haaaah!"
Kiba melesat, meninggalkan bayangan sisa karena kecepatannya. Dia mencoba menusuk titik buta Saeko. Namun, Saeko hanya memejamkan matanya, mengandalkan Intuisi Pertempuran yang telah ditempa oleh Riser.
Sring!
Bilah Muramasa menangkis tusukan Kiba dengan gerakan minimalis. Saeko memutar katananya, memaksa Kiba untuk ikut berputar, lalu dia melepaskan tendangan Re-Taekwondo tepat ke arah perut Kiba.
Bugh!
Kiba terlempar mundur, memuntahkan sedikit darah. Dia menatap Saeko dengan rasa frustrasi yang luar biasa. "Kenapa... kenapa aku tidak bisa mencapai ritmemu?"
Saeko menurunkan pedangnya, menatap Kiba dengan tatapan yang hampir terlihat seperti rasa kasihan. "Karena kau bertarung untuk melindungi masa lalu, Kiba Yuuto. Sementara aku bertarung untuk membangun masa depan di samping Tuanku. Pedang yang tidak memiliki ambisi pribadi tidak akan pernah bisa memotong pedang yang haus akan penaklukan."
Saeko mengambil posisi kuda-kuda rendah. Aura merah di sekitarnya mendadak menghilang, namun tekanan yang dia keluarkan justru menjadi sepuluh kali lipat lebih berat.
[ Teknik Rahasia Terbuka: One-Inch Slash - Heartseeker. ]
"Selesai," bisik Saeko.
Dalam satu kedipan mata, Saeko sudah berada di belakang Kiba. Dia menyarungkan pedangnya dengan bunyi klik yang tajam.
Kiba terdiam. Detik berikutnya, luka sayatan besar muncul di dadanya, dan pedang suci-iblis di tangannya hancur berkeping-keping. Tubuh Kiba ambruk ke tanah, matanya menatap langit dengan tatapan kosong sebelum akhirnya dia menghilang dalam pendaran cahaya—tanda bahwa dia telah tereliminasi.
[ Kiba Yuuto - Knight Gremory: Tereliminasi. ]
Mendengar pengumuman itu melalui sistem arena, Rias Gremory yang berada di ruang komando meremas pegangan kursinya hingga hancur. "Kiba... kalah? Oleh satu orang Knight baru?"
Riser, yang bisa merasakan gejolak emosi Rias dari kejauhan, hanya menyeringai. Dia melihat ke arah hutan, tempat Issei perlahan mulai bangkit kembali setelah terkena pantulan serangannya sendiri.
"Masih ingin melanjutkan, Issei? Atau kau butuh aku untuk membantumu tidur selamanya?" tanya Riser, suaranya bergema hingga ke ujung hutan.
Issei merangkak keluar dari reruntuhan pohon, tubuhnya babak belur, namun matanya masih menyala dengan api kemarahan yang naif. "Belum... aku belum selesai! Ddraig! Berikan aku lebih banyak kekuatan!"
[ Boost! Boost! Boost! Boost! Boost! ]
Lengan Issei mulai mengeluarkan uap panas. Dia bersiap untuk melakukan Scale Mail—transformasi armor naga yang dia dapatkan melalui pengorbanan emosional.
Riser melangkah maju perlahan, membiarkan api biru-hitam menyelimuti kakinya. "Bagus. Gunakan armor itu. Aku ingin menghancurkan sesuatu yang setidaknya memiliki sedikit ketahanan, agar aku tidak merasa seperti sedang menendang anak kucing."
[ Sinkronisasi Jiwa: 45%. ]
[ Status: Membuka Gerbang Kegelapan Tahap 2. ]
[ Pesan Yui: Issei sedang mencoba memaksakan jiwanya. Jika kamu ingin mengakhirinya sekarang, gunakan serangan fisik murni. Jangan beri dia waktu untuk sinkronisasi dengan Ddraig. ]
"Sabar, Yui. Aku ingin dia merasa telah mencapai puncak, sebelum aku menjatuhkannya ke dasar jurang yang paling gelap," jawab Riser dalam hati, senyumnya semakin lebar saat melihat armor merah mulai menyelimuti tubuh Issei.